Tak disangka-sangka nasib buruk menimpa Putri Isnari, gadis belia yang baru berumur 21 tahun, ia harus menikah dengan pria arogan dan sombong. Pernikahan tersebut baginya adalah mimpi terburuk dalam hidupnya. Ia harus menikahi seorang pria yang sama sekali tak dikenalnya!
Pernikahan itu sama sekali tak ada landasan cinta dan juga kasih sayang.
Mampukah ia menjalani rumah tangga yang teramat rumit itu, mampukah dia membuat pondasi rumah dengan cinta dan kasih sayang?
Yuk bareng-bareng baca kisahnya:)
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Oktavia Ellisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Debay
Pernikahan Ridho dan Putri sudah berumur 1 bulan lebih.
Semua Keluarga Aditama sudah berkumpul diruang keluarga, mereka duduk cantik sembari mengobrol dan menonton tv.
Rilli dan Keila sibuk menghabiskan cemilan nya.
"Biasa aja kalo makan, gak ada yamg minta kok," sindir Ridho.
Rilli dan Keila menengok bersamaan kearah Ridho, mereka menatap tajam Ridho, mencebikkan bibirnya.
"Gak usah digituin bibirnya, udah jelek tambah jelek," sambung Ridho.
"Ingin ku makan sekalian kamu Kak," jawab Rilli kesal.
"Emang bisa ya Kak?" tanya Keila polos.
"Adik dodol gak pengertian," Rilli yang sudah sebal dengan Ridho ditambah lagi adik kucrut nya.
"Mau ku makan sekalian kamu Key," lanjut Rilli.
"Ihh Kak Ili serem, kayak hewan karnivora aja," jawab Keila bergidik ngeri.
"Hahaha..." mereka semua tertawa, Rilli mengerucutkan bibirnya, sedangkan Keila ia fokus kembali pada makannya.
"Sekarang kamu makin gemukan loh Il, udah kayak bola bulet," ejek Ridho tiba-tiba, ia berniat menakut-nakuti Rilli.
Rilli yang sudah sebal dengan Ridho dari tadi, melangkahkan kakinya menuju kearah Ridho.
"Sebel sebel sebel," Rilli memukuli Ridho dengan terus ngedumel.
"Ha ha ha... tanganmu kecil sekali Ili, gak kerasa tau nggak, percuma, malah tanganmu nanti yang sakit," songong Ridho.
"Awww," tiba-tiba Ridho berteriak.
"Ha ha ha... ****** kau Kak, siapa suruh ngeledek Ili terus," ketus Rilli kembali ketempat duduknya.
Wira, Ayu, dan Putri hanya bisa menggelengkan kepalanya.
"Kak Putri mau ini gak, enak tau," tawar Keila.
"Ehm enggah Key, Kakak masih kenyang," tolak Putri halus.
"Oh oke," Keila membulatkan jarinya membentuk huruf o.
Hening...
"Kamu belum ada tanda-tanda Put?" tanya Ayu memecahkan keheningan.
"Tanda-tanda apa Ma?" tanya Putri balik.
"Tanda-tanda debay," saut Rilli cekikikan.
"Debay apa Kak?" tanya Keila ikut nimbrung.
"Punya Adek satu dodolnya kelewatan, telmi banget sih kamu," jawab Rilli.
"Yeayyy sembarangan, aku gak telmi ya," balas Keila tak terima.
"Ribut mulu, gak capek apa itu mulut, nganga terus," ledek Ridho.
"Bodo amat, wleeee..." kompak Rilli dan Keila sembari menjulurkan lidahnya.
"Gimana Put, udah ada tanda-tanda?" tanya Wira mengulangi kembali pertanyaan Istrinya.
"Tanda-tanda apa ya Pa Ma, Putri gak ngerti," jawab Putri polos.
"Tanda-tanda kamu hamil Put," jelas Ayu.
"Debay Kak debay," seru Rilli
"Debay itu lebay ya?" tanya Keila dengan muka bodohnya.
"Telmi dipelihara," ketus Rilli.
"Gimana Put?" tanya Wira dan Ayu kembali.
"Hah.. ehmm.. be.. Lum ada Pa Ma," Putri sangat gugup menjawab pertanyaan dari mertuanya.
"Ah Ridho kelamaan sih, ngegas dikit kali Dho,"
ucap Wira meledek.
"Papa," rengek Ridho sok manja.
"Ehh Tuan Ridho bisa manja juga," ucap Putri heran.
"Kak Putri belum tau ya, Kak Idho itu emang manja banget, mau aku kasih tau nggak salah satu rahasia nya," ucap Rilli tersenyum licik kearah Ridho.
"Apa?" tanya Putri antusias.
"Kak Ridho itu takut sama gel.." ucap Rilli terpotong karena Ridho membekap mulutnya.
"Tuan kenapa, Tuan takut sama apa, ha ha ha... saya kira tuan orang yang sangat berani, ternyata masih ada celah kekurangan dihidup Tuan," ucap Putri disertai tawa cantiknya.
"Gak ada yang aku takutin, Rilli cuma ngasal aja tuh," elak Ridho.
"Kak Ridho lepasin," pengap tau," ucap Rilli sedikit tak jelas sembari memukul-mukul tangan Ridho.
"Untung aja gak aku bekap pakek lap kompor," ucap Ridho datar.
"Sembarangan pakek lap kompor," jawab Rilli.
"Kamu tadi belum selesai buka aib Tuan Ridho loh," ucap Putri setengah berbisik.
"Tenang aja Kak, nanti aku ceritain lagi, tapi enggak sekarang, nanti mulutku dibekap pakek lap kompor gimana," jawab Rilli memonyongkan bibirnya.
"Awas kamu kalo sampek ngomong apa-apa, aku buang kamu ke kandang harimau," ketus Ridho, ia sedikit takut kalo sampai Putri mengetahui salah satu aibnya, bisa berabe kalo Putri tau, pikir Ridho.
"Tenang aja Kak, Ili baik loh, mau kasih tau Kak Mput, biar nanti kalo past mat.." lagi-lagi ucapan Rilli terpotong karena Ridho menyentil bibir Rilli.
"Auhhh... sakit Kak!" teriak Rilli memegangi bibirnya yang terasa panas dan nyeri.
"Ini pasti bibirku merah, awas kalo bibir ku jadi bengkak dan tebal, dan aku gak cantik lagi, aku buat perkedel Kakak," lanjut Rilli kesal.
"Ha ha ha bibirmu kak, lucu sekali," Keila tertawa terbahak-bahak melihat bibir Rilli yang merah dan sedikit bengkak.
Rilli segera meraih hpnya dan mengaca melihat kondisi bibir nya.
"Kak Ridhooo!...." teriak Rilli.
Ridho berlari keliling sofa yang ada diruang keluarga, Rilli dengan berapi-api mengejar Ridho.
"Ha ha ha... kau tak akan bisa menangkapku," seru Ridho.
"Awas saja kalo kena, aku unyel-unyel kamu Kak," Rilli terus saja mengejar Ridho.
"Udah-udah, ya ampun kalian ini, selalu aja berantem, sepet Mama liatnya," Ayu sudah sangat jengah dengan tingkah anak-anaknya.
"Tuan Ridho sangat berbeda kalo berada didalam rumah, dia sangat hangat, baik, dan juga humoris, tapi kenapa kalo berada diluar rumah dia sangat datar dan dingin ya, aneh, sifatnya bisa berubah-ubah seperti bunglon," batin Putri menatap Ridho dan Rilli yang seperti Tom and Jerry, tak pernah bisa akur.
"Udah ah, Ili capek," ucap Rilli langsung ambruk disofa.
"Padahal niat Mama sama Papa mau tanya-tanya tentang debay loh, malah kalian ribut, udah kayak tikus sama kucing aja," ucap Wira.
"Hehe maaf Ma Pa," kompak Ridho dan Rilli, mereka berdua saling menatap tajam satu sama lain.
"Kamu usaha dikit dong Dho, Mama sama Papa kan udah pengen nimang cucu," ucap Ayu.
"Iya Dho, umur Mama sama Papa kan juga udah lanjut usia, jadi cuma cucu yang kita harapkan dari kalian," sambung Wira.
"Belum waktunya," jawab Ridho singkat.
"Terus kapan waktunya Nak, Mama pengen banget nimang cucu," ucap Ayu sendu.
"Tunggu waktu yang pas," jawab Ridho singkat lagi.
"Hufttt Put, Mama percaya sama kamu, kamu pasti mau turutin mau Mama sama Papa kan," ucap Ayu.
"Hahh turutin.. turutin apa Ma?" tanya Putri gugup.
"Kasih kita debay," saut Wira.
Uhuk... uhuk... uhuk.... Putri tersedak sendiri dengan salivanya.
"Santai aja kali Kak, jangan tegang gitu, dan kak Ridho cemen banget sih, masa udah satu bulan lebih belum berhasil," Rilli ikutan nimbrung.
"Apaan sih Il, kayak paham aja," kesal Ridho.
"Gimana mau hamil, orang disentuh aja gak pernah, jangankan disentuh, tidur satu kasur berdua aja belum pernah sama sekali," Ridho dan Putri satu pemikiran, jodoh dah kalian, wkwkwk...
"Apa aku harus belajar mencintai Putri, tapi.. ah pusing sendiri aku," batin Ridho.
"Jangan grogi Kak," ucap Rilli membuyarkan lamunan Ridho.
"Siapa yang grogi, gak jelas," ketus Ridho.
"Udah ah, Idho mau kekamar," Ridho langsung nyelonong pergi.
"Kamu susul gih Suamiku kamu," perintah Ayu
"Ehm iya, semuanya Putri duluan ya," pamit Putri.
Mereka semua mengangguk.
"Yah kan Papa lupa ma, kitakan mau ngajak Ridho sama Putri ikut hadiri pesta pernikahan rekan bisnis kita," ucap Wira menepuk jidatnya.
"Oh iya, Mama juga lupa Pa, besok pagi aja deh kalo gitu," jawab Ayu yang tak kalah pelupa nya.
"Kapan Pa acaranya?" tanya Rilli kepo.
"Tahun depan, ha ha..." tawa Keila.
"Garing," saut Rilli cuek.
"Besok malam Nak, jam 7," jelas Ayu.
"Ili ikut ya,"
"Key juga ikut ya," sambar Keila udah kayak petir.
"Iya kalian juga ikut, nanti sekretaris Roy juga ikut," jelas Wira.
"Hahh sekretaris Roy, ****** aku, gak bisa bebas dong," ucap Keila kecewa, belum ketemu aja udah kelimpungan.
"Hayo kamu Key," Rilli sedikit berbisik menimbulkan kesan sedikit mengerikan bagi Keila.
"Kak Rillii... awas kau ya!!" teriak Keila mengejar Rilli yang sudah duluan berlari kekamar.
"Astaghfirullah anak-anak Mama, gesrek semua," ucap Wira cekikikan.
"Sembarangan anak Mama, anak Papa juga kali," jawab Ayu tak terima, lalu berjalan duluan menuju kamar.
"Tunggu Ma," ucap Wira manja.
"Ihh Papa apa-apaan sih, geli tau denger Papa ngomong kayak gitu," Ayu merinding sendiri mendengar suara suaminya.
"He he..." cengir Wira.
**
"Oh iya Putri, jangan pikirin perkataan Mama sama Papa tadi," ucap Ridho singkat.
"Iya Tuan," jawab Putri lalu mematikan lampu utama dan menghidupkan lampu tidur dekat nakas.
"Selamat malam Tuan," sambung Putri.
"Hem," balas Ridho.
Mereka mulai memejamkan matanya dan masuk kealam mimpinya.
Udah panjang ya partnya,komen nya juga harus panjangggggggggg..oke😉😉
Sumbangkan Like dan Vote kalian ya kakak-kakak semua♥️♥️@pembaca_bijaksana