Andara adalah gadis yang cantik pemilik kios bunga .Suatu hari dia harus menelan pil pahit sebuah penghianatan dari sahabat dan kekasihnya yang dipacarinya selama hampir 6 tahun. Tapi takdir berkata lain dan membawanya pada seorang pemuda dingin yang lumpuh putra seorang konglomerat.
Entah bagaimana mereka bisa bertemu di atas menara setinggi 50 kaki. Dan dari sanalah cinta mereka bersemi .
Nah untuk mengetahui cerita lebih lanjut, yuk simak di novel terbaruku.
Novel kali ini bergenre remaja labil yang mudah mudahan bisa menginspirasi para kaula muda untuk tidak putus asa dan tidak pernah menyerah.
Tetap semangat dan selamat membaca 🤗
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon dewidewie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CDAM: 31
Andara mulai membuka matanya, dia melihat jam yang berada di atas meja menunjukkan pukul 6 sore.
Matanya melotot tajam, dan berusaha mengingat apa yang terjadi.
Andara meraba bajunya dan semua masih lengkap seperti sebelum dirinya tertidur.
Kemudian mengedarkan pandangannya ke sana kemari, diapun beranjak dan merasakan badannya masih segar seperti biasanya.
" Apa yang terjadi, apa tadi itu hanya mimpi? " Gumamnya sambil menggaruk garuk kepalanya yang tidak gatal.
Ceklek
Devan dengan kursi rodanya menuju ke arahnya dengan senyum mengembang sambil membawa nampan.
" Hai Ra, sudah bangun? Kamu terlihat sangat lelah jadi aku tidak berani membangunkanmu? Dan pasti kamu lapar, nih aku buatkan mie instan untuk mengganjal perutmu".
Andara masih belum mengerti dengan mimpinya barusan " Dev, aku mau bertanya sesuatu padamu".
" Tanya apa, katakan? "
" Apa kita baru saja melakukannya? "
" Melakukan apa? "
" Ya itu Dev, aiiih masa gak paham sih"
" Ya kalau kamu tidak menjelaskan mana aku mengerti Andara? Melakukan apa sih? ".
" Ehm, ya perempuan dan laki laki, aduh bagaimana menjelaskan. Ehm O iya seperti yang Siska lakukan ".
Devan terperangah dengan pertanyaan Andara " Hahh kamu menginginkannya? ".
Andara melotot tajam " Eh tidak tidak bukan itu maksudku, berarti yang baru saja terjadi hanyalah mimpi,sudahlah jangan dipikirkan ".
" Jadi kamu bermimpi melakukan itu denganku? " Devan menunjuk pada dirinya sendiri.
Andara mengangguk sedangkan Devan hanya senyum senyum sendiri " Ya itu berarti kamu sudah mulai jatuh cinta padaku Ra dan jujur saja kamu juga menginginkan itu kan, iya kan? ".
" Ih apaan sih, pede amat sih Dev. Sudahlah aku mau mandi dulu, barang kali setelah mandi pikiranku menjadi lebih segar dan tidak kotor lagi ".
" Mau aku temani? "
" Awas saja kalau berani! "
" Lho ini penawaran bagus lo Ra agar mimpimu itu bisa terwujud "
" Hahhh bisa diam gak Dev! "
" Hahaha Andara, ada ada saja sih kamu. Seandainya kakiku tidak lumpuh sudah aku perkosa dirimu ".
" Apa katamu! "
" Ah tidak, sudah sana mandi ntar keburu dingin mie instannya" Ucap Devan masih sedikit tersenyum karena gemas dengan istrinya itu.
Dret
Ponsel Devan bergetar dan terlihat notif dari seseorang yang membuatnya terdiam sejenak.
" Dev, Dev! "
Beberapa kali Andara memanggilnya tapi Devan tidak merespon dan hanya menatap ke layar ponselnya.
Andara mengeryitkan keningnya kemudian duduk di depan meja riasnya dan mulai memoles wajahnya.
Andara menoleh ke arah Devan tapi tetap di posisi semula dan membuat Andara penasaran " Aihh apa sih yang Devan lihat di ponselnya".
Andara mendekati Devan dan ikut melihat apa yang ada di layar ponselnya.
☘️☘️☘️
Nara dan Dimas berada di sofa untuk membicarakan proyek perusahaan.
"Sayang, tolonglah mas ya, sekali ini saja. Mas janji setelah ini mas tidak akan melibatkan kamu".
" Tapi mas"
" Dia orang baik kok tidak mungkin berbuat jahat kepadamu. Pokoknya setelah tuan Teo berhasil menandatangani proyek tersebut, kamu secepatnya pulang ke rumah".
Nara menarik nafasnya dalam dalam kemudian mengangguk sambil menyunggingkan senyuman meskipun terpaksa.
"Kalau begitu kamu siap siap nanti mas antar kamu ke hotel untuk bertemu dengan pak Teo".
" Mas, apakah tidak ada tempat lain selain di hotel? ".
" Kan sudah mas bilang dia itu orang baik tidak akan berbuat macam macam sama kamu sayang, percaya sama mas" Ucap Dimas sambil mengusap rambut Nara.
Jam menunjukkan pukul 8 malam, Nara dan Dimas pergi ke hotel tempat pertemuan bisnis mereka.
Awalnya pertemuan berjalan dengan lancar. tuan Teo yang dikira seorang lelaki tua gendut dan mata keranjang ternyata seorang pemuda tampan dan ramah.
" Tuan Dimas, proyek ini sangat menarik untuk saya. Tapi saya memiliki satu permintaan sebelum saya menandatanganinya".
" Silahkan tuan katakan saja apa permintaan anda? ".
" Ehm " Sejenak Teo ragu untuk mengutarakan keinginannya, tapi melihat paras Nara yang sangat cantik dengan tubuhnya yang seksi, membuatnya berani mengutarakan niatnya.
"Silahkan tuan, apapun akan saya lakukan asalkan kita bisa bekerja sama ".
" Baiklah, aku ingin malam ini wanita di sampingmu itu menemaniku minum di sini".
Jleg
Nara sempat syok dan menunduk dengan gemuruh di hatinya.
"Oh iya tuan silahkan saja, dia bisa menemani anda di sini" Ucap Dimas yang menusuk hati Nara.
Teo tersenyum senang dan beranjak mengambil beberapa botol minuman di atas nakas.
Nara tetap menunduk penuh ketakutan. Dan di saat Dimas pamit untuk pulang, Nara sempat mendongak dan memberikan kode mata untuk tetap di sini, tapi Dimas berpura-pura tidak mengerti dan tetap melangkah meninggalkan kamar hotel tersebut.
Teo terus menatap wajah Nara yang menunduk, kemudian meraih dagunya dan mendongakkannya " Nona, jangan takut aku tidak sebejat yang kamu kira".
Nara mengangkat kedua alisnya " Maksud tuan Teo apa? ".
" Aku ingin bekerjasama denganmu nona Nara".
" Apa yang bisa aku lakukan untuk tuan".
Teo beranjak melangkah menuju sebuah kotak berukuran 30 x 40 dan membukanya kemudian mengambil sebuah foto seorang anak kecil perempuan yang cantik dan familiar.
Nara menatap Teo dan beralih ke foto tersebut " ini foto siapa tuan? ".
" Dia adikku yang hilang diculik sejak umur 3 tahun". Ucap Teo sambil mengedarkan pandangannya ke sudut ruangan.
" Terus apa yang bisa aku lakukan tuan Teo?".
" Aku mencarinya selama bertahun-tahun, dan mulai menemukan titik terang karena menurut anak buahku saat ini dia menjadi menantu keluarga Mahendra".
"Aku masih belum mengerti tuan? ".
" Menantu keluarga Mahendra adalah kamu jadi aku ingin membuktikan apakah benar kamu adikku yang telah hilang 20 tahun yang lalu" Jawab Teo.
Nara masih bingung dan tidak mengerti.
Teo tahu Nara pasti tidak paham dengan maksudnya.
" Buka bajumu! " Ucap Teo sedikit gemetar.
Nara mengeryitkan keningnya dan menatap Teo dengan tajam.
" Aku minta sekarang juga buka bajumu Nara!"Gertak Teo dengan suara seraknya.
Nara mulai berdiri dan membuka resleting gaunnya, karena tak berani melawan Teo yang ternyata lebih menyeramkan daripada Dimas.
Bruks
Gaun panjang berwarna hitam itupun akhirnya terjatuh dari tubuh Nara.
Teo menatap tubuh indah Nara dan menjelajahi setiap inci dari tubuhnya dengan matanya yang tajam.
" Buka branya "
" Apa maksud anda tuan? "
Perlahan Nara pun melepaskan pembungkus melonnya yang besar dan menggoda karena lagi lagi tidak ingin membuat Teo murka.
Teo mencoba berusaha untuk mengendalikan dirinya dan tetap pada tujuan awalnya mencari tanda lahir di tubuh Nara yaitu berada di antara belahan dadanya di bagian bawah.
Teo mendekati Nara yang tertunduk " Kamu bukan adikku? ".
Nara menggeleng perlahan namun tak berani menatap Teo dengan tangan menyilang di dadanya.
Teo menghela nafasnya dengan kasar kemudian duduk di sofa dan merebahkan tubuhnya di sandarannya.
" Sudahlah, kamu pergi dari sini! " Ucap Teo dengan kesal karena ternyata harapannya untuk bisa menemukan adiknya telah pupus.
"Tapi, tuan bagaimana dengan kontrak itu, anda harus menandatanganinya dulu sebelum aku pergi dari sini".
Teo melotot tajam dan melihat tubuh Nara yang masih telanjang kemudian beranjak dan mendekatinya " Apa! kontrak! Ehm baiklah aku akan menandatanganinya tapi kamu harus memberikan kepuasan kepadaku! ".
Nara tersentak dan seketika menitikkan air mata namun tetap menunduk.
" Sudahlah jangan cengeng, aku tahu kamu hanya dijadikan budak nafsu oleh Dimas".
" Tidak tuan mas Dimas sangat baik dan menyayangiku ".
'' Hah apa tidak salah dengar, kalau dia menyayangi kamu tidak semestinya dia memberikan dirimu kepadaku " jawab Teo dengan senyum miring.
Deg
"Apa yang tuan Teo ucapkan ada benarnya juga, mas Dimas tega mejualku hanya karena kontrak, padahal aku sedang hamil anaknya" Batin Nara yang mulai berkecamuk.
Bersambung..
gantung