NovelToon NovelToon
Gamer And Flower

Gamer And Flower

Status: sedang berlangsung
Genre:Beda Usia / Identitas Tersembunyi / Wanita Karir / Diam-Diam Cinta / Cintapertama / Mengubah Takdir
Popularitas:234
Nilai: 5
Nama Author: Ira Herawati

Jasmine, penembak jitu Tim Aether, terkunci dalam sangkar emas Axel, kapten posesif yang mengendalikan hidupnya demi obsesi kemenangan. Di tengah tekanan, hadir Liam, barista hangat di seberang jalan yang menawarkan kebebasan tanpa syarat. Pulang sebagai juara dunia, Jasmine kini harus memilih benteng kaku Axel atau kehangatan sejati Liam.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ira Herawati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 18

Begitu melangkah ke area panggung, kilatan lampu sorot langsung membutakan pandangan untuk beberapa detik. Gemuruh sorak-sorai penonton berdentum di dinding dada, bercampur dengan suara komentator berbahasa Inggris yang menggema lewat pelantang suara raksasa. Di seberang panggung, tim juara bertahan dari Amerika Utara sudah duduk di bilik kaca mereka, memancarkan aura intimidasi yang pekat. Namun, begitu Jasmine duduk di kursi gamingnya dan memposisikan tangannya di atas keyboard mekanik, ketakutannya menguap berganti dengan fokus yang dingin. Di sebelah kanannya, Axel memberikan instruksi dengan nada suara yang tenang namun menusuk, persis seperti tebasan pedang. Pertandingan babak penyisihan grup itu berjalan dengan sangat brutal. Tiga ronde pertama dipenuhi oleh baku tembak sengit dan perebutan poin yang berdarah-darah. Tim lawan berkali-kali mencoba mematahkan formasi pertahanan Tim Aether dengan taktik rotasi cepat yang agresif. Namun, seperti janjinya di balik panggung, Axel benar-benar menjadi perisai yang kokoh. Ia membaca setiap pergerakan musuh dengan kejeniusan yang menakutkan, mengatur karakternya di lini paling depan untuk memancing perhatian lawan, sekaligus memberikan ruang bebas bagi Jasmine untuk membidik.

"Jasmine, koordinat tiga dua, sekarang! Take the shot!" teriak Axel tegas melalui saluran audio.

Jasmine menahan napasnya selama satu detik. Jarinya menekan klik kiri mouse dengan akurasi makro yang mutlak. DOOM! Tembakan jitu dari senapan virtualnya menembus kepala kapten tim lawan, memicu sorak-sorai histeris dari seluruh penjuru arena. Layar monitor raksasa langsung menampilkan tulisan 'VICTORY' berwarna emas yang berkedip megah. Tim Aether berhasil mengamankan kemenangan pertama mereka di London.

---

Meskipun mereka keluar sebagai pemenang, harga yang harus dibayar untuk performa gemilang itu tidaklah murah. Ketika mereka kembali ke hotel karantina resmi pada tengah malam, kelelahan mental dan fisik telah mencapai titik terendah. Bryan bahkan langsung ambruk di sofa lobby tanpa sempat melepas jersinya, sementara Kenzie memijat pangkal hidungnya yang memerah karena terlalu lama mengenakan kacamata pelindung radiasi. Jasmine berjalan gontai memasuki kamar hotelnya. Tubuhnya terasa begitu berat, dan kepalanya berdenyut nyeri akibat paparan layar monitor dan adrenalin yang terombang-ambing selama berjam-jam di arena. Tanpa melepas jaket mantel tebalnya, ia langsung merebahkan diri secara telungkup di atas kasur king size yang empuk. Kamar hotel yang sunyi itu terasa sangat asing dan dingin, meninggalkan rasa hampa yang aneh setelah riuh rendah sambutan ribuan penonton mereda. Ia berbalik perlahan, menatap langit-langit kamar yang tinggi, sebelum akhirnya meraih ponsel pintar dari dalam tas selempangnya. Sesuai aturan kaku Axel, seluruh ponsel harus dimatikan total sejak empat jam sebelum pertandingan dimulai untuk mencegah distorsi fokus. Dengan jemari yang sedikit gemetar karena kelelahan, Jasmine menekan tombol daya. Begitu layar menyala, ratusan notifikasi langsung membanjiri aplikasinya. Ada ribuan tagar ucapan selamat dari para penggemar di tanah air, pesan bangga dari manajemen esports, hingga panggilan tak terjawab dari media. Jasmine mengabaikan semuanya. Matanya yang mengantuk bergerak cepat menyusuri baris demi baris ruang obrolan, hingga akhirnya berhenti pada sebuah pesan singkat yang masuk sekitar tiga jam lalu, tepat saat pertandingan rondenya yang terakhir sedang berlangsung sengit. Pesan itu datang dari nomor dengan foto profil bebek putih bertopi jerami, dari Liam. Jasmine membuka pesan tersebut dengan detak jantung yang mendadak berubah ritme.

Kak Liam : Tembakan jitu yang luar biasa indah di ronde penentuan tadi Jasmine! Aku sama Donald sampai refleks lompat dari kursi, sampai-sampai nampan kopi di tanganku hampir terbang. Seluruh pengunjung Floraison Cafe ikut berteriak merayakan kemenangan Tim Aether, loh.

Jasmine tertegun, matanya membaca baris berikutnya dengan perasaan yang perlahan mulai menghangat.

Kak Liam : London pasti sangat dingin dan menusuk malam ini, ya? Jangan lupa minum segelas air hangat sebelum kamu tidur yah. Oh ya, sekadar info mendesak, Donald tadi malam mencoba meretas kandang kayunya lagi dengan paruhnya. Kayaknya dia mulai kangen sama kamu, atau mungkin dia sebenarnya cuma iri karena gak diajak ikut terbang ke London. Fokus aja sama sisa pertandingan kamu di sana, Jasmine. Enggak perlu memikirkan apa pun yang berat. Ruang tenang dan asri di tepi danau ini gak akan berubah sedikit pun sampai kamu berjalan pulang nanti.

Membaca untaian kalimat kasual yang begitu santai namun sarat akan kehangatan tersebut, Jasmine merasakan setitik air mata hangat perlahan luruh dari sudut matanya, mengalir melewati pelipis dan membasahi bantal hotel. Rasa sesak, ketakutan, dan beban ekspektasi raksasa yang sejak pagi tadi menghimpit dadanya mendadak runtuh begitu saja, menguap ke udara malam London yang beku. Pesan dari Liam terasa seperti sebuah oase spiritual yang luar biasa sejuk. Di saat seluruh dunia termasuk Axel menuntutnya untuk menjadi sosok pahlawan tanpa cela yang harus selalu menang dan membawa pulang trofi emas, Liam justru menjadi satu-satunya orang yang memberikan izin bagi Jasmine untuk menjadi gadis biasa yang boleh merasa lelah. Liam tidak peduli pada poin statis permainannya atau seberapa hebat akurasi tembakannya di panggung dunia. Liam hanya peduli apakah tubuh Jasmine cukup hangat dan apakah pikirannya cukup tenang. Jasmine mendekap ponselnya di depan dada, lalu merogoh saku mantelnya untuk mengeluarkan kantung aromaterapi dari Liam. Ia mendekatkan bungkusan flanel itu ke hidungnya, menghirup aroma chamomile dan mint kering yang masih tersisa di dalamnya. Aroma itu seketika membawa jiwanya terbang kembali ke seberang samudra, mendudukkannya di sudut kafe bunga yang hangat, jauh dari kilatan lampu sorot arena yang melelahkan fisik dan batinnya. Di kamar sebelah, Axel mungkin sedang terjaga dengan tumpukan data statistik baru untuk babak selanjutnya, memikirkan cara lain untuk memberikan perhatian ketat dan perlindungan posesif yang mengikat. Namun malam ini, di dalam kesunyian kamarnya yang dingin, Jasmine menyadari satu kebenaran yang tak terbantahkan. Perhatian intens dari Axel terasa seperti rantai emas yang berkilau namun mengikat erat pergelangan kakinya, sedangkan pesan acak dan perhatian sederhana dari Liam terasa seperti angin malam tepi danau yang membebaskan jiwanya untuk terbang tinggi tanpa rasa takut. Jasmine menyeka sisa air mata di pipinya, lalu dengan jemari yang kini terasa jauh lebih ringan, ia mulai mengetik balasan singkat untuk sang barista.

Jasmine : Makasih banyak, Kak Liam. Sampaikan salamku untuk Donald si peretas kandang. Di sini memang dingin banget, tapi kantung bunga dari Kakak buat kamar aku terasa sedikit lebih hangat malam ini.

Setelah menekan tombol kirim, Jasmine mematikan kembali ponselnya dengan senyuman kecil yang sangat tulus terukir di bibirnya. Ia menarik selimut tebal hotel hingga ke batas dagu, memejamkan mata dengan perasaan damai yang sudah lama tidak ia rasakan. Sesi pertempuran berat di babak grup telah ia lalui dengan kemenangan manis, namun di balik layar kaca panggung London ini, Jasmine tahu bahwa hatinya perlahan-lahan telah menemukan pelabuhan yang sesungguhnya di seberang jalan rumahnya.

1
Dhatu Lukita
semangat up teruss yaaa, niihhh ku kasih ⭐5, biar tambah semangat 😍
Dhatu Lukita
halo kak berkarya terus yaa semangaatt💪💪💪,
mampir juga d karyaku ya 🤭😍 "dukunganmu semangatku"
Fadillah Ahmad: Kalau ingin membacs Karya ini, baca sampai Bab 20 Kak! atau sampai Bab akhir! kalau hanya sampai Bab 5 terus berhenti, sama saja kakak, merusak retensi novel ini! Baca sampai Bab 20 Kak! jangan berhenti di tengah jalan!
total 1 replies
Dhatu Lukita
keinget mobil lejen🤭😄
Fadillah Ahmad
Mohon maaf sebelumnya, ya! Sinopsisnya kurang Menarik! Mohon di Ubah dulu.

Maaf, jangan tersinggung ya! 🙏🙏🙏 Karena... Novel Kakak Maauk ke Beranda-ku! Di Promosikan Oleh Pihak NovelToon. Jadi, mohon untuk di ubah dulu Kak! 'Kalau Bisa' Karena, aku melihat, Sinopsisnya Kurang mengigit! alias Kurang memunculkan Rasa Penasaran Pembaca! 🙏🙏🙏

Maaf ya Kak! Jangan Tersinggung. 🙏🙏🙏😁

Terima Kasih 🙏🙏🙏
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!