Tidak ada yang menginginkan menjadi orangtua tunggal. Entah itu perpisahan karena perceraian ataupun kematian. Terkadang beberapa orang memutuskan untuk menjalin hubungan lagi dengan dalih awal untuk mengisi posisi yang kosong. Itu yang terjadi pada Davin dan Arini. Memutuskan menikah demi figur orangtua lengkap untuk anak-anak mereka.
Keluarga harmonis menjadi impian mereka. Namun ditengah perjalanan rumah tangga mereka ada ujian yang datang. Suami melakukan kesalahan fatal dan istri yang depresi.
Bagaimana cara Davin dan Arini mempertahankan rumah tangga mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mumu.ai, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 31
Hari yang ditunggu tiba. Hari ini rencananya Davin beserta keluarganya akan datang ke rumah Arini.
Di rumah, Arini tampak sibuk menyiapkan tempat dan makanan. Ruang tamu yang biasanya terdapat meja dan kursi, kini telah dipindahkan ke halaman belakang. Lantai ruang tamu telah dibentangkan karpet sebagai alas duduk, dan di tengah-tengahnya telah dibentangkan kain putih polos dan panjang, yang nantinya para tamu duduk mengelilinginya.
Di atasnya terdapat deretan piring makan berikut gelas minum, dan kabasuah atau tempat mencuci tangan disiapkan sebanyak tamu yang akan makan. Di barisan dalam piring akan terhidang lauk pauk juga pilihan makanan penutup. Tradisi ini disebut Makan Baedang atau Makanan yang terhidang dengan deretan piring-piring di depan tamu.
Malam sebelumnya Arini telah berbincang dengan ketiga anaknya. Aya dan Adit tentu saja sangat senang mendengar kalau nanti mereka akan menjadi keluarga dengan Davin dan juga Aziza. Arini bersyukur, tidak ada penolakan yang datang dari anak-anaknya.
Amak juga telah memberitahu sanak saudaranya yang berada di Jakarta dan mengundang mereka untuk datang ke rumahnya. Sedang untuk adiknya Arini, Nana, tidak dapat hadir pada acara hari ini. Namun ia berjanji pasti akan datang di acara pernikahan nanti.
Sekitar pukul 10 pagi, keluarga Davin tiba di rumah Arini. Tak banyak yang hadir dari keluarganya. Davin ditemani oleh putrinya, Aziza, ayahnya yang bernama Pak Adi, adiknya yang bernama Maya, dan adik Pak Adi beserta istrinya yang memang tinggal di Jakarta.
Acara berlangsung begitu hangat. Untuk Arini sendiri sebagai tuan rumah diwakilkan oleh abang dari Amak, Pak Uwo Is panggilannya.
"Selanjutnya untuk tanggal pernikahan, bagaimana Pak Is, Bu Ratna? Apakah keluarga Pak Is dan Bu Ratna ada cara penanggalan khusus?" tanya Pak Adi pada Pak Uwo Is dan Bu Ratna atau yang biasa dipanggil Amak.
"Menurut kami semua hari baik, Pak. Jadi kami tidak ada acara khusus untuk mencari hari baik pernikahan," jelas Amak.
"Alhamdulillah. Jadi tadi sebelum berangkat, Davin sudah mengatakan tanggalnya pada saya. Gimana, Vin?" tanya Pak Adi.
"Rencana saya acara pernikahan dilaksanakan satu bulan lagi. Bagaimana pendapat Pak Uwo, Amak, dan juga Arini?" tanya Davin.
Arini dan juga Amak yang duduk bersebelahan saling memandang.
"Gimana, Rin?" tanya Amak.
"Apa itu tidak terlalu terburu-buru, Pak? Satu bulan waktu yang sangat sebentar," ucap Arini.
"Satu bulan waktu yang cukup untuk menyiapkan pernikahan kita kok," ucap Davin meyakinkan.
"Bukankah niat baik harus segera dilaksanakan? Tidak baik menunda terlalu lama," tambah Davin.
Arini melihat ke sebelahnya. Ia menatap Amak. Dari sorot matanya seperti bertanya kepada Amak.
"Amak ikuik se baa rancaknyo," ucap Amak. (Amak ikut saja bagusnya gimana.)
Arini terlihat masih ragu. Ia memandang ke arah Davin yang hari ini terlihat lebih segar tampilannya dari hari biasa. Ada yang berbeda dari pria itu. Sepertinya ia baru saja memangkas rambutnya. Davin terlihat jauh lebih muda, tak terlihat seperi usia 30-an.
Ternyata Davin juga tengah menatap Arini. Rambut panjang yang biasa ia ikat ekor kuda ketika di kantor, hari ini ia sanggul. Wajah yang biasa ia oles tipis dengan make up ketika bekerja, kini sedikit berbeda, menambah kecantikan wanita tiga anak itu. Pasti tak banyak yang mengira kalau wanita itu telah melahirkan tiga anak yang luar biasa. Davin dan Arini sama-sama terpana satu sama lainnya.
"Sabar, tunggu sebulan lagi. Nanti dipuas-puasin," goda Pak Adi pada putranya.
Ucapan Pak Adi tadi membuat keduanya malu, dan Pak Adi beserta yang lain tertawa melihat tingkah laku kedua calon pasangan ini.
"Udah Kak, terima aja sebulan lagi. Dua minggu sebelum acara aku bakalan kesini kok buat bantuin. Aku pulang cuma bentaran aja. Mau urus revisian skripsi sidang kemarin sama mau daftar wisuda," ucap Maya.
"Terimakasih ya, May."
Arini menatap pada Pak Adi. Ia masih malu melihat ke arah Davin karena perihal tadi.
"Insya Allah saya mau, Pak," ucap Arini yang disambut syukur dari yang lainnya.
"Nana juga minggu depan mau datang sama suaminya. Kamu nggak perlu khawatir, Rin," ucap Amak menenangkan.
Arini tersenyum dan memeluk hangat Amak.
Ketika mereka masih asik berbincang, terdengar banyak langkah kaki berlari menuju ke arah mereka.
"Tante tante, kata Papa Tante Arini akan jadi ibunya Ziza, ya?" tanya Aziza dengan semangat ketika kegiatan makan-makan telah usai.
"Kak Aziza ngga percayaan, Bun. Padahal Aya tadi juga udah bilang," sahut Aya.
Arini beranjak sedikit dari posisi duduknya.
"Kak Azizanya gimana? Mau tidak kalau Tante jadi ibunya Kakak?" tanya Arini.
"Mau dong," jawab Aziza penuh semangat. Semua orang diruangan itu ikut tertawa melihat kebahagiaan Aziza dan ketiga anak Arini.
"Nah kan benar kata Aya, Kak," ucap Aya pada Aziza.
"Nanti kita tidurnya berdua ya, Ay. Mau kan?" tanya Aziza pada Aya yang sedari tadi berdiri di sampingnya.
"Iya, Kak. Nanti Aya bawa juga ya, boneka Aya. Boleh, kan?" tanya Aya.
"Boleh dong. Yok kita ke kamar kamu lagi," ajak Aziza. Kedua gadis itu pergi meninggalkan kumpulan orang dewasa yang ada di ruang tamu itu. Adit dan juga Alif tentu saja mengekor di belakang kakak-kakaknya.
"Ternyata anak-anak udah akrab banget ya, Kak?" tanya Maya.
"Iya, May. Mungkin namanya anak-anak, jadi cepat banget akrabnya. Aziza dan Aya sama-sama mudah akrab sama orang baru. Jadi mereka baru ketemu udah langsung akrab aja, kayak udah lama kenal," ucap Arini.
"Sepertinya iya begitu, Kak."
Obrolan kedua keluarga itu terus berlanjut mengenai bagaimana dan adat apa yang akan dipakai ketika acara nanti. Kedua keluarga ini tidak susah menyatukan suara dan pendapat. Apalagi ini bukanlah pertama kali bagi Arini dan juga Davin, sehingga mereka berdua tidak meminta acara yang begitu mewah.
Hanya keluarga, sanak saudara dan beberapa teman dekat saja yang akan mereka undang.
"Tak perlu mewah, yang penting sakral."