Bagaimana rasanya berada di situasi dimana seorang pria memposisikan dirinya di antara dua pilihan, di satu sisi ia tidak ingin di cap sebagai anak durhaka dan selalu berusaha berbakti ke pada sang ibu, namun di sisi lain ia juga harus bersikap adil dan berusaha melindungi hak dan martabat sang istri, namun ternyata semua tak semudah seperti yang ia bayangkan, sebab ternyata sang ibu tidak menyukai wanita yang ia dipersunting sebagai istrinya, konflik yang terus terjadi di antara sang ibu dan istri membuat sang pria dilema dan frustasi, apa yang akan dilakukan sang pria agar ibunya mau menerima dan menghargai wanita pilihannya, dan akankah sang istri bisa bersabar dan bertahan, yuk kita cari tau bersama🤭🤭🤭
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Oktapia Jumiati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24
Aroma antiseptik yang tajam menyengat hidung Sari saat matanya yang berat perlahan terbuka. Garis lurus di monitor jantung yang semula lemah, kini berbunyi teratur namun lambat. Ia telah melewati masa kritis 24 jam dan kini dipindahkan ke ruang rawat inap VIP Rumah Sakit Medika Utama. Selang oksigen menempel di hidungnya, dan dada kirinya terbalut perban tebal yang menyiksa setiap kali ia bernapas.
Di samping ranjang, Bu Ima—ibu kandung Putra—sedang menggenggam tangan Sari yang dingin. Matanya sembab oleh air mata yang bercampur aduk antara rasa cemas, kemarahan, dan kepuasan yang tersembunyi.
"Sari... Sayang, kamu sudah sadar?" bisik Bu Ima dengan suara bergetar begitu melihat kelopak mata Sari bergerak.
Sari hanya mampu merintih pelan, tenggorokannya terlalu kering untuk bersuara.
"Jangan banyak bicara dulu, Nak," ucap Bu Ima seraya mengusap lembut dahi Sari. Air matanya menetes, namun di balik raut wajah prihatin itu, tersimpan kilatan kemenangan yang dingin.
Bagi Bu Ima, tertembaknya Sari adalah sebuah musibah yang membawa keberkahan tersembunyi. Sejak awal, ia tidak pernah menyetujui pernikahan Putra dan Seina. Di matanya, Seina hanyalah wanita dari keluarga biasa yang tidak setara, keras kepala, dan selalu dianggap pembawa sial. Kini, bayangan Seina yang mendekam di balik sel besi membuat dada Bu Ima terasa begitu lapang. Wanita yang sangat dibencinya itu akhirnya tersingkir dengan cara yang sangat telak—dihancurkan oleh suaminya sendiri dan dikhianati oleh anak kandungnya.
Pintu kamar rawat terbuka perlahan. Putra masuk dengan langkah gulai. Wajahnya yang tampan tampak sangat kusam, lingkaran hitam mengantung jelas di bawah matanya. Sudah dua malam Putra tidak tidur, menolak pulang, dan memilih membaringkan kepalanya di samping ranjang Sari demi memastikan wanita itu tidak melewati garis kematian.
"Ibu... Sari sudah sadar?" suara Putra memecah hening, penuh kelegaan yang tak tertahankan. Ia langsung mendekati ranjang, mengabaikan rasa lelah yang menggerogoti tubuhnya.
"Sudah, Putra. Lihatlah, penolongmu ini sudah melewati masa kritisnya," ujar Bu Ima, sengaja menekan kata penolong. Bu Ima berdiri, memberikan ruang bagi Putra untuk duduk di kursi sebelah ranjang. "Kamu pantas mendampinginya, Put. Sari bertaruh nyawa untuk Riza dan keluarga kita. Tidak seperti wanita iblis itu yang malah tega bertindak seluar biasa ini."
Putra menggenggam tangan Sari yang bebas dari infus. Tangannya gemetar. "Sari... terima kasih. Terima kasih sudah menyelamatkan Riza," bisiknya tulus, penuh rasa bersalah yang menggebu.
Di balik masker oksigennya, sudut bibir Sari terangkat sangat tipis—sebuah senyum samar yang tak terlihat oleh Putra maupun Bu Ima. Matanya yang sayu menatap Putra dengan binar lembut, mengunci simpati dan rasa hutang budi pria itu sepenuhnya.
Sementara itu, di kediaman Putra, suasana rumah terasa sangat dingin dan mencekam. Tak ada lagi gelak tawa atau aroma masakan Seina yang biasa menyambut sore hari.
Di dalam kamar yang gelap, Riza duduk terpekur di sudut ranjangnya. Tangannya meremas erat boneka beruang lusuh kesayangannya. Sejak pulang dari kantor polisi hari itu, Riza berubah menjadi anak yang pemurung dan pendiam. Ia menolak makan dan kerap kali menangis histeris di tengah malam.
Batin anak berusia sembilan tahun itu berada di ambang kehancuran. Riza sangat mencintai Ibunya—wanita yang selalu memeluknya hangat, mendongengkan cerita sebelum tidur, dan menyuapinya makan. Namun, ingatan trauma di gubuk tua itu terus membayangi pikirannya bagai mimpi buruk yang tak kunjung usai.
Riza memejamkan mata erat-erat, mencoba mengingat detik-detik berdarah itu.
Apakah benar Ibu yang menembak Tante Sari?
Pertanyaan itu terus menggerogoti jiwanya. Sejujurnya, saat ledakan senjata api pertama yang menewaskan Ardan terdengar, Riza sedang bersembunyi di balik meja kayu yang runtuh sambil menutupi matanya karena ketakutan yang luar biasa. Ia tidak melihat siapa yang memicu tembakan pertama.
Saat Riza memberanikan diri mengintip, ia hanya melihat Tante Sari sudah bersimbah darah di lantai, menjeritkan nama "Seina!" dengan suara melengking penuh ketakutan. Dan tepat di depan Tante Sari, berdiri Ibunya—Seina—dengan wajah pucat pasi dan jemari gemetar yang menggenggam erat pistol hitam berasap itu.
Dua memori itu bertabrakan hebat di kepala kecilnya: Bisikan Tante Sari saat mereka diculik yang terus menanamkan bahwa Ibunya marah dan berbahaya, serta bayangan Ibunya yang memegang senjata api tepat di depan tubuh Tante Sari yang bersimbah darah. Riza merasa sangat bersalah karena telah memojokkan Ibunya di hadapan polisi, tetapi ketakutan bahwa Ibunya benar-benar telah berubah menjadi sosok yang jahat menahan mulutnya untuk jujur bahwa sebenarnya... ia tidak benar-benar melihat momen saat pelatuk itu ditarik.
Kembali ke rumah sakit, malam makin melarut. Bu Ima sudah pamit pulang untuk mengurus Riza, meninggalkan Putra yang kembali memilih bergadang menjaga Sari. Putra tertidur lelap dengan posisi duduk, kepalanya bersandar di tepi ranjang, masih memegang jemari Sari.
Keheningan kamar rawat itu mendadak terasa ganjil.
Sari, yang sepanjang hari tampak lemah dan tak berdaya, perlahan menggerakkan jemarinya. Matanya terbuka lebar—sama sekali tidak memancarkan rasa sakit atau trauma, melainkan dingin dan penuh kalkulasi.
Ia menatap kepala Putra yang tertidur di sampingnya, lalu beralih menatap jemari tangannya sendiri. Sari menggeser sedikit posisinya, menahan rasa nyeri di dadanya yang memang nyata, namun senyum kemenangan kini terukir jelas di wajahnya.
Sari tahu betul, peluru di dada kirinya adalah perjudian terbesar dalam hidupnya. Satu milimeter saja bergeser, jantungnya yang akan hancur. Namun, luka tembak ini adalah harga yang sangat murah untuk membayar kehancuran Seina secara mutlak.
Sari perlahan mengangkat tangannya yang tak terinfus, membelai lembut rambut Putra yang tertidur.
"Kamu milikku sekarang, Putra..." bisik Sari sangat pelan, hampir berupa desisan angin. "Seina tidak akan pernah kembali ke dalam hidupmu."
Namun, di tengah kemenangannya, Sari tidak menyadari satu hal. Di luar pintu kamar rawat inap yang sedikit terbuka, seorang pria berseragam penyidik berdiri di kegelapan koridor. Iptu Yudi, yang datang terlambat untuk meminta keterangan awal dari korban yang baru sadar, menghentikan langkahnya tepat sebelum mengetuk pintu.
Melalui celah kaca pintu yang sempit, mata tajam Iptu Yudi menangkap sesuatu yang janggal: sorot mata Sari yang jernih, dingin, dan penuh intrik saat menatap Putra yang tertidur—sama sekali bukan ekspresi seorang korban trauma yang baru saja lolos dari maut.
Iptu Yudi menyipitkan matanya, merogoh saku jalurnya, dan mencatat sesuatu di buku saku kepolisiannya. Rekaman forensik arah sudut tembakan di gubuk tua itu belum sepenuhnya masuk akal, dan tatapan mata wanita di dalam ruangan itu baru saja menyalakan alarm kecurigaan baru di kepalanya.