Cerita bermula dari seorang gadis penulis yang mendapatkan permintaan dari pembaca untuk membuat cerita tentang percintaan. Gadis itu bernama Larasati seorang penulis amatir yang tak mendapatkan banyak pembaca. Tiba-tiba di beri permintaan untuk membuat kisah percintaan. Apa yang akan ia lakukan? Terlebih lagi ia tak pernah mempunyai kisah percintaan di masa hidupnya. Suatu ide gila muncul dari pikirannya untuk menghubungi teman laki-laki yang bisa dianggap dulu pernah ditaksirnya sewaktu di bangku SMK ia adalah Dika. Larasati sudah mengikuti akun instagramnya dari dulu dan ia pun berniat mengirim pesan bantuan lewat media tersebut. Butuh banyak keberanian untuk mengirim pesan yang terbilang baru pertama kali itu. Jawaban apa yang akan diterimanya? Akankah lelaki tersebut akan membantunya hingga sebuah cinta hadir diantara keduanya. Semua akan terjawab di dalam kisah yang ku tulis ini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jindael, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Salah Paham
"Copet... copet!!!" Suara keributan tiba-tiba terdengar ke telinga Larasati yang hendak pulang dari pasar.
"Copet?" Larasati melihat ke sekitar
Larasati yang kebetulan sedang berbelanja kebutuhan rumah sendiri di pasar, mendadak mendengar ada copet yang ternyata berlari ke arahnya. Larasati terkejut karena copet itu adalah orang yang dikenalnya di pasar.
"Diman, stop!" suruhnya pada pencopet itu.
"Mba Laras, ampun..." Pencopet yang bernama Diman itu langsung minta maaf padanya
"Kamu ya kakak kan sudah bilang untuk tidak mencopet," tegur Larasati langsung.
"Maaf Kak Laras, ini aku kembalikan." Diman langsung memberikan dompet curiannya ke Larasati.
"Ya sudah, ingat jangan diulangi," ucap Larasati memaafkan sambil menerima dompet tersebut.
"I-iya Kak aku pergi dulu," pamit Diman setengah ketakutan sambil berlari setelahnya.
Larasati menghela nafasnya, mengingat anak itu sudah beberapa kali Larasati memperingatinya untuk tidak mencuri. Tapi dirinya mendadak berpikir, kenapa Diman mencuri lagi, padahal ia sudah berjanji padanya dan beberapa hari ini Larasati tak pernah mendapat laporan bahwa ia mencuri lagi. Entah kenapa hari ini ia kumat lagi untuk mencuri.
"Huh dasar anak itu, mungkin sedang khilaf," pikir Larasati menghiraukannya. Tapi tak disangka ada seseorang yang melihat dan merekam adegan disaat Diman memberikan dompet curiannya pada Larasati. Dari video itu membuat semuanya jadi salah paham padanya.
"Laras!" Seseorang muncul dari bilik tembok.
"Inaya, ah ini...," Larasati menengok sambil tersenyum dan memperlihatkan dompet yang dikira itu miliknya.
"Kau ternyata komplotan pencuri tadi," tuduh langsung Inaya membuat Larasati terkejut.
"Hah, bukan." Larasati jelas langsung mengelaknya. "Aku memang mengenal tapi...." ucapan Larasati langsung di potong oleh Inaya.
"Itu apa dan ini sudah membuktikannya, anak itu memberikan hasilnya padamu lalu kau menyuruh anak itu pergi. Iya kan," potong Inaya sambil menunjukkan hasil rekamannya.
"Asli aku berniat mengembalikan ini," jujur Larasati padanya.
"Inaya, mana copetnya?" Seorang wanita datang menyusul dan bertanya padanya.
"Orang itu...." Larasati seketika teringat dengan wajah orang yang baru saja tiba itu.
"Sini dompet Tante Alma," suruh Inaya tak santai pada Larasati.
"Ini." Larasati memberikan dompet itu padanya.
"Jadi kau pencurinya," tunjuk wanita yang bernama Alma itu ke Larasati.
"Dia bukan pencurinya tante tapi bos yang menyuruh anak tadi mencuri, lihat Tan." Inaya memberikan ponselnya untuk memperlihatkan hasil tangkapannya pada Alma.
"Naya, jangan sembarang bicara!" tegur Larasati padanya.
"Mana satpam di sini? Tangkap mba itu!" Alma langsung mencari petugas satpam untuk menangkap Larasati.
"Mana pencopet nya Bu?" tanya balik Pak Satpam padanya setelah berlari.
"Itu, tangkap gadis itu. Cantik-cantik kok copet," tunjuk Alma ke Larasati. Petugas pasar terkejut karena orang itu Larasati.
"Lho Neng Laras," ucapnya kaget.
"Mang Sapri, aku tak_" Larasati berusaha menjelaskan namun dihentikan olehnya.
"Tenang," suruhnya.
"Baik Bu saya akan tangani," ujar Mang Sapri yang sudah mencekal tangan Larasati agar tak kabur.
"Baguslah, Ayo Naya kita pulang," ajak Alma pada Inaya. Setelah orang-orang yang melihatnya pada bubar, Mang Sapri langsung berbicara pada Larasati.
"Neng Laras ini pasti ulah Diman ya," tebaknya
Larasati mengangguk
"Ya sudah Neng Laras pulang aja, biar Dimam memang yang urus," ujarnya.
"Makasih Mang, jangan hukum Diman ya mang, dia masih kecil," pinta Larasati padanya.
"Iya iya tenang saja," ucapnya.
Diman, anak seperanta dengan Salma ini adalah anak yang dulu pernah mencuri dompet Larasati. Namun karena Larasati orang baik, ia tak menghukumnya karena tahu dia mencuri untuk apa. Ibunya sakit dan maka dari itu untuk membeli obat Diman tak ada pilihan lain selain mencuri di pasar. Sebagian orang pasar mengerti kisah Diman yang kurang beruntung. Namun karena sering meresahkan pengunjung pasar, Diman kerap kali di bawa oleh mang Sapri untuk dinasehati. Larasati juga sering menasehatinya ketika mendapati dirinya mencuri kembali. Sudah beberapa hari ini ia berhenti mencuri dan memilih menjadi kuli panggul di pasar. Tapi hari ini sebuah insiden mengejutkan Larasati karena Diman kembali berulah.
"Naya, sepertinya Tante pernah bertemu dengannya," ucap Alma padanya di mobil.
"Ah iya Tan, dia gadis yang di restoran waktu itu. Gadis yang ngejar-ngejar Dika," katanya.
"Aku harus memperingati Dika untuk tidak dekat dengannya. Perilakunya sungguh buruk, bisa-bisanya gadis itu berkomplot dengan pencopet," ucap Alma penuh emosi.
"Iya Tan, ini tak bisa dibiarkan. Setahu Dika mulai dekat dengannya," katanya membuat Alma semakin panas.
"Apa?" Alma terkejut.
Mobil Inaya sudah sampai didepan rumah Dika. Alma dan Inaya turun bersamaan dari mobil. Disaat itu juga, Dika keluar dari rumahnya untuk pergi menemui Larasati. Alma memanggilnya sebelum Dika sampai di motornya.
"Dika, kau mau ke mana?" tanya Alma sambil berteriak.
Dika berhenti dan berbelok untuk menemui ibunya dan Inaya.
"Keluar mah ketemu Laras," jawabnya.
"Gadis itu, kau mau bertemu dengannya?" Alma merasa tak suka.
"Kenapa mah ada yang salah?" tanya Dika padanya.
"Kamu gak boleh pergi menemui gadis pencopet itu," larang Alma langsung membuat Dika kebingungan.
"Laras nyopet, jangan ngarang mah Laras anak yang baik mana mungkin," ucap Dika tak percaya.
"Kau membelanya, ibu korbannya. Gadis itu menyuruh temannya untuk mencopet di pasar tadi. Lihat ini." Alma memperlihatkan video Larasati tadi lewat ponsel Inaya
"Gak, Laras bukan seperti itu. Aku akan menemuinya," tukas Dika langsung sambil menggeleng.
"Kamu jangan pergi ada Naya lho disini," larangnya.
"Mah, pacar Dika itu Larasati bukan Inaya. Jadi stop mama menyuruh ku untuk dekat dengannya. Ingat Larasati itu gadis baik-baik mungkin itu hanya salah paham mah, Dika pergi," ucap Dika tegas pada ibunya lalu pergi. Dika sekarang sudah mulai berani pada ibunya dan membela Larasati.
Dika meninggalkan ibunya dan Inaya yang masih berdiri disana. Ia langsung menuju motornya dan bergegas menemui Larasati.
"Dika berhenti!" Teriak Alma keras penuh emosi.
"Tan, sudah lebih baik kita masuk saja," ajak Inaya padanya sambil memegang tangannya.
"Makasih Naya," ucap Alma sedikit merasa lega karena sentuhan Inaya.
Larasati yang baru saja sampai rumahnya. Terkejut karena melihat Dika yang sudah di sana. Dika langsung menghampiri Larasati dan memeluknya.
"Dika, kau kenapa?" tanya Larasati sedikit khawatir.
"Laras, kau tak apa kan?" tanyanya didalam pelukan membuat Larasati bingung.
"Aku baik-baik saja cuma tadi ada masalah sedikit," jawabnya.
"Maafkan mama ku karena sudah menuduh mu pencopet," ucapnya meminta maaf atas nama ibunya dengan posisi masih memeluk erat Larasati.
"Dia... ibumu?" Larasati bertanya.
Dika mengangguk. "Sudahlah itu tak apa, sebenarnya itu hanya salah paham saja. Memang benar pencopet itu aku mengenalnya. Tapi bukan berarti aku yang menyuruhnya," ucap Larasati sambil menepuk-nepuk punggung Dika lembut lalu melepaskannya
"Aku percaya padamu, kau gadis baik-baik," katanya membuat Larasati senang.
"Hem makasih. Ya sudah ayo masuk aku masakan sesuatu untuk mu," ajak Larasati padanya. Mendengar Larasati akan memasak untuknya, Dika sangat senang dan langsung membantu Larasati membawakan belanjanya masuk ke dalam.
...--------❤️--------...
Keesokan harinya. Alma yang sedang menyiapkan sarapan untuk anaknya mendadak mendapat telepon. Ternyata itu telepon dari kantor pasar yang mengatakan jika pencopet itu ingin meminta maaf padanya. Tentu saja itu karena Larasati dan Mang Sapri yang menyuruhnya. Awalnya Diman menolak karena takut tapi setelah dibujuk ia akhirnya mau.
Alma mengerti dan menutup panggilannya. Ia segera bergegas menuju kantor pasar karena dirinya juga ingin tahu yang sebenarnya.
Larasati yang juga keluar untuk menuju ke tempat yang sama, harus berhenti di tengah jalan karena melihat seorang nenek yang kesulitan untuk menyeberang. Larasati meminggirkan motornya dan bergegas turun untuk membantu nenek tersebut.
Larasati menyuruh sang nenek untuk memegangi tangannya sementara Larasati mulai berjalan perlahan sambil mengangkat tangannya agar kendaraan lain yang melintas memelankan lajunya. Kebetulan sekali Alma yang sudah di dalam mobil melihat aksi Larasati dan menjadi berpikir jika yang dikatakan oleh Dika anaknya adalah benar. Tapi ia berpikir kembali jika Larasati benar-benar orang baik berarti Inaya yang sudah berbohong padanya.
"Gadis itu, dia sangat baik sekali," ucapnya sangat tersentuh ketika melihatnya.
"Hah dia kan...?" Alma terkejut ketika tahu siapa wanita tersebut.
Keduanya kini sudah berkumpul di kantor pasar bersama Mang Sapri dan Diman. Saat Larasati tiba, Diman langsung bersembunyi dibelakangnya lantaran takut melihat Alma yang sudah di sana dan terus menatap tajam ke arahnya.
"Diman, jangan takut dan jelaskan yang sebenarnya. Minta maaf lah baik-baik," bujuk Larasati padanya.
"I-iya Kak Laras." Diman pun perlahan keluar dari belakang Larasati.
"Ma-maaf Bu, aku tak bermaksud mengambil dompet ibu tapi aku melakukannya karena disuruh oleh seseorang," ucap Diman yang sedikit ketakutan. Ia bahkan terus menggenggam tangan Larasati kuat-kuat.
"Siapa yang menyuruhmu, bukannya itu gadis yang ada di sebelah mu?" tanya Alma sambil menatap padanya membuat Diman takut kembali.
"Bu-bukan Bu, Kak Laras tak pernah menyuruhku untuk mencopet, ia justru selalu menasehati ku. Tapi kemarin ibu mendadak drop dan aku harus segera membeli obat lalu wanita berambut merah datang untuk membantuku dengan syarat aku juga harus membantunya," jelasnya.
"Tante Alma, aku cariin tadi kata Dika Tante di sini." Seorang wanita dengan pakaian kurang sopan masuk untuk menemui Alma.
"Itu orangnya," tunjuk Diman langsung karena ia masih mengingat wajah yang menyuruhnya itu.
"Hah apa-apaan ini." Inaya yang baru saja tiba jelas kebingungan.
"Benarkah Naya?" tanya Alma padanya karena tak percaya. Alma membutuhkan kejelasan darinya
"Tante aku tak mengerti, sebenarnya ada apa ini?" Inaya berpura-pura seolah tak terjadi apa-apa.
"Kau yang sudah menyuruh anak itu mencopet dompet tante kan?" tanya Alma membuat Inaya terkejut
"Heh bocah! Jangan sembarangan ya. Kita saja baru bertemu," marah Inaya sambil menunjuk ke arah Diman. Diman yang ketakutan kembali bersembunyi di belakang Larasati.
"Hee Mbak rambut merah! Mana bayaran untuk kami katanya jika kami berhasil membantu mbaknya menuduh gadis itu mau dikasih upah. Jangan-jangan mbak penipu ya." Beberapa ibu-ibu pasar datang menghakimi dirinya. Alma mendengus kesal karena tak menyangka itu ulahnya.
"Apa-apaan sih kalian ini, Tante...." Inaya menatap ke arah Alma untuk meminta bantuan.
"Naya, tante benar-benar kecewa padamu, urus masalahmu jangan memelas padaku untuk membantumu. Aku sepertinya sudah salah menyuruh Dika untuk dekat wanita toxic sepertimu," ucap Alma menolak menolong dirinya dan memilih bangkit dari duduknya hendak pergi.
"Tante!!!" Inaya berteriak memanggilnya namun itu di hiraukan oleh Alma.
Alma pergi meninggalkan Inaya yang masih di hakimi oleh orang-orang pasar. Sedangkan Larasati berlari untuk mengejar Alma karena takut Alma tak memaafkan Diman dan akan mengirimnya ke kantor polisi.
"Permisi Bu," panggil Larasati yang berhasil mengejarnya.
"Iya ada apa?" tanya Alma setelah berbalik.
"Maaf Bu sebelumnya tolong maafkan Diman ya Bu, saya berjanji akan mendidiknya agar tak khilaf mencuri lagi," jawab Larasati sambil meminta padanya.
"Namamu Larasati kan?" Alma malah bertanya padanya.
"Iya Bu," jawab Larasati mengangguk.
"Maafkan tante ya, sebagai permintaan maaf tante, tante undang kamu untuk makan bersama besok," ucapnya membuat Larasati terdiam.
Alma tersenyum kecil sambil menepuk pundak Larasati. Ia lalu pergi meninggalkannya. Larasati sedikit terkejut tak percaya karena ibunya Dika mendadak mengundangnya untuk makan bersama.
Bersambung ....❤️❤️❤️
cerita ny snggt menghibur👍👍 🙏🙏🤗🤗🥰🥰
lancarrrr ya
terngiang-ngiang nama dika,,, jadi mangil bagas jadi dika🤭🤭😄