Kepergian Ratna setelah melahirkan membuat kebahagiaan Ifal hancur, dia kehilangan wanita yang dicintainya dan dipaksa menikahi saudara perempuan dari istrinya yang jauh lebih tua darinya.
Relin perawan tua yang gila bekerja, dia tidak tertarik dengan cinta paling penting dia punya usaha.
Keputusan dua keluarga menikahkan Ifal dan Relin tidak dapat dibantah, Ifal terpaksa menikahi Kakak iparnya yang hidupnya mapan jauh diatasnya. Relin juga terpaksa menerima demi keponakannya.
Akankah keduanya saling mencintai dengan banyaknya perbedaan. Relin yang mengutamakan pekerjaan, sedangkan Ifal jauh dibawahnya. Baik usia, maupun pendapatan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon vhia azaira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
MANTAN
Dari kejauhan Lin menatap Ifal yang bermain bersama Rania, sedangkan Ibu sibuk belanja sendirian tidak tahu ke mana arahnya.
Tawa Nia terdengar, saat takut dia memeluk erat Ayahnya. Relin hanya merekam moments paling berkesan.
"Relin, lama tidak bertemu?" sebuah tangan terulur ingin bersalaman.
Tangan Relin menyambut, dia hanya memberikan senyuman kecil tanpa mengeluarkan sepatah katapun.
"Lagi apa di sini?" tanyanya.
"Menemani anak," balas Relin singkat.
"Oh, sudah menikah?" senyuman sinis terlihat, semua orang mengatakan Relin gadis tua, tanpa ada yang tahu dia sudah menikah dan punya anak.
Ifal datang menghampiri sambil menggendong Rania, kedua tangan Nia ingin memeluk Relin yang langsung menggendongnya.
"Siapa Lin?" Ifal menatap ke arah pria berjas hitam.
"Ronald, teman sekolah Relin." Senyuman terlihat menjabat tangan Ifal yang juga menyambut sambil tersenyum.
"Salam kenal, saya Ifal suaminya."
Kepala mengangguk, Ronald tidak menyangka Relin punya pikiran untuk menikah. Saat muda dia gila belajar, kuliah juga sibuk menjahit dan menggambar, ternyata lebih dulu menikah dan memiliki anak.
Mendengar ucapan yang cukup singkat membuat Ifal paham jika Lin dan Ronald sempat ada hubungan.
"Ayo Mas kita cari Ibu," ajak Relin pergi.
"Kita duluan Nal," pamit Ifal berlagak ramah padahal dia malas banyak basa-basi.
Ronald menatap sepasang suami istri yang menjauh, sapu tangan dikeluarkan untuk membersihkan tangan.
"Menjijikkan, mengapa selera Lin begitu rendah?" Ronald nampak kesal merasa tangannya bau.
Di sebuah toko, Relin memilih beberapa baju untuk Rania, Ifal juga dirinya. Tidak terlalu jauh nampak Ibu yang akhirnya menemukan baju pilihannya setelah berkeliling, dan Relin hanya mengizinkan dua baju.
"Lin, pacar kamu?" Ifal duduk sambil menggendong Nia.
"Emh, masa SMA. Sudah lama dan sudah berlalu?"
"Boleh aku bertanya lebih jauh?"
"Mas mau tanya mengapa aku tidak menikah?" Relin tersenyum menatap Ifal yang ternyata ingin mengenal dirinya.
Relin tidak tahu asal mulanya pekerjaan lebih menyenangkan daripada cinta. Sejak kecil belajar menjadi prioritas agar dirinya bisa mengangkat derajat orangtua, tapi di masa SMA percintaan pasti ada dirasakan.
"Ronald pacar pertama, mantan pertama, dan dia juga yang membuat patah pertama. Jatuh cinta membuang waktu, bekerja menghasilkan uang. Jika aku punya segalanya, tidak butuh cinta makanya aku menikmati kesendirian." Relin menunjukkan dua baju untuk Rania.
Ifal memilih yang warna biru, tapi Lin mengambil yang pink. Ifal hanya tersenyum melihat istrinya yang jahil juga.
"Masih mencintainya? Bukannya dia cinta pertama?"
"Tidak ada cinta dalam hidupku, kecuali cinta Nia." Lin mengecup pipi Rania yang tertawa.
"Relin, sudah dapat bajunya." Ibu menunjukkan baju yang harus Relin bayar.
"Biar aku yang bayar." Ifal mengeluarkan kartunya.
Tangan Ifal dipukul, Ibu tidak suka melihat kartu Ifal yang ada motif singa, lebih enak melihat milik Relin yang berwarna hitam.
Helaan napas Ifal terdengar, Relin mengusap punggungnya memberikan kartun miliknya. Padahal semua kartu sama saja paling penting isinya.
"Astaghfirullah Al azim Bu, kenapa harga baju lima juta, mahalnya." Ifal meminta Ibu mengembalikan, lima juta terlalu tinggi hanya sekedar beli baju.
Teriakkan Ibu terdengar, dia tidak ingin mengembalikan. Lebih dari dua jam mencari baju, seenaknya Ifal ingin mengembalikan.
"Lin, hentikan Ibu."
"Biarkan saja Mas, jarang sekali. Biarkan ibu menyenangkan dirinya sendiri." Baju yang lain juga dibayar, Relin menghabiskan cukup banyak uang hanya untuk belu baju.
Ibu memeluk Relin erat mengucapkan terima kasih, rasanya Ibu bahagia sekali. Dia bisa bertemu temannya dengan baju mahal.
"Membiarkan Ibu membelinya sama saja membantu ibu pamer," tegur Ifal dengan nada pelan.
"Tetangga di perumahan kita memang begitu semua." Senyuman Relin terlihat meminta bantuan Ifal membawa barang karena Relin harus menggendong Nia.
Sepanjang jalan Ibu memeluk bajunya, rasanya tidak sabar lagi menunggu hari esok. Perasaan bahagia untuk pertama kalinya bisa punya baju mahal.
"Mas, beli soto untuk bawa pulang." Lin menunjuk ke arah depan.
"Ibu mau bakso." Kepala Relin mengangguk, dia keluar bersama Ifal meninggalkan Ibu dan Nia di mobil.
Ada banyak menu, Ifal tidak ikut memesan. Dia merasa sungkan melihat Relin keluar uang banyak.
Perhatian Ifal ke arah satu meja, tempat makan yang cukup terkenal menjadi makanan favorit Lin sejak muda, tidak heran banyak orang kaya mampir.
"Kenapa dilihatin?"
"Bahagia saja melihatnya, aku ingin Nia juga seperti itu," balas Ifal sambil tersenyum.
"Insyaallah, ayo kita kembali." Satu plastik besar makanan dibawa pulang.
Sampai di rumah jam sembilan malam, tapi masih ramai karena banyak tetangga yang asik mengobrol di teras rumah.
"Dari mana Fal, sekarang hidup enak jalan pakai mobil," sindir Pak Adam yang rumahnya beberapa langkah dari rumah Ifal.
"Jalan pakai kaki," timpal Ibu membawa belanjanya.
"Waduh sombong sekarang bisa beli banyak barang, keluarga kalian memang pintar menipu." Tawa terdengar mengejek Ibu yang mencoba tidak mempedulikan.
Lin menatap tajam, dia melangkah ke rumah tetangganya yang sedang asik mengobrol. Meletakkan satu plastik besar memberikan lima bungkus roti mahal.
"Silahkan di buka dan dinikmati untuk menemani kopi, tidak enak terlalu banyak nyinyir, tapi perut lapar." Senyuman Relin terlihat mempersilahkan.
"Terima kasih Ratna, eh salah ternyata ini kakaknya. Kamu cantik meskipun sudah tua." Makanan yang Relin berikan dibuka.
"Usiaku baru tiga puluh tahun, dua puluh tahun aku habiskan untuk belajar, berkarya, berbisnis, dan menghasilkan uang. Terlambat menikah lebih baik demi kesuksesan." Relin membungkuk badannya pamit untuk pulang.
Ifal masih berdiri menatap beberapa orang yang merendahkan keluarganya, apa orang miskin seburuk itu padahal ekonomi mereka masih setara.
"Fal, apa kamu tidak malu menikahi wanita banyak uang?" Pak Adam meminta Ifal bergabung.
"Malu tidak soalnya Ifal kerja, hanya saja pendapatan Relin lebih besar."
"Wanita yang memiliki uang suka melawan suami, durhaka dan bersikap kejam," tegur beberapa Bapak-bapak lain.
Senyuman Ifal terlihat, bersyukurnya Relin tidak begitu. Dia wanita yang baik, sopan, penyayang, pekerja keras. Rasanya Ifal terlalu beruntung memilikinya, tidak ada wanita sehebat Relin.
"Terima kasih atas perhatiannya terhadap keluarga kami, insyaallah kita bahagia dengan jalan ini. Permisi, sudah malam." Ifal melangkah masuk ke rumahnya.
Suara samar-samar terdengar, ternyata bukan hanya Ibu-ibu yang suka mencibir. Bapak-bapak juga sama, suka menjelekkan secara langsung tanpa memikirkan perasaan orang lain.
Deringan ponsel masuk, Relin langsung menjawab cepat berpikir panggilan dari rekan kerja karena Relin jarang memberikan nomor ponsel kepada sembarangan orang.
"Sudah sampai rumah Lin, aku dapat kabar ternyata lelaki itu suami adikmu, lucu sekali bisa menikahi Kakak iparnya," ujar Ronald meminta penjelasan.
"Ini siapa, tidak kenal." Lin mematikan panggilan memblokir kontak Ronal yang menggunakan nomor baru.
***
Follow Ig vhiaazaira
alurnya juga
meski bahasanya agak berantakan tapi limayan masih bisa dipahami.mungki.n ke depannya tata bahasanya yang lebih tertata lagi.
terus semangat berkarya thor ❤️❤️❤️