Menikah atau masuk penjara!
Sebuah pilihan sulit di berikan kepada Alana. Haruskah dia menikahi laki laki asing tanpa cinta?
Tapi jika dia tidak mau, penjara sudah menantinya!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Irda Irwan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 31: Honeymoon sudah selesai!
Untuk menjebak Alana! jawab perempuan itu dalam hati.
"Bukan urusanmu! " tukas nya. " Upahmu sudah aku transfer, " katanya lalu pergi meninggalkan laki laki itu.
Tim menatap perempuan itu sampai menghilang dari pandangan.
Jangan pikir kamu bisa menyingkirkan aku, batinnya.
Aku punya semua bukti yang bisa menghancurkan hidupmu! bisik hatinya licik.
****
Hotel Mako, Pulau Praslin
Sejak hari itu, sejak Alana kehilangan kesuciannya secara paksa oleh Adya, dia tidak pernah melihat laki laki itu.
Mungkin dia sibuk dengan perempuan lain, kata Alana tak perduli.
Dia dan mamanya memuaskan diri untuk bersenang senang di Pulau Praslin ini.
Mereka mengikuti tour tamasya kapal keliling Pulau Praslin.
Hari berikutnya mereka mencoba scuba dan snorkeling di atol karang Aldabra. Salah satu warisan UNESCO.
Selanjutnya menjelajahi Taman Nasional Praslin dengan berjalan kaki.
Akhir minggu, mereka bermain di pinggir pantai Anze Lazio yang memiliki pasir yang berwarna keperakan dan hamparan laut berwarna biru jernih.
Setelah mencoba semua paket wisata yang tersedia di Pulau Praslin, tiba tiba Alana tersadar sesuatu.
"Ma, menurut mama apakah aneh kalau kita tidak melihat Adya dan pengikutnya itu selama beberapa hari ini? " katanya saat mereka sudah berada di dalam kamar.
"Hotel ini kan besar, bisa saja dia ada di mana saja, " balas Mama Alana tak acuh.
Dalam hati dia bersyukur tidak melihat mantunya yang durhaka itu. Bisa merusak mood liburan!
"Bagaimana kalau dia sudah meninggalkan Pulau ini, Ma? " ujar Alana menduga duga.
"Tidak mungkinkan dia tidak terlihat di mana mana? "
"Dia tidak mungkin meninggalkan kita di sini, " tukas Mama Alana sambil naik ke atas ranjang.
Tujuan hidupnya adalah membalas dendam pada kita, sambungnya dalam hati.
"Heh, mau kemana? " teriaknya saat melihat Alana berjalan ke arah pintu.
"Mau mencari tahu, " jawab Alana.
"Hei... ah sudahlah, " ujar Mama Alana menyerah.
Percuma saja melarangnya. Keliatan sekali Alana kuatir dengan suami laknatnya itu, batinnya sambil memijat kedua kakinya yang terasa pegal karena seharian berlarian di sepanjang pantai Anze Lazio.
Begitu menutup pintu, Alana bersua dengan housekeeping ( pegawai hotel yang bertugas bersih bersih) yang baru keluar dari kamar Adya.
"Anda melihat Tuan yang tinggal di kamar sebelah? " tanyanya.
"Sudah beberapa hari ini Tuan Adya tidak tinggal di kamar ini, Nyonya, " jawab housekeeping.
"Permisi, Nyonya, " lanjutnya sambil pergi. Dia takut di hujani pertanyaan.
Jelas terlihat dari wajah si Nyonya kalau dia kehilangan Tuan Adya, batinnya.
"Eh, iya, " jawab Alana bingung.
Sudah beberapa hari ini tidak ada di kamar, apa jangan jangan betul Adya sudah pergi dari Pulau ini? kata hatinya.
Aku akan mencari tahu, tekadnya sambil membuka pintu kamar.
Dia menggerakkan gagang pintu berkali kali. Namun pintu tidak juga terbuka.
Sial! geramnya sambil menendang pintu.
"Aku tidak mau membayar ganti rugi merusak properti hotel, " suara Adya terdengar di belakang Alana.
Adya? hati Alana bersorak. " Anda masih ada di sini, Pak? Saya pikir Anda sudah pergi, " katanya tanpa bisa menutupi kebahagiaan nya.
"kenapa kamu pikir aku sudah pergi? " tanya Adya sambil membuka pintu kamar.
"Saya tidak melihat anda beberapa hari ini, " jawab Alana.
"Aku sibuk, " sahut Adya singkat.
Sibuk untuk melupakan kamu tapi tak bisa, lanjutnya dalam hati.
"Masuk! " katanya dengan nada memerintah, begitu pintu kamar terbuka.
"Tidak, tidak usah," tolak Alana cepat. Dia tidak ingin berduaan dengan Adya.
"Kenapa tidak? Tadi jelas jelas aku lihat kamu berusaha masuk ke dalam kamarku, padahal kamu tidak punya kuncinya, " ujar Adya heran.
"Aku hanya ingin lihat apa anda ada di kamar... hei, " kata Alana kaget karena Adya sudah menariknya masuk ke dalam kamar.
"Buka baju, " perintah Adya.
"Apaan sih? Baru masuk sudah suruh buka buka baju, " omel Alana heran.
"Buka baju atau aku robek! " ujar Adya memberikan pilihan.
"Aku mau keluar, " balas Alana bergegas.
"Kalau tidak ingin itu, kenapa mencari aku, " kata Adya sambil menarik tangan Alana. Seketika gadis itu jatuh dalam pelukannya.
Alana berusaha melawan. Tapi tenaga Adya terlalu kuat untuknya. Apalagi Adya sudah beberapa hari ini berpuasa. Dia tidak punya gairah lagi pada perempuan lain. Dia hanya menginginkan gadis ini!
Satu jam kemudian, akhirnya mereka terpisah dan tidur terlentang bersisian.
"Kamu suka permainan yang ini? " tanya Adya menggoda.
"Aku tidak tahu, " jawab Alana dengan wajah memerah. Tapi dia mengakui dalam hati, jika kali ini Adya begitu lembut. Tidak kasar seperti waktu itu.
"Sepertinya kamu puas. Nanti kita melakukannya sesering mungkin, " kata Adya memutuskan.
"Jangan protes! " tukas nya saat melihat gerakan bibir Alana hendak membantah.
"Istirahat yang cukup. Honeymoon sudah selesai. Besok kita balik ke Jakarta, " putusnya.
Kembali ke Jakarta ya, batin Alana resah. Entah kenapa dia tidak ingin kembali. Ada semacam firasat tidak enak yang menunggunya di Jakarta!
Adya memperhatikan wajah Alana dalam dalam. Sungguh di sayangkan gadis ini anak dari Nyonya Diane Warwick. Tapi dia tidak bisa melanggar sumpah di depan kakaknya.
Janji adalah janji. Harus di tepati!
Esok harinya, mereka sudah berada di dalam jet pribadi milik Adya. Menempuh perjalanan sejauh 9104 Km untuk mencapai Jakarta.
***
Kamar Correa, lantai 1
Sejak kejadian di hotel itu, Correa mengurung diri di dalam kamar. Dia menyesali nasibnya yang sial.
Airmata tak henti hentinya mengalir. Matanya sembab. Kepalanya sakit.
Beruntung, kedua orangtua nya sedang pergi mengunjungi kerabatnya di luar negeri. Sehingga mereka tidak tahu yang terjadi pada anaknya.
Sakit kepalanya tambah menjadi saat menerima sebuah kiriman video di aplikasi line nya.
Video berdurasi 10 menit itu, adalah video dia bersama Tim. Dia sampai malu melihatnya. Dia begitu liar di atas ranjang. Sampai Tim kewalahan meladeni nya.
Bagaimana jika video ini di lihat papa mama? Di lihat Derek? batinnya sedih. Airmata kembali mengalir tanpa henti.
Hanya Grieta tempatnya mengadu. Temannya itu bahkan bersedia mendengar kisah sedihnya selama berjam jam melalui saluran telepon.
"Kamu tenang saja, Re, kita akan cari pelaku perekam video itu. Kamu curiga pada seseorang? " kata Grieta setelah akhirnya Correa berhenti bicara.
"Pasti laki laki itu, " jawab Correa cepat. "Aku yakin sekali itu dia! "
"Kita bisa telusuri nama tamu yang cek in di hotel pada malam itu, setelah mendapatkan namanya, kita akan tahu alamat rumah nya" sahut Grieta menenangkan.
"Aku sudah buka laptop, kita akan login ke situs hotel, lalu aku akan meretas sistemnya untuk melihat daftar tamunya, " lanjutnya lagi.
"Tidak perlu, aku tahu namanya, " ujar Correa. " Namanya Timothy. "
"Timothy Dailey. Pasti ini. Hanya ada satu nama Timothy Dailey sebagai tamu hari itu, " kata Grieta sambil memelototi layar laptopnya.
"Ya betul, itu pasti dia! " seru Correa bersemangat.
Eh? Kenapa Grieta tahu namanya Timothy Dailey?
****
Wah... wah.. makin seru aj nih
lanjut bab 32😍