takdir tak pernah berjalan seperti yang kita inginkan, semuanya sudah digariskan dan ditentukan oleh sang pencipta. Begitu pula yang dirasakan dan dijalankan oleh Nita dan Karin.
Seorang ibu yang membenci anak nya sendiri dan seorang anak yang selalu merindukan kasih sayang ibunya.
Apa yang terjadi pada Nita hingga Nita membenci anaknya? dan bagaimana Karin tubuh besar tanpa kasih sayang?.....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lina Kotto, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kisah Karin dan Dirga 9
"kamu pasti sekarang sudah merasa jauh lebih segar Karin, setelah selesai mandi." ucap Dirga masih memperhatikan Karin yang duduk didepannya, dan mulai menulis pembukuan untuk Dirga.
"hmm, sangat segar." jawab Karin membenarkan perkataan Dirga dan terus melanjutkan apa yang sedang ia kerjakan, sementara Dirga mulai bangun dan berpindah duduk disebelah Karin. Memperhatikan setiap apa yang sedang di ketik oleh Karin.
"kamu sangat pandai menulis pembukuan, dan sangat teliti menghitung setiap jumlah penambahan dan pengurangan angka nominalnya." tutur Dirga setelah melihat pembukaan yang sedang ditulis oleh Karin, dan memuji Karin dengan sangat jujur, karena Karin yang dia kenal saat menjadi muridnya dulu memang sangat pintar. Bahkan sangat pintar dia sampai melompat dari kelas tiga sekolah dasar ke kelas empat sekolah dasar hanya dalam waktu tiga bulan saja. Karena itu sekarang saat usia delapan belas tahun Karin sudah kuliah semester empat, dan mungkin dalam waktu dua tahun lagi dia sudah menyandang gelar sarjana S1 nya.
Namun Karin tidak menjawab perkataan Dirga tersebut, dan tetap konsentrasi dengan pekerjaannya, hingga Dirga semakin mendekat kepada Karin dan perlahan punggung tangannya mulai mengusap lembut lengan kanan Karin, "Karin, boleh aku tahu mengapa kulit mu terlihat sangat putih dan tipis? Hingga begitu menampakkan setiap pembuluh darah seperti ini." Dirga mulai mengajukan pertanyaan yang sudah lama membuatnya penasaran, sembari menyentuh garis-garis pembuluh darah Karin dan menelusurinya dengan jarinya, dan sebetulnya selalu ingin tahu sejak dulu. Apa lagi setiap dia melihat kulit Karin yang memerah saat diterpa terik matahari.
Namun Dirga sama sekali tidak takut melihat itu, dan justru sangat terpana melihat pembuluh darah Karin yang terlihat begitu jelas, dia bahkan mengagumi ciptaan tuhan tersebut, yang terlihat sungguh cantik dengan kecantikan yang sempurna. Dimulai dari hidung yang kecil namun mancung, mata yang jernih seperti telaga, alis asli melengkung indah seperti dibuat, bulu mata yang lentik, bibir tipis berwarna pink seperti bunga mawar yang terlihat begitu manis, dan dagu yang sedikit lancip, sungguh semuanya terlihat indah sempurna. Bahkan siapapun yang melihatnya pasti akan candu dan ingin terus melihatnya.
"Karin tidak tahu jelasnya mengapa, namun ibu pernah cerita!" tutur Karin mulai bercerita sembari mengamati kearah jari tangan Dirga, yang sedang menelusuri setiap pembuluh darahnya yang terlihat begitu jelas di setiap kulitnya. "Saat lahir, Karin lahir prematur di usia kandungan kurang dari tujuh bulan. Karin lahir dengan tubuh sangat lemah dan tidak menangis sedikitpun, bahkan juga sempat tidak bergerak dan disangka lahir dalam keadaan tidak bernyawa oleh wanita yang melahirkan Karin." ujar Karin menyebut wanita yang melahirkannya, lalu memandang kearah Dirga karena Dirga tahu perempuan yang membesarkan Karin bukanlah ibu kandung Karin, karena didalam lapor sekolah Karin tertulis siapa nama lengkap ibu kandung Karin dan juga nama almarhum ayah Karin.
Dirga juga mengetahui bahwa wanita yang membesarkan Karin hanya ibu angkat, yang tidak memiliki hubungan apapun dengan Karin. "apakah bapak masih ingin mendengarnya?" tanya Karin kemudian setelah dia melihat wajah Dirga.
"hmm, aku masih ingin mendengarnya." jawab Dirga dan memandang wajah Karin lekat-lekat, karena dia semakin penasaran dan ingin tahu tentang bagaimana kelahiran perempuan yang telah menjadi istrinya itu.
"namun saat paman yang telah menjadi ayah tiri Karin, melihat jari-jari tangan Karin bergerak pelan saat dia mengangkat tubuh Karin dan menyelimuti tubuh Karin dengan kain, dia pun langsung berlari membawa Karin dan mama kerumah sakit dengan menumpang mobil tetangga, hingga akhirnya Karin mendapatkan perawatan dirumah sakit itu selama dua bulan lebih, dan saat itu dokter yang menangani Karin sempat berkata kepada papa bahwa Karin mungkin tidak akan hidup lebih dari seminggu, karena kondisi tubuh Karin yang lemah dan sangat kecil, ditambah lagi kulit Karin selalu mengelupas setiap kali disentuh atau bergesekan dengan sesuatu, meski dengan kain lembut sekali pun. Itulah alasan mengapa kulit Karin menjadi seperti ini." tutur Karin mengakhiri ceritanya, lalu mengalihkan pandangan matanya kembali ke laptop yang ada didepannya.
"jadi ternyata karena itu." kata Dirga dengan suara sangat pelan setelah apa yang selama ini menjadi pertanyaannya akhirnya terjawab, dan tidak menyangka bahwa saat lahir Karin seperti itu, dia merasakan sesuatu seperti perasaan kasihan dan juga sedih yang bercampur menjadi satu, saat dia mendengarkan cerita Karin, perlahan Dirga kembali mengelus lengan Karin dengan lembut, lalu membenamkan wajahnya dengan manja di bahu Karin, dan kemudian mengecup leher jenjang Karin dengan lembut.
Membuat tubuh Karin seketika menegang karena sengatan listrik yang tiba-tiba kembali ia rasakan dan kemudian kembali rileks, dan akhirnya hanya diam menikmati setiap cum buan lembut yang Dirga lakukan dilehernya. Dirga mencium dan mengendus aroma tubuh Karin yang terasa begitu harum baginya, dia sangat menyukai aroma tubuh Karin dan semakin menikmati aromanya, dengan terus mencium setiap inci bagian leher Karin.
Tangannya yang tak pernah diam mulai berpindah, secara perlahan tangan itu masuk kedalam baju Karin, menggelitik tubuh Karin saat tangan itu menyentuh dan melewati perut Karin, lalu perlahan masuk kedalam bra berwarna cream yang dikenakan Karin. Didalam sana tangan kanan Dirga mulai liar nyentuh dada kiri Karin, tangannya begitu lihai memainkan gunung kembar milik Karin, dia meraba dan meremas-meremasnya pelan lalu menjepit pucuk berwarna coklat yang telah mengeras itu diantara jari tengah dan jari telunjuknya, Dirga tersenyum saat menjepit p*ting yang telah mengeras itu, lalu kemudian mulai menariknya dan memutar- mutarnya lalu mencubit-cubit dengan kuatan tidak pelan tapi juga tidak keras dan kasar.
Membuat nafsu Karin memburu karena sensasi yang ia rasakan, Karin tidak tahan dengan rangsangan yang sedang diberikan Dirga, hingga dia duduk seperti cacing kepanasan didalam pelukan Dirga yang sedang memeluknya dari arah belakang, Karin sungguh tidak tahan, perlahan tangannya mulai memegang tangan Dirga yang sedang bermain di puncak gunung kembarnya, dia ingin menahan tangan Dirga agar Dirga menghentikan permainannya.
Namun yang terjadi sebaliknya dia tidak menahan tangan itu dan justru meremasnya. "Ah.....!" Sebuah lenguhan panjang melompat keluar dari mulut Karin, saat tangan Dirga yang bebas menurutkan bra yang dikenakan Karin, lalu bersamaan dengan itu kepala Dirga masuk kedalam bajunya dan mulutnya menangkup p*ting Karin, dan melahapnya dengan sangat rakus.
Dirga menyedot dan menghisapnya dengan sesapan sangat kuat, seperti bayi besar yang sedang kelaparan. "ahh..." lenguhan itu meluncur kembali dari mulut Karin, dia tidak tahan dengan apa yang sedang Dirga lakukan kepadanya, namun rasa itu dia juga menyukainya, rasa itu membuatnya ketagihan dan ingin merasakan yang lebih lagi dan lagi, dan perlahan kedua tangannya mulai memegang belakang kepala Dirga lalu meremas-remas rambut pendek Dirga.
kirain kamu anak baik baik..