NovelToon NovelToon
Pukat Asmara La Cosa Nostra

Pukat Asmara La Cosa Nostra

Status: tamat
Genre:Obsesi / Menikah Karena Anak / One Night Stand / Mafia / Romansa / Tamat
Popularitas:879.2k
Nilai: 4.9
Nama Author: sinta amalia

Undian liburan impiannya berubah menjadi awal petaka bagi Rinjani, kesalahan satu malam yang dibuat bukan untuknya menjerat Rinjani masuk ke kehidupan seorang tuan mafia.
"Aku tidak akan menikahimu, namun lahirkan janin itu dan tinggalkan dia untuk jadi penerusku," ucapnya tajam penuh intimidasi seraya melemparkan surat perjanjian dan pulpen.
Namun bukannya takut, Rinjani malah melepaskan flatshoes kotornya, "talk to my flatshoes, sir!" ia melemparnya pada Loui, meski lemparannya seburuk lemparan balita.

Mohon dibaca dari awal sampai akhir ya guys 😉 salah satu cara untuk mendukung author dalam berkarya 🙏

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon sinta amalia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 31 ~ Bule masuk kampung

Loui menatap Jani, wanita itu masih memandangi perut yang kian hari menunjukan bahwa janin di dalamnya semakin sehat dan berbobot.

Dicapitnya dagu Jani dengan lembut, "kau tak harus melakukan hal itu, Rinjani. Rawat dan besarkanlah dia bersamaku," balasnya.

Jika aku tak bisa memintamu dengan cara baik-baik, maka aku akan memintamu dengan cara apapun.

Loui menatap selembar kertas putih dengan coretan tangan dan dibubuhi tanda tangannya serta Jani. Badannya memutar ke kiri dan ke kanan kursi yang tengah diduduki.

Sreekkkk!

Ia menyobek-nyobek kertas perjanjian antara dirinya dan Rinjani. Loui ingat untuk mendapatkan ini ia sampai harus terbang ke Indonesia, membahayakan keamanan nyawanya mengingat dirinya yang dicekal oleh negara, tak bisa bepergian ke luar negara karena terendus sebagai ketua kartel mafia di balik pengedaran narko ba disebagian besar negara Kanada.

Oscar melihat keadaan di dalam ruangan dari celah yang ia buka, khawatir jika teman bosnya itu sedang melakukan hal gila lainnya seperti ngobrol sendiri atau main solo'an karena nyatanya setelah Rinjani mengandung calon penerusnya, sosok cassanova itu mati-matian menjaga kesehatan se ks'nya, mengingat ucapan dokter akan bahaya sipilis, jika ia terlalu sering celap-celup bareng teteh-teteh. Ia tak mau bibit unggulannya harus busuk batang ataupun buahnya kena hama.

"Aku tau kau memperkerjakan maid untuk ini, tapi apakah tak ada hal lain untuk merepotkan dan memperberat pekerjaan orang lain?" Oscar buka suara tersenyum miring melihat teman bosnya itu untuk pertama kali galau kaya ayam meriang, kemudian ia duduk di kursi sebrang Oscar dan membuka kancing atas kemejanya.

"Ssh!" Loui merotasi bola matanya lalu membuang potongan-potongan terakhir dari kertas itu hingga berserakan di bawah kakinya.

"Sebaiknya secepatnya saja kau urus kepergianku ke Indonesia, karena sepertinya Rinjani sudah cinta padaku..." balasnya dengan percaya diri, Oscar sampai meledakan tawanya, apakah mafia satu ini sudah mabuk rum satu drum?

"Rinjani yang cinta, apa kau?" senyumnya miring. Loui kemudian bersandar di mejanya saat Oscar mengeluarkan sesuatu dari saku jas yang sebelumnya ia sampirkan, "seharusnya kau berterima kasih padaku, kau bisa pergi secepatnya, kapan pun kau siap..." ia melemparkan satu map coklat kecil paspor dan tiket pesawat.

Loui kini tersenyum lebar, "kau memang asisten yang bisa diandalkan." ujarnya senang.

"Apa yang kau mau, Os? Villa, uang?" tanya Loui, Oscar menyunggingkan senyumannya, "aku ingin ikut kau ke Indonesia..."

Loui nyengir lebar dan tertawa renyah, "apa yang akan kau lakukan disana? Mencari yang seperti Rinjaniku? Atau mencari lahan bisnis baru untuk kita? Bukankah salah satu anak buah kita mendistribusikan ko kain kesana pula? Tepatnya kota...." Loui mencoba mengingat-ingat.

"Bali..." tukas Oscar, diangguki Loui, "ya...ahh Bali, paradise!"

"Hanya berlibur, itu saja." Jawab Oscar.

Loui tersenyum menepuk-nepuk pundak Oscar, "sayangnya tidak. Kau tetap disini, jaga Rinjaniku. Biar Mathew ikut bersamaku, aku tak yakin jika ibu Rinjani dapat berbicara nyambung denganku dalam bahasa Inggris..." Loui berkata.

"Ishh," desis Oscar, "bagaimana kau akan merebut hati ibu Rinjani, jika kau saja tidak bisa berbahasa sana?"

Loui mengangguk setuju, "Rinjani tadi mengajarkanku beberapa kata, seperti borokokok."

Oscar bahkan selalu tertawa mendengar kata itu, "apa artinya? Apakah bo doh? Too loll?"

Loui menggeleng, "bukan! Rinjani bilang, borokokok ternyata manusia terpuji."

Oscar tertawa, "aneh sekali bahasa mereka." Ia bergumam.

"Lalu kapan kau akan pergi?" tanya Oscar, "agar nanti anak buah kepala polisi itu bisa meloloskanmu di bandara?"

"Aku mau besok." Jawabnya mantap.

"Aku titipkan Rinjaniku padamu sepaket calon bayiku..." ucap Loui.

Jani menuruni tangga dengan perlahan, terkesan sedikit malas, tangannya bahkan memegangi pegangan besi berikut menengoki setiap langkahnya berhati-hati.

Ia menghela nafas sedikit berat saat sudah berada di lantai bawah, begini ternyata rasanya menjadi seorang ibu yang mengandung.

"Selamat pagi nona," sapa Marriot.

"Pagi, ibu Marrie..." seperti biasa, ia langsung berjalan menuju dapur.

"Nona," potongnya ketika melihat Jani meraih tempat penanak nasi.

"Ya?"

"Biar kubantu. Lagipula, tuan Loui berpesan, ia tak akan pulang selama beberapa hari. Jadi nona tidak usah masak nasi terlalu banyak..." ujar Marriot.

Rinjani mengernyitkan alisnya, "dia tidak akan pulang? Kemana?" tanya Jani.

"Apa tuan tidak mengatakannya pada nona?" tanya Marriot, Jani refleks menggeleng, kini ia menatap lurus ke arah meja marmer pastry berwarna hitam itu.

Apa pekerjaannya?

Pergi kemana dia?

Apakah jauh, penting?

Kenapa tak bilang pada Jani?

Apa Jani tak penting?

Rinjani mendengus kesal dan melanjutkan kegiatannya yang ingin memasak nasi.

.

.

Loui memegang keningnya, "berapa lama lagi kita sampai?" berkali-kali ia melirik arlojinya demi melihat putaran jam, inginnya sih berputar bak gasing, tapi apa daya, jarumnya justru berputar bak putaran revolusi planet Neptunus.

Mathew sampai bosan mendengar pertanyaan yang sama dari Loui, mungkin ini sudah ke sepuluh kalinya ia bertanya.

Bau-baunya sih, mereka sudah sampai di negri khatulistiwa, terang saja, disaat semua orang di rumahnya terlelap tidur kecuali para penjaga, Loui sudah pergi dari negaranya menuju Indonesia.

Aroma air laut sudah tercium di penciuman Loui.

"Kita sudah sampai tuan, di distrik dimana Rinjani tinggal." Mathew membuka kaca jendelanya, menampakan pemandangan familiar, kawasan kampung nelayan seperti yang dulu pernah ia datangi sebelumnya saat ia mencari Rinjani untuk pertama kalinya.

"Apakah tuan ingin beristirahat dahulu?" tanya Mathew, segera membuka mesin pencarian untuk memesan hotel terdekat. Namun diluar dugaan Loui menggeleng, "tidak usah. Aku mau langsung bertemu ibu Rinjani, apakah kau tidak mendengar sejak tadi jantungku berdegup kencang karena gugup dan tidak sabar untuk bertemu ibu Rinjani?" sentaknya sewot. Rupanya sejak tadi Loui dilanda kegugupan, persis cpns yang lagi nunggu pengumuman.

Mathew mengangguk paham setengah mengejek dalam hati, pantes mukanya kaya orang kena samber petir, pucat!

Kemudian Loui terlihat menguap berkali-kali dengan wajah lusuhnya persis duit kembalian ikan asin.

"Tuan, apa tidak sebaiknya tuan beristirahat saja dulu di hotel, mandi dan makan?" tanya Mathew, yang sebenarnya memberikan sebuah saran. Dalam hati, Loui setuju dengan apa yang dikatakan Mathew. Kali ini ia lantas mengangguk, "baiklah. Tolong carikan aku hotel, tak perlu yang mewah, namun cukup berfasilitas dan tertutup untukku."

Mathew mengangguk segera mencarikan hotel, untuk Loui.

Jani menyuapkan nasi dan lauknya dengan lahap dan cepat, bukan karena lapar melainkan kesal pada Loui.

"Enak sekali dia pergi liburan, sementara aku ditinggal sendiri!" ketusnya menggerutu.

Suara sendok yang beradu dengan piring membuat Oscar sedikit terkejut, "apa kau ingin pergi liburan juga, nona?"

Bahkan pertanyaan Oscar saja terdengar seperti cibiran di telinga Jani, ataukah kehadiran Oscar di meja makan adalah suatu kesalahan?

"Kurang aj ar!" omel Jani. Wanita itu membayangkan Loui yang sedang ketawa tiwi bersama wanita-wanita penggoda, jika benar begitu, siap-siap saja lelaki itu mateng di kuali!

Oscar menggelengkan kepalanya geli, sepertinya memang benar, Rinjani cocok untuk Loui, karena wanita ini begitu menyeramkan jika sedang marah.

"Begini saja. Agar nona tak marah-marah, bagaimana kalau ku antar berbelanja?" tawarnya. Yeah! Cara ini selalu ampuh untuk membujuk wanita.

Rinjani justru membeliak dan berkacak pinggang, berdiri dari duduknya, "kau pikir aku wanita matrealistis?!"

"Bukan begitu, nona...." Oscar mele nguh, bagaimana ini, bagaimana Mathew bisa sebetah itu mendampingi Jani? Ia lebih baik menjaga tawanan Loui ketimbang jagain bumil emosian begini, ditembak takut! Ngga ditembak, ia yang mati serba salah.

Jani masih menatap Oscar dengan tatapan menyipit dan tajam, "aku mau menyenangkan hatiku kalau begitu, antar aku ke mall..."

Oscar tersedak salivanya sendiri, sudah kuduga....

Loui sudah segar dibanding saat datang. Deburan ombak laut saling bersahutan bergemuruh seiras dengan degupan jantung Loui.

"Apakah kau sudah siap, tuan?" pertanyaan itu datang bersama ketukan pintu.

Loui membenarkan kemeja miliknya, bersama rambut yang rapi terpomade, lalu ia membuka pintu kamar dimana diluar Mathew sudah berdiri.

"Baiklah Matt, aku sudah siap..."

Langkah keduanya tanpa di dampingi banyak penjaga menyusuri koridor hotel menuju mobil.

"Aku ingin tampak sempurna di mata ibu Rinjani..." ujarnya diangguki Mathew.

Sebuah mobil mewah memasuki kampung tempat dimana Rinjani tinggal, tak sedikit pula yang melihat sampai leher memutar demi meneliti siapa sultan yang datang.

Setelah bertanya-tanya dimana rumah ama, Matthew mengemudikan mobil ke arah rumah Jani.

Ditatapnya bangunan kecil yang hanya beberapa petak di depannya, disanalah Rinjani tinggal bersama ama.

"Rinjani, aku merasa sedang berada bersamamu..." benaknya lirih berkata, ia masih duduk di dalam mobil sementara Mathew sedang bertanya pada tetangga ama.

"Saha?" tanya istrinya keluar mengangsurkan jarik di perut, kurang aj ar sekali, bule ganteng ini mengganggu siang panasnya bersama sang suami, "dasar bule edannn."

Wa Idu membetulkan celana pangsinya, "iya betul, itu rumah Rinjani, mister bule ini siapa ya? Ada perlu apa?"

"Bos saya ingin bertemu dengan ibu dari Rinjani, apakah ada?"

"Bule euy bule!" riuh rendah di sekitar mereka.

.

.

.

.

.

1
Be snowman
gumushhh ahhh buat baper dunia realita 😭🔥♥️
Be snowman
ii lucu dehhh .😍😍😍
Be snowman
🤣🤣🤣 belegug ih rinjani😭
Be snowman
🤣🤣🤣🤣🤣
juwita
dasar bule jorok🤣🤣🤣
juwita
bule di kerok kacida pisan beureum jigana🤣🤣🤣
juwita
pake jalantaj urut goreng ikan asin geura. di jamin di gulung laleur🤣🤣🤣
juwita
udh kebiasaan emak" dr jaman dl ky gitu loui
juwita
pindah aj ke sukabumi jd juragan ikan asin 🤣🤣
juwita
bagus siksa aj utun Bpk mu smpe lemes
juwita
blg Oscar meletehe🤣🤣🤣
juwita
si oon nanya sm. si Oscar paling si Oscar ngomong sugan eta di kaluar keun di jero teu🤣🤣🤣🤣
juwita
haha si mamat🤣🤣🤣🤣
juwita
idola aq itu. David Beckham🤣🤣🤣
juwita
meni Hararese nyebut ngarana 🤣🤣🤣
juwita
knpa g sedeng aj sakalian teh sin🤣🤣🤣
Kustri
wkwkkkk... oscar oscar, bego jgn dipiara
nih qu bantu sadarkan👊👊👊
Almun
oscar??
Sri Wahyuni
extra part nya kak 💕💕💕💕💕💕
novel destiny
selalu suka baca karya teh Shin. masing-masing punya aura nya masing2.. tapi yg ini kayanya agak nanggung ya teh?
berasa cepet banget bacanya 🫢🫢
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!