Pengkhianatan oleh adik sepupunya membuat dia, Gavin Agha Wiguna menjadi manusia kulkas berjalan. Hatinya sudah membeku dan sangat sulit untuk mencair.
Hingga pada sebuah kesempatan yang tak direncanakan, dia bertemu dengan perempuan yang pernah dia isengi sewaktu dia masih remaja. Perempuan itu semakin cantik dan manis. Sayangnya, perempuan itu dikabarkan sudah menjadi pacar dari adik sepupunya.
Akankah kejadian tujuh tahun lalu akan terulang lagi? Dengan cerita yang berbeda, di mana Gavin Agha Wiguna yang menjadi pengkhianatnya? Ataukah dia yang terus mengalah dan menjadi semakin dingin seperti kulkas empat pintu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon fieThaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
31. Cinta Mati
Hati Salju sangat bahagia ketika mendengar ucapan cinta yang keluar dari mulut Agha. Ini kali pertama Agha mengatakan i love you di depan dirinya setelah dua Minggu mereka menjalin hubungan.
"Jangan pernah meragukan perasaan Mas. Ketika Mas mengajak seseorang serius, itu tandanya Mas gak akan main-main."
Salju semakin tak bisa berkata. Dia menatap Agha dengan mata yang sudah nanar. Agha mengecup kening Salju dengan sangat dalam hingga air mata itu menetes dar pelupuk mata Salju.
Agha memeluk tubuh Salju dengan begitu erat. Sesuai dengan ucapan Agha di pesawat, dia tidak akan melepaskan Salju untuk hari ini. Dia pun sengaja mematikan ponsel untuk melepas rindu dengan sang calon istri.
.
Salju sudah berada di depan cermin. Dia tengah menatap dirinya yang sudah cantik karena dia akan pergi berdua untuk mencari ponsel bersama Agha. Senyumnya pun mengembang ketika melihat pintu kamarnya terbuka di mana Agha yang datang.
Dia membalikkan tubuhnya. Namun, dia melihat wajah Agha nampak lain. Wajah Salju pun ikut berubah.
"Tidak jadi hari ini, ya. Mas ada tugas dadakan."
Salju tersenyum tak rela mendengarnya. Sorot mata Agha pun terlihat sangat bersalah. Salju mulai mengangguk pelan. Tangan Salju Agha tarik ke dalam pelukannya.
"Maafkan Mas, My snow."
Salju tak bisa menjawab. Dia hanya bisa melingkarkan tangannya di pinggang Agha. Meskipun dia sedikit kecewa, tapi dia harus bisa mengerti pekerjaan calon suaminya. Salju menghela napas kasar. Dia mulai mengendurkan pelukannya. Menatap Agha dengan begitu dalam.
"Pulang malam?" tanya Salju sambil menyembunyikan rasa kecewanya.
"Belum tahu," sahut Agha. Tangannya mulai membenarkan rambut Salju.
"Jangan tunggu Mas. Kamu harus istirahat dengan benar."
Salju tak menjawab. Tatapan Salju sungguh membuat Agha semakin merasa bersalah. Dia memeluk Salju lagi dengan begitu erat.
"Mas janji, ke depannya Mas akan meluangkan banyak waktu untuk kamu."
Pelukan mereka harus berakhir ketika suara Reksa terdengar.
"Sudah waktunya, bro."
Agha menatap wajah Salju kembali. Untuk kedua kalinya kata maaf keluar dari mulut Agha.
"Mas pergi dulu, ya." Salju pun mengangguk.
Agha mencium kening Salju dengan sangat dalam sebelum pergi. Dia pun membalikkan tubuhnya. Namun, Salju mencekal tangan Agha. Agha pun menoleh lagi ke arah Salju.
Cup.
Kecupan begitu singkat Salju berikan di bibir Agha hingga membuat Agha mematung untuk seketika.
"Biar gak nakal di luaran sana."
Agha malah tertawa. Dia mengusap lembut ujung kepala Salju dengan begitu lembut.
"Gak akan, My snow. Kamu satu-satunya untuk sekarang dan selamanya."
.
Ketika sudah berada di dalam mobil. Wajah Agha sudah sangat berubah. Raut tak bersahabat terlihat dengan sangat jelas.
"Polisi mengabarkan kalau dia belum sadar."
Agha pun hanya terdiam. Tak ada jawaban sama sekali dari mulut Agha. Reksa menoleh singkat ke arah Agha yang sedari tadi mematung. Reksa hanya takut hati Agha akan goyah ketika melihat kondisi terbaru mantannya.
Mobil sudah masuk area rumah sakit. Kedatangan Agha disambut polisi yang menjaga Syafa di sana. Polisi itu menjelaskan sambil menunjukkan video di mana Syafa tengah meminum racun serangga. Setelah itu dia menggores urat nadi tangannya.
"Kondisinya sekarang masih belum sadar."
Agha hanya terdiam mendengar penjelasan polisi. Agha menukikkan kedua alisnya ketika polisi memberikan secarik kertas kepada Agha.
"Ada kertas ini di samping tubuh Syafa yang tak sadar."
Agha membuka secarik kertas itu. Tulisan tangan yang begitu indah tertera di sana. Agha sangat tahu tulisan itu.
Bagaimana lagi aku harus menunjukkan betapa aku sayang sama kamu? Aku tahu aku salah. Tapi, sekarang aku menyesal. Ternyata lelaki yang aku cintai itu kamu. Bukan yang lain.
Tujuh tahun aku mencari keberadaan kamu. Tujuh tahun aku depresi dan melampiaskan kepada lelaki yang ingin dekat denganku. Batin aku sakit, Gha. Aku benar-benar berada di fase hancur sehancurnya.
Aku bahagia ketika tanpa sengaja aku bertemu dengan kamu di lapangan basket. Tapi, di saat itu juga hatiku seperti tertindih bebatuan besar ketika melihat kamu mencium seorang wanita yang ternyata statusnya lebih rendah dari aku. Apa kamu sadar kalau kamu telah mencintai wanita yang salah? Wanita yang tidak sepadan dengan kamu.
Urat kemarahan sudah mulai muncul di wajah Agha. Namun, matanya masih membaca kalimat demi kalimat yang masih tersisa.
Aku menyebarkan fitnahan kepada kamu karena aku ingin menyelamatkan kamu dari wanita itu. Wanita yang sudah pasti dan tak salah lagi hanya akan memanfaatkan kamu dan keluarga kamu. Inilah bukti kalau aku teramat sayang dan cinta mati sama kamu, Agha. Bahkan aku rela menyakiti diri aku sendiri sebagai bukti kalau aku rela mati untuk kamu.
Reksa memperhatikan Agha yang tengah membaca kertas dari Syafa. Dia tidak mendekat karena dia ingin tahu bagaimana reaksi Agha. Cukup lama Agha berdiri dan akhirnya Reksa menghampiri Agha. Memberikan minuman alkohol kalengan kepada sahabatnya itu. Agha segera meraihnya.
Dahi Reksa mengkerut ketika melihat Agha memasukkan kertas dari Syafa ke dalam saku jaketnya. Dia ingin memaki Agha, tapi Agha sudah meneguk minuman alkohol kalengan tersebut. Itu tanda Agha sedang berada di mode senggol bacok.
"Apa Anda ingin melihat Syafa?" tanya seorang polisi yang menjaga Syafa.
"Saya ingin menjadi orang pertama yang dia lihat."
Uhuk!
Reksa yang tengah meneguk minuman alkohol kaleng tersedak mendengar kalimat yang keluar dari mulut sahabatnya. Dia menatap Agha dengan tatapan tak percaya.
.
Di kamar, Salju masih terduduk di tepian tempat tidur. Rasa kecewa masih bersarang di hatinya. Ditambah ada rasa sedikit curiga kepada Agha karena setiap kali Agha pergi dia tidak pernah memberitahu tempat yang akan dia datangi. Apalagi ketika Salju bertanya perihal mantan Agha kepada Leo. Lelaki berbadan tegap itu seakan menutup mulutnya dengan rapat.
"Kenapa feelingku mengatakan jika malam ini dia menemui mantannya?"
Salju hanya bisa menghela napas berat. Dia berharap feelingnya itu salah.
.
Tiga jam berlalu belum ada tanda-tanda Syafa sadar. Reksa sudah kesal dan ingin sekali pulang. Namun, sahabatnya tetap masih ingin menunggu. Sebenarnya mulut Reksa sudah gatal ingin memaki Agha. Apalagi Leo sudah mengirimkan pesan kepadanya.
"Salju curiga kalau Agha menemui mantannya. Dia baru aja bilang sama gua."
Ingin Reksa memperlihatkan pesan itu kepada Agha. Namun, melihat Agha yang sedari tadi bagai patung bernapas membuat Reksa mengurungkan niatnya.
"Syafa sudah sadar."
Agha pun berdiri. Reska sungguh terkejut. Apalagi dia langsung masuk tanpa didampingi siapapun.
"Jangan bilang kalau dia--" Pikiran jelek sudah berkeliaran di kepala Reksa.
Syafa terkejut ketika melihat Agha masuk. Mata Syafa terlihat berair saking bahagianya.
"A-Agha ... ka-kamu--"
Keharuan Syafa harus terhenti ketika Agha melempar kertas tepat di atas tubuhnya.
"JANGAN PERNAH MENGHINA CALON ISTRI SAYA KARENA DIA JUTAAN LEBIH BAIK DARI KAMU!"
Dada Syafa seperti berhenti berdetak ketika mendengar kalimat penuh penekanan yang keluar dari mulut Agha. Juga wajah Agha yang sangat murka.
"JANGAN PERNAH BERANI MENGATAKAN CINTA MATI KEPADA SAYA JIKA KAMU MASIH HIDUP SAMPAI SEKARANG." Tatapan tajam Agha berikan kepada Syafa.
"APA PERLU SAYA MEMBANTU PROSES KEMATIAN KAMU? SUPAYA CINTA MATI YANG KAMU UCAPKAN TEREALISASI DENGAN SEMPURNA."
...***To Be Continue***...
Komennya banyakin dong ..