Apa yang akan kamu lakukan ketika tetangga kosanmu, memiliki wajah yang tampan tapi juga misterius?
Anna, adalah seorang mahasiswi sastra Inggris yang berjuang seorang diri di tengah kerasnya kehidupan perantauan di negeri asing, Amerika Serikat. Anna bertemu dengan Lucas, seorang pemuda yang berusia sekitar 26 tahun. Lucas yang menempati kamar kos di sebelah kamar kos Anna.
Menurut Anna, Lucas selalu memberikan kesan yang mencurigakan. Hingga suatu hari, ketika Anna pulang dari kerja sambilannya dalam keadaan tidak enak badan. Anna salah masuk kamar kos dan menyaksikan Lucas tengah melakukan aksi pembunuhan terhadap teman wanitanya.
Akankah Anna dapat menghindar dari Lucas ataukah justru Anna akan jatuh ke dalam jerat Lucas?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Maesaro Ardi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Keraguan
Entah sudah berapa lama Anna meringkuk, tangan kanannya menggenggam pisau kecil yang dia siapkan untuk berjaga-jaga.
Anna tidak tahu sudah berapa lama dia duduk dalam posisi seperti itu, dia juga tidak tahu sekarang sudah jam berapa.
Semalaman teror dari kamar kos sebelahnya tak kunjung berhenti, apa lagi lantai 13 tidak ada penghuni lain selain dirinya dan Lucas.
"Kalau dipikir-pikir, kasus terakhir yang aku lihat tidak ditemukan wanita itu dari dalam kamar Lucaa
Suara alarm dari ponselnya menyadarkan Anna dari tidur ayamnya, setelah memusatkan indera pendengaran dan memastikan kalau suara gaduh itu tidak terdengar lagi.
"Sudah jam tujuh rupanya," gumam Anna setelah dia melirik jam di layar . Nggak
Gadis itu baru melihat ada banyak hal panggilan tidak terjawab dari Sersan Arthur.
"Gila! Sersan Arthur misscalled sampai 20 kali."
Anna menekan tombol kamera dan tidak butuh waktu lama terlihat Sersan Arthur dari layar ponselnya.
"Halo, Anna. Kamu baik-baik saja? Kenapa kamu tidak mengangkat teleponku dari semalam."
"Maaf, Sersan. Saya ketakutan dan ketiduran. Saya juga takut untuk mengangkat panggilan masuk, mana tahu Lucas mendengarkan percakapan saya dengan orang ditelepon."
"Ya sudah, lalu sekarang kamu ada di mana?" tanya Sersan Arthur.
"Masih di rumah."
"Lelaki itu masih membuat keributan lagi?"
"Tidak, saya rasa dia sudah pergi."
Anna terdiam sejenak sebelum dia melanjutkan kalimatnya.
"Sersan, Anda bilang selama saya tidak mengganggu Lucas maka dia juga tidak akan tertarik denganku bukan?"
"Iya, aku rasa juga begitu. Kenapa?"
"Apakah tindakan saya ini salah? Dia semalam mulai mengganggu saya, apa itu artinya dia tahu saya yang memasang alat pelacak dan penyadap di motornya?"
"Aku tidak bisa menyimpulkan apakah benar Lucas tahu kamu yang memasang kedua alat tersebut, ataukah memang hanya kebetulan saja alat itu jatuh di dalam hutan," balas Sersan Arthur.
"Tapi bukannya Anda sendiri yang bilang kalau tempat ditemukannya alat pelacak itu tidak bisa dilalui oleh kendaraan roda dua? Itu artinya Lucas sendiri yang meletakkannya di sana untuk memancing kita," sahut Anna.
Keterangan yang dikatakan oleh Sersan Arthur semalam dengan apa yang polisi itu katakan sekarang berbeda, sehingga membuat Anna jadi ragu akan tindakannya.
Dia ingat bahwa adik perempuan Sersan Arthur yang memiliki ciri fisik dengan beberapa korban lainnya, itu hilang belum ditemukan sampai sekarang.
"Sersan, Anda tidak memanfaatkan saya untuk tujuan Anda semata, bukan?" pancing Anna. Jika memang demikian berarti selama ini Anna mengorbankan kehidupannya yang damai.
"Kenapa kamu bisa berasumsi demikian?" Polisi itu justru bertanya balik.
"Anda mengatakan kalau Anda tidak bisa mengawasi Lucas, sebab wajah Anda sudah ditandai oleh Lucas. Profesi Anda sebagai polisi juga menjadi alasan kedua kenapa Anda tidak bisa melakukan pengawasan terhadapnya, sebab takut Lucas akan lebih waspada."
Sersan Arthur diam seribu bahasa, apa yang diutarakan oleh Anna memang benar. Kedua alasan itulah yang menyebabkan dia membutuhkan orang lain untuk mengawasi Lucas.
"Sersan, saya rasa keputusan yang saya ambil terlalu gegabah. Saya takut bukan hanya saya yang akan dalam bahaya, tapi orang-orang yang dekat dengan saya juga."
"Anda tentu tahu Lucas belakangan ini dekat dengan Ellie, bagaimana kalau saya melanjutkan strategi kita lalu nyawa Ellie dalam bahaya?" sambung Anna.
Bayangan wajah sahabatnya terlintas dibenaknya, mengingat ciri semua korban yang dibunuh Lucas persis seperti Ellie. Anna khawatir karena dia tidak memiliki ciri yang sama, maka Lucas menargetkan Ellie. Hal itu yang Anna takutkan, dia tidak mau melibatkan Ellie dan orangtuanya pada masalah yang dia hadapi sekarang.
Status Anna di negara itu juga hanya seorang mahasiswi penerima beasiswa, Anna ragu apakah dia akan mendapat pembelaan dari pihak kepolisian atau kantor kedutaan RI. Mungkin pihak kedutaan bisa saja membela dirinya, lalu bagaimana dengan kepolisian setempat?
Tidak perlu sampai dia menjadi korban, lihat saja perlakuan mereka disaat dirinya melaporkan tindak kejahatan Lucas. Apakah ditanggapi dengan baik? Tidak.
Hanya Sersan Arthur yang selama ini menanggapi dan mendengarkan keluh kesahnya tentang Lucas. Awalnya Anna pikir itu karena murni tugas seorang polisi yang memberikan perlindungan dan mengayomi warga sipil, tapi ternyata tidak.
"Aku tidak tahu kenapa kamu bisa bicara demikian, Ann. Aku tidak menapikkan kalau aku tertolong dengan kerja sama yang kita lakukan. Namun, harus kamu tahu aku juga tidak berniat menempatkan dirimu dalam bahaya," ujar Sersan Arthur setelah keduanya diam tanpa ada yang mulai berbicara.
"Lebih baik untuk sekarang kamu diam dulu, tenangkan pikiranmu, Ann. Aku rasa kamu sekarang trauma dengan apa yang terjadi semalam. Untuk berjaga-jaga, sebaiknya kamu jangan tinggal di kamar kos kamu sementara waktu," sambung polisi itu.
Anna tidak merespon sama sekali, posisinya masih sama, duduk meringkuk memeluk kedua lututnya.
"Itu saja yang ingin aku katakan, sudah waktunya aku berangkat kerja. Jangan ragu untuk menghubungiku jika kamu dalam bahaya, meski aku tahu kamu ragu denganku setidaknya aku ingin melindungimu."
Tanpa menunggu jawaban Anna, Sersan Arthur memutuskan sambungan telepon mereka.
Anna sendiri juga tidak tahu apa lagi yang harus dia lakukan sekarang, pikirannya buntu. Teror Lucas semalam meruntuhkan mentalnya seketika.
Baru kali ini Anna merasa tidak berdaya dan takut yang teramat sangat. Apakah dia sudah melukai perasaan Sersan Arthur? Padahal Sersan Arthur sudah memperingatkan dirinya, bahwa lawan yang mereka hadapi itu kemungkinan besar seorang pembunuh berantai.
"Haaa... entahlah, aku nggak mau berfikir dulu. Sebaiknya aku bergegas ke kampus. Mungkin ada benarnya juga lebih baik aku menginap di rumah Ellie jika Ellie tidak keberatan," gumam Anna.
Anna bersyukur perkuliahan kembali berjalan, sehingga dia tidak perlu terjebak seharian dalam ketakutan yang tidak pasti.
Secepat kilat Anna membersihkan dirinya, menyiapkan keperluan kampusnya dan memasukkan beberapa helai baju ganti. Sebelum dia keluar dari kamar kos, Anna menempelkan telinganya di tembok yang menghubungkan kamarnya dengan kamar Lucas.
"Sepertinya dia tidak ada di kamarnya. Dari kamera cctv yang aku pasang di luar juga Lucas belum kembali sejak dia keluar dini hari tadi. Baiklah, ini kesempatan aku untuk keluar dari neraka ini."
Anna memastikan pintu kamarnya terkunci dia menekan tombol lift dengan perasaan was-was.
"Kalau dipikir-pikir, Lucas itu selalu melewati tangga. Apa itu artinya dia juga membawa wanita yang dia bunuh terakhir kali di kamar kosnya itu lewat tangga juga? Jangankan jasad si wanita, waktu itu juga tidak ditemukan satupun benda yang bisa dijadikan sebagai alat pembunuhan," batin Anna.
"Jika dia saja bisa berusaha payah seperti itu, bukan mustahil kalau dia tidak akan melepaskan target yang telah dia tentukan. Entah itu aku ataupun Ellie, yang jelas nasib kami dalam bahaya."
Tak terasa Anna sudah sampai dilantai bawah, dia bertemu dengan Mrs.Martha yang sedang menyiram bunga yang dia tanam.
"Pagi, Ann. Sudah masuk kuliah ya?" tanya perempuan paruh bayah itu.
"Iya, Mrs. Saya duluan, Mrs."
Perempuan itu tersenyum mengantar kepergian Anna, dia lalu mengambil ponsel dari saku jaketnya. Setelah menggulir layar ponselnya, perempuan itu berbincang dengan seseorang.
Anna mengabaikan saja apa yang dia lihat, gadis itu yakin Mrs. Martha pasti sedang bergosip dengan teman sebayanya, hal yang selalu dilakukan oleh si pemilik kos.
ku nunggu bnget
semangat ya thor