deleted
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon wiwik arfiani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
MTMH; kembali ke rumah
Kembali kerumah.
untuk readers ku semua, sebelum membaca Jangan lupa sempatkan untuk like, komen, dan rate bintang 5 cerita karangan author ya.
boleh ko jika mau vote author.. author pasti akan senang..
seikhlasnya saja.. semoga dengan dukungan vote dari kalian. bisa membangun cerita author lebih baik kedepan nya..
Maaf banyak typo bertebaran
.....
Hari hari pun berlalu dengan cepat. Hingga tidak terasa dua Minggu sudah Kiran lalui.
Kini Kiran sudah lulus. Sore itu, Arya datang untuk menjemput Kiran. Kiran pun segera masuk kedalam mobil setelah berpamitan juga dengan teman teman yang lain.
"Dek ko masih nangis? Kenapa?" Tanya Arya
"Tidak apa apa mas. Aku hanya masih tidak menyangka mereka semua sekarang sudah lulus dan kini menjalani kehidupan kami masing masing." Ucap Kiran
"Dek, sudahlah jangan terlalu di pikirkan. Kasihan anak kita nanti" ucap Arya.
"Oh ya dek, mas ada kabar gembira. Besok lusa ibu akan datang kerumah kita. Dan juga tinggal bersama kita" ucap Arya dengan senyum yang berkembang.
"Bi Santi di ajak?" Tanya Kiran.
"Tentu saja, agar bi Santi juga bisa membantu adek mengurus rumah" ucap Arya.
"Yeeeaaasss.. Alhamdulillah, aku senang banget mas" ucap Kiran kegirangan.
"Dek bolehkah mas minta adek memangil nya seperti dulu lagi? Jangan aku dan kamu, mas tidak nyaman mendengar nya" ucap Arya
"Baiklah mas. Akan ku coba" ucap Kiran
"Alhamdulillah. Oh ya dek, besok Minggu depan adek mas juga bakal pulang. Dan tinggal bersama kita" ucap Arya tersenyum sumringah.
"Mas, bakal rame dong rumah kita.. huwaa adek tidak sabar menunggu hari itu" ucap Kiran
"Jika adek senang, mas juga ikutan senang. Mulai sekarang jangan pernah meneteskan air mata adek lagi ya." Ucap Arya
"Baiklah mas." Ucap Kiran yang ikut tersenyum
Bahkan Kiran dengan berani mengecup pipi arya. Hingga membuat Arya terkejut.
"Dek jangan nakal di dalam mobil. Nanti kalau supir nya lihat bagaimana?" Bisik Arya.
"Biarkan saja, kan kita sudah sah" ucap Kiran enteng.
"Dek jangan salahkan mas jika nanti malam adek tidak bisa tidur." Ancam Arya.
"Mas, kasihan dedeknya" ucap Kiran berusaha menghindar.
"Bilang saja adek tidak rindu mas" ucap Arya merajuk.
"Uluh uluh suami ku yang paling tampan merajuk. Bukan begitu mas, adek sangat rindu mas. Tapi, kasihan dedek nya. Nanti kalau dedeknya kesakitan bagaimana?" Ucap Kiran membujuk Arya.
"Dek mas sudah satu bulan lebih puasa loh.. sejak adek pergi hingga sekarang adek baru kembali coba hitung sudah berapa bulan?" Ucap Arya semakin kesal.
"Iya mas adek tau. Tapi, mas bisa kan memahami adek dulu?" Tanya Kiran
"Terserah adek saja." Ucap Arya lalu mengambil ponsel dari saku kantong nya.
"Mas mau ngapain?" Tanya Kiran
"Mau menelfon Nimas." Ucap Arya yang niat nya ingin menggoda Kiran.
"Oh silahkan, mas telfon saja. Siapa tau mas juga mau menjama tubuh koala itu" ucap Kiran merajuk.
"Jadi, ceritanya sekarang adek yang marah nih ya?" Ucap Arya menggoda Kiran.
"Sudah mas diam lah. Daripada membuat adek naik pitam" ucap Kiran kesal.
"Nggak ko dek, mas hanya bercanda. Lagipula mas juga tidak menyimpan nomor Nimas" ucap Arya lalu merengkuh hangat Kiran.
Sopir yang duduk di depan pun hanya bisa diam dan menahan tawa karena melihat suami istri yang sedang sama sama menggoda.
Skip.
Sesampainya di rumah.
"Assalamualaikum" ucap Kiran dan Arya bersamaan.
"Waalaikumsalam. Mas, kamu sudah pulang?" Ucap Nimas yang tiba tiba muncul dari arah dapur.
"Oh, Kiran. Kamu sudah pulang juga? " Ucap Nimas dengan senyum sinis nya.
"Siapa yang datang nak?" Tanya ibu Arya sembari membenarkan kancing lengan baju nya.
Namun, Kiran dan juga Arya masih diam mematung di depan pintu.
"Ibu?" Ucap Arya kaget.
"Alhamdulillah, menantu dan anak ibu sudah pulang" ucap ibu Arya lalu langsung menghampiri Kiran.
Dengan segera Kiran mencium punggung tangan ibu mertua nya serta mengucapkan salam.
"Bagaimana keadaan mu? Apa kau dan calon cucu ku baik baik saja?" Tanya ibu Arya.
"Alhamdulillah Bu, kami baik baik saja" ucap Kiran.
"Bu, kenapa ibu membawa Nimas kemari? Bukan kah aku sudah melarang ibu membawa nya kesini" ucap Arya kesal.
"Ibu kasihan sama Nimas, dia tinggal sendirian" ucap ibu Arya sembari mengandeng tangan Nimas.
"Bu! Sudah berapa kali Arya katakan! Jangan membawa orang lain kecuali keluarga kita sendiri! Arya sudah susah payah mengajak dek Kiran agar pulang! Tapi, kenapa ibu membawa wanita ini kesini?!" Ucap Arya kesal.
"Mas, aku hanya menemani ibu saja tadi. Setelah ini aku juga akan pulang" ucap Nimas belaga baik.
"Baiklah sekarang juga pergilah." Ucap Arya
"Mas, sudah biarkan saja. Bu, apa ibu sudah makan? Kalau belum biar Kiran siapkan makanan nya" tanya Kiran
"Tidak usah sayang, ibu sudah makan. Lebih baik kamu sama suami kamu makan sekarang. Kasihan cucu ibu nanti kalau kelaparan" ucap ibu Arya
"Tidak Bu, Kiran tidak lapar" ucap Kiran.
"Mas, adek capek. Bisakah kita ke kamar sekarang juga?" Ucap Kiran lirih.
"Baiklah. Bu, aku dan dek Kiran ke kamar dulu. Dan kau, segeralah pergi dari sini" ucap Arya lalu membawa Kiran ke kamar.
Di kamar.
"Dek, mas minta kamu jangan salah paham. Ibu bilang nya lusa ke sini. Tapi, mas tidak tau jika ibu malah sudah sampai hari ini" ucap Arya menjelaskan nya.
"Tidak apa apa mas, tenang saja." Ucap Kiran
"Mas, adek lelah. Bisakah kita tidur?" Ucap Kiran
Setelah Arya dan Kiran membersihkan diri. Mereka berdua langsung menuju kasur dan tidur.
Di sisi lain.
"Bu bagaimana ini? Aku tidak mau tinggal di kos kos an itu." Ucap Nimas kesal.
"Ibu bisa apa. Jika Arya sudah berhata A ya A" ucap ibu Arya kesal juga.
"Pokok nya aku ga mau tau. Gimana caranya aku bisa tinggal di sini. Kalau nggak rahasia ibu tentang kedua anak ibu bakal aku bongkar" Ancam nimas
"Rahasia apa?" Tanya Arya secara tiba tiba dari belakang.
"Eum.. ah anu.. i.. itu" ucap Nimas gugup.
"Tentang, kedua adik ku? Apa tentang dia bukan anak kandung dari ibu ku?" Ucap Arya santai.
"Hah bagaimana dia bisa tau? Oh astaga, tuhan aku harus bagaimana" gumam Nimas.
"Ja.. jadi, kau sudah tau?" Tanya ibu Arya.
"Seperti nya ibu lupa siapa aku. Bahkan, se tapak semut saja aku bisa tau kejahatan mu. Apalagi tentang kedua adik ku. Itu hal yang sangat mudah bagi ku." Ucap Arya enteng.
"Dan kau Nimas, jika niat mu ingin menikah karena harta ku. Lebih baik kau urungkan saja niat mu. Karena, aku sudah tidak perduli dengan mu. " Ucap Arya dengan penuh penekanan.
"Mas, mas Arya dengarkan penjelasan ku dulu. Aku hanya mengikuti perintah ibu ku saja" ucap Nimas membela diri nya.
"Dan apa kau tau? Seharus nya kau malu dengan tingkah mu itu! Kau sesama wanita harus nya saling mendukung bukan saling menghancurkan!" Ucap Arya dengan amarah nya.
"Dan satu hal lagi Bu. Aku juga bukan anak kandung ayah bukan? Aku juga sudah tau sejak lama. Namun,. Aku tak mau menyakiti ibu. Kini aku sudah tau sebenar nya ibu lah yang membunuh ayah. Bukan karena kecelakaan." Ucap Arya
"Aku selama ini diam karena aku menghormati mu! Kau ibu ku! Kau surga ku! Tapi, kenapa kau memberikan ku api panas?!" Ucap Arya.
"Arya, sayang maafkan ibu sudah membohongi mu selama ini. Karena ibu tidak mau kehilangan mu dan kedua adik mu. Ibu mohon maaf kan ibu" ucap ibu Arya memohon sembari merapatkan kedua tangan nya.
"Semua keputusan hanya di tangan Tara dan tari. Aku tidak bisa memutuskan nya sekarang. Dan apa kau tuli Nimas? Atau perlu aku membawa mu ke dokter THT??" Ucap Arya sembari melirik tajam ke arah Nimas.
"Bukan kah aku sudah menyuruh mu untuk pergi?!" Tanya Arya
Lalu tanpa berpamitan Nimas pun pergi dengan langkah memburu.
"Bu, tidur lah. Besok pagi aku akan menjemput Tara dan tari di bandara. Setelah itu selesaikan masalah kalian" ucap Arya singkat lalu pergi dan menuju ke kamar nya.
Di kamar.
Dia melihat Kiran masih tertidur pulas.
Sesekali ia belai rambut sang istri dan mencium i wajah cantik nya.
"Dek, mas bahagia adek mau kembali bersama mas. Dan mas berharap adek tidak meninggalkan mas lagi" ucap Arya sembari membelai rambut Kiran.
dalam islam istri kayak kiran udah dilaknat malaikat, dan tidak pantas mencium bau surga
dan seenak gitu jak dia seakan tidak melakukan kesalahan pada suami
belajar agama lagi,
haram hukum nya seorang istri mencium bau surga, kalau dia meminta cerai pada suami dengan alasan tidak jelas
heran kalian buat novel istri minta cerai seakan hal biasa bukan kesalahan fatal
pakai otakmu thor jika suami dengan gampang bilang cerai bagaimana perasaanmu, pakai akal dan hati sedikit saja thor biar tidak egois