NovelToon NovelToon
Matrealistis

Matrealistis

Status: tamat
Genre:Romantis / Komedi / Tamat
Popularitas:324.4k
Nilai: 4.8
Nama Author: idrianiiin

Warning | Bahasa Non Baku

Antara realistis dan matrealistis bedanya hanya sebatas benang tipis

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon idrianiiin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

31-Ingin Mengakhiri Semuanya

"Daripada harus bertahan dengan dia yang sangat jauh dari harapan, dan tak bisa diandalkan. Lebih baik kena omel Mamah dan Papah yang mungkin hanya sesaat saja."

-Adara Mikhayla Siregar-

•••

Terlalu muak dengan masalah hidup yang tak kunjung usai membuat pikiranku dangkal. Rasanya sudah tidak sanggup jika hidupku selalu penuh tekanan. Tak ada lagi waktu untuk beristirahat dan menikmati alur hidup yang sudah Allah tentukan, semuanya terasa hambar dan memuakkan. Aku merasa sangat stuck di tempat dan berputar-putar tak jelas dalam masalah yang sama. Seperti benang kusut yang sulit untuk diuraikan. Begitulah masalah hidupku yang sampai sekarang tak menemukan titik terang.

"Lepasin tangan gue Lukman!" Aku berkata dengan begitu tegas.

"Kamu sudah sangat keterlaluan. Melibatkan aku dalam konflik rumah tangga kamu. Apa kamu sadar dengan apa yang baru saja kamu katakan? Kamu berubah, tidak seperti Adara yang aku kenal." Dia berkata dengan nada suara penuh ketegasan.

"Gue gak akan senekat ini kalau lo mau ngikutin apa yang gue mau. Dan ini adalah konsekuensi dari perbuatan lo!" desisku tajam.

"Tapi gak---"

"Sudahlah jangan lagi lo ikut campur sama hidup gue. Mulai detik ini juga gue gak mau lagi ketemu sama lo. Cukup sampai di sini, dan makasih buat semua materi yang udah lo keluarin buat gue."

Habis manis sepah dibuang. Aku tak peduli bagaimana tanggapan orang-orang akan kelakuan bar-barku yang sangat tidak manusiawi. Aku tak menginginkan hubunganku dan Lukman rusak hanya karena Arda, tapi mau apa dikata semua ini sudah terlanjur terjadi juga. Arda telah berhasil merusak hidupku. Aku sangat-sangat tidak suka dengannya. Dia harus merasakan penderitaan yang lebih parah dibandingkan denganku. Ya, akan aku buat dia menderita semenderitanya.

"Semuanya bisa kita bicarakan secara baik-baik, Adara," katanya dengan netra yang sangat menelisik padaku.

Aku menggeleng keras. "Lo yang bilang gak mau lagi gue libatin sama masalah gue. Secara gak langsung lo mau mengakhiri semuanya," sahutku sengit. Aku sangat kesal pada Lukman yang sekarang sudah tidak satu jalan dan satu pemikiran denganku. Perubahannya sangatlah memuakkan.

"Kamu salah paham, Adara." Dia masih berusaha untuk kembali mengambil simpatikku, tapi aku sama sekali tak berminat.

"Pulang lo sana!" Dengan kasar dan tidak sopannya aku mengusir dia. Aku dan Lukman sama-sama diliputi emosi serta ego yang tinggi, dan menyuruhnya untuk pergi adalah opsi terbaik agar aku tak semakin memperunyam semua masalah ini.

Dia menurut, aku melihat kedua tungkainya berjalan menuju mobil dan tak lama dari itu suara mesin terdengar. Pagar rumah yang memang masih terbuka lebar seakan mempersilakan kendaraan roda besi itu untuk pergi.

Dengan langkah malas aku berjalan masuk ke dalam rumah. Rasanya aku ingin menghilang dan tak lagi tinggal satu atap bersama laki-laki seperti Arda. Orang-orang selalu menilainya sempurna tanpa celah, tapi lihatlah apa yang telah dia lakukan pada hidupku? Dia menghancurkannya hanya dalam hitungan menit saja. Dia ada hanya untuk membuat masalah. Pembuat onar itulah julukan yang pas untuk dirinya.

Baru saja aku mendaratkan bokong di sofa dan Arda sudah muncul dari balik kamar. Dia sudah rapi dan sepertinya dia akan bersiap untuk berangkat kerja. Dia sungguh sudah sangat gila, di tengah rumitnya masalah di antara aku dan dirinya masih sempat-sempatnya dia memikirkan perihal pekerjaan.

"Aku pergi. Jaga diri kamu baik-baik, assalamualaikum," katanya dengan nada suara rendah. Ke mana perginya Arda yang tadi menampakkan urat-urat leher hingga hampir memberikan Lukman bogeman mentah? Dia sudah seperti orang yang memiliki kepribadian ganda. Aku tak mengerti dengan jalan pikirannya.

"Wa'alaikumussalam. Pergi sana, kalau perlu gak usah balik lagi." Aku berkata dengan nada suara tinggi.

Arda mengangguk singkat dan memberikan sedikit senyum tipisnya. Sungguh manusia aneh dan membingungkan. Menghadapi Arda yang begitu misterius membuat kerja otakku melambat, bahkan mungkin sudah ngadat.

Rumah yang memiliki ukuran tak seberapa ini sangat sepi, hanya ada suara detik jarum jam yang berjalan tanpa lelah  sedikit pun. Waktu sudah menunjukan pukul sepuluh malam dan aku masih saja betah berleha-leha di atas sofa. Tak ada niat sedikit pun untuk pindah ke kamar. Biarkan saja seperti ini. Toh aku hanya tinggal seorang diri di sini.

•••

Pagi-pagi buta aku sudah bangun, bergegas untuk membersihkan diri lantas bergerak cepat untuk menunaikan ibadah salat dua rakaat. Tak memerlukan waktu lama, hanya sekitar lima menit aku sudah selesai dengan kegiatan salat express-ku. Jika Mamah tahu, pasti aku akan kena omelnya habis-habisan.

"Adara kalau salat yang bener. Salat kok kaya orang kalap, cepet banget. Mamah bingung apa kamu benar-benar baca bacaan salatnya? Kalau mau hidup bener, benerin dulu salatnya!"

Rentetan perkataan itulah yang selalu beliau lontarkan saat tak sengaja memergokiku yang sedang salat dengan tak sabaran. Lagian aku heran sama Mamah yang kalau salat bisa sampai setengah jam. Ngapain saja? Apa gak pegel-pegel tuh badan? Aku saja kalau salat maunya selesai cepat-cepat. Bacaan salatku pun tak kalah cepat, bahkan cenderung rusuh kaya orang mau demo. Gak jelas gitu lah.

Rasa lapar membuatku mau tak mau berjalan menuju dapur. Pagi-pagi buta begini perutku sudah meminta jatah, dan aku sangat malas untuk memasak makanannya. Aku mendengus kesal saat mendapati isi kulkas yang sudah kosong melompong. Ish, bahan masakan yang sekitar tiga minggu lalu Mamah belikan ternyata sudah habis tak bersisa. Mana uang yang Arda berikan sudah tinggal bubuknya saja. Terus lagi kartu gold unlimited milik Lukman pun sudah aku kembalikan. Sungguh malang sekali nasibku pagi ini.

Dengan langkah lunglai tak bertenaga aku kembali ke kamar, sepertinya tidur selepas Subuh bisa sedikit menyamarkan rasa laparku. Sungguh sangat memalukan sekali. Seorang Adara Mikhayla Siregar hidup susah sampai kelaparan. Dunia memang sudah begitu kejam. Aku yang dulu tak pernah memikirkan bagaimana rasanya susah, dan selalu dilimpahi fasilitas yang begitu tak ternilai harganya. Sekarang? Untuk makan saja uang tidak ada. Argh, ini semua gara-gara Arda. Lihat saja kalau sampai nanti dia pulang kerja, akan aku maki habis-habisan dia. Kalau perlu aku lenyapkan pada waktu itu juga. Aku sudah tidak kuat hidup bersamanya.

Pokoknya aku harus segera pisah darinya. Bodo amat dengan tenggang waktu yang hanya tersisa sekitar tiga minggu lagi. Aku tak peduli sama sekali. Dan untuk kedua orang tuaku, biarkan saja mereka tahu kebenaranan ini. Toh aku juga sudah capek bersandiwara seolah-olah semuanya baik-baik saja. Jika pun mereka marah dan menistakanku sebagai anak. Tak apa, aku akan menerimanya. Daripada harus bertahan dengan dia yang sangat jauh dari harapan, dan tak bisa diandalkan. Lebih baik kena omel Mamah dan Papah yang mungkin hanya sesaat saja.

~TBC~

1
falea sezi
muter2 woy
falea sezi
adara ne g da sopan sopan nya menjijikkan
Yasin Yasin
mana lagi novel yang mengispirasi, ditunggu karya selanjutnya
Qonita Fithriya Ahmad
makasih pembelajarannya kak..smoga barokah ilmunya..aamiin..
mwnya se lnjut..tp manut ajalah...😊
Tengku Nafisa
adara di matanya cuma duit menari nari
Tengku Nafisa
mengingatkan kita. punya makanan jgn pernah mengeluh akan rasanya. tapi pikirkan msh banyak org yg tak punya persediaan makanan. mengajarkan akan hal bahwa kita hrs slalu bersyukur dengan rezeki apa yg kita dpt.
Daisyridone
cantik tapi kelakuannya kasar... segitu Lukman sabar banget ama kelakuan Adara..mau mauan juga lagi diporotin ..
Daisyridone
perumpamaan nya terbalik kayaknya ya thor...
menurut aku harusnya begini "berjam jam yang hilang akan beliau gantikan dengan wakru semenit yang takkkan pernah bisa dilupakan" ...
jadi lebih ke kualitas waktunya yg berharga...
N Hayati
👍👍👍👍
N Hayati
lanjut thor visualnya dong adara n arda
N Hayati
adara, adara mau sampai kapan??? thor visualnya dong
N Hayati
siapa yah dimaksud lukman
N Hayati
adara, adara responnya tu sama duit ajaaaaaa
N Hayati
nothing , toh lukman org baik suka sama marwah justru setuju terus perjuangkan lukman
N Hayati
adara tanggung jawab tuh kan yg kena masalah jadi lukman
N Hayati
thor visualnya dong
N Hayati
semoga nasehat mamanya membuka hatinya
N Hayati
ehm adara mau sampai kapan? thor visual adara n arda dong penasaran
N Hayati
lanjut n semangat thor
N Hayati
adara2 untung si ardanya sabar
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!