NovelToon NovelToon
Anomali

Anomali

Status: sedang berlangsung
Genre:Identitas Tersembunyi / Misteri Kasus yang Tak Terpecahkan / Misteri
Popularitas:5.6k
Nilai: 5
Nama Author: HousingAmoeba45

Misteri kasus orang hilang sejak tahun 1986 hingga 2017 membuat semua orang menjadi takut, bahkan pihak berwajib pun tidak bisa melakukan banyak hal.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon HousingAmoeba45, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 31: Relaks

Satu pekan telah berlalu, yakni tepat pada hari Rabu di siang hari. Matahari lebih terik dari hari biasanya, rasanya seperti menusuk-nusuk masuk setiap pori-pori di dalam kulit. Dari balik jendela kaca minimarket bahkan nampak sinar matahari menyinari daratan bumi, panasnya seolah-olah neraka sedang bocor halus.

Soal minimarket, di siang terik begini Raezha memang lagi ada di minimarket buat beli makanan ringan, karena disuruh Herlambang juga. Ia meminjam motor Honda-nya Herlambang, motor Honda seri CBR250 dengan bentuk sporty dan cakep kalau dilihat dari sisi manapun, apalagi kilometernya masih belum jauh jadi Herlambang pasti baru beli motor itu beberapa bulan yang lalu. Raezha sendiri pastinya sudah tau cara mengendari motor, hanya saja meminjam motor sport punya orang lain malah bikin Raezha beranggapan dirinya norak seakan-akan baru punya motor padahal hasil meminjam. Tetapi memang, motor itu terlalu bagus dan indah, jadi wajar kalau Raezha menganggap dirinya norak. Mesin bertenaga serta suara knalpotnya yang menggelegar jelas bakalan bikin orang lain memandangi Raezha dan motor Honda tersebut.

Balik ke Raezha lagi, ia masih di malam minimarket berdiri di depan kulkas berisikan banyak jenis minuman di dalamnya. Raezha sudah agak lama berdiri di depan kulkas tersebut, karena ia sangat bingung mau beli minuman apa.

Raezha bergumam pada dirinya sendiri sambil memperhatikan setiap minuman yang ada di dalam rak kulkas. “Apa ya… Hmmm.”

Tangan kiri Raezha membawa keranjang belanja, ada banyak camilan yang sempat Raezha masukkan ke keranjang plastik tersebut. Beberapa di antaranya ada ada keripik kentang dengan rasa rumput laut, lima roti sobek, dua biskuit rasa cokelat, dua kaleng minuman bersoda, satu botol kopi (bukan kopi bubuk, tapi black coffe yang sangat pahit), dan masih banyak lainnya yang tertimbun di bawah jajanan lain.

Di dalam kebingungan itu, Raezha mengambil dua kaleng minuman dari kulkas tersebut. Yakni satu minuman jus jeruk dan satu kopi macchiato. Sebenarnya masih ada makanan yang dipilh secara pribadi oleh Raezha untuk dirinya sendiri, seperti keripik kentang rasa rumput laut dan wafer keju. Selebihnya punya Herlambang dan Nita.

Setelah berlama-lama di dalam minimarket, akhirnya Raezha menghampiri kasir dan pegawai kasir tersebut menghitung satu per satu semua belanjaan Raezha. Selagi menunggu belanjaanya dihitung, Raezha berkhayal apa yang akan ia lakukan dengan gaji pertamanya setelah bekerja satu bulan di BARUNO. Namun, yang paling penting adalah berape gaji yang akan diterima Raezha? UMR? Di atas UMR? Mengingat pekerjaannya yang cukup berbahaya dan berisiko, pastinya gaji Raezha ada di atas UMR tetapi belum diketahui berapa jumlah pastinya.

Gaji untuk seseorang yang bekerja di BARUNO tentunya gaji mereka tinggi dan bukan jadi rahasia lagi, tapi Raezha lupa bertanya soal gajinya ke Herlambang sejak pertama ia bekerja di BARUNO. Mungkin bakal ia tanya pas pulang ke fasilitas.

“Semuanya jadi 239 ribu rupiah.” Ucap wanita pegawai kasir yang sudah selesai menghitung belanjaan Raezha dan siap untuk menyerahkan kantong besar berisi belanjaan kepada Raezha.

Mata Raezha terbelalak sedikit ketika sadar sudah waktunya membayar semua belanjaan di hadapannya, untung Raezha tidak berlarut melamun dalam khayalan gajinya. “Oh ya, ini uangnya.” Dua lembar uang dua ratus ribu dan selembar lima puluh ribu rupiah diserahkan kepada wanita pegawai kasir secara tergesa-gesa.

Kedua tangan Raezha mengambil sekantong besar belanjaannya sembari menunggu uang kembaliannya. "Ini kembaliannya, semoga datang kembali." Ucap Si Kasir ramah memberikan uang kembalian ke Raezha. Raezha membalas keramahan pegawai kasir dengan sebuah senyuman tulus lalu melangkah keluar dari minimarket dengan sekantong besar di tangan kirinya.

Sesaat setelah keluar dari minimarket, sinar matahari langsung menyengat kulit-kulit Raezha seolah neraka sedang bocor halus. “Gila, panas banget.” Keluh Raezha meneduhi matanya dari silau cahaya matahari menggunakan telapak tangannya.

Sampai di hadapan motornya yang masih terparkir di depan minimarket, Raezha justru dibuat bingung di mana ia akan menggantungkan atau meletakkan kantong belanjaannya itu. Tidak punya pilihan lain, Raezha menggantungkan kantong tersebut di dekat stang motor sambil berharap ia tidak akan mengalami kecelakaan yang mengharuskannya untuk mengganti rugi kerusakan motor Herlambang.

Raezha menaiki motor tersebut seperti prajurit menaiki kuda perang, ukuran besar dari motor itu membuat Raezha diharuskan untuk berjinjit sedikit. Kunci motor dimasukkan lalu suara knalpot berbunyi keras namun tetap enak didengar, tidak seperti motor-motor harian yang dimodifikasi dengan dipasangkan knalpot sembarangan. Merdu juga tidak, sebaliknya malah jadi suara melengking tak sedap di dengar bahkan tak jarang beberapa malah ditilang polisi karena terlalu berisik.

Sementara itu kaki itu Raezha bersilat dengan pijakan kopling, beberapa kali ia injak hanya untuk mencapai gigi dua. Syukurlah Raezha tidak perlu berlama-lama bersilat di pijakan kopling, kemudian ia langsung saja tancap gas menuju fasilitas BARUNO.

...***...

Suara keras seperti ada balapan mendekati area parkir di fasilitas BARUNO yang ada di bawah tanah. Mungkin agak membingungkan kenapa mobil operasi diparkir di permukaan sementara motor di dalam parkir bawah tanah, sebenarnya untuk kendaraan biasa atau pribadi milik masing-masing pegawai di BARUNO diletakkan di parkir bawah tanah sedangkan kendaraan operasi berada di permukaan. Ada sejumlah mobil operasi yang diparkirkan di dalam area parkir bawah tanah, tetapi mobil-mobil tersebut milik beberapa tim peneliti yang jarang keluar dari fasilitas dan selebihnya diisi oleh kendaraan pribadi seperti yang sudah disebutkan. Hal ini dilakukan agar agen, tim peneliti, dan prajurit bisa langsung meraih kendaraan mereka tanpa harus masuk ke dalam ruang bawah tanah dulu dan berputar-putar dengan jalan tanjakan di dalam sana.

Kembali ke Raezha, ia memarkirkan motor Herlambang ke tempat tepat di mana ia membawa motor tersebut untuk pergi bersamanya ke minimarket. Berhentinya suara mesin motor, Raezha mencabut kunci motor lalu turun dan mengambil kantong belanjaannya.

Raezha berhenti berjalan dan menatap motor tersebut selama beberapa detik sebelum akhirnya ia masuk ke fasilitas melalui salah satu pintu di area parkir bawah tanah.

Melalui jalan-jalan koridor panjang nan banyak kelokan, Raezha sampai ke kamarnya sendiri. Herlambang dan Nita sudah menunggu Raezha di dalam kamarnya. Membuka pintu menggunakan kanannya, Raezha menjumpai Herlambang sedang duduk di kursi kayu sambil matanya fokus membaca selembar dokumen—sepertinya dia masih mau mengevaluasi dokumen yang telah mereka bertiga baca satu pekan lalu. Di sisi lain Nita duduk berselonjor di atas kasur Raezha (Sebelum Raezha pergi, Nita sudah meminta izin untuk duduk di kasur Raezha) sembari membaca novel dengan santainya, di sampingnya juga ada dua lembar dokumen yang mungkin sudah selesai ia baca.

Nita menoleh ke pintu, Raezha melangkah masuk ke kamar bersama dengan kantong besar di tangan kirinya. “Ini orangnya.” Sahut Nita menutup buku novelnya, melompat turun dari kasur Raezha.

Kantong belanjaan diletakkan di atas sebuah meja kayu yang memiliki beberapa ukiran, cukup besar untuk menampung keseluruhan ukuran dari kantong itu. Nita langsung melihat isi dari kantong, ia menemukan apa yang ia cari. Yaitu, tiga bungkus roti isi srikaya, sebungkus sosis panggang jumbo isi lima (lima sosis dalam satu bungkus plastik) dan sekaleng kopi hitam. Titipannya sudah sampai ke tangannya.

Herlambang pun melakukan hal serupa, ia menaruh lembar dokumen yang ia baca ke atas meja bersebelahan dengan kantong belanjaan. “Gimana? Enak nggak pakai motorku?” Tanya Herlambang nyengir sembari tangannya mengambil makanan titipannya. Tiga kebab yang salah satunya terpancar warna merah merona (Isi di dalamnya mungkin dominan saus pedas), dua bungkus biskuit cokelat dan dua kaleng minuman bersoda.

“Aku sih udah ngerti cara pakai motor kopling kayak gitu, tapi tempat duduknya agak tinggi dikit dan aku jadi harus jinjit. Dikit doang sih.” Jawab Raezha menyerahkan kunci motor ke pemilik aslinya.

Herlambang mengambil kunci motornya dari tangan Raezha, ia menyelipkan kunci tersebut masuk ke dalam saku celananya.

Nita sibuk menikmati makanannya, ia menggigit dan menelan sosis panggang—ia meneguk kopi hitam seolah tidak merasakan rasa apapun, benar-benar santai saja meminum kopi pahit itu. Mulut Raezha terbuka tipis tercengang menyaksikan Nita meminum kopi tersebut. Raezha pernah sekali meminum kopi dengan rasa sejenis seperti yang diminum Nita karena waktu itu ia berpikir bahwa gula di dalam kopi setidaknya akan membuat rasa kopi menjadi tidak terlalu pahit. Yah, dugaan Raezha salah dan ia berakhir menyesali telah meminum kopi hitam meski yang dia minum adalah minuman kalengan. “Bukannya kopi hitam itu pahit banget ya? Kok kamu biasa-biasa aja minum-minuman pahit gitu?” Tanya Raezha masih keheranan namun juga ada rasa kagum melihat seorang perempuan yang bisa menikmati minuman pahit seperti kopi hitam.

“Ya udah terbiasa aja gitu, pertama kali minum memang pahit banget tapi pas udah sering diminum malah suka.” Jawab Nita sangat santai melanjutkan memakan camilannya.

Pandangan Raezha beralih pada Herlambang, ia penasaran apa yang berhasil ditemukan oleh Herlambang selama Raezha pergi ke minimarket. “Ada hal baru lagi dari dokumennya?” Tanya Raezha, tangannya membuka tutup kaleng menggunakan jarinya.

Herlambang melirik lagi ke Raezha. “Belum, belum ada satu teks atau bahkan paragraf yang menarik perhatianku.” Jawab Herlambang lalu menghela napas, terdapat rasa kecewa dalam helaan napasnya.

Raezha memahami rasa kecewa Herlambang, namun mereka tetap tidak bisa bertindak tanpa adanya bukti atau bahkan petunjuk. Melakukan penyelidikan mandiri juga akan sangat sulit, kecuali secara ajaib BARUNO memerintahkan mereka untuk melakukan patroli rutin, dengan begitu mereka bisa melakukan investigasi dengan alibi patroli.

Ponsel kerja Herlambang berdering dari saku celana kanannya, seseorang mencoba untuk meneleponnya. “Bentar, ada yang nelepon.” Herlambang mengeluarkan ponselnya, ia berjalan keluar dari kamar Raezha.

Raezha hanya memeperhatikan Herlambang melangkah keluar dari kamarnya untuk menjawab panggilan seseorang. Menunggu sekitar tiga menit, Herlambang masuk kembali ke kamar Raezha, memasukkan ponselnya ke dalam saku kanan celananya. Dari gerak-geriknya dapat ditebak kalau Herlambang akan memberitahu info penting dari BARUNO, kemungkinan misi baru buat mereka selesaikan.

“Misi baru, ada peningkatan aktivitas anomali cukup drastis di Samarinda. BARUNO Kalimantan menugaskan kita buat melakukan patroli di sana, ada beberapa tim lain juga yang bakal ditugaskan bersama kita.” Ujar Herlambang napas beratnya bisa terdengar dari tempat Raezha berdiri.

“Kapan?” Tanya Nita singkat sambil mengunyah sosis terakhir dari yang ada di kantong plastik di tangannya.

Herlambang menoleh ke Nita dan menjawabnya. “Besok malam, kita dapat patroli shift malam.”

Raezha punya pertanyaan yang harus ia ungkapkan pada Herlambang, yakni anomali apa yang sedang mengancam kota Samarinda. “Memangnya anomali apa yang mengancam kota Samarinda?”

“Anomali dengan kode ANM 125 B, nama lainnya Terompet Maut.” Ungkap Herlambang nada bicaranya datar. Tangannya meraup kaleng minuman bersoda yang terduduk di meja, meminumnya seteguk. Satu tegukan itu pasti setidaknya sudah menghilangkan seperempat isi dari kaleng tersebut. “Itu anomali yang udah pernah masuk berita dan pernah ditangkap juga, tapi memang kayaknya itu makhluk punya banyak klon dan varian yang masih belum diketahui.” Lanjut Herlambang

Herlambang meneguk lagi minuman bersoda sampai habis tak bersisa. Orang ini bukan hanya tubuhnya yang besar, nafsu makan dan minumnya juga besar. Tetapi tubuhnya bukan tipe yang buncit, malah terlihat ada otot-otot terbentuk di lengannya namun bukan yang kekar seperti body builder. Sepertinya dia menerapkan prinsip work-life balance sehingga membuatnya agak bisa santai dalam bekerja.

Tak ada percakapan di antara mereka, Raezha menikmati kopi macchiato-nya, Nita masih asik membaca novel sambil selonjoran di kasur Raezha.

Mata dan pandangan Raezha tertuju pada sampul depan novel yang sedang dibaca Nita. Walaupun Raezha tidak pernah membaca novel (faktanya dulu ia sempat membaca novel namun, ia tidak tahan melihat ribuan kata tanpa gambar di dalamnya. Jadi sebelum selesai bab satu, ia sudah berhenti membaca novel), melihat Nita asik sendiri membaca novel malah bikin Raezha keheranan. “Fokus banget baca novel, apa serunya sih baca novel? Padahal isinya cuma kalimat tanpa gambar.” Pikir Raezha berbisik pada dirinya sendiri, tentunya ia tidak ingin ucapan itu bisa di dengar oleh Nita.

“Nita, kamu baca apa sih? Kayak seru banget.” Tanya Raezha keheranan sekaligus penasaran. Raezha mendekati Nita, ia berdiri di sebelah kanan Nita—mencoba untuk melihat buku novel tersebut lebih dekat.

Tangan Nita menutup novel, memperlihatkan sampul depan buku itu. “Novel genre romance-misteri, ceritanya tentang sepasang kekasih yang berjuang mengungkap pelaku pembunuh berantai.” Kata Nita tampak bersemangat memperlihatkan novel yang ia baca kepada Raezha.

Raezha dapat melihat gambar ilustrasi dari sampul novel tersebut, ilustrasi bergambar sepasang kekasih saling bersandar di punggung satu sama lain. Tokoh pria di sampul tersebut mengenakan pakaian detektif seperti mantel parit krem kecokelatan dan topi fedora krem di atas di kepalanya, tangan kanannya mengarahkan pistol revolver ke depan. Sementara tokoh wanita mengenakan pakaian rok yang lebih panjang dari batas lutut namun belum sampai mata kaki, blus putih, dan blazer hitam juga topi fedora serupa dengan tokoh pria. Pandangan Raezha bergeser pada judul dari novel tersebut, novel itu berjudul “Pandangan Kematian: Berantai” dengan latar belakang dunia steampunk.

Dapat dilihat bahwa novel tersebut tidak terlalu tebal, namun tidak terlalu tipis juga. Cukup ideal untuk dibaca dalam waktu singkat tanpa merasa kalau cerita yang disajikan terlalu singkat dan ringkas. “Kayaknya seru, kamu udah baca sampai mana?” Tanya Raezha lagi, kali ini ia menatap wajah Nita.

“Bab tiga belas, kamu mau baca juga?” Jawab Nita sekalian bertanya balik ke Raezha seolah Nita menawarkan novelnya ke Raezha.

“Oh… uh, nanti aja, pas kamu udah selesai baca semuanya. Aku bakal coba baca novel, soalnya aku hampir nggak pernah baca novel.” Balas Raezha, bukannya menolak, hanya saja baginya novel itu masih kelihatan agak tebal baginya dan ia tidak tahu apakah akan cocok dengan cerita yang dibawakan di dalam novel tersebut.

Nita hanya memberikan senyum kecil. “Oh ya udah, pas aku udah selesai baca nanti aku pinjami ke kamu.”

Di sisi lain Herlambang berkutat dengan pikirannya sendiri, ia mengingat-ingat detail kecil yang mungkin terlewat saat mereka melakukan investigasi di area tambang. Herlambang teringat kalau Raezha sempat beberapa kali mengalami sakit kepala ketika mereka bertugas. Pada waktu itu Raezha merasa ada sesuatu yang menyuruhnya untuk bertindak, melakukan sesuatu secara dipaksa oleh rasa sakit dalam kepala.

Mulailah hipotesis dan teori di benak Herlambang. “Kenapa hanya Raezha yang mengalami ini? Apa dia ada kaitannya dengan anomali? Kalau iya, seharusnya sedari awal alat pendeteksi itu bekerja saat berada di dekatnya. Tapi alat itu tidak bereaksi apapun.” Wajahnya tampak sangat serius, dengan kedua tangannya disilangkan menandakan dirinya benar-benar terhanyut dalam pikirannya sendiri.

Nita menyadari Herlambang—terus saja terduduk diam melamun. Nita pun menanyakan keadaan Herlambang. “Kamu mikirin apa, Yudo?”

Seperti orang yang terbangun dari tidur, Herlambang terkejut sedikit ketika Nita memanggil namanya. “Nggak apa-apa kok, aku malah punya pertanyaan buat Raezha.”

Raezha berbalik badan. “Pertanyaan apa?”

“Kamu pernah bilang waktu kita selesai lawan Si Penambang, kamu seperti merasa kalau ada yang nyuruh kamu buat nyerang anomali itu bukan? Apa perasaan itu serupa seperti kamu pusing pas di gedung terbengkalai? Kalau nggak mau dijawab sih nggak apa-apa juga.” Tanya Herlambang serius namun bersahaja.

Raezha agak terkejut tiba-tiba mendapat pertanyaan seperti itu, mau bagaimanapun meski Herlambang tak memaksa Raezha untuk menjawab pertanyaannya, Raezha merasa harus memberikan jawaban sejujur-jujurnya. “Mirip sih, tapi kalau pas di Gedung terbengkalai itu aku ngerasa lagi ada di tengah kekacauan, sementara pas di tambang aku ngerasa kalau suara-suara itu seperti suara yang aku kenali…. Hanya saja suaranya terdistorsi.” Jawab Raezha berusaha sejujur-jujurnya.

Jawaban Raezha barusan sudah memberikan alur baru untuk hipotesisnya Herlambang, namun tetap belum betul-betul membukakan pintu lebar untuk penjelasan lebih luas. Yang bisa diketahui oleh Herlambang sekaligus merupakan hipotesisnya—adalah bahwa Raezha memiliki kemampuan untuk mendengar suara-suara dalam batinnya, dugaan awal Herlambang adalah Raezha bisa mendengar suara-suara dari masa lalu, kemungkinan tergantung di mana tempat ia berada.

Herlambang membatalkan niatnya untuk mengemukakan hipotesisnya, ia tidak ingin juniornya berpikir terlalu jauh pada dirinya sendiri atas perkataan Herlambang nantinya. Jadi ia mengalihkan perbincangan ke kelompok Crimson Eclipse. “Mungkin itu adalah kemampuanmu, aku bukan orang yang percaya sihir tapi kemampuanmu itu bisa menjadi alat untuk membantu pencarian kita pada kelompok Crimson Eclipse.” Ungkap Herlambang mengalihkan topik pembicaraan secara halus dan tak disadari oleh mereka berdua.

“Kayak kekuatan super? Keren juga, tapi aku nggak bisa mengendalikannya. Jadi jangan berharap banyak.” Balas Raezha, nada bicara semangat berubah menjadi datar. Kedua tangannya diangkat sebahu.

Sudah tau jawaban Raezha, Herlambang tidak terkejut dan mewajarkan hal tersebut. “Aku tau kok, setidak-tidaknya kemampuanmu bisa mempermudah pencarian dan investigasi kita. Aku yakin nggak ada anggota BARUNO lain yang tau soal ini selain kita.” Ucap Herlambang, meyakinkan akan merahasiakan hal barusan.

Raezha mengangguk kecil, ia percaya Herlambang tidak akan membeberkan hal ini ke siapapun. Lagipula Raezha juga masih bingung dari mana kekuatannya itu berasal.

Mengangkat tangan kirinya, melihat jam yang terpasang di pergelangan tangannya dan jarum jam menunjukkan bahwa waktu sudah mau sore, Herlambang pun berpamitan dengan Raezha yang disusul oleh Nita. Tak lupa ia juga mengingatkan tentang misi terbaru mereka besok malam. “Aku mau balik ke kamarku, jangan lupa misi kita besok malam nanti.” Pamit Herlambang, membuka pintu kamar Raezha kemudian melangkah keluar.

Disusul Nita yang juga ingin kembali ke kamarnya. “Aku juga mau balik, kalau baca novel tinggal datang aja nanti aku pinjami.” Pamit Nita mengikuti langkah keluar Herlambang.

Raezha sendirian lagi, namun ini bukan hal aneh. Kesendirian sudah menjadi bagian dari dirinya semenjak ia kehilangan sosok yang mengasuhnya sejak kecil.

Kini ia harus menyiapkan tubuh dan mental untuk menghadapi misi berikutnya.

“Ini sudah masuk misi ke empat…. Aku lupa nanya gajiku!”

1
Hasan Kumasi Junior
laanjuuut lembar awal bikin penasaran..semoga tidak sampai aku berkomentar... yaaaa..!? ujungnya koq begini" aja,... ayo Thor....semangat berkarya... semoga Thor sanggup.memberi harapan yang baca...👍👍💪💪💪💪💪
baby bear
masih lama kah up nya😕
Kivasta Ekova Lanhamr: Lagi ujian kak, sabar ya...😔
total 1 replies
baby bear
cerita nya bagus banget....tapi banyakin up nya thor...
baby bear: baik kak...semangat yaa
total 2 replies
Shinta Ohi (ig: @shinta ohi)
serem-serem penasaran
Shinta Ohi (ig: @shinta ohi)
kelapa
Shinta Ohi (ig: @shinta ohi)
pria tua itu kok berani y tinggal di situ
Shinta Ohi (ig: @shinta ohi)
aseeek lanjut thor
Shinta Ohi (ig: @shinta ohi)
mungkin reza salah satu anak yang diturunkan anomali
Shinta Ohi (ig: @shinta ohi)
haduh kalo manis diawal ni kok rasanya tambah ngeri ya
Shinta Ohi (ig: @shinta ohi)
kok ketar ketir ya, rezha nanti dipakai bahan percobaan
Shinta Ohi (ig: @shinta ohi)
kalau mimpi kok ada luka nyata?
Shinta Ohi (ig: @shinta ohi)
lanjut-lanjut
Shinta Ohi (ig: @shinta ohi)
jadi penasaran lanjutannya thor
imagenius9
Keren bgt woiii!
Ayunda Fadillah
ceritanya bagus thor, suka sama nama tokohnya, nama indonesia🇮🇩
Ayunda Fadillah
apakah raezha itu keturunan anomali? huhuhu
Ayunda Fadillah
asekk naksir nihh
Ayunda Fadillah
santai buk, santaiii ... weh mak² kos kosan serem wee😭
Ayunda Fadillah
weh baik bangett
Ayunda Fadillah
dungu gak tuh wkw😭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!