Sedang direvisi.
Perjalanan hidup tak selamanya lurus mulus ke depan. Juga tidak melulu berbelok dan terjal. Adakalanya kita akan merasakan manisnya hidup saat berada di puncak. Namun tak urung juga kita merasakan pahitnya hidup saat terlempar ke dasar jurang terdalam.
Begitu pun kehidupan seorang pemuda bernama Andika Razka Pratama, yang sebenarnya adalah seorang Tuan Muda pewaris tahta Perusahaan terbesar Pratama Grup. Harus merasakan pahitnya dibuang dari kehidupan sesungguhnya.
Berjuang untuk memenuhi kebutuhan hidupnya sehari-hari dan juga membiayai pendidikannya sendiri. Menjadi saksi betapa kerasnya kehidupan Nenek yang merawatnya di pengasingan. Hingga takdir merubahnya saat dipertemukan dengan seorang kepercayaan keluarganya.
Bagaimana kehidupan selanjutnya?
Temukan intrik menarik dari kisah hidup dan asmaranya. Dibubuhi konflik yang menambah rasa dalam cerita.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon aisy hilyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bertemu Nenek
"Emil!"
Suara renta khas seorang wanita tua membuat dua orang yang sedang asyik bercengkrama menghentikan aktivitas mereka. Emil melihat ke arah pintu dari balik tubuh Razka, begitupun Razka ia membalikan badannya ke belakang seketika senyumnya mengembang melihat siapa yang datang.
"Nenek!"
Razka melepaskan pegangan tangannya pada Emil kemudian bangkit dan melangkah menghampiri wanita renta itu. Wanita yang sangat dihormatinya, wanita yang selama hidupnya selalu melimpahkan kasih sayang kepadanya. Wanita pengganti sang Ibu juga Ayah dalam hidupnya. Razka meraih tangan sang Nenek menciumnya penuh hormat lalu menuntunnya ke arah ranjang Emil yang saat ini sedang duduk menatap keduanya dengan senyum penuh keharuan.
Nenek berjalan menghampiri Emil dengan dituntun Razka. Nenek meraih tangan Emil yang segera saja dicium Emil dengan lembut. Sebelah tangannya mengusap lembut kepala Emil penuh kasih sayang. Matanya berkaca kaca sepertinya akan menangis.
"Sayang!" Suara renta yang lembut, setiap nada yang keluar dari mulutnya selalu memberikan kehangatan pada jiwa-jiwa yang mendengarnya.
Air matanya tumpah tanpa dapat ditahannya lagi. Emil segera memeluk sang Nenek, lidahnya terasa kelu. Tak ada kata yang keluar dari mulutnya selain tangis keharuan juga kebahagiaan. Emil menenggelamkan wajahnya pada leher sang Nenek, memeluk erat tubuh renta dan rapuh itu. Menghirup rakus aroma khas seorang wanita tua dari tubuh sang Nenek. Tangan Nenek mengusap-usap lembut punggung Emil menyalurkan kasih sayang kepada Cucu yang selama ini dicarinya.
"Ne-nek."
Setelah sekian lama menangis akhirnya satu kata dapat keluar dari mulut Emil yang disusul dengan isakan yang semakin menjadi dalam pelukannya. Nenek melepaskan pelukan mereka, meraup wajah Emil dengan kedua tangannya yang sudah keriput. Ibu jarinya bergerak menghapus sisa air mata yang mengalir dari mata Emil.
"Sayang! Cucuku!" Nenek kembali menangis ia begitu terharu dengan pertemuan ini.
Razka memegang kedua bahu Nenek dari belakang mengusap-usapnya lembut. Kemudian menuntun Nenek untuk duduk di kursi yang tadi didudukinya. Nenek masih menggenggam tangan Emil erat seolah tak ingin melepaskannya.
Emil tersenyum dalam isakannya, bahagia kini memenuhi seluruh hatinya. Razka menghampirinya mengusap air matanya yang terjatuh lagi lalu memeluk kepalanya erat. Razka pun ikut meneteskan air mata karena bahagia.
Tanpa mereka sadari ada tiga pasang mata yang juga ikut menangis haru di balik pintu ruangan tersebut. Mereka adalah Paman Max, Nuri istri Paman Max juga Rendy.
"Maafkan kami, karena terlalu lama menemukanmu sayang."
Ucap Nenek dengan penuh penyesalan. Ia menyesal karena terlambat menyelamatkan Cucunya dari kekejaman Pamannya sendiri. "Sehingga kau mengalami hal buruk sampai seperti ini."
Kembali Nenek tak dapat menahan air matanya, ia kembali menangis. Namun segera dihapus Emil dengan tangannya.
"Jangan menangis lagi Nek, Emil bahagia saat ini karena sudah dapat berkumpul dengan Nenek dan Kakak. Emil bahagia."
Emil melipat bibirnya menahan tangis, ia tak ingin menangis lagi. Namun ia sangat bahagia. Ini adalah tangis kebahagiaan bukan penderitaan.
"Iya sayang. Nenek bahagia. Pada akhirnya kita semua berkumpul." Nenek meraih tangan Emil dan menoleh pada Razka yang menatap keduanya dengan penuh haru dan bahagia.
"Mulai sekarang, kau harus benar-benar menjaga adikmu. Jangan biarkan air matanya tumpah kembali. Nenek tak ingin Cucu Nenek kembali menderita." Ucap Nenek sambil mengusap lembut wajah Emil. Razka mengangguk mantap.
"Tentu saja Nek, Razka akan menjaga adik kesayangan Razka ini dari orang-orang yang tidak memiliki hati seperti mereka."
Razka menatap Emil yang juga menatapnya lalu tersenyum lembut. Tangan Nenek berhenti pada bagian wajah Emil yang membiru.
"Apakah ini masih sakit sayang?" Tanya Nenek lembut yang segera dibalas gelengan kepala oleh Emil.
"Tidak Nek, sudah tidak sakit lagi." Emil tersenyum manis walaupun kini matanya sembab karena menangis.
Mereka bertiga mulai larut dalam obrolan penuh kehangatan, melepaskan segala kerinduan yang menyelimuti hati mereka selama ini. Tersenyum sesekali tertawa bersama di sela-sela obrolan mereka. Razka mengusap lembut rambut Emil dan mencium dahinya penuh kasih sayang. Emil mendongak menatap wajah Razka dan tersenyum senang. Ia bersyukur akhirnya mereka bisa berkumpul bersama-sama seperti dulu.
Krieeeeettttt
Suara pintu terbuka menampakkan tiga sosok yang berjalan dari balik pintu dengan senyum keharuan. Mereka bertiga menoleh bersama menatap mereka yang berjalan masuk ke dalam ruangan. Dahi Emil mengernyit heran melihat salah satu dari mereka yang kini telah berjalan di dalam ruangan itu.
'Bukankah itu Paman yang waktu itu. Dan itu Kak Rendy, kenapa mereka berdua di sini?' Emil bergumam dalam hati saat melihat mereka bertiga yang kini berdiri di belakang Nenek.
"Tuan Muda! Nyonya Sepuh! Nona Muda!"
Mereka menyapa dengan sedikit membungkuk memberi hormat. Razka dan Nenek sama-sama mengangguk tapi tidak dengan Emil, ia semakin bingung dengan situasi saat ini.
'*S*iapa mereka ini? Dan kenapa juga Kak Rendy ikut membungkuk?' Emil terus saja bergelut dengan hatinya. Razka memperkenalkan mereka kepada Emil untuk menjawab kebingungan Emil.
"Sayang. Ini Paman Max, orang kepercayaan Nenek juga Ayah. Dan ini Bibi Nuri istri Paman Max yang selama ini membantu merawat Nenek. Dan ini, ekhem... Kau kenalkan dirimu sendiri."
Razka menunjuk Rendy dengan kepalanya ia tersenyum menggoda Rendy. Emil tersenyum mengangguk pada Paman dan Bibi Max. Lalu tersenyum geli melihat ekspresi Rendy saat Razka menggodanya.
"Nona Muda! Saya Rendy. Sepertinya Nona sudah sangat mengenal saya." Ucapnya dengan wajah memerah. Entah apa yang membuat wajahnya merah seperti udang rebus.
"Iya iya. Aku mengenalmu Kakak yang suka menggoda." Ucap Emil dengan senyum geli sambil menutup mulutnya.
Rendy salah tingkah ia mengusap belakang lehernya dan memalingkan wajahnya. Sementara Paman dan Bibi Max merasa ada yang aneh dengan tingkah anak laki-lakinya itu.
"Nona, bagaimana kabar Anda? Apakah masih sakit?" Bibi Nuri membuka suara, ia ingin sekali mendekat memeluk gadis manis itu dan memberikan kasih sayangnya untuk gadis itu.
"Bibi. Tidak usah seperti itu, biasa saja ya. Mmmm bolehkah?" Emil menggigit bibir bawahnya merasa ragu dengan apa yang ingin diungkapkannya. Ia menoleh menatap Razka lalu menatap Nenek yang tersenyum melihatnya.
"Iya Nona, bolehkah apa? Jangan sungkan katakan saja!" Ucap Bibi Nuri lembut dengan senyum khas seorang Ibu.
"Mmmm... Bolehkah Emil memeluk Bibi?" Ucapnya, ia teringat pada mimpinya yang memeluk Ibu dan Ayahnya. Bibi Nuri tersenyum haru matanya berkaca-kaca, ada rasa bahagia dalam hatinya.
"Tentu saja sayang.. Boleh kemari biar Bibi peluk." Bibi Nuri berjalan menghampiri Emil meraih tubuh Emil lembut dan memeluknya penuh kasih sayang.
"Ibu. Aku rindu Ibu." Emil berucap lirih.
Ia tenggelam dalam hangatnya pelukan Bibi Nuri. Ia teringat pelukan Ibunya di alam mimpi sesaat sebelum ia bangun dari tidur panjangnya. Nuri semakin mengeratkan pelukannya saat mendengar Emil menyebut Ibu.
Air matanya menetes tanpa dapat ia cegah. Ia terharu dan bahagia. Razka memeluk bahu sang Nenek melihat adegan mereka berdua, Nenek menangis lagi namun segera dihapusnya air mata yang keluar. Paman Max dan Rendy pun menatap mereka berdua dengan mata yang berkaca-kaca. Hari ini dihiasi oleh air mata bahagia satu keluarga yang terpisah kini berkumpul kembali.
"Terimakasih." Ucap Emil lalu melepaskan pelukannya.
Ia beralih menatap Paman Max yang saat itu sedang menyeka sudut matanya mungkin saja air mata yang ditahannya akan lolos saat itu.
"Maaf, bukankah Paman orang yang sama dengan yang waktu itu?" Tanyanya pada Paman Max yang saat itu menatapnya dengan senyuman hangat. Paman Max hanya mengangguk sebagai senyuman.
"Benar Nona. Saya lah yang waktu itu mendatangai Nona, saya hanya ingin memastikan keadaan Nona baik-baik saja." Ucap Paman Max tersenyum senang. Emil tersenyum.
'Ternyata Paman ini adalah orang baik ku kira saat itu ia adalah orang yang jahat.' Ia bergumam dalam hati.
"Maafkan aku Paman." Ucap Emil dengan kepala tertunduk tangannya meremas selimut yang menutupi kakinya.
"Tidak Nona. Tidak ada yang perlu dimaafkan. Saya mengerti, sungguh."
Emil menatap Paman Max yang tersenyum dan mengangguk.
"Mmm bolehkah Emil memeluk Paman, Emil rindu Ayah." Tanpa berkata apa-apa Paman Max langsung meraih tubuhnya memeluknya erat. Paman Max merasa bersalah karena membiarkan Emil hidup dalam penderitaan bersama mereka yang rakus akan harta. Emil teringat Ayahnya dan tersenyum dalam pelukan hangat Paman Max.
baca dari awal begitu bnyk kematian
tp aku masih gak terima dgn rendy pernah memberikan harapan palsu sama emil😭😭😭
itu namaku🤭🤭
itu namaku🤭🤭
walaupun cinta tdk bisa di paksakan,tp aku bisa merasakan apa yg di rasakan mirna
bukan kah razka sering mengantarkan emil pulang🤔