Merlisa harus menerima kenyataan pahit, bahwa mantan kekasih yang masih begitu ia cintai harus bersanding dengan kakak tersayangnya.
Dan lebih parahnya lagi, Merlisa harus terjebak dalam pernikahan sandiwara dengan seorang Arga Sebastian, CEO tampan namun angkuh dan sudah memiliki kekasih. Demi memajukan perusahaan sang papa Merlisa menerima pernikahan yang tidak di dasari oleh cinta.
Bagaimana kisah Merlisa selanjutnya? apakah ia akan menemukan kebahagiaan yang sesungguhnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ropiah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 32
" kak ayo kita makan malam bersama, aku baru selesai masak loh." Ajak Merlisa.
"Benarkah, sepertinya kau menjadi istri idaman ya dek." Ucap Andri.
"Ahh kakak bisa saja, maaf ya kak Indri dan kak Dimas, aku belum sempat menyapa kalian, abis kak Andri udah main peluk - peluk aku aja." Ucap Merlisa.
"Iya gak apa - apa dek kakak ngerti." Sahut Indri.
"Lah kok malah kakak si dek yang di salahin, ini semuakan gara - gara kau juga." Dengus Andri.
" Ya sudah yuk kita makan." Sahut Merlisa mengalihkan pembicaraan.
Andri, Indri, dan Merlisa pergi menuju meja makan. Sedang Arga dan Dimas masih berada di ruang tamu.
" Jangan pernah elo sakiti Merlisa, kalau elo lakuin itu lagi, gue gak segan - segan bikin perhitungan dengan loe." Ucap Dimas penuh dengan penekanan, sambil menujuk di depan muka Arga.
" Itu bukan urusan loe." Sahut Arga menepis tangan Dimas dan berlalu menuju meja makan.
Dimas mengepalkan kedua tangannya menahan emosi yang ia rasakan.
Gue gak akan biarin Merlisa tersakiti lagi, udah cukup gue yang membuat dia kecewa dan terluka. Batin Dimas.
Di meja makan mereka menyantap makan malam mereka sambil mengobrol.
" Kak kapan pulang, kenapa tidak memberi tahu aku ?" tanya Merlisa.
" Baru tadi siang, tadinya kakak ingin membuat kejutan untuk mu dek, ehh malah kakak yang terkejut dengan kabar pernikahanmu." Kesal Andri.
" Hehehe maaf ya kak, aku baru akan mengatakan semuanya saat kakak sudah pulang, aku tidak mau membuat kakak terganggu di sana." Sahut Merlisa.
" Tapi kau sungguh keterlaluan denganku dek, dan kau juga Indri kenapa tidak memberi tahu lebih awal dengan kakak." Kesal Andri pada kedua adiknya.
"Maaf kak, aku hanya menuruti perintah dari papa dan Merlisa saja." Ucap Indri tersenyum.
" Udah deh Dri, elo lama - lama udah kaya emak - emak kurang jatah belanja aja dari tadi ngoceh terus." Ucap Arga.
" Sialan elo bro, gue pecat jadi adik ipar baru tau rasa loe." Ucap Andri.
"Sembarangan aja loe bro, maen pecat gue aja. Gue sama adek loe ini sudah tidak terpisahkan." Ucap Arga mencolek dagu Merlisa, Merlisa hanya tersenyum kecil.
Cih pintar sekali dia berkamuplase, dasar pria bunglon. Batin Merlisa.
" Waahh maen pegang - pegang adek gue aja elo bro, gue belom kasih restu sama kalian berdua." Ucap Andri.
" Bodo amat, yang jelas adek loe udah jadi milik gue." Sahut Arga.
Indri hanya tersenyum sambil geleng - geleng, sedangkan Dimas menatap Arga tidak suka.
" Kalian berdua kenal sejak kapan?" tanya Merlisa pada Andri dan Arga.
" Kami dulu teman SMA dek, kami cukup akrab waktu itu tapi gak tau nih anak tiba - tiba menghilang begitu aja, seperti di telan bumi tanpa ada jejak sama sekali. Eehhh pas ketemu langsung jadi adik ipar gue loe." Ucap Andri.
" Maaf bro gue menghilang waktu itu karena ada alasannya, lain kali gue ceritakan sama elo." Sahut Arga.
"Oo jadi seperti itu. Kalau kak Indri bagaimana persiapan pernikahan kalian?" tanya Merlisa pada Indri.
" Udah rampung semua dek, tinggal tunggu hari H nya aja." Sahut Indri.
" Syukur deh kalau seperti itu kak, maafya kak aku tidak bisa bantu kakak." Ucap Merlisa tidak enak hati pada Indri.
" Ahh tidak apa - apa dek, doakan saja supaya berjalan lancar." Ucap Indri tersenyum.
" Kalau itu si jangan di tanya lagi kak, aku selalu mendoakan ke bahagiaan kalian." Sahut Merlisa tersenyum tulus.
Selesai menyantap makan malam mereka, mereka berkumpul di ruang tamu untuk berbincang sebentar dan berpamit pulang pada Merlisa dan Arga karena waktu sudah semakin larut.
" Dek kakak pulang dulu ya, kamu hati - hati sama pria yang bersama kamu ini." Ucap Andri.
" Memangnya kenapa kak?" tanya Merlisa polos.
" Karena suami kamu suka menggigit, hahaha." Goda Andri, Merlisa hanya bergidik ngeri.
" Sialan elo bro." Sahut Arga memukul pelan bahu Andri.
" Hahaha, udah ya dek. Ingat hati - hati." Ucap Andri dengan gelak tawanya, ia mencium pucuk kepala Merlisa yang langsung di dorong oleh Arga.
" Maen cium - cium aja loe, adek loe milik gue sekarang. Sana pergi loe." Kesal Arga sambil mengusir Andri.
" Dasar suami posesif!" teriak Andri sambil pergi keluar arpatemen Arga yang di ikuti Indri dan Dimas.
******
Pagi hari Merlisa sudah di sibukan dengan rutinitas seperti biasa.
Merlisa berangkat bekerja terlebih dahulu dengan menggunakan ojek online yang ia pesan sebelumnya.
Sedangkan Arga masih menikmati secangkir capucino yang di buatkan Merlisa, Arga menjadi begitu menyukai kopi capucino semenjak Merlisa selalu membuatkan untuknya.
Di kantor Sebastian grup semua kariawan sudah di sibukan dengan pekerjaan mereka masing - masing.
"Ga tolong panggilkan Merlisa di bagian departemen pemasaran." Ucap Arga di sebrang telpon pada seketarisnya Angga.
" Baik pak." Jawab Angga.
Tidak beberapa lama ada suara ketukan pintu dari luar.
"Masuk." Ucap Arga masih sibuk menatap layar laptopnya.
" Permisi pak, apakah bapak memanggil saya?" tanya Merlisa begitu gugup, takut ia akan di kenali oleh Arga, padahal ia sudah menggunakan masker.
" Sebentar lagi jam makan siang, tolong belikan saya makanan di restoran XX sekarang." Ucap Arga masih sibuk dengan pekerjaannya.
" Pak itu bukan tugasku, kan ada OB yang bisa membelikannya. Pekerjaanku masih sangat banyak sekali." Protes Merlisa.
" Berani sekali kau membantah perintahku, apa kau mau aku ...." Ucap Arga yang langsung di potong oleh Merlisa.
" Ba baiklah pak, saya berangkat sekarang." Sahut Merlisa.
" Eemmm." Sahut Arga singkat sambil mengibaskan telapak tangannya mengartikan agar Merlisa segera pergi.
" Hahaha dia pikir dengan menutupi wajahnya, aku tidak bisa mengenalinya, dasar gadis bar - bar." Gumam Arga saat Merlisa sudah pergi dari ruangannya.
Sepanjang jalan Merlisa terus mengumpat dengan sikap Arga.
" Pria bunglon menyebalkan, restoran XX kan sangat jauh sekali dari sini, bisa - bisa aku melewatkan jam makan siangku. Kenapa juga harus aku yang di perintahkan, ahh sungguh sangat menyebalkan." Gerutu Merlisa.
2 jam Merlisa baru sampai kembali ke gedung Sebastian group. Sudah Merlisa duga ia akan melewatkan makan siangnya, perutnya sangat lapar karena tadi pagi ia hanya sarapan dengan sepotong roti.
" Permisi pak, ini makanan yang bapak pesan." Ucap Merlisa saat sudah berada di dalam ruang kerja Arga.
" Kenapa kau begitu lama sekali?" tanya Arga.
" Restoran XX memang jauh dari sini pak, tadi juga agak sedikit macet karena berbarengan pada jam makan siang kariawan." Jawab Merlisa.
"Eemmm." Ucap Arga singkat sambil berjalan mendekati Merlisa.
" Apakah kau masih terkena flu, kenapa kau selalu memakai masker saat berhadapan denganku?" tanya Arga dengan wajah datar, Merlisa yang mendapatkan tatapan dari Arga langsung tertunduk.
" Maaf pak, wajah saya jelek. bisa - bisa bapak tidak bernafsu makan karena melihat wajah saya." Bohong Merlisa.
Cih alesan konyol macam apa itu, dia masih mencoba mengelabuhiku. Dasar wanita bar - bar. Batin Arga.
Bersambung....