Di balik megahnya dinding Kerajaan Sanjaya, sebuah takdir kuno mulai terbangun. Pangeran Ares, sang pewaris takhta yang gagah namun menyimpan misteri di balik rajah di lengannya, terikat janji suci sejak balita untuk bersanding dengan Princess Ciara. Perjodohan ini bukan sekadar urusan politik, melainkan segel yang menjaga keseimbangan dua kerajaan besar.
Namun, bayang-bayang masa lalu mulai mengusik saat Naomi, seorang anak pelayan istana yang sederhana, menyimpan rasa yang tak seharusnya pada sang Pangeran. Kehadiran Naomi bukan sekadar bumbu cinta segitiga biasa; ada rahasia gelap dalam darahnya yang perlahan mulai memanggil kekuatan rune terlarang.
Tiga nasib terjalin dalam bayang-bayang masa lalu. Akankah Ares memilih kewajiban demi kedamaian kerajaan bersama Ciara?
Ataukah perasaan tulus Naomi akan menjadi kunci untuk menghancurkan kutukan yang selama ini menghantui Sanjaya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sarifah31, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rahasia di Balik Air Terjun Kaca
Matahari belahan Selatan tidak pernah menyengat seperti api, melainkan turun berupa sapuan cahaya keemasan yang hangat, memeluk pilar-pilar marmer putih Istana Baitang Sang yang megah. Istana ini dibangun di atas jaringan mata air purba; gemercik air yang mengalir dari pancuran-pancuran giok menciptakan simfoni alam yang menenangkan, jauh dari atmosfer pengap dan penuh kecurigaan seperti di menara batu Sanjaya.
Namun, di balik keindahan yang tampak tenang itu, dua sosok berbaju pelindung kulit kusam khas pengembara Selatan bergerak laksana bayangan di antara rimbunnya pohon-pohon palem kipas di taman luar.
"Pangeran, kita sudah terlalu jauh menyelinap," bisik Ingdrit, suaranya parau dan napasnya agak memburu. Tangannya yang masih menyisakan bekas luka beralih mencengkeram lengan baju Ares. "Zirah hitam Baitang Sang tidak seperti penjaga jubah emas kita. Jika kita tertangkap di ring dalam paviliun ini, Ratu Micky tidak akan segan melemparkan kita ke penjara bawah air."
Ares tidak menjawab dengan kata-kata. Ia hanya menoleh sedikit, sepasang mata peraknya berkilat tajam di balik tudung kain yang menutupi wajahnya. "Aku harus memastikannya dengan mataku sendiri, pelayan Ingdrit. Aku tidak bisa tidur semenjak kereta kencana itu meninggalkan Sanjaya. Getaran batin ini... ini tidak mungkin salah."
Ares telah melakukan kegilaan terbesar dalam hidupnya. Memanfaatkan kelonggaran penjagaan pasca-kekacauan altar di Sanjaya, ia membawa Ingdrit melarikan diri melintasi jalur tikus perbatasan selatan yang biasa dilewati para penyelundup tanaman obat. Ia tahu ini berisiko memicu perang diplomatik, tetapi kerinduan dan rasa bersalahnya sebagai seorang kakak telah membakar habis akal sehatnya.
Dengan gerakan yang terlatih, Ares menuntun Ingdrit menyusuri selasar belakang yang dipenuhi tanaman rambat berbunga ungu. Mereka merangkak di balik dinding batu pembatas hingga tiba di tepi sebuah kolam buatan yang teramat luas sebuah kolam yang permukaannya setenang kaca, dikelilingi oleh pohon-pohon dedalu yang rantingnya menjuntai menyentuh air.
Langkah kaki Ares mendadak terkunci. Napasnya tertahan di tenggorokan.
Di seberang kolam, di atas sebuah gazebo pualam yang dinaungi kanopi sutra putih, duduk seorang wanita yang keindahannya seolah mampu menghentikan waktu. Wanita itu mengenakan gaun khas permaisuri Selatan; potongan kain sutra tipis berlapis-lapis warna hijau lumut dan putih gading yang jatuh dengan sangat anggun membungkus tubuhnya. Rambutnya tidak lagi disanggul berat seperti saat menghadiri pesta di Sanjaya, melainkan dibiarkan terurai sebagian, dihias jepitan perak berbentuk kelopak melur.
Wajahnya... wajah itu sangat bersih, tanpa riasan tebal, memancarkan kecantikan murni yang begitu familier sekaligus asing. Ia sedang duduk bersila, sebuah kitab kuno bersampul kulit rusa terbuka di atas pangkuannya. Jemarinya yang lentik membalik halaman kertas dengan sangat perlahan.
Di dekat kakinya, seekor angsa putih berbulu lebat dan bersih Angel berenang dengan tenang, sesekali menjulurkan lehernya ke arah wanita itu, seolah sedang ikut membaca bait demi bait tulisan di dalam kitab. Tidak jauh dari gazebo, empat orang pelayan wanita muda berpakaian seragam biru muda berdiri dengan kepala tertunduk takzim, menjaga jarak dengan penuh hormat untuk memberikan privasi mutlak bagi sang permaisuri baru.
"Naomi..." gumam Ingdrit yang berada di belakang Ares. Pria tua itu langsung jatuh berlutut di atas rerumputan, air matanya merebak seketika. "Demi para leluhur di langit... itu benar-benar Naomiku."
Mendengar bisikan lirih yang terbawa angin malam dari balik rimbunnya dedalu, malaikat pelindung berbentuk angsa putih itu mendadak menegakkan lehernya. Sepasang mata manik Angel berputar, menatap lurus ke arah semak-semak tempat Ares dan Ingdrit bersembunyi. Angel mengepakkan sayapnya sekali dengan keras, menciptakan riak gelombang kecil di atas permukaan kolam yang tenang.
Naomi tersentak dari bacaannya. Ia menurunkan kitabnya, lalu mengalihkan pandangannya mengikuti arah tatapan sang angsa. Mata cokelat gelapnya, yang kini tidak lagi ditutupi oleh sihir ilusi zamrud, melebar saat menangkap sekelebat kain tudung Sanjaya di balik dedauan. Namun, alih-alih berteriak memanggil pengawal zirah hitam, Naomi justru terdiam, menatap lurus ke arah kegelapan semak-semak dengan dada yang mulai bergemuruh hebat oleh kerinduan yang mendalam.