"Malam ini Lo hancur! Biar kakak Lo paham, ada harga mahal buat tangan yang berani menyentuh adik gue." --Xavier--
"Aku bersumpah, aku akan jadi neraka terpanjang di hidupmu, Xavier!" --Sukma--
Dunia Sukma runtuh dalam satu malam. Perbuatan nista Hamdan, kakaknya, menyulut api dendam di nadi Xavier--pemimpin Geng Bima Sakti Yang Tak mengenal ampun. Dalam buta amarah, Xavier merenggut paksa kesucian Sukma sebagai balasan atas Marwah adiknya yang hampir ternoda.
Hamdan mengakhiri hidup dengan cara tak diberkati, meninggalkan Sukma sebatang kara.
Kesucian tercabik. Masa depan hancur. Satu-satunya penguat jiwa telah pergi.
Di ambang napas terakhirnya, Gea--kekasih Xavier, menitipkan wasiat yang menjadi belenggu sekaligus penebusan dosa: Xavier harus menikahi Sukma.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ayuwidia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 19 Dua Garis
Malam merayap turun. Rembulan mulai bertakhta ditemani ratusan bintang. Suara merdu burung-burung kecil telah hilang, berganti suara hewan malam yang berpadu dengan embusan bayu.
Sukma duduk termenung di atas ranjang. Bibirnya diam, namun otaknya gaduh. Ucapan Ustaz Reinan tadi masih terus terngiang.
Sebagai wanita yang memiliki banyak kekurangan, mestinya ia bahagia dan bersyukur dicintai lelaki setulus Ustaz Reinan. Namun, sisi hatinya terus berbisik, merayunya agar menolak ketulusan itu.
Selain karena merasa tak pantas bersanding dengan Sang Ustaz, ia juga belum bisa membuka hati yang telanjur membeku setelah marwahnya dihancurkan oleh Xavier.
Terlebih, ada sebab lain yang kini membuatnya semakin yakin untuk menolak Ustaz Reinan sebagai calon imamnya: ketakutan terbesar jika benar-benar ada makhluk kecil yang tengah tumbuh di dalam rahimnya, akibat dari perbuatan bejat Xavier di malam terkutuk itu.
"Non Sukma..." panggil Bi Jayanti dari luar kamar. Suara lembut wanita paruh baya itu seketika memecah kaca lamunan, mengalihkan atensi Sukma dari lukisan pemandangan alam yang terpajang di dinding.
"Bibi boleh masuk?" Bi Jayanti kembali memperdengarkan suaranya.
"Masuk saja, Bi. Pintunya belum aku kunci," balas Sukma, mencoba menetralkan nada bicaranya agar tidak terdengar serak.
Bi Jayanti membuka pintu perlahan, lalu masuk ke dalam kamar dan menutupnya kembali sebelum membawa langkahnya mendekat ke arah ranjang.
"Non... ada yang ingin Bibi bicarakan. Tentang tamu bulanan Non Sukma yang belum juga datang," pelan dan sangat hati-hati Bi Jayanti menuturkan kalimat itu.
Sukma menghela napas dalam, mengempas rasa sesak yang lagi-lagi hadir memenuhi rongga dadanya.
"Duduk di sini, Bi," ucap Sukma sambil menepuk pelan sisi ranjang yang kosong, meminta Bi Jayanti untuk duduk di sebelahnya.
Bi Jayanti mengangguk, mendaratkan tubuhnya tepat di sisi sang nona.
"Tadi, Bibi sempat berbincang dengan Oma Kirana di rumah utama. Beliau menanyakan keadaan Non Sukma," tuturnya melanjutkan obrolan yang sesaat terjeda.
"Bibi bilang ke Oma Kirana... Alhamdulillah Non Sukma baik-baik saja. Tapi ada satu hal yang membuat Non gelisah. Tamu bulanan Non Sukma belum juga datang," lanjut Bi Jayanti lirih.
Sukma sedikit menundukkan kepalanya, berusaha menyembunyikan titik-titik air yang kini mulai menggenang di sudut mata. Ulu hatinya mendadak terasa sangat ngilu. Terbayang di dalam benaknya, jika hal yang teramat ia takuti benar-benar menjadi nyata. Bukan lagi sekadar dugaan ataupun kemungkinan terburuk.
Bi Jayanti sangat memahami apa yang kini tengah dirasakan oleh sang nona. Wanita paruh baya itu tidak hanya merasa prihatin, tetapi juga ikut larut dalam kesedihan yang mendera.
Andai saja Xavier ada di hadapannya saat ini, ia ingin sekali menuntut lelaki jahanam yang telah merudapaksa nonanya itu untuk bertanggung jawab. Memintanya mengembalikan marwah Sukma yang sudah hancur berderai, serta mengangkat kembali derajat sang nona.
Jemari Bi Jayanti bergerak perlahan merogoh saku gamis, mengambil benda pipih terbungkus plastik yang tersimpan di sana.
"Non... ini titipan dari Oma Kirana. Beliau berpesan agar Non Sukma menggunakannya besok di pagi hari, supaya hasilnya akurat," ujar Bi Jayanti bernada rendah, sembari menyerahkan alat tes kehamilan itu ke tangan nonanya.
Sukma perlahan mengangkat kepalanya. Ia menatap sendu benda pipih yang masih berada di dalam genggaman tangan Bi Jayanti.
Dengan tangan gemetar dan jantung yang berdenyut ngilu, Sukma menerima benda itu.
Satu demi satu air matanya kembali menetes, mengalir bebas membasahi pipi seiring dengan rasa ngilu di dada yang kian menjadi.
Dalam diamnya, ia merapalkan pinta di dalam benak. Memohon pada Sang Pemilik Hidup agar selalu menguatkan hati dan jiwanya, apa pun hasilnya nanti.
.
.
Fajar yang dinanti tiba. Seusai menunaikan ibadah salat sunah qobliyah subuh dan salat wajib dua rakaat, Sukma membawa kakinya yang terasa lunglai masuk ke dalam kamar mandi.
Jemarinya bergetar saat membuka kemasan benda pipih yang mungkin akan membuat hidupnya semakin jungkir balik, hancur tanpa sisa.
Ia menggunakan alat tes kehamilan sesuai petunjuk yang ada di belakang kemasan, lalu dengan perasaan yang tak keruan menanti hasilnya
Garis dua...
Dada Sukma bagai dihantam palu godam. Segumpal daging yang bersemayam di sana hancur tak berbentuk.
Hal terburuk yang ditakutkannya kini terpampang nyata. Sungguh, tidak bisa dinafikan lagi.
Ia hamil.
Benih yang ditanam paksa oleh Xavier benar-benar tumbuh di rahimnya.
"Allah..." Benak Sukma menyebut asma Tuhan-nya, mengiringi isak tangis yang kini sudah tak kuasa lagi ditahannya.
Ia tergugu. Seluruh tubuhnya bergetar hebat. Dunianya benar-benar serasa runtuh, hanya menyisakan lembah nestapa yang mungkin tidak akan pernah menemukan ujungnya.
"Kenapa kamu ada di sini? Kenapa kamu menghukumku, sama seperti lelaki jahat itu?"
Sukma kian terisak hebat. Tubuh ringkihnya meluruh pasrah di atas lantai kamar mandi yang dingin. Tangannya yang masih bergetar, mendekap erat kedua lutut, menumpahkan seluruh riak kepedihan batinnya yang menghimpit dada.
.
.
Gudang tua, basecamp Geng Bima Sakti...
"Damn!" Xavier mengumpat kasar saat tiba-tiba rasa mual yang teramat hebat kembali menyerang ulu hatinya
Ia bergegas bangkit berdiri, lalu berjalan cepat dengan tungkai terburu-buru menuju satu-satunya kamar mandi di sudut ruangan yang kebetulan sedang digunakan oleh Edo.
"Buruan keluar, Njing!" bentak Xavier sembari mengetuk pintu kamar mandi dengan keras. Kedua tangannya mencengkeram kusen pintu, berusaha sekuat tenaga menahan semua isi perutnya yang mendobrak ingin keluar.
"Ck, gue lagi boker, Njir. Lo pakai aja kamar mandi yang di luar," sahut Edo dari dalam dengan nada suara yang terkesan santai.
"Buruan, brengsek! Gue udah nggak tahan!" cecar Xavier, wajahnya kini sudah pucat pasi menahan pening.
Edo mendecih dari dalam. Ia terpaksa menyudahi aktivitasnya yang tengah dinikmati. Kenyataannya, ia bukan sedang buang air besar, melainkan melakukan aktivitas kotor yang hampir dilakukannya setiap hari di dalam sana: menyalurkan hasrat amoralnya sendiri.
Brakk!
Begitu pintu terbuka lebar, Xavier buru-buru merangsek masuk ke dalam. Ia langsung mencengkeram pinggiran wastafel, mengeluarkan seluruh isi perutnya yang teraduk hebat tanpa sisa.
Puas memuntahkan semua isi perutnya, Xavier keluar dari dalam kamar mandi dengan perut yang terasa sedikit lega.
Ia berjalan lunglai, lalu menjatuhkan tubuh tegapnya di atas sofa--tepat di sisi Edo.
"Lo kenapa sih? Gue perhatiin, akhir-akhir ini sering banget muntah-muntah nggak jelas. Apa jangan-jangan... Sukma hamil? Dan lo yang mewakilinya ngidam," celetuk Edo asal sembari menyeringai licik.
Plak!
Refleks, Xavier menggeplak keras kepala sang wakil jenderal tak berakhlak itu.
"Jaga mulut lo, Njing! Jangan asal ngomong! Sekali lagi lo berani ngomong kayak gitu, gue patahin 'adek' lo!" ancam Xavier, rahangnya mengatup rapat menahan pening.
Bukannya takut, Edo malah terbahak-bahak menyemburkan tawa culasnya.
"Gue nggak asal ngomong, Xav. Gue cuma ngungkapin dugaan yang sembilan puluh sembilan persen bisa jadi fakta."
Xavier seketika bergeming. Tubuhnya membeku. Bibirnya mendadak bisu. Isi kepalanya dipenuhi ucapan Edo, memaksa logikanya menelaah hingga dihantam pikiran buruk.
"Kalau Sukma beneran hamil, lo kudu siap-siap beli popok," Edo kembali melontarkan celetukan asal sembari menepuk bahu Xavier. Lantas membawa tubuhnya bangkit berdiri dan buru-buru berlalu pergi dari hadapan sang ketua geng yang kini tampak menahan murka.
🍁🍁🍁
Bersambung
btw dr awal kamu kan yg salah?
memperkosa loh ga main" itu
The Power of bibi bibi🌹🌹
ancaman dlam kalimat konyol..itu kayak menggertak mau pukul orang tapi pakai ranting pohon tauge..🤣
semoga di kasih 7 tanjakan 7 turunan dan 7 Pengkol penderita mu mengejar maaf vier