Punya ijazah S1 Akuntansi dengan predikat Cum Laude ternyata tidak berguna di hadapan tagihan rumah sakit yang mencapai ratusan juta. Demi menyelamatkan nyawa ibunya, Arini terpaksa membuang gengsinya dalam-dalam dan melamar menjadi kepala pelayan di penthouse mewah milik Adrian—seorang CEO muda kaya raya yang terkenal sedingin es kutub utara.Kerja keras Arini yang super rapi dan cerdas perlahan menarik perhatian sang Kakek pemilik takhta konglomerasi. Salah paham pun terjadi. Demi mempertahankan posisinya sebagai pewaris tunggal, Adrian terpaksa berbohong dan mengenalkan pelayannya itu sebagai calon istri.Sebuah kontrak pernikahan satu tahun akhirnya disodorkan di atas meja marmer.Gaji ratusan juta, seluruh utang lunas, dengan satu syarat mutlak: Dilarang saling jatuh cinta.Mampukah Arini bertahan menghadapi sikap dingin sang konglomerat di bawah satu atap yang sama? Ataukah pernikahan pura-pura ini justru akan mencairkan hati sang es kutub utara yang selama ini membeku?
Bab 31 (Kata Pertama dan Hadiah Sang Papah)
Sembilan bulan kemudian, penthouse Sudirman tidak lagi sesunyi dulu. Suasana ruangan tawang yang megah itu kini dipenuhi oleh suara tawa ceria dan derap langkah kecil dari Arsenio yang sedang aktif-aktifnya belajar merangkak dan berdiri. Bayi tampan itu tumbuh dengan sangat sehat, mewarisi mata cerdas ibunya namun memiliki garis rahang tegas dan rambut hitam pekat persis seperti ayahnya.
Sore itu, rintik hujan membasahi jendela kaca besar Jakarta. Arini sedang duduk bersimpuh di atas karpet bulu tebal di ruang tengah, menata beberapa mainan edukasi di depan Arsenio. Sementara itu, Adrian yang baru saja menyelesaikan rapat kerja daring di meja sudut tampak meletakkan laptopnya, lalu berjalan mendekat dengan melonggarkan dasinya.
Pria yang biasanya ditakuti di dunia bisnis itu langsung menjatuhkan tubuh bidangnya berlutut di atas karpet, merangkak mendekati putranya tanpa memedulikan celana kain mahalnya yang sedikit kusut.
"Jagoan Papa... sedang main apa, hm?" gumam Adrian lembut, menyurukkan wajah tampannya untuk mengecup gemas pipi gembil Arsenio.
Arsenio yang merasa terganggu dengan kecupan ayahnya justru tertawa cekikikan, tangan mungilnya bergerak memegang hidung bangir Adrian. Adrian menatap putranya dengan binar mata yang penuh rasa sayang dan kepemilikan yang amat mendalam.
"Mas, coba pancing dia untuk bicara. Dokter bilang di usia menjelang satu tahun ini dia sudah mulai bisa meniru suku kata," ujar Arini manis, bersandar pada lengan kokoh Adrian sembari menyaksikan interaksi manis kedua pria tercintanya.
Adrian menaikkan satu alisnya, menerima tantangan tersebut dengan penuh percaya diri. Ia memegang kedua ketiak Arsenio, mendudukkan bayi itu tepat di hadapannya.
"Arsen... ikuti kata-kata Papa. Pa... Pa..." ucap Adrian dengan artikulasi yang sangat jelas, menatap lekat-lekat manik mata anaknya. "Ayo, Jagoan. Pa... Pa..."
Arsenio berkedip beberapa kali, mulut mungilnya terbuka kecil, mengeluarkan suara gumaman tidak jelas yang membuat Adrian menahan napasnya tegang.
"Pa... pa!"
Dua suku kata itu akhirnya keluar dengan sangat bersih dan nyaring dari bibir mungil Arsenio, disusul oleh tawa riang sang bayi yang langsung menghamburkan tubuh mungilnya memeluk leher Adrian.
Ruangan seketika senyap sebelum akhirnya Adrian membelalakkan matanya tidak percaya. Sang CEO muda yang biasanya sanggup menaklukkan pasar saham internasional itu seketika mematung, dadanya bergemuruh hebat oleh rasa bangga dan haru yang luar biasa besar hingga air mata kebahagiaan hampir saja lolos dari sudut mata elangnya.
"Sayang! Kamu dengar itu? Dia memanggilku Papa! Arsen memanggilku duluan!" seru Adrian bersemangat, suaranya naik satu oktav karena kegembiraan yang meluap-luap. Ia mengangkat tubuh Arsenio tinggi-tinggi ke udara sembari memutarnya pelan, melupakan seluruh topeng wibawa dinginnya seolah-olah ia baru saja memenangkan pencapaian terbesar di bumi.
Arini tertawa lebar, air mata haru ikut menggenang di pelupuk matanya melihat pemandangan menggemaskan tersebut. "Iya, Mas. Aku dengar. Selamat ya, sekarang kamu resmi jadi Papa pilihan pertamanya."
Adrian menurunkan kembali Arsenio ke dalam dekapannya yang protektif, lalu dengan sigap meraih gawai di atas meja marmer dan menekan tombol panggil cepat sekretaris pribadinya.
"Yudha, batalkan semua jadwalku besok pagi," perintah Adrian tegas dengan nada suara yang bergetar karena emosi yang meluap. "Dan cari tahu rincian kepemilikan pulau privat komersial yang baru selesai dibangun di kawasan Lombok. Aku mau membelinya dan mengalihkan sertifikat kepemilikannya atas nama Arsenio Wijaya minggu ini juga."
Arini yang mendengar instruksi gila suaminya langsung menepuk jidatnya sendiri, otak akuntansinya seketika menjerit frustrasi. "Mas Adrian! Anakmu baru bisa memanggil 'Papa', bukan memenangkan olimpiade sains! Kenapa hadiahnya harus langsung sebuah pulau?!"
Adrian meletakkan gawainya, lalu bergeser mendekati Arini. Dengan gerakan yang sangat cepat dan posesif, ia menarik pinggang ramping Arini hingga tubuh mereka menempel tanpa jarak, sementara tangan satunya tetap menggendong Arsenio yang mulai mengantuk di dada bidangnya.
"Tidak ada kata berlebihan untuk hadiah dari kata pertama anakku, Sayang," bisik Adrian seksi di depan wajah Arini, matanya berkilat penuh rasa kepemilikan yang mutlak. "Dan ini juga hadiah untuk ibunya yang sudah mendidiknya dengan sangat luar biasa."
Tanpa memedulikan Arsenio yang berada di antara dekapan mereka, Adrian menundukkan kepalanya, mengunci bibir merah muda Arini dalam sebuah lumatan dalam yang intens, hangat, dan memabukkan, menyegel komitmen cinta sejati mereka yang kian hari kian mengakar kuat di dalam tawang megah Jakarta.