7 tahun bukanlah waktu yang singkat untuk pasangan suami isteri Mia dan Shendy membina rumah tangga, dan kebersamaan mereka selama ini kurang lengkap karena belum hadirnya buat hati di tengah-tengah kehidupan mereka
Shendy memang tidak mempermasalahkan hal itu, bisa hidup bahagia bersama sang isteri sudah cukup baginya namun berbeda dengan Mia, wanita itu selalu merasa kesepian dan sedih kerap kali membayangkan adanya kehadiran anak di rumah mereka
Bahkan Sendy kerap kali harus menghibur sang isteri setiap kali mendengar kabar berita kehamilan para sahabatnya
Shendy merupakan sosok yang penyabar dan sangat mencintai isterinya tapi rasa cintanya di uji ketika sang isteri mengungkapkan keinginan konyolnya pada Shendy hingga membuat pria tersebut marah besar dan terjadilah pertengkaran hebat diantara keduanya
Apakah keinginan konyol sang isteri hingga membuat Shendy yang penyabar itu marah besar?
Simak terus cerita selanjutnya!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon dianshen, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 31
Saat ini Mia dan mama Nina sedang berada di dalam perjalanan menuju kampung halamannya
Sebelum berangkat Azka dan Zaira sempat datang ke rumah mereka untuk mengantar kepergian mereka bahkan bukan hanya pasangan suami isteri itu saja yang datang Lia bersama Mario, Mita bersama Arta dan juga Mona bersama Yoga pun turut hadir kecuali Indah dan Dion yang tidak bisa datang karena mereka tinggal di kota yang berbeda dan tidak memungkinkan untuk hadir
Walaupun berat untuk Zaira berpisah dengan Mia tapi bagaimana pun semua itu demi kebaikan Mia sendiri
Zaira tidak berhenti menangis ketika mobil yang Mia tumpangi semakin menjauh
Dan keberangkatan Mia ke kampung halaman orangtuanya pun tengah didampingi oleh dokter Rani
Awalnya dokter Rani akan beranjak bersama suaminya akan tetapi dokter cantik itu mengkhawatirkan keadaan Mia yang melakukan perjalanan cukup jauh hanya didampingi oleh mama Nina dan sang sopir
dokter cantik itu khawatir jika tiba-tiba saja di perjalanan terjadi sesuatu yang tidak diinginkan oleh karena itu untuk mengantisipasi kemungkinan terburuk dokter Rani meminta izin kepada suami untuk berangkat bersama Mia dan mamanya
Sementara mama Lidia dengan berat hati tidak bisa ikut bersama mereka karena Bram harus pergi dinas keluar kota tapi ia berjanji akan menyusul bersama sang suami setelah kembali dari luar kota
Setelah menempuh perjalanan selama 4 jam akhirnya mereka sampai di sebuah perkampungan yang terbilang masih sangat asri, udara di daerah tersebut pun masih sangat segar dan sejuk
Mia ditemani dokter Rani masuk ke dalam rumah sementara mama Nina sedang membalas sapaan para tetangga yang datang menghampiri
" Bu Nina udah lama ya enggak pulang kampung?" tanya salah satu tetangga yang datang menyapanya
" Iya bu Tika baru" jawab mama Nina yang sebenarnya malas meladeni para tetangga yang selalu ingin tahu kehidupan orang
" Katanya pulang kampung karena anaknya depresi ya bu?" tanya bu Tika lagi membuat warga yang lain kasak kusuk saling bertanya satu sama lain
" Maksud bu Tika siapa? Mia ?" tanya salah satu warga lainnya yang bernama bu Siti
" Iya bu Siti, emangnya selain Mia anaknya Bu Nina siapa lagi" sahut bu Tika
" Apa benar itu Bu Nina?" tanya bu Siti memastikan
" Maaf ya ibu-ibu anak saya hanya mengalami tekanan batin saja setelah suaminya meninggal" jawab mama Nina dengan perasaan terenyuh
" Innalilahi wa innailaihi rojiun, saya turut berdukacita ya bu Nina, semoga nak Mia diberi kesabaran dan keikhlasan, cepat sehat kembali" tutur warga lainnya yang merasa iba setelah mendengar Jawaban mama Nina
" Amin, terima kasih bu Khodijah !" ucap mama Nina dan ditanggapi dengan senyuman oleh wanita paruh baya yang menggunakan hijab coklat
" Ibu-ibu sebaiknya kita pulang saja, biarkan bu Nina dan putrinya beristirahat!" ujar bu Khodijah
" Iya bu Khodijah" sahut ibu-ibu serempak
" Tapi maaf ya bu Nina, tolong dipastikan ya kondisi anaknya!" ucap bu Tika yang seketika membuat kening mama Nina mengkerut begitu juga dengan ibu-ibu lainnya
" Maksud bu Tika apa ya bicara seperti itu?" tanya mama Nina dengan yang sudah mulai tak ramah
" Maksud saya sudah jelas loh bu Nina, saat ini kan kondisi Mia, maaf loh ya sebelumnya dalam keadaan gangguan mental jadi sebaiknya bu Nina mengawasi Mia dengan baik jangan sampai mengamuk dan mengganggu ketenangan warga sekitar" ucap bu Tika dengan tidak berperasaan
Mama Nina berusaha menahan amarahnya yang mulai bergejolak, kata-kata bu Tika sungguh membuat hatinya panas dan juga tersinggung
" Maaf bu Tika, tidak baik bicara seperti itu saya yakin kok sebelum bu Nani pulang ke kampung ini pasti bu Nani sudah mempertimbangkan segala kemungkinannya yang akan terjadi dan alangkah baiknya sebagai tetangga kita seharusnya membantu bu Nani dalam proses penyembuhan putrinya yang sedang dalam keadaan berduka yang berkepanjangan karena ditinggal oleh suaminya" tutur bijak bu Khodijah
" Bu Nina juga tidak ingin anaknya mengalami hal seperti ini ibu-ibu, tapi apa mau dikata ketika Allah memberinya ujian seberat ini, kita sebagai sesama hamba Allah sudah sepatutnya memberinya semangat dan dukungan bukan justru sebaliknya mengucilkan dan mencemoohnya, jika hal ini terjadi kepada ibu-ibu sekalian bagaimana apa ibu-ibu sanggup menjalani semua ini seperti bu Nina ?"
Semua orang terdiam, bu Khodijah memang dikenal sebagai seseorang yang paham agama dan keluarganya juga begitu dihormati karena sikap dan sifatnya yang baik dan ramah kepada semua orang tanpa memandang bulu
" Terima kasih bu Khodijah atas pengertiannya!" ucap Mama Nina
" Sama-sama bu Nina, semoga ibu selalu diberi kesabaran dan keikhlasan dalam menjaga dan merawat Mia ya bu Nina"
" Amin, Terimakasih bu Khodijah"
" Kalau begitu saya pamit pulang dulu bu Nina, mari ibu-ibu semuanya, Assalamualaikum!" pamit bu Khodijah
" Wa'alaikum salam" jawab mama Nina dan juga ibu-ibu yang lainnya
Setelah bu Khodijah pulang mama Nina pun pamit untuk masuk ke dalam rumahnya
Mama Nina menghela napas kasar seraya menjatuhkan tubuhnya di sofa ruang tamu
" Ada apa bu Nina?" tanya dokter Rani yang baru saja keluar dari kamar Mia
" Sepertinya akan sangat sulit ya dokter menerima keadaan Mia, padahal kami hanya ingin mencari ketenangan!" sahut Mama Nina seraya memejamkan matanya
" Yang sabar bu Nina, ini baru langkah awal semua butuh proses dan yang pastinya memerlukan kesabaran yang ektra, jadi jangan menyerah begitu saja, dan yakinkan pada hati Bu Nina kalau Mia pasti akan segera sembuh" tutur dokter Rani memberi dukungan kepada mama Nina
Mama Nina menegakkan duduknya lalu menatap dokter Rani
" Terimakasih dokter, sungguh saya sangat berterima kasih kepada dokter Rani dan juga kepada nak Azka dan Zaira tanpa kalian semua saya tidak tahu akan bagaimana jadinya hidup saya dan juga Mia". ucap mama Nina yang sudah berderai air mata
Dokter Rani memegang punggung tangan Mama Nina " Sama-sama bu, ini sudah menjadi kewajiban saya sebagai dokter, saya juga turut bangga dengan persahabatan Mia dengan bu Zaira yang begitu kuat !" tuturnya
Tanpa terasa hari mulai senja, dokter Rani pun pamit pulang ke rumah yang sudah Azka siapkan untuknya dan letaknya pun tidak terlalu jauh dari rumah mama Nina
Selepas dokter Rani pulang mama Nina masuk ke dalam kamar Mia
" Sayang, mandi dulu yuk badan kamu pasti sudah lengket karena perjalanan tadi " ajak mama Nina dengan lembut dan penuh ke hati-hatian
Mia mengangguk menurut tapi masih enggan untuk bicara
Mama Nina dengan telaten membantu Mia membersihkan badannya, mengganti baju sampai menyisir rambutnya
" Mama tinggal dulu ya, mama mau masak makanan kesukaan kamu!" pamit wanita paruh baya itu pada sang putri yang hanya duduk diam sambil menatap ke arah jendela
Mama Nina menghela napas berat sebelum keluar dari kamar tersebut
Baru saja keluar dari kamar Mia tiba-tiba ia mendengar suara pintu rumahnya diketuk dari luar
" Assalamualaikum!" terdengar suara seseorang memberi salam
" Wa'alaikum salam!" sahut mama Nina sedikit berteriak dari dalam rumah
Ceklek
Mama Nina membulatkan matanya ketika melihat tamu yang kini sudah berdiri di depan pintu rumahnya