Garis kehidupan setiap orang kadang berliku. Awalnya mungkin sedikit menyimpang, tapi tujuan akhir yang ditentukan Tuhan tidak pernah meleset. Demikianlah yang terjadi dengan kehidupan Darel dan Dara di kisah sebelumnya.
Novel lanjutan ini akan mengisahkan:
》Perjalanan hidup Darel dan Dara selanjutnya bersama kedua anak mereka.
》Begitu juga dengan garis kehidupan Mikha dan Manche yang terhisap dalam lika liku kehidupan cinta Darel dan Dara sebelumnya.
Selamat membaca.
Semoga terhibur. 🙏🤗💖
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sopaatta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
31. Arogan.
...~•Happy Reading•~...
Toby dan Mala jadi teringat tentang Pak Berto, pemilik perusahaan yang selama mereka bekerja, jarang hadir ke kantor. Yang sering di dengar hanya kehidupannya dengan berbagai wanita.
"Dara, dia pernah datang menunggumu di Lobby, tapi tidak ada tanda-tanda bahwa ini perusahaan orang tuanya." Mala masih penasaran dengan Lucha dan jabatan barunya.
"Aku jadi ingat, pantas saat itu dia tidak mau duduk di bangku taman kantor. Dia bilang nanti dilihat teman kantornya, jadi sangat marah karena aku mau bicara di situ." Kandara jadi ingat kejadian di depan lobby dan juga kata-kata kasar Lucha padanya.
"Makin seram, kalau benar itu bapaknya." Kata Mala yang jadi teringat dengan cara kerja dan kebijakan Pak Berto yang berantakan.
"Kau benar... Jika tidak ada Pak Ari, mungkin perusahaan sudah gulung tikar. Semoga dia lebih baik dari bapaknya." Toby berkata sambil menghabiskan makanan di piringnya.
"Cepat, selesaikan dessertnya. Yang lain sudah selesai, jangan sampai kita ditunggu atau dipelototin seperti bocah." Mala berkata saat melihat sudah ada yang meninggalkan ruangan tempat mereka makan.
^^^Panitia acara sengaja menata ruang makan dengan gaya standing party, agar bisa makan sambil mengakrabkan diri dengan pimpinan yang baru. Tapi tidak membawa dampak positif. Tetap saja ada jarak satu dengan yang lain, yang tetap kumpul dengan bagiannya masing-masing. Para petinggi juga tetap menjaga jarak dengan pejabat di bawah mereka.^^^
Kandara, Mala dan Toby segera menghabiskan dessert mereka, lalu kembali ke ruang pertemuan untuk menunggu Lucha dan Pak Ari, sebagaimana yang diminta Pak Ari kepada mereka.
Tidak lama kemudian, Lucha dan Pak Ari masuk ke ruangan. Kandara, Mala dan Toby segera berdiri sebagai rasa hormat, lalu kembali duduk setelah Lucha dan Pak Ari duduk.
"Mas Mala dan Mas Toby, juga Mba' Dara, terima kasih sudah menunggu." Ucap Pak Ari sambil melihat kearah Kandara, Mala dan Toby dengan wajah yang tidak bisa dikatakan senang.
"Apa kalian hanya bisa duduk seperti itu?" Tanya Lucha dengan suara lantang dan emosi ke arah tempat duduk Kandara, Mala dan Toby. Pak Arif sampai terkejut mendengar suara Lucha yang agak tinggi dan emosi.
Kandara sudah mengerti sifat Lucha yang tidak bisa mengontrol diri dan terutama mulutnya, berkata pelan. "Mas Mala dan Mas Toby, kita pisah dulu, ya. Mungkin matanya sakit lihat kita duduk seperti ini." Mala dan Toby segera berdiri dan menjauh dari Kandara tanpa berkata atau protes. Mereka jadi tahu, Lucha sangat terganggu dengan kedekatan mereka.
"Pak Ari, sudah bicara dengan mereka berdua?" Tanya Lucha serius ke arah Pak Ari yang masih terdiam.
"Belum, Pak. Mereka masih mengerjakan project yang belum selesai." Jawab Pak Ari pelan dan ragu.
^^^Mala dan Toby saling melihat, juga dengan Kandara yang belum mengerti dan bingung dengan ucapan Lucha dan sikap Pak Ari yang tidak biasanya.^^^
"Nanti dikerjakan oleh yang lain. Silahkan katakan kepada mereka." Lucha berkata lagi, sambil melihat Pak Ari dengan serius, tanpa melihat Mala dan Toby juga Kandara.
Melihat Pak Ari belum juga mengatakan sesuatu, Lucha jadi emosi. "Kalau Pak Ari tidak katakan, saya yang akan katakan." Lucha berkata lagi dan level emosinya mulai naik level.
"Maaf, Pak Lucha. Berikan waktu untuk saya bicara dengan mereka dulu. Saya perlu diskusikan ini dengan bapak sebelum memutuskan." Pak Ari berusaha berbicara dengan pelan dan hormat untuk meredahkan emosi Lucha.
"Kita masih punya pekerja lain. Bereskan ini, sebelum lakukan yang lain." Lucha tetap berbicara dengan serius.
"Kalau begitu, Pak Lucha katakan langsung saja, jika sudah tidak bisa di bicarakan lagi." Pak Ari jadi berbicara dengan tegas dan serius sambil melihat Lucha.
"Kalian berdua serahkan project yang sedang dikerjakan kepada Pak Ari. Nanti akan diteruskan oleh pegawai yang baru. Kalau kalian mau bertahan di sini, ada perampingan jabatan dan juga gaji. Jika kalian tidak bersedia kembali ke ruang programmer, kalian bisa mengundurkan diri." Lucha berkata tegas tanpa perasaan sambil melihat Mala dan Toby. Emosinya selalu meningkat, jika melihat Toby dan Mala.
Hal itu membuat Mala dan Toby saling menatap dengan wajah terkejut. Mereka jadi tercengang mendengar kebijakan perusahaan yang dimaksudkan Lucha. 'Ini sama saja, mau pecat kami.' Mala dan Toby berkata dalam hati.
^^^Kembali ke ruang programmer sama saja, diturunkan jabatan dua tingkat. Kalau gaji dikurangi karena kondisi perusahaan, bisa dimengerti. Tapi kembali ke awal bekerja di perusahaan, sama saja dengan menyingkirkan.^^^
Hal yang sama juga dilakukan oleh Kandara, sambil melihat Mala, Toby dan Lucha bergantian, karena terkejut. Kandara tidak bisa berkomentar, tapi berpikir keras. 'Apakah Mas Mala dan Toby ada lakukan kesalahan selama aku cuti?' Tanya Kandara dalam hati.
"Boleh kami bertanya, Pak. Mengapa pekerjaan kami diserahkan pada orang lain? Itu hasil kerja kami bertiga. Apa kami ada lakukan kesalahan selama bekerja?" Toby berkata dengan serius, sambil mengepalkan tangan di pahanya untuk mengendalikan emosinya.
^^^Toby bertanya dengan cepat, karena melihat Mala yang sedang terkejut, sampai tidak bisa berkata-kata. Apa yang dikatakan Lucha tidak pernah terpikirkan oleh mereka. Lucha mau menyingkirkan mereka dengan cara yang licik.^^^
"Apa kami harus berikan alasan kepada kalian dalam membuat kebijakan untuk menyelamatkan perusahaan?" Lucha balik bertanya, tanpa menjawab pertanyaan Toby.
^^^Mendengar itu, Mala jadi mengerti. Ini bukan masalah pekerjaan, tapi Lucha masih dendam kepada dia dan Toby, soal Kandara. Dendam masa lalu yang sudah berlalu lebih dari 10 tahun dan masih disimpan sampai sekarang.^^^
Tanpa memperdulikan Lucha yang sedang melihat mereka dengan emosi, Mala berdiri lalu berjalan ke arah Toby dan duduk di sampingnya. Dia berbicara serius dengan Toby, agar mereka bisa satu suara. Melihat itu, Pak Ari menarik nafas panjang dan mengusap wajahnya dengan kasar.
^^^Tanda alaram buruk berdetang di berbagai sudut kepala Pak Ari, saat melihat Mala dan Toby berbicara serius. Pak Ari yang sudah bekerja belasan tahun dengan Toby dan Mala, sangat mengenal mereka jika sudah serius.^^^
^^^Pak Ari lebih suka mereka dalam mode bercanda. Karena dengan demikian, mereka menikmati pekerjaan yang sedang mereka kerjakan. Dalam hati Pak Ari berharap, semoga Kandara bisa menghentikan Mala dan Toby.^^^
"Baik, Pak. Sebelum pulang dari sini, kami akan serahkan surat pengunduran diri kepada Pak Ari." Mala berkata cepat sambil melihat Lucha dengan serius, tanpa melihat Pak Ari yang sedang melihatnya sambil memegang pelipisnya.
^^^Ucapan Mala membuat Pak Ari terhenyak lalu memegang pelipisnya yang mulai berdenyut. Sedangkan Lucha, jadi terdiam. Dia tidak menyangka, mereka sangat mudah menerima. Dia mengira, mereka akan marah dan melakukan protes atau memohon kepadanya, agar bisa diperbolehkan bekerja di perusahaannya. Tapi hatinya merasa senang, bisa menyingkirkan Toby dan Mala dengan cepat.^^^
Mendengar yang dikatakan Mala, Kandara terhenyak dan jadi sangat sedih. Dia mengingat Rina sedang hamil dan Mala harus berhenti kerja. Hatinya makin sedih membayangkan Rina dan juga Tress, istri Toby jika mengetahui hal ini.
...~•••~...
...~●○♡○●...
Terimakasih buat authornya..