Tiga orang wanita harus hidup dalam perjuangan setelah orang-orang terkasih mereka semuanya tewas dibunuh oleh pasukan pemerintah Negara Zonic. Dendam yang dipendam memaksa mereka menempa diri menjadi wanita-wanita kuat.
Ketiga wanita itu adalah Bella Sanggar, Kayla Srikandar dan Akira Srikandar. Bella Sanggar menjelma menjadi pemimpin kelompok pemberontak yang bernama Perampok Hati Es. Kayla yang merupakan janda dari perampok ternaama bernama Srikandar, secara bertahap membentuk kekuatan pemberontak.
Sementara Akira yang terpisah dari ibunya, menggembleng diri di sebuah sekolah ternama milik pemerintah. Kecerdikan yang dimilikinya membuatnya mempelajari banyak ilmu di perpustakaan yang membuatnya menjadi gadis remaja yang tangguh.
Namun, status Buronan Wajib Mati membuat ketiganya harus berhati-hati karena pasukan pemerintah bisa saja mengetahui penyamaran mereka.
Sanggupkah ketiga wanita itu membalaskan dendam orang-orang terdekat mereka? Ikuti keseruan cerita kolosal ini!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rudi Hendrik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Peti Es 9: Pertempuran Sengit Dimulai
*Perampok Hati Es (Peti Es)*
“Pasukan panah!” teriak Komandan Tarang Jongko yang marah.
Pasukan Khusus Pemburu dan unit panah dari Pasukan Keamanan Kota segera membidikkan anak panahnya.
Mendengar aba-aba itu, paniklah Kepala Kota Garip Dawas dan Kepala Keamanan Kota Kapten Zazak Liga yang digantung di atap rumah.
“Komandan Taraaang! Kau akan membunuh sandera!” teriak Garip Dawas histeris dan panik, tetapi tidak bisa berbuat apa-apa.
“Lantai satu! Panaaah!” perintah Komandan Tarang Jongko tanpa peduli dengan teriakan Garip Dawas di atap lantai dua.
Seset seset…!
Teteb teteb teb…!
Puluhan anak panah pun berterbangan dengan cepat dari segala arah, melewati atas tembok pagar lalu menancap di dinding-dinding rumah dan atap, juga masuk menerobos lewat jendela dan pintu.
“Akk!” jerit seorang pelayan perempuan yang lambungnya tertancap anak panah yang lolos lewat jendela.
Yang unik, Hahea tiba-tiba meraih tubuh Cella Dawas dan membawanya berlindung masuk ke ruang dalam. Bella Sanggar hanya tersenyum kecil melihat tindakan anak buahnya yang tampan. Ia paham maksud Hahea.
“Biar aku yang selamatkan ibunya!” kata Danggal pula lalu bergerak cepat mengangkat tubuh Nyonya Dawas yang masih pingsan.
“Berani ambil, berarti berani tanggung jawab!” kata Bella Sanggar.
“Siap! Hahaha!” teriak Danggal lalu tertawa senang.
“Beri tanda siap bertarung!” perintah Bella Sanggar.
“Lolololo …!”
Tiba-tiba Folo melolong kencang dengan memainkan lidahnya.
“Lolololo …!”
Junggi yang berada di lantai dua bersama Satria juga melakukan hal yang sama.
“Lolololo …!”
Fellog juga menyambut lolongan liar itu dengan lolongan serupa.
Set!
Sebatang panah dilepaskan oleh Zaena Wulo kepada Komandan Tarang Jongko.
Tak! Tseb!
Sigap Komandan Tarang Jongko menangkis panah itu dengan pedangnya. Namun nahas, anak panah itu justru berbelok menancap di dada satu prajurit berkudanya. Kencangnya anak panah membuat pelindung dada si prajurit tidak begitu berfungsi.
“Pasukan Keamanan Kota! Dobrak gerbang depan!” perintah Komandan Tarang Jongko.
Maka sejumlah Pasukan Keamanan Kota yang tidak bersenjata panah segera mengangkat sebuah batangan besi panjang setebal pelukan. Batang besi yang sudah disiapkan itu diangkat ramai-ramai.
“Dobrak!” teriak mereka sambil maju mendobrak.
Bugk!
Gerbang kayu tebal itu bergetar dihantam besi besar.
“Dobrak!” teriak para prajurit bersama-sama.
Bugk!
“Pasukan Panah!” teriak Komandan Tarang Jongko memberi aba-aba.
Pasukan panah kembali bersiap dengan panahnya, termasuk pasukannya sendiri.
“Semua lantai! Panaaah!” teriak Komandan Tarang Jongko.
Seset seset…!
Teteb teteb teb…!
Puluhan anak panah kembali beterbangan dengan cepat dari segala arah. Kali ini target anak panah ke semua lantai, termasuk menargetkan Zaena Wulo dan Fellog yang ada di lantai tiga.
“Komandan Tarang! Jika aku masih hidup, aku akan melaporkanmu!” teriak Garip Dawas. “Aku tidak akan me … akh!”
Teriakan Kepala Kota terputus oleh satu anak panah yang menancap di dadanya bersama anak-anak panah lainnya yang menyerang lantai dua dan tiga.
“Ayaaah!” jerit Cella Dawas histeris dan menangis. Melalui jendela lantai dua, ia melihat langsung ayahnya yang tergantung ditancapi sebatang anak panah milik prajurit. Kemudian menyusul satu anak panah lagi yang menancap di leher. Anak panah kedua itu yang mengakhiri hidup Kepala Kota.
“Jangan ke jendela! Bahaya!” cegah Hahea sambil memeluk pinggang Cella Dawas yang meronta-ronta melihat ayahnya mati.
Teteb …!
Sejumlah anak panah menerobos masuk lewat jendela dan menancap di dinding lantai dua.
Di dinding sebuah ruangan di lantai dua, Junggi dan Satria sedang bekerja untuk memperapuh dinding yang nanti akan didobrak saat waktunya tiba.
Di lantai satu tidak kalah bahaya. Tiga pelayan harus bernasib nahas saat panah-panah yang tidak memiliki mata bermasukan ke ruang depan dan mengenai mereka. Ada yang tewas dan ada yang hanya terluka.
Sementara Bella Sanggar yang berlindung di lantai satu, telah bersiap untuk bertarung. Kedua tangannya sudah menggenggam kapak birunya. Melalui pintu depan yang terbuka ia memandangi pintu gerbang yang sedang berusaha didobrak.
Di belakang Bella Sanggar juga telah bersiap Danggal, Folo, dan Alvu. Sementara Alva bersiap dengan berjongkok di balik tembok pagar. Ia bersiap dengan memegang sebuah lilin yang sudah menyala. Di lantai tiga ada Zaena Wulo dengan panahnya dan Fellog yang sudah memegang katapel besarnya. Fellog mengeluarkan sebuah bola sebesar telur puyuh yang ia pasang di katapelnya.
Setelah berlindung dari serangan panah pasukan prajurit, Zaena Wulo cepat membalas tiga kali panah dengan begitu cepat. Semua bidikannya membunuh tiga prajurit Pasukan Khusus Pemburu.
Bless!
Melalui jendela yang lain di lantai tiga, Fellog melepaskan peluru katapelnya. Ia menembak setelah memperhatikan arah angin bertiup. Bola kecil sebesar telur burung puyuh itu pecah saat menghantam seorang prajurit berkuda yang ada di samping utara rumah. Bola itu langsung mengeluarkan asap merah tebal.
“Akk! Akhr! Aakrr!” jerit para prajurit bertameng dan berkuda saat mereka menghirup asap merah itu. Mereka tersentak mendelik dan langsung memegangi lehernya masing-masing. Ternyata asap itu beracun, karena itu Fellog harus hati-hati menggunakan senjata tersebut.
Akibatnya, lebih dari sepuluh prajurit tewas keracunan dalam kondisi mulut berbusa.
Sementara di halaman belakang, telah bersiap pula Gumbang Ji dan Alang Wanga, jika pasukan di luar tembok belakang menyerang masuk.
“Panah lantai ataaas!” teriak Komandan Tarang Jongko. Ia menilai dua orang di atas itu sangat berbahaya.
Seset seset…!
Teteb teteb teb…!
Kali ini serangan puluhan panah pasukan Komandan Tarang Jongko fokus menyerang ke lantai tiga. Buru-buru Zaena Wulo dan Fellog kabur ke tangga, sebab itu menjadi tempat paling aman untuk berlindung.
Puluhan anak panah menerobos dari jendela-jendela yang terbuka karena sudah rusak. Anak panah itu bertancapan di dinding, lantai dan segala benda yang ada di ruangan atas itu.
Empat anak panah salah target pun menancapi tubuh Kepala Keamanan Kota Kapten Zazak Liga.
“Kapten Zazaaak!” teriak para prajurit Keamanan Kota histeris melihat kematian pimpinan mereka yang tercinta.
Brakr!
Akhirnya pintu gerbang halaman depan patah oleh dobrakan para prajurit.
“Seraaang!” teriak para prajurit beramai-ramai, bahkan berdesakan, memasuki gerbang yang telah terbuka lebar.
Para prajurit itu berlarian dengan senjata tombak dan pedang. Perisai tidak boleh ketinggalan. Mereka menyerang ke arah pintu ruangan depan, tempat sandera dan Bella Sanggar berada.
“Maju!” teriak Bella Sanggal sambil maju lebih dulu keluar dari rumah.
“Lobaaa!” teriak Alvu semangat sambil berlari ke luar pula bersama Danggal dan Folo.
Bluss bluss…!
Danggal, Folo dan Alvu kompak melempar tiga telur besi ke depan pasukan yang masuk ke halaman. Ketiga bola besi itu meledakkan asap hijau tebal yang seketika menutupi pandangan para prajurit.
Sementara Bella Sanggar dan ketiga anak buahnya tidak langsung menyerang, mereka menunggu agar tidak melewati area berminyak.
“Lobaaa!” teriak Alva dari pinggir tembok sambil menyulut api lilin ke tanah.
Blup!
Api langsung menyala besar dan berlari kencang lewat di depan Bella Sanggar. Parit api itu membentang dari pinggir halaman ke pinggir halaman lainnya. Lebarnya sepanjang satu setengah depa.
“Hoekh! Hoekh! Hoekh…!”
Para prajurit bermualan dan bahkan muntah di dalam selubung asap hijau yang sangat busuk baunya.
“Akk! Panaaas…!”
Lebih mengerikan lagi, prajurit yang buru-buru keluar dari asap justru keluar ke lautan api yang seketika membakar mereka.
Belasan prajurit terbakar dan dengan sendirinya mereka melepaskan senjata dan tamengnya.
Prajurit yang lolos melewati parit api dengan kondisi tubuh sudah terbakar, dengan mudahnya dibasmi oleh Bella Sanggar dan anak buahnya tanpa ampun.
Mendelik terkejut Komandan Sanggar melihat taktik mematikan Bella Sanggar dan kelompoknya.
“Munduuur!” teriak Komandan Tarang Jongko cepat kepada Pasukan Keamanan Kota yang sudah banyak masuk ke dalam halaman.
“Seraang!”
Di saat pasukan di halaman depan diperintahkan mundur, tiba-tiba terdengar suara para prajurit di halaman belakang justru menyerang masuk.
Pasukan di belakang ternyata sudah tidak sabar untuk menyerang. Meski ada larangan agar tidak masuk pintu halaman belakang yang sudah terbuka, tetap sajar mereka masuk. (RH)
kopi meluncur tuk akira
gk mungkin tabib nya Kayla kan omm?
next ommm