Velia harus rela menggantikan sang kakak yang kabur di hari pernikahannya dengan Daniello. Laki-laki yang memiliki kelakuan menyimpang, sampai dimana sang ayah mertua meminta janji pada Velia agar mengubah sang anak menjadi laki-laki yang normal.
"Berjanjilah pada papah, bahwa kamu. Akan membawa anak papah ke jalan yang benar,"
"Tapi..."
Dengan memelas ayah mertua Velia Tuan Samanta memohon pada dirinya, membuat Velia tak bisa berbuat apa pun. Dan belum lagi cinta masa lalu Velia dan Daniello yang kembali, saat mereka saling cinta.
Akankah mereka bersama? Ikuti kisah Velia dan Daniello.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nopani Dwi Ari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part.31
Masa lalu Alvaro part.2
Senyapnya suara dari arah luar, membuat Jasmine sedikit curiga. Pasalnya sudah lebih dari satu jam, dia tak mendengar suara Alvaro dan Indi.
Jasmine keluar dari kamar, dan memutuskan untuk melihat anak-anak. Bagas dan sang ibu, tengah beristirahat siang.
"Alvaro, Indi." Panggil Jasmine.
Jasmine mengedarkan pandangannya, ke sekeliling halaman. Namun dia tak mendapati Indi, dan Alvaro.
"Alvaro, Indi. Kalian dimana nak?" panggilnya lagi.
Jasmine pun berjalan menjauh dari rumah, masuk ke kebun namun tak di temukan juga anak-anak.
"Ya Tuhan,"
Jasmine sudah panik dan takut, namun dia mencoba tenang. Dan akan mencari sendiri sekali lagi, sambil terus memanggil nama Alvaro dan Indi. Berharap, mereka bisa mendengar suara Jasmine.
Sementara itu di rumah kosong, keadaan Alvaro dan Indi tidak bisa di katakan baik. Mungkin akan mengalami, trauma yang mendalam bagi mereka.
Alvaro sudah sadar, dia merasakan dingin pada tubuhnya. Dan saat menatap dirinya sendiri, betapa terkejutnya Alvaro mendapati dirinya tak memakai sehelai benang pun. Membuat pertahannya akhirnya runtuh, dia menangis terisak.
"Heh, sudah sadar juga rupanya. Anak kecil seperti mu ternyata nikmat juga," cibir Topan.
"Yoi, sempit-sempit gimana gitu." Sambung Baron.
Membuat Alvaro semakin menangis, walau dia masih SD. Tapi Alvaro paham betul, dia mengerti apa yang terjadi padanya. Tapi dia lebih khawatir pada Indi, apakah Indi juga di lecehkan?
"Indi," panggilnya lirih menatap pintu yang tertutup rapat.
Indi sendiri tak sadarkan diri, setelah di jamah Dewa. Dan kedua wanita yang bersama Dewa, saat sadar Indi menatap ketiga orang dewasa di depannya dia tak menangis. Tapi sorot matanya berbeda, ada yang hilang. Indi bocah SD itu belum mengerti.
Dua wanita itu memakaikan Indi baju, dan dengan teganya salah satu dari wanita itu memainkan jarinya di inti Indi. Dengan kasar, membuat Indi meringis menahan tangis dan sakit.
"Sudah ayok keluar," titahnya setelah selesai.
Tubuh Indi di dorong dengan kasar, dia pun bisa merasakan sakit di daerah intinya. Walau mengunakan jari yang kasar, tapi perlakuan Dewa sungguh beringas dan kasar.
Dia menatap Alvaro yang juga menatapnya, saat keluar dari kamar.
"Indi," lirih Alvaro.
Namun Indi hanya menatap kosong dan duduk dekat Alvaro, yang kini sudah memakai pakaian lengkap.
"Bos gawat, warga mencari anak-anak ini." Ujar Topan.
"Halah mereka gak mungkin sampai sini," kata Dewa santai.
"Tapi bos..."
"Sudah siapkan makan, kasian mereka pasti lapar setelah main." Kekeh Dewa.
Baron pun menurut, dan memberikan mereka roti dan susu. Saat para iblis, sedang berpesta kembali. Alvaro melirik Indi, yang hanya diam.
"Indi, bicaralah." Isak Alvaro.
Isakan Alvaro, membuat salah satu dari mereka geram. Dan tak segan menghajar Alvaro sampai pingsan, Indi melihat itu. Dan melirik Alvaro
"Alvaro." Lirih Indi, tak bisa melakukan apa pun.
Lalu Dewa memerintahkan membawa Alvaro ke kamar, dia akan merasakan bagaimana nikmatnya bocah kaya tersebut. Akhirnya Indi, bereaksi saat Alvaro di bawa. Dia meminta jangan menyakiti Alvaro.
"Lepaskan Alvaro... Lepas," pekik Indi.
"Hey, diam lah. Atau kamu mau kami lecehkan lagi hah?" bentak salah satu wanita tadi.
Indi pun diam memeluk lututnya di pojokan, dia menangis tanpa suara. Dia juga takut, tapi demi Alvaro dia akan tetap di sini lalu kabur bersama.
Di dalam kamar, Alvaro sudah merasakan kesakitan. Dia pun menangis, dan memanggil nama Jasmine.
***
Jasmine sendiri sudah kembali ke rumah, dan mengadu pada Bagas.
"Terakhir mereka bilang, mau main di depan. Tapi pas aku lihat, mereka gak ada di depan." Ujar Jasmine.
"Sudah jangan menangis, kita cari sama-sama."
"Ada apa?" tanya nenek Sari, mendengar tangis sang anak.
"Anak-anak hilang bu," kata Bagas.
"Ya Tuhan, kenapa bisa hilang? Memang main di sekitar mana?" tanyanya khawatir.
"Di depan seperti biasa."
"Mungkin mereka main ke hutan, Nek." Celetuk Tina.
"Kalau mereka main, ke hutan bisa gawat. Nyonya, Tuan." Sambung Tina.
"Gawat kenapa?" sahut Jasmine.
"Akhir-akhir ini, selalu ada saja. Orang yang hilang di hutan Nyonya," jelas Tina.
"Hilang maksudnya gimana?" tanya Jasmine.
"Kata warga sini sih, mereka di culik Wewe gombel."
"Tina, kamu mah ada-ada saja. Mana ada Wewe gombel siang hari," omel Nenek Sari.
Tina meringis dan meminta maaf, lalu menuju rumah pak Rt. Untuk meminta warga mencari keberadaan cucu nenek Sari, semua warga pun berkumpul di halaman rumah nenek Sari. Dan akan mulai pencarian.
"Kamu tunggu di sini, aku akan mencari Alvaro dan Indi."
"Tapi mas, aku ikut yah! Aku khawatir sama mereka," kata Jasmine.
"Jangan Jasmine, kamu di sini saja." Tegas Bagas tak ada penolakan.
"Baiklah," pasrah Jasmine.
Jasmine pun menatap kepergian sang suami, dan para warga yang mulai masuk ke dalam hutan. Selama pencarian mereka terus memanggil nama Alvaro dan Indi.
Tepat pukul empat sore, pencarian di hentikan. Karena berbahaya terlalu masuk ke dalam hutan.
"Pak Bagas, sebaiknya pencarian di lanjutkan esok hari saja. Ini sudah mulai gelap, dan pamali masih berada di luar pada saat akan magrib." Papar Pak Rt.
"Kalian masih percaya dengan hal seperti itu?" tanya Bagas tak percaya.
"Tapi Bagaimana dengan keadaan anak saya? Dia juga di hutan, jika malam tiba. Bagaimana kalau ada hewan melata atau hewan yang ganas?" cetus Bagas.
"Maaf Pak Bagas, jika tidak percaya pun tidak apa. Jika anda ingin mencari sendiri silahkan," ujar Pak Rt, di jawab anggukan oleh warga yang lain.
"Sudahlah pak, lebih baik besok lagi saja." Bujuk yang lain.
Bagas pun menghembuskan napasnya dengan kasar, dengan pasrah dia mengikuti langkah para bapak-bapak yang ada di depan. Sekilas dia mendengar bisik-bisik, anak muda di depannya.
"Gue rasa ini perbuatan Dewa cs, si gila *** itu." Bisik pemuda yang bernama Nurdin.
"Bisa jadi, Ani pun belum ketemu sampai sekarang. Padahal terakhir dia bilang sama emak, abahnya mau cari kayu bakar." Balas teman Nurdin.
Bagas pun mendengar itu semua, dan ada rasa khawatir mengenai obrolan kedua pemuda tersebut.
***
Keesokan harinya, Alvaro tersadar dan merasakan nyeri di sekujur tubuhnya. Dia bangun dan menatap sekeliling mendapati Indi di sisinya, membuatnya lega. Dia takut Indi kenapa-napa.
Dan mata Alvaro terfokus pada wanita cantik, yang sudah kumal yang meringkuk di pojokan.
"Dia masih hidup apa sudah mati?" gumamnya.
"Aku harus kabur dari sini, tapi itu ku sakit." Keluh Alvaro, dia menatap Indi dan jalan satu-satunya adalah Indi yang harus pergi dan meminta bantuan.
Dia menatap tangan dan kaki, Indi yang penuh dengan luka memar. Terlebih pergelangan tangannya.
"Indi? Indi?" panggil Alvaro dengan berbisik.
"Al?" lirih Indi.
Dia pun bangun dan memeluk Alvaro, sambil menangis. Dia sungguh takut, dengan apa yang terjadi siang tadi dan malam hari.
"Aku takut, Alvaro. Ayok kita pergi," pinta Indi.
"Kamu yang harus pergi Indi, aku gak bisa. Badan ku sakit, bagi tahu ayah dan Bunda dan tolong aku." Kata Alvaro.
"Tapi aku takut," rengek Indi.
"Jangan takut Indi, aku sayang kamu." Alvaro membalas pelukan Indi.
"Oke, sekarang cepat pergi. Mumpung mereka sedang tidur, dan kasih tahu tentang wanita itu." Tunjuk Alvaro pada wanita yang meringkuk, di pojokan Indi pun mengangguk.
Walau tertatih, dia berjalan mengendap keluar dengan pelan. Setelah berhasil, dia pun berjalan dengan cepat. Menembus gelapnya malam, entah pukul berapa sekarang.
tbc...
Semoga suka, beberapa part akan flashback nya Alvaro dan Indi dulu yah
Dev melecehkan istri orang segitu aja hukumannya
alvaro juga menyerah istri orang untuk dilecehkan dan percobaan pembunuhan malah tidak dapat hukuman sama sekali
dan ene eng saat wanita lain yang melakukan kesalahan
keyra melakukan kesalahan pada beliau langsung diberi hukuman disekap dan dibuat menderita dan taura baru dibebaskan
aku setuju semua tokoh jahat mendapatkan kesempatan berubah tapi yang jadi masalah kenapa hanya wanita jahat yang dapat hukuman yang kejam sedangkan pria2 jahat bebas begitu saja, bahkan setelah melecehkan istri orang
ini lah sifat wanita, mereka akan kejam pada wanita lain yang jahat padanya tapi akan lembut dan tidak tega pada pria lain yang jahat padanya