Mencintai adalah hal yang harus dilakukan oleh semua insan di muka bumi ini. Namun tak semua orang boleh dicintai, tapi boleh disayangi. Salah satu contoh kisah seorang pemuda dan pemudi yang dipisahkan jauh oleh takdir karena sebuah kecelakaan yang tidak diinginkan. Namun ketika mereka sudah dewasa, takdir mempertemukan mereka kembali. Pertemuan ini adalah pertemuan yang tidak diinginkan oleh orang mana pun. Namun bukan Aqila namanya jika ia tidak hidup bersama kakaknya yang sudah ia rindu selama hidupnya. Ia pun memilih untuk menyusul sang kakak demi kebahagiaan hidupnya yang sudah pudar.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Annisa Nurhalizah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Thirtyoneth
Sudah satu minggu berlalu tapi Vaisal tak kunjung sadar.
Teman-temannya masih menaruh 'positiv thingking' karena dokter bilang 99% Vaisal akan sembuh.
Hari ini Aqila menunggu Vaisal, sebenarnya sudah dari 5 hari yang lalu mereka pindah ke Bandung karena keluarganya Vaisal yang tak bisa melihat kondisinya jika berada di Bali.
Aqila juga menghilang dari Dimas karena takut akan di 'apa-apa kan' melihat sang ibu sudah tak ada, jadi dia juga bukan siapa siapa dari Dimas.
Aqila tinggal bersama Zahra di rumah Zahra. Sebenarnya Aqila juga sempat di tawari untuk tinggal di apartemen Alfid yang sebelumnya dia juga pernah tempati itu. Namun karena alasan 'takut' sendirian, jadi dia memilih untuk tinggal bersama Zahra di rumah Zahra.
Aqila masih menatap Vaisal yang tak kunjung membuka matanya. Sebenarnya selalu ada se lintas rasa bersalah Aqila kepada Vaisal ini. Aqila selalu meminta maaf kepada keluarga nya yang sangat di sambut hangat karena keluarga Vaisal juga baik.
"Ah dari pada diam gue cerita aja deh," ucap Aqila.
"Gue enggak tahu kenapa punya perasaan gitu Sal sama seseorang. Lo mau tau siapa orang nya?" tanya Aqila.
Hening.
"Enak aja lo mau tau! Gue bilang ini rahasia! Gue suka gitu sama seseorang yang secara diam-diam ngambil first kiss gue,"
Senyuman malu Aqila pun mengembang.
"Dia, ah kan gue jadi malu haha."
"Dia tuh orang nya bener-bener muach banget deh."
"Baik, humoris, lucu, walau kadang aneh dan perilakunya tuh aneh-aneh,"
"Lo tau waktu itu dia lagi di rumah sakit, dia juga kek ngungkapin sesuatu gitu ah jadi baper."
"Hahaha, gue kadang ngakak sendiri liat diri gue ngomong sendiri gini," ucap Aqila.
"Ya, semoga aja lo juga bisa ngedenger gue kek waktu gue--"
Tiba-tiba tangan Vaisal bergerak membuat Aqila terdiam membeku.
Perlahan Vaisal membuka matanya dan berusaha meminimalisir cahaya yang masuk.
Menatap pelan kesekeliling ruangan dan tatapannya terhenti saat melihat Aqila.
Mulut nya mulai mengangkat mencoba untuk berkata.
"Sal? Lo udah ba--"
Aqila bergegas memanggil dokter namun ditahan oleh Vaisal.
Tangannya mengepal tangan Aqila membuat Aqila terdiam sendiri.
"Gue--"
"Jangan paksa ngomong dulu Sal kalo belum bisa," ucap Aqila duduk kembali di sebelah Vaisal.
"Gu--e," seperti berat rasanya Vaisal memyebut kata 'gue'.
"Ah Sal jangan buat gue penasaran gitu dong!" ucap Aqila greget.
"Gue--denger tadi." ucap Vaisal lambat. Seperti bisikan namun terdengar jelas di telinga Aqila.
Aqila tak bisa membayangkan kalau ternyata curhatannya tadi di dengar oleh Vaisal.
"Gue denger--apa yang--lo--omongin barusan,"
Aqila terdiam.
"Maaf--kalo gue lan--tang."
"Gue--udah lantang sama lo,"
Aqila menyimpulkan senyum.
"Gue udah--" Vaisal menarik nafas perlahan.
"Ambil first kiss lo."
Aqila menahan senyum, Vaisal yang melihatnya juga ikut tersenyum.
"Gue--jug--a--sayang sama--lo."
"Udah elah lo udah bengek masih maksain ngomong," ucap Aqila membawa air putih untuk Vaisal minum.
Vaisal tersenyum lalu meminum air putihnya di bantu oleh Aqila dengan perlahan.
Vaisal mengatur nafasnya yang agak berat dan berusaha mengumpulkan segala keberanian untuk mengungkapkan semua yang telah ia pendam dari harinya.
Merasa belum bisa bicara lancar, Vaisal mengatur kembali nafas nya dengan lebih tenang.
"Sal lo kenapa? Sesek?" Aqila mulai panik.
Vaisal menggeleng.
"Maafin gue, pas--lo di rumah sakit kemarin gue cium lo. Gue--enggak bermaksud apa-apa. Gu--gue--gue cinta sama lo," pernyataan Vaisal membuat Aqila tersipu malu.
"Gue juga minta maaf Sal karena udah ngerepotin lo sampai lo bisa kayak gini," sambung Aqila.
Vaisal tersenyum.
"Gue sempet berfikir pas mamah gue meninggal, gue enggak tau harus gimana lagi, dan gue langsung teringat sama lo," jelas Aqila.
Vaisal terdiam.
"Mamah meninggal?" tanya Vaisal.
Aqila mengangguk.
"Mamah gue meninggal pas lo gue donorin darah," jelas Aqila.
Vaisal makin mengeratkan pegangan tangannya dengan Aqila.
"Gue sayang lo!" sedikit teriak Vaisal.
"Gue juga," jawab Aqila tersenyum.
Seperti menahan beban Vaisal makin menggenggam kuat tangan Aqila.
"Kenapa sih malu banget nembak," ucap Aqila sedikit menggoda.
Vaisal menatap wajah cantik Aqila yang sedang tersenyum manis ke arah nya.
Vaisal merasakan ketenangan lebih tenang dari pada sebelumnya.
Dia mengangkat tubuhnya perlahan untuk lebih dekat lagi dengan Aqila.
Lebih dekat lagi dan cup! Vaisal menecup kening Aqila.
Aqila tak bergeming.
"Salah satu alasan kenapa gue enggak bisa mencintai dan memiliki lo, karena gue adalah kakak kandung lo."
Tiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiii.
btw mampir yuk ke novelku yang berjudul Athariz, kalau suka vote ya, btuh kritik dan saran juga,makasih hehe:)