Keling, begitulah orang menyebut Lastri. Bukan hanya itu, kata hinaan kerap terlontar untuk Lastri rasa sakit, kecewa, serta merasa tidak berguna.
Hal itu membuatnya menerima ajakan Nilam untuk memasang susuk serta ritual agar ia bisa menjadi cantik.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Meylani Putri Putti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Terungkapnya Kebenaran
Malam ini mereka bakalan ketemu. Kita harus ikut ke sana,” ucap Emir.
“Tapi mereka pasti mengenali kita,” sahut Lastri.
“Kita menyamar saja,” usul Azlan.
“Nah. Bener pintar juga ternyata kamu Azlan.” Emir menepuk bahu Azlan.
Azlan melotot menatap Emir dengan tatapan membunuhnya. Sedangkan Emir tertawa sambil terus menepuk bahu Azlan.
“Tapi bukannya itu restoran mahal, sebaiknya kalian aja yang pergi.” Lastri menunduk.
“Kenapa? Kamu malu? Untuk apa malu?” ucap Azlan.
“Aku tajut bakalan mempermalukan kalian dengan tampilanku yang seperti ini.”
“Masalah itu gampang. Bisa di atur,” sahut Emir menyeringai sambil mengangkat kedua alisnya.
Azlan dan Emir mengajak Lastri ke sebuah pusat perbelanjaan. Mereka membawa Lastri ke sebuah toko brand ternama dengan manekin berjejer rapi mengenakan gaun-gaun cantik karya designer terkenal.
“Kita ke sini? Kenapa nggak yang di bawah aja lebih murah,” ucap Lastri.
“Udah. Anggap aja kami lagi neraktir kamu shoping Lastri.” Azlan mendorong Lastri masuk.
Pramuniaga yang bertugas langsung menyambut mereka bertiga.
“Tolong pilihkan beberapa gaun untuknya,” ucap Azlan.
“Baik. Mari ikut saya.”
Pramuniaga itu mengaja Lastri ikut dengannya lalu menyuruhnya duduk di sofa sambil menunggu para pramuniaga mencari gaun yang pas untuk Lastri. Usai memilihkan beberapa gaun, Lastri pun mencobanya satu persatu. Hingga Lastri menemukan gaun yang pas untuknya yaitu long dress berwarna navy dengan lengan out shouders Azlan dan Emir tertegun melihat tampilan Lastri yang berbeda hingga mereka tidak berhenti menatap Lastri.
‘Kenapa mereka? Apa aku aneh?’ pikir Lastri.
“Bagus. Ini cocok.” Azlan memecah lamunan Emir.
“Y-ya ini bagus. Bungkus!” sambung Emir.
“Tapi apa ini nggak terlalu terbuka?” Lastri sedikit malu.
Emir spontan menjawab. “Nggak apa-apa. Sedikit ke buka lagi lebih bagus.”
Lastri menutup bahunya dengan kedua tangannya.
“Kamu jangan mesum!” ucap Lastri.
Azlan hanya tertawa melihat reaksi Lastri.
“Ya sudah. Setelah ini kita ke salon. Saat di salon kamu kami tiggal dulu ya.”
Mereka bertiga berjalan menuju salon untuk membuat penampilan Lastri semakin menawan, sedangkan Azlan dan Emir pergi ke sebuah toko untuk membeli setelan jas.
Hingga beberapa jam kemudian mereka bertiga telah siap untuk pergi ke restoran tersebut. Azlan memilih mengubah gaya rambutnya serta memakai kaca mata sedangkan Emir mengenakan setelan jas berwarna terang dan mencolok serta mengenakan flat cap dengan warna senada sebagai penutup kepalanya.
“Kita merubah penampilan agar tidak mencolok. Tapi kenapa kamu malah berpakaian mencolok kata gini?” ucap Azlan.
“Udah lah. Orang-orang nggak akan mengira jika aku Emir.”
“Terserah kamu lah.” Azlan pergi meninggalkan Emir.
Mereka bertiga berangkat menuju restoran tersebut, sebelumnya Emir sudah melakukan reservasi di restoran tersebut. Mereka sengaja untuk datang lebih awal agar tidak ketahuan.
Sesampainya di restoran itu mereka turun dari mobil, semua mata pramusaji serta beberapa pengunjung tertuju pada mereka bertiga terlebih kepada Lastri.
“Mereka siapa?” bisik seorang pelanggan.
“Enggak tahu. Mungkin artis atau pembisnis, atau mungkin mereka pengawal cewek itu,” sahut yang lain.
Mereka bertiga duduk di meja yang sudah di reservasi sebelumnya, sambil menunggu Gunawan dan Nilam datang.
Pramusaji menghampiri mereka dan memberikan buku menu.
“Silahkan.” Ucap pramusaji tersebut.
Lastri membuka buku menu dan bingung karena jenis makanan yang tertulis di buku menu semuanya menggunakan bahasa asing.
‘Ini makanan apa? Duh aku nggak ngerti,’ gumam Lastri.
“Untuk appetizer saya pesan mixed salad, terus main corse chicken farci, buat dessertnya pumkin cream caramel,” ucap Azlan.
“Alfredo pasta sama orange juice aja,” ucap Emir.
“Lastri kamu pesan apa?” tanya Azlan.
“Emmm ... samaiin Emir aja deh.”
Usai memesan makanan mereka duduk santai sembari berbincang, tidak lama mereka mendengar seorang penjaga pintu restoran menyapa Gunawan.
“Selamat malam Pak Gunawan, mari saya antar ke meja,” ucapnya.
Mata Emir dan Azlan melirik ke arah Gunawan yang tengah menggandeng mesra Nilam. Nilan terlihat begitu cantik dengan gaun yang memperlihatkan sedikit gunungnya itu.
“Pantas saja papa tergila-gila. Aku nggak nyangka gunungnya seperti itu,” ucap Emir.
“Gunung? Maksudnya?” tanya Lastri.
“Iya gunung. Kamu kan juga pu-” mulut Emir di tutup oleh Azlan.
“Apaan sih.”
“Kamu kalau mau mesum jangan di sini!” ucap Azlan.
‘Enggak salah memang, buah jatuh tidak jauh dari pohonnya,’ gumam Azlan dalam hati.
Gunawan dan Nilam duduk di belakang Lastri, Emir sengaja memilih meja yang dekat dengan Gunawan agar bisa menguping pembicaraan mereka.
Azlan dan Emir terus memperhatikan gerak gerik mereka, sedangkan Lastri masih sibuk memperhatikan makanan yang di sajikan oleh pramusaji sebelumnya.
‘Apa ini enak? Aku belum pernah makan ini sebelumnya, tapi kenapa warnanya putih apa memang seperti ini?’ pikir Lastri sambil mengambil pasta itu dengan table spoon (sendok) yang ada di atas meja.
“Lastri pakai ini,” Azlan mengambil table fork (garpu) yang ada di mejanya dan memberikannya kepada Lastri.
“Nggak apa-apa. Biasanya kalau makan mie juga pakai sendok.”
Azlan tersenyum mendengar ucapan Lastri dan menaruhnya kembali.
Saat Lastri tengah asyik mencicipi makanannya, Lasti tersentak kaget mendengar percakapan Nilam dan Gunawan.
“Kamu tidak perlu takut. Polisi sudah menyatakan dia bunuh diri,” ucap Gunawan.
“Jangan keras-keras. Nanti kalau ada yang degar gimana?” bisik Nilam.
“Semua rekaman sudah hilang jadi kamu tenang saja,” bisik Gunawan sambil mengelus rambut Nilam.
“Aku ingin memintamu untuk mencari satu orang lagi untuk menemaniku,” ucap Gunawan.
“Bagaimana jika saya rekomendasikan Lastri, dia cantik dan sepertinya sesuai kriteria Bapak.”
Mendengar hal itu Azlan dan Emir saling menatap, wajah Lastri yang semula ceria kini berubah menjadi sendu, ia tidak menyangka jika Nilam yang ia kenal baik ternyata berhati busuk dan yang lebih mengejutkan lagi Nilan ingin menjualnya kepada Gunawan.
Raut Emir mulai berubah, wajahnya memerah karena menahan amarah ia mengepalkan tangannya dengan kuat ia berdiri dan berniat menghampiri Gunawan, namun ditahan oleh Azlan.
“Sabar jangan gegabah! Aku sudah merekam pembicaraan mereka.”
Emir pun kembali ke tempat duduknya, untungnya Gunawan tidak mencurigainya.
“Emir kamu bawa Lastri keluar lebih dulu.”
“Ayo Lastri kita keluar,” ajak Emir.
Dengan mata yang menggenang Lastri berdiri sambil berpegangan dengan Emir. Saat di dalam mobil Lastri mulai menangis tersedu.
“Aku nggak menyangka jika Nilam seperti itu,” ucap Lastri.
“Kami gak akan membiarkan hal itu terjadi Lastri,” sahut Emir.
“Kenapa mereka seperti ini, apa salahku sampai mereka begitu membenciku bahkan ingin mencelakaiku.”
Tidak lama Azlan masuk ke dalam mobil dan memberi tahu Emir jika Nilam itu adalah suruhan dari Gustaf.
“Aku sudah tahu sejak awal Azlan. Sekarang aku sudah tidak peduli kalau pun dia bangkrut mungkin itu lebih baik,” tutur Emir.
“Lalu gimana sama rekaman yang kita dapat?” tanya Azlan.
Emir menghela nafas panjang dan membuat keputusan. “Kita serahkan ini ke polisi.”
“Apa kamu yakin?”
“Ya. Kalau kita nggak mengakhirinya pasti bakalan ada korban baru.”
“Oke. Sekarang kita semua pulang ke rumahku dulu. Besok kita bertiga serahkan rekaman ini ke polisi,” ucap Azlan.
Azlan menjalankan mobilnya melaju menuju rumah mewahnya, sepanjang jalan Lastri hanya melamun dan terdiam. Azlan dan Emir berusaha menghibur Lastri namun hal itu rupanya sia-sia.
“Oh iya. Rekaman yang ada di ruangan Nilam belum kita buka,” ucap Emir.
“Nanti saja kalau kita sudah sampai.”
Mobil terus melaju hingga mereka sampai, Azlan menyuruh Lastri untuk beristirahat di kamar sedangkan Emir memilih untuk duduk di sofa. Azlan menghampiri Emir yang tengah membuka file dari alat penyadap yang mereka pasang di ruangan Nilam, mereka menggunakan earphone untuk mendengarkan rekaman tersebut.
Di menit pertama tidak ada hal aneh yang mereka dengar hingga Nilam menerima telepon dari seseorang.
“Aku sudah membawa si Lastri ke dukun itu sesuai perintahmu lalu apa lagi? Bahkan ibunya yang tua bangka itu sudah aku bereskan!” ucap Nilam dalam rekaman itu.
“Kamu gila! Apa sebenarnya yang membuatmu begitu dendam dengan Lastri?”
“Aku tidak begitu mengerti dengan masalah kalian. Aku hanya minta berhenti menyuruhku berbuat hal yang lebih gila lagi!” bentak Nilam.
Mata Emir dan Azlan seketika melebar mendengar rekaman itu, mereka penasaran dengan siapa Nilam bicara karena saat mengangkat telepon Nilam bahkan tidak menyebutkan nama siapa pun selain Lastri.
Azlan melepas earphone dan duduk bersandar di sofa. Ia tidak menyangka jika harus berurusan dengan makhluk gaib lagi.
‘Apakah sosok yang ada di rumah Lastri itu kiriman dari Nilam?’ pikir Azlan.
“Dukun? Gila! Ini benar-benar gila. Bahkan yang membuat ibu Lastri meninggal itu dia!” Emir marah besar.
“Stttttt! Jangan keras-keras nanti Lastri dengar. Aku tidak mau dia lebih sedih lagi,” ucap Emir.
“Aku sebenarnya sudah mengira dari awal aku bertemu dengan Lastri. Karena dia dulu tidak seperti itu.”
“Apa maksudmu Azlan?”
“Bagaimana bisa wanita dengan tanda lahir di wajahnya bisa berubah menjadi sangat cantik dalam waktu singkat,’ pungkas Azlan.
Emir mengerutkan dahinya, ia mencoba mengingat sesuatu. Saat pertama kali datang ke kantor Gunawan Emir memang pernah melihat seorang wanita yang tengah di olok-olok oleh karyawan lain karena kulitnya yang gelap serta tanda yang ada di wajahnya. Namun saat itu Emir tidak memedulikannya dan lebih memilih pergi.
‘Jadi Lastri adalah OB yang saat itu aku lihat?’ pikir Emir.
“Kita harus merahasiakan ini,” ucap Azlan.
“Ya tentu saja. Aku tidak ingin dia lebih sedih lagi,” sahut Emir.
‘Pantas saja aku melihat sosok itu terus mengikuti Lastri,’ gumam Azlan dalam hati.
“Aku harus terus melindungi Lastri. Karena saat ini dia dalam bahaya,” ucap Azlan.
“Kita pasang saja aplikasi di HP-nya agar kita bisa terus melacak keberadaannya,” usul Emir.
“Aku memang tidak salah meminta bantuanmu,” Azlan menepuk pundak Emir.
“Ini juga sebagai penebus rasa bersalahku terhadap Lastri. Karena dulu aku sempat menghiraukan dia saat di buli.”
Bukannya merasa jijik dengan Lastri, Azlan dan Emir justru semakin bertekat untuk memiliki Lastri karena sikap Lastri yang polos serta tidak seperti kebanyakan wanita yang mereka temui yang hanya menginginkan harta mereka.