Widhi Maharani menikahi Agung Haryanto, duda beranak dua. Berbagai masalah mulai muncul di awal pernikahan. Mulai masalah ekonomi, masalah orang ketiga sampai dituduh sebagai PELAKOR.
Ternyata mereka tak bisa mempertahankan pernikahan, karena Agung lebih memilih kebahagiaan anak-anaknya dan kembali pada mantan istrinya.
Widhi bertemu lagi dengan mantan pacar pertamanya, tapi percintaan mereka pun terhalang lagi oleh istri mantan pacarnya. Dan Widhi dicap lagi sebagai pelakor.
Akhirnya Widhi menemukan cinta sejatinya dengan seorang teman lamanya. Dan mereka memutuskan menikah hingga memiliki anak dan hidup bahagia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rina Rient, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 31 PULANG KE RUMAH
Setelah melewati serangkaian pengobatan, akhirnya Rega di perbolehkan pulang. Untuk selanjutnya bisa dilakukan dengan berobat jalan.
Alhamdulillah, semua berjalan dengan baik. Tanpa drama, tanpa kendala. Dan semoga Rega bisa segera pulih kembali.
Kami di jemput mobil oleh bapak mertuaku. Ibu mertuaku dan Risa ikut juga menjemput. Aura bahagia terpancar dari wajah kami.
Mas Agung dengan bapaknya duduk di depan. Mas Agung yang menyetir. Aku dan ibu mertuaku duduk di jok paling belakang, sementara anak-anak di jok tengah.
Aku perhatikan Risa sumringah, bisa ketemu lagi dengan adiknya. Sejak pengobatan Rega di pindah, mereka memang tidak pernah ketemu.
Mereka bercanda terus selama perjalanan. Risa yang biasanya pendiam, jadi banyak bicara pada adiknya.
Aku sangat bahagia melihat interaksi kakak dan adik itu.
Aku memilih tidur. Rasanya capek banget. Apalagi perjalanan ini juga akan memakan waktu lumayan lama.
Ibu mertuaku juga sepertinya ikut tidur. Mungkin dia capek juga, karena tak lama setelah sampai di rumah sakit, kami langsung pulang.
Di tengah perjalanan, kami memutuskan untuk singgah sebentar di sebuah rumah makan. Selain mas Agung yang capek karena harus menyetir, kami juga lapar.
Kami memilih meja yang paling besar, biar kami bisa makan satu meja. Beberapa menu pun kami pesan. Anak-anak tidak banyak permintaan. Karena memang mas Agung sejak dulu selalu mengajarkan kepada anak-anak, untuk tidak rewel memilih makanan.
Selesai makan, aku minta ijin ke toilet sebentar. Tadinya mas Agung mau mengantar, tapi aku menolak. Karena aku pikir, letak toilet gak jauh.
Setelah aku tanya pada seorang pelayan yang kebetulan melintas, ternyata letak toilet untuk pelanggan agak jauh, di bagian belakang rumah makan.
Pelayan itu menawarkan diri untuk mengantarku. Aku pun tak menolaknya. Daripada nanti kebingungan.
"Makasih mba. Gak usah di tunggu, nanti saya bisa balik sendiri" ucapku pada pelayan perempuan yang mengantarku. Dia mengangguk dan berlalu.
Selesai dengan hajatku di toilet, aku pun segera keluar. Ceklek...aku buka pintu toilet. Aku hendak melangkah menuju ke ruang makan yang tadi, lagi-lagi dari jarak yang tidak terlalu jauh, aku melihat sosok mas Angga, sedang berdiri menatapku.
Aku heran, kenapa dia sering muncul. Apa dia selalu mengikutiku? Batinku. Karena untuk menanyakan juga rasanya enggan. Dan malu juga. Entar dikiranya aku kegeeran.
Aku cuek aja melangkah. Sampai tiba-tiba dia memanggilku pelan. Aku menghentikan langkahku. Tak menjawab panggilannya, hanya menatapnya penuh tanya. Aku masih berdiri di tempatku.
Dia berjalan hendak mendekatiku. Jantungku langsung berdetak cepat. Aku menelan ludahku. Mau apa dia?
"Sayang, kok lama banget di toiletnya?" tiba-tiba suara mas Agung terdengar. Mas Agung berjalan mendekatiku.
"Iya mas, maaf. Perutku tadi sakit. Jadi agak lama" jawabku. Dan mas Agung segera menggandengku untuk balik lagi ke ruang makan.
Alhamdulillah. Kamu datang di saat yang tepat mas, batinku bersorak. Dan semoga aja, mas Agung tak tau soal mas Angga yang ada disana.
Sesampainya aku dan mas Agung, kami pun bersiap untuk melanjutkan perjalanan pulang. Kami masuk ke mobil sesuai pisisi kami tadi.
Di perjalanan, aku masih memikirkan tentang manusia satu itu. Yang bernama Angga Dewanto. Kenapa aku jadi sering ketemu dia. Apa yang dilakukannya?
Sepertinya gak mungkin kalau itu hanya sebuah kebetulan aja. Tapi kalau dia sengaja mengikutiku, untuk apa? Kenapa?
Sedangkan dia tahu, aku sudah berkeluarga. Dan aku selalu pergi kemana-mana dengan suamiku. Apalagi sejak peristiwa orang yang mencelakaiku, hingga aku terperosok ke sawah, aku tak pernah lagi pergi sendiri. Sekalipun untuk mengantar dan menjemput anak-anak sekolah.
Dia juga sudah duluan berkeluarga. Rasanya gak ada alasan buat dia mengikuti aku.
Sebegitu berharganyakah aku, kalau dia sengaja mengikutiku. Sedang dulu dia dengan tega meninggalkan aku. Dan lebih memilih menikahi janda kaya.
Ah tidak. Aku tidak boleh memikirkan dia lagi. Dia tak pantas untuk aku pikirkan. Anggap saja angin lalu, dan sebuah ketidaksengajaan, pertemuan-pertemuan itu.
Aku gak mau lagi mengingat dia. Anggap saja dia sudah lama mati. Terus kalau aku menganggapnya mati, berarti yang berkali-kali ketemu denganku, hantunya dong? Aku tersenyum sendiri.
Lalu aku memilih ngobrol dengan ibu mertuaku. Untuk mengalihkan pikiranku dari laki-laki kurang kerjaan itu.
Hingga sampailah kami di rumah. Rega langsung keluar dari mobil, dan berlari-lari masuk ke dalam rumah.
Mas Agung langsung mengejarnya. Kami semua juga khawatir. Tapi ya mungkin itu bentuk ungkapan kebahagiaannya, setelah cukup lama meninggalkan rumah.
Bi Siti dan bi Wati menyambut kedatangan kami, dengan berderai air mata. Mereka memang ART yang selalu setia pada kami. Kami pun menganggapnya sudah seperti keluarga sendiri.
Kami berkumpul di ruang tamu. Melepaskan kelelahan karena perjalanan yang lumayan jauh.
Bi Siti dan bi Wati yang selalu sigap, segera berlalu ke dapur. Tak lama mereka membawakan minuman dan makanan kecil untuk kami.
Aku memberitahukan pada mereka, makanan apa saja yang belum boleh di makan oleh Rega. Aku sengaja memberitahukannya sekarang, agar yang lain juga mendengar. Jadi gak salah saat memberi Rega makanan.
Kasihan sih sebenarnya, anak sekecil itu di batasi makanannya. Gak boleh junk food, makanan-makanan instan juga gak boleh. Pokoknya banyak lah larangannya.
Padahal namanya anak-anak paling suka makan makanan yang instan. Generasi micin kata orang-orang.
Tapi demi kesehatan Rega, kami pun akan ikut berpartisipasi, tidak makan makanan seperti itu. Biar Rega gak merasa sendiri. Masa iya, kita makan seenaknya, sementara dia di larang. Yang ada dia malah jadi sedih, maklum masih anak-anak.
Aku meminta bi Siti untuk membuatkan jus buah buat Rega. Biar sementara yang lain minum es sirop, karena sudah terlanjur di buatkan.
Risa malah jadi memperhatikanku. Sepertinya dia juga menginginkan jus, tapi malu untuk minta.
"Risa mau jus juga?" tanyaku. Risa mengangguk sambil tersenyum.
"Risa, kalau mau sesuatu bilang aja ke ibu ya? Jangan diam aja kayak gitu. Iya kalau ibu tau apa maunya Risa. Kalau enggak? Jangan malu-malu sama ibu ya sayang" ucapku panjang lebar kepada Risa, yang duduk tak jauh dariku.
"Risa, ibu Widhi juga ibu kamu. Jangan malu-malu kalau Risa atau Rega pingin sesuatu. Bilang aja ya? Gak usah nunggu ayah. Ayah kan gak selalu ada dirumah" ucap mas Agung menambahi.
"Iya yah" jawab mereka bersamaan sambil mengangguk.
Ya semoga anak-anak sambungku benar-benar bisa menerima aku, seperti ibu kandung mereka sendiri. Karena aku pun menerima mereka seperti anak-anakku sendiri.