NovelToon NovelToon
Aku Terpaksa Kayak Gini Karena Hutang!

Aku Terpaksa Kayak Gini Karena Hutang!

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen / Komedi / Menyembunyikan Identitas
Popularitas:270
Nilai: 5
Nama Author: Mujahid Al Fattih

Moiro Asahi, seorang anak laki-laki yang tiba-tiba berubah menjadi dingin di sekolah setelah kehilangan kedua orang tuanya dalam kecelakaan.
Ditambah lagi, orang tuanya meninggalkan utang yang amat besar pada dirinya.

Dengan utang besar itu, ia tak punya pilihan lain selain bekerja sepulang sekolah. Sayangnya, setiap lamaran selalu ditolak karena satu alasan: ia masih pelajar.

Hingga suatu hari, ia memutuskan untuk hanya bekerja part-time, dan akhirnya sebuah kafe mewah menerimanya sebagai seorang maid.
Tunggu... Maid?! APA APAAN INI?!

Seberapa lama Moiro harus menjalani hidup absurd itu demi melunasi hutangnya? Apakah ia harus terus mengenakan seragam imut untuk bertahan hidup? Dan yang paling menakutkan... Apakah ia akan kehilangan jati dirinya di tengah semuanya?!

Penasaran sama ceritanya? Ikuti terus kisah absurd hasil gabut ini dan silakan nikmati alur kocaknya!

Novelnya ada beberapa kejadian gak logis, jadi maklumi aja, hehe.
(ada beberapa gambar bikinan AI, bukan ceritanya)

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mujahid Al Fattih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 2 Belum Mulai Kerja, Udah Gini Aja

Moiro tertangkap, dan sekarang...

Ia telah didandani dan malah jadi semakin imut.

Moiro duduk diam di depan meja rias, menatap cermin yang ada di hadapannya.

Ia menatap datar ke cermin, melihat dirinya yang kini benar-benar terlihat seperti seorang perempuan.

Wih, jadi pengen liat.

Moiro menggerutu, mengutuk dirinya sendiri yang bisa-bisanya malah jadi imut setelah didandani—padahal ia adalah seorang laki-laki!

"Kenapa...? Bisa-bisanya jadi kayak gini..." suaranya bergetar.

"Aaarghh! Kok aku jadi imut gini sih?! Mana keliatan cocok pula!" serunya sambil mendongak. Tangannya mengacak-acak rambut.

Moiro terdiam. Ia membatu setelah mengacak rambut yang sudah dengan susah payah dirapikan oleh salah seorang maid.

Tubuhnya bergetar. Ia menurunkan tangannya perlahan, lalu memalingkan wajahnya menatap ke arah para maid dengan kaku. Pupilnya mengecil, merasa takut jika ia akan dimarahi oleh mereka.

Hayolo.

Begitu matanya menatap para maid, entah kenapa ia merasa kecewa. Tatapannya kembali datar.

Ia melihat para maid sudah terbujur kaku, darah mimisan masih mengucur dari hidung mereka. Anehnya, wajah mereka justru terlihat bahagia dengan senyuman khas yang terpampang jelas di bibir mereka.

Moiro tersentak sadar. Dengan cepat, ia memalingkan wajahnya ke cermin dan segera mencari sisir untuk kembali merapikan rambutnya.

Setelah disisir, ia merasa lebih lega.

Ia kembali menatap para maid yang masih tergeletak, lalu menghela napas panjang, "Kayaknya bakal susah kalo kerja bareng para senior..."

...***...

Moiro kini kembali berada di ruangan bos.

"Saya... sudah pakai seragamnya," ucap Moiro yang sedikit menunduk di depan pemilik kafe.

Pria itu menyilangkan jari-jarinya, menutup mata, lalu tersenyum miring, "Sudah kuduga..."

Matanya terbuka cepat, menatap lurus pada Moiro, "Kamu cocok kalau jadi maid."

Beh, emang cocok sih.

Moiro mulai membungkukkan badannya rendah. Tubuhnya sedikit gemetar.

Pria itu bingung, lalu bertanya kepada Moiro, "Kenapa kamu membungkuk begitu?"

Moiro menjawab, suaranya sedikit kaku, "Se-sebelumnya... saya.. mau minta maaf."

Pria itu bingung mengapa Moiro meminta maaf. Ia menunggu jawaban darinya.

Moiro mengangkat badannya, kepalanya masih sedikit menunduk, "S-saya... Saya merasa tidak nyaman kalau seperti ini."

Pria itu mengangkat alisnya, bingung, "Loh...? Kenapa begitu—"

Brak!

Pintu terbuka kencang.

Dari asal suara, terlihat seorang maid yang membungkuk dengan napas terengah.

Kepalanya diangkat, darah mimisan masih terlihat di bawah hidungnya. Ia menatap pada pemilik kafe itu sambil berseru, "Pak Bos... Anak baru itu hilang!"

Keheningan menggantung sejenak.

"Eh?" maid itu terdiam ketika melihat bosnya yang sedang bersama si Anak Baru.

"Tenang. Dia masih di sini," balas si Bos, terdengar santai.

Maid itu menatap Moiro.

Moiro membalasnya dengan senyuman canggung.

Maid itu tersenyum. Matanya menutup perlahan. Kedua tangannya saling menggenggam di depan dadanya, "Oalaah... Ternyata dia masih di sini toh? Haaa~"

Perlahan, ia terkulai di depan pintu. Tangannya masih saling menggenggam. Matanya tertutup. Wajahnya tersenyum penuh kebahagiaan, meski darah mimisan masih membekas.

Gak ngalangin pintu itu?

Moiro dan pria itu menatap heran.

Tak lama berselang, maid yang lain juga berdatangan.

"Ah?! Hikari! Kamu kenapa?!"

"D-dia kayaknya p-pingsan..."

"Kenapa bisa begini~?"

Para maid segera mencari alasan temannya pingsan di depan pintu.

Akhirnya, mereka menemukan jawabannya—Moiro.

Mereka menatapnya.

Moiro kembali membalas dengan senyuman canggung. Ia melambaikan tangannya pelan.

Alhasil, semua maid terbaring berjejer rapi dengan pose yang sama—tangan menggenggam di dada, tersenyum bahagia, dan bekas mimisan yang mengering di bawah hidung.

Moiro dan pria itu menatap mereka datar. Rasanya seperti melihat pemakaman masal korban perang yang mati bahagia. Sungguh kontras.

Moiro menghela napas, "Ini salah satu alasannya..."

Ia melirik bosnya, berharap dia memahami situasi saat ini.

Pria itu terlihat memegangi dagu. Tatapannya serius, "Begitu, ya...? Aku paham."

Moiro menjadi senang, dan berharap bosnya bisa memberikan jalan keluar, "Syukurlah. Semoga profesiku diganti jadi lebih baik!"

Pria itu menatap lurus ke arah Moiro. Jempol kanannya diacungkan padanya, "Kamu memang cocok menjadi maid!"

Moiro membatu. Hancur sudah harapannya untuk bebas dari profesi maid.

Kasian Moiro.

Moiro menunduk. Matanya tertutup perlahan, "Kayaknya dah gak ada harapan..."

"Baiklah, Pak bos... Saya akan—" Moiro membelalak begitu melihat bosnya mimisan di salah satu hidungnya, "AAA! BOS, HIDUNGMU!"

Pria itu heran. Dia pun mengambil cermin kecil.

Begitu melihat pantulannya, dengan tenang dia menyumbat hidungnya dengan tisu.

"Aduh, Bos. Kenapa bisa gitu...?" tanyanya dalam hati dengan ekspresi yang masih kaget. Tatapannya kosong. Rasanya, jiwanya baru saja keluar sebentar dari dalam tubuhnya.

Pria itu keheranan, kemudian menatap Moiro lalu dengan santai bertanya, "Hmm? Kok bisa gini ya? Kamu tau kenapa?"

Dia kembali menatap cermin.

"YA GAK TAU LAH!" jawab Moiro dalam hati.

Ia tersentak, lalu menggeleng pelan, "Eh?! Gak boleh gini sama bos walau cuma dalam hati. Maaf, Pak Bos..."

Parah kau ini.

Setelah beberapa saat menatap cermin, pria itu kemudian mengangkat bahunya, "Terserahlah."

Ia kembali menatap Moiro.

"By the way, mulai besok kamu udah bisa kerja," lanjutnya sambil kembali mengacungkan jempol.

Setetes darah kembali muncul dari lubang satunya.

"B-Bos, lubang satunya...!" seru Moiro panik.

Pria itu memeriksanya lagi, lalu menyumbatnya juga, "Eh. Maaf, maaf. Mungkin tekanan darahku lagi naik."

Mendengar itu darinya hanya membuat Moiro tersenyum tipis—senyum yang jelas dipaksakan.

Ia membungkuk sebentar lalu keluar ruangan, melewati para maid yang masih terbaring bahagia.

Begitu pintu di belakangnya ditutup, dahinya membiru dan berkeringat dingin, "Kok rada aneh, ya...? Jadi takut gini."

Satu tangannya memegang perut dan satunya menutup mulut, ekspresinya berubah mual, "Pengen muntah..."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!