NovelToon NovelToon
Transmigrasi Abbysca

Transmigrasi Abbysca

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Time Travel / Reinkarnasi / Crazy Rich/Konglomerat / Chicklit
Popularitas:211.7k
Nilai: 4.7
Nama Author: nasaldinarta

Abbysca Lionel adalah wanita bangsawan yang memilih menjadi seorang kesatria bagi keluarga kerajaan. Hidup di lingkungan yang penuh dengan kedisiplinan membuatnya tumbuh menjadi sosok wanita tangguh berpendirian kuat. Namun sayang, hidupnya harus berakhir di usia yang begitu muda hanya karena pengkhianatan orang yang dia anggap sebagai sahabatnya.

Abbysca pikir, dia akan langsung ke neraka karena mengingat dosanya yang begitu banyak, namun ternyata jiwanya malah berpindah pada tubuh seorang gadis lemah yang tidak memiliki otak. Dan sialnya, gadis itu memiliki nama yang sama dengannya. Abbysca. Abbysca Anggara.

Peringatan; Alur lambat

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nasaldinarta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Singa Betina Yang Bertemu Ular Betina

Abby berjalan beberapa langkah di belakang Gara saat lelaki itu mengajaknya berkeliling sesuai arahan Melly. Dan seperti yang sudah Abby tebak kalau yang dimaksud 'berkeliling' di sini adalah Gara yang akan membawa Abby bertemu dengan para tamu dari kalangan atas yang bermulut besar dan pandai bersilat lidah. Abby bahkan belum menyiapkan senjata, bagaimana jika ada betina yang mendekat dan langsung menyerangnya karena dia terus menempel pada Gara?

Perempuan itu berhenti kala langkah Gara berhenti, "kamu seperti anak ayam jika seperti itu. Tolong berjalan di sampingku!" pinta Gara dengan nada halus dan hanya meliriknya dari ujung mata. Abby mendengus namun tetap menurut.

Perhatian semua tamu undangan sambilan puluh persen tengah mengarah pada mereka berdua. Ingin disangkal seperti apapun, keduanya memang terlihat sangat cocok ketika berdampingan, seolah mereka memang sudah ditakdirkan bersama. Meski tidak ada kontak fisik yang berarti seperti tangan yang saling menggenggam atau merangkul satu sama lain, namun aura bunga musim semi seperti bermekaran di sekitar mereka.

"Nona Abbysca terlihat lebih tenang daripada sebelumnya. Itu membuat kecantikannya semakin terpancar."

"Meski itu dari putri kerajaan pun, tak akan ada yang mampu menandingi kecantikan dan kharisma Nona Abbysca."

"Aku yakin Tuan Sagara juga sebenarnya mencintai Nona Abbysca, hanya saja dia tidak ingin mengumbar di depan umum."

"Mereka sangat serasi. Wajah, tubuh, aura, kekuasaan dan kekayaan, mereka memiliki itu semua jauh di atas rata-rata. Apalagi yang kurang? kenapa tidak cepat menikah saja? aku ingin melihat bayi mungil menggemaskan yang akan mewarisi wajah rupawan mereka."

"Sayang sekali. Sepertinya Tuan Sagara mulai memberikan perhatian pada tunangannya itu. Padahal, keponakanku sudah memiliki niat untuk melamar Nona Abbysca pada Tuan Arjuna."

"Tuan Sagara terlihat gagah namun menyeramkan. Coba lihat matanya yang hampir keluar saat melirik para lelaki yang sedang memperhatikan Nona Abbysca secara terang-terangan. Wah, itu sungguh manis dan mendebarkan."

"Kapan ya aku seperti Nona Abbysca?"

Daripada bisik-bisik, ucapan para wanita di setiap pojok ruangan yang menyebar itu lebih terdengar seperti pengeras suara. Meski dari jarak yang cukup jauh pun Abby maupun Gara mampu mendengarnya. Namun keduanya dengan kompak bersikap tidak peduli seperti tidak mendengar apa-apa.

"Paman."

Abby ikut menatap seorang lelaki yang dulu pernah dilihatnya sedang berseteru dengan Melly. Itu Prama. Lelaki setengah baya itu duduk di meja paling sisi namun Gara mampu menemukannya karena sejak tadi, dia memang mencari adik dari ayahnya tersebut.

Prama berdiri dan menyambut keponakannya dengan senyuman singkat. "Gara, apa kabar? Om senang bisa melihat kamu lagi." Kalimatnya begitu sederhana namun penuh ketulusan. Dan Gara mampu merasakannya.

"Aku baik, Paman. Terimakasih sudah bersedia datang." Mereka belum sempat bertemu di pintu utama tadi karena Gara sendiri baru bergabung bersama Melly di sana setengah jam yang lalu. "Mama tidak melakukan apa-apa bukan?"

Prama terkekeh lebar melihat kekhawatiran Gara, "dia tidak akan seganas itu jika di tempat umum seperti ini. " Melirik Abby yang sejak tadi diam memperhatikan, "oh, bukankah ini calon keponakanku?"

Abby ingin menyangkal namun tidak ingin membuat keributan yang tak perlu. Maka dari itu, dia memperkenalkan diri, "selamat malam, Paman. Senang bertemu dengan Anda. Saya Abbysca." Itu adalah sapaan paling normal yang dapat dia berikan. Tidak ada wajah yang penuh kepalsuan atau kalimat manis yang mengandung jilatan. Abby terlihat alami seperti dirinya sendiri.

Diam-diam Prama setuju dalam hati kalau perempuan seperti inilah yang memang pantas untuk Gara. Setidaknya, Melly tidak salah memilihkan calon untuk anaknya. Prama tidak bisa untuk tidak setuju dengan tindakan kakak iparnya yang satu ini.

"Tentu, Nak. Paman sering melihatmu di berita. Begitu tenang dan mengagumkan. Semoga kamu bisa bertahan dengan Gara sampai akhir." Ucapnya sungguh-sungguh. Namun Gara maupun Abby hanya menganggap ucapan tersebut sebagai basa basi semata.

"Kenapa Paman sendiri?" Gara tidak melihat bibinya maupun sepupunya di meja bundar tersebut.

Prama terdiam sejenak, "kamu tahu alasannya." Ujar lelaki itu pada Gara. Merasa jika pembicaraan mereka mulai tidak mengenakan, Prama berusaha untuk mengalihkan, "temui yang lainnya dulu sana! Paman tidak akan ke mana-mana."

Gara mengerti dengan maksud pamannya itu, jadi dia tidak banyak bicara dan pergi setelah memberikan sapaan. Abby yang melihat itu tidak tahu harus bagaimana. Akhirnya, dia kembali mengikuti Gara, namun sebelumnya menyempatkan diri untuk berpamitan pada Prama. "Saya senang bertemu Anda, semoga kita bisa berbicara di lain waktu."

"Paman lebih senang bertemu kamu, Abbysca. Tentu, kita pasti akan kembali bertemu nanti." Prama sepertinya cukup menyukai Abby.

"Saya permisi." Perempuan muda itu berbalik dan kembali melangkah. Namun kakinya seperti tertancap paku saat melihat Gara menghampiri kelompok lelaki di meja yang tak jauh darinya. Haruskah dia ke sana atau memisahkan diri saja?

"Abbysca." Terlambat, Gara sudah lebih dulu menoleh dan menyadari kehadiran Abby. Lelaki itu menatap tunangannya dengan mata tenang namun cukup mengintimidasi, "kemari, Abby!" Gara memanggilnya pelan dengan gerakan tangan tak berarti, persis seperti memanggil anak kucing.

Ingin menolak pun tak bisa, Abby menurut dalam diam. Dia cukup ragu dalam setiap langkah yang dia ambil sekarang. Kenapa Gara harus berhenti di meja yang hanya dihuni oleh sebangsanya saja? Abby merasa akan memasuki kandang singa.

Abby berhenti tepat di samping Gara. Menatap para lelaki yang kini tengah memandangnya dengan binar penasaran.

"Ini Abbysca." Gara memperkenalkan, "dan Abby, mereka teman-teman kuliahku dulu di London."

Oh, pantas. Terlihat tampan, mahal dan berkelas. Abby hampir lupa kalau Gara melanjutkan S2 nya di luar negeri dulu, hal yang selalu membaut Abby uring-uringan karena tidak bisa melihat Gara secara langsung. Ah, kenapa dia memiliki banyak kebodohan di masa lalu?

"Selamat malam, saya Abbysca." Sapa Abby dengan sopan dan menatap mereka satu persatu tanpa senyum yang berlebihan.

"Wow, cantik. Sangat cantik."

"Terlihat tenang dan mengagumkan. Dia cocok denganmu, Gara."

"Lebih anggun daripada yang kulihat di televisi."

Abby tidak tahu harus bereaksi seperti apa di saat para lelaki ini memujinya dengan terang-terangan seperti ini. Maka yang dia lakukan hanya diam setelah tidak lupa mengucapkan terimakasih.

"Sagara!"

Seorang perempuan berwajah bule datang menghampiri mereka dengan raut sumringah seperti menemukan mangsa yang diincarnya.

"Aku sangat merindukanmu." Perempuan itu akan menyentuh lengan Gara, namun Gara lebih dulu menghindar.

"Manda, selamat malam." Sapa Gara dengan wajah kaku dan tanpa minat. Terlihat jelas ingin menghindari sosok perempuan dengan pakaian terbuka di depan mereka itu.

Wajah cantik itu memberenggut, "kamu masih dingin seperti dulu. Tidak asyik."

Teman-teman Gara yang ada di sana mulai merasa was-was, takut kalau Manda akan terkena gamparan sebentar lagi jika bertindak lebih jauh. Belum lagi ada tunangan cantiknya di sini. Mereka tidak ingin melihat pertengkaran perempuan yang selalu lebih mengerikan daripada perang dunia sekalipun.

"Ayo temani aku, sakali saja!" Manda maju lebih dekat pada Gara. Dan berhasil, perempuan itu dapat menangkap pergelangan tangan Gara sebelum lelaki itu kembali menghindar seperti tadi.

"Lepas!" ujar Gara dengan wajah menahan amarah.

Semua orang kompak menahan nafas saat melihat keberanian seorang Manda. Wah, mereka sudah bisa membayangkan apa yang akan terjadi setelah ini.

"Tidak mau. Kamu masih bersikap sama padaku. Padahal kamu tahu kalau aku begitu menyukaimu." Manda berujar terang-terangan, tidak peduli dengan kehadiran Abby yang sejak tadi dia acuhkan.

"Lepas atau tanganmu aku patahkan!" ancam Gara tidak main-main. Rasa marah, kesal, muak dan jijik itu berkumpul di diri Gara sekarang. Dia paling tidak suka disentuh oleh orang lain. Dan perempuan ini begitu berani.

Abby yang sejak tadi diam, kini menghela nafas lelah. Kenapa dia harus melihat drama murahan di sini? sudah dia duga, kembali bersama Juna adalah pilihan yang terbaik tadi. Dia melangkah dan menatap Manda dengan tenang.

"Nona, tunangan saya ini alergi dengan sentuhan orang asing." Abby melepaskan tangan Manda dari pergelangan tangan Gara dengan mudah. Kemudian, menarik lelaki itu agar sedikit menjauh dari Manda. "Dia suka gatal-gatal."

"Siapa kamu?" tanya Manda ingin tahu, raut wajahnya terlihat kesal bukan main. Apalagi saat melihat penampilan Abby yang begitu cantik alami.

"Saya Abbysca. Mohon untuk menjaga sopan santun Anda, Nona. Menyentuh tangan orang lain dengan sembarangan itu tidak beretika sama sekali, apalagi jika yang disentuhnya tidak bersedia." Abby memberikan wejangan singkat sebelum kembali melirik Gara yang wajahnya sudah mengeras kaku. Lelaki itu seperti akan meledak kapan saja.

"Silahkan nikmati pestanya. Kami permisi dulu." Abby menarik ujung lengan pakaian Gara agar bersedia mengikutinya. Dan tanpa diduga, lelaki itu menurut tanpa dipaksa. Mereka meninggalkan meja yang dipenuhi oleh anak muda tersebut dengan langkah yang agak terburu-buru. "Kamu harus berterimakasih padaku, Gara." Bisik Abby disela perjalanan mereka.

Sedangkan yang ditinggalkan masih menatap kepergian sepasang tunangan itu dalam ketakjuban. Mereka seperti baru saja melihat hal ajaib di muka bumi. Beda dengan para lelaki, Manda sendiri merasa marah dan malu saat dikalahkan oleh perempuan yang lebih muda darinya itu. Sialan!

. . .

TBC

Selamat pagi. Saya kembali up. Terimakasih atas dukungan dan cinta dari teman-teman. Jangan lupa vote dan komentarnya! ^_^

Salam,

Nasal Dinarta.

1
Dyah Agustin
lamaa amat kk
Ratna Diah
👍
Nuratipah C'borreg
Luar biasa
Deki Kurniawan
mkash kaak udah updatee...nunggu episode selanjylutnyaa
Deki Kurniawan
dasar benalu lu andita...caper.
Deki Kurniawan
love youuu kak authorr....seneng author balik lagi....aku nunggu episodenyaa lama bener author.......tapi gpp yg penting aku setia nunggu episode selanjutnya author...gemes aama yg namanya andita...
Myn
aku lebih suka Abby sama cwo lain, dri pd sama Gara. dia kan g ngehargai perjuangan Abby selama ini, cwo brngsk
Deki Kurniawan
lanjutin author ....penasaran sama kelanjutannya
Devi Lusi
nah nah apalagi ini
Devi Lusi
karena jiwanya yg tertukar
Devi Lusi
bukan egois ya tpi klo saya pun suami perhatian gitu sama wanita lain tanpa tahu sebab sebenarnya pasti lah mikir nya sama kayak gitu iya gak sih
Devi Lusi
semangat tor
Devi Lusi
novel mu yg lain seru kayag gini gak sih tor penasaran aku
Devi Lusi
itu si lilyanan gMana
Devi Lusi
nah bisa meluk aby kan
Devi Lusi
ohhh udah tau alurnya iti si gara gak bisa bersentuhan sama org.. mama nya salah paham kayaknya
Devi Lusi
apapun penyakitnya klo di sakiti di abaikan slama 5 thun..5 tahun lho berjuang sendiri udahlah by masih banyak laki2 lain..ya klo sakit itu si gara seharusnya berobat bukan malah nyakitin tunangan sendiri.. nanti alasanya sakit ini la itu lah ya iya klo gak berobat
Devi Lusi
ini elang jangan2 orkay nyamar aja jdi cupu
Devi Lusi
ajak tinggal bersama aja by kasih tmpat tggal dan pekerjaan walaupun hanya tukang kebun yg penting makan layak dan tempat tinggal aman
Devi Lusi
walaupun adik kakak krang bagus tidur satu ranjang begitu karena udah pda dewasa
Sely Rosanan: gw yang umur 20 kadang masih tdr bareng adek laki yg cuma beda umur 2 tahun b aja malah mah kadang tidur bareng papa gw sambil dipeluk diusap kepala nya setiap lagi sakit soalnya gw klo dh sakit manja nnya ke papa biasalah anak papa hhhh
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!