Siapa yang kamu pilih? Daniel seorang kristiani berwajah tampan, ramah dan baik hati kepada semua orang. Terlahir dari keluarga kaya tapi tetap rendah hati. Atau Arfan laki-laki shalih, ketua Rohis di kampus, memiliki wajah teduh dan tampan sehingga banyak dikagumi oleh wanita-wanita di kampusnya.
Aku memilihmu tapi tidak tahu siapa yang Allah pilihkan untukku. Aku tidak mau terlalu cepat memilih karena kelabilan pikiran ini. Maukah kau menunggu selagi aku memantapkan hati?
-Alisha Sabiya Nadifah
Naskah ini pertama kali dibuat pada tanggal 5 Maret 2019
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mirna Samsiyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tiga Puluh Satu
Butik muslimah kembali ramai oleh pembeli setelah satu hari libur. Usaha yang digeluti Aisyah sejak dua tahun lalu itu berkembang pesat. Bahkan Aisyah sudah berencana membuka cabang di luar Banyuwangi. Walaupun tidak sebesar Mall milik keluarga Alindra tapi Aisyah sangat bersyukur karena usaha nya bisa berkembang. Hal ini yang Aisyah ucapkan pada Daniel, bahwa kalau pun mereka tidak mendapat harta warisan rezeki tetap akan Allah berikan.
Aisyah berada di belakang meja kasir bersama Ica. Biasanya saat Ica datang maka Aisyah akan segera pulang tapi kali ini wanita keturunan chinesse itu masih di butik. Wajah Aisyah tampak lesu dan kurang istirahat, Ica bisa menebak bahwa Aisyah tengah memikirkan sesuatu yang serius.
"Mbak udah makan siang?" Tanya Ica yang duduk di samping Aisyah. "Mbak kelihatan kurang istirahat, jangan terlalu capek walaupun lagi ngurusin kerjaan." Ucap Ica lembut.
"Sebenarnya Mbak capek." Aisyah menautkan tangannya sendiri di atas pangkuan. "Udah promil kesana sini tapi belum berhasil."
Ica memperhatikan Aisyah yang tertunduk dalam. "Sabar mbak." Ica menarik tangan Aisyah dan menggenggamnya.
"Udah dua tahun, mbak tahu Allah sebaik-baik penentu tapi ada saat nya Mbak bener-bener capek Ca."
"Sabar nya dibanyakin, Mbak kan udah usaha kalau belum dikasih berarti mbak harus lebih kuat lagi." Hati Ica ikut sakit, walaupun belum pernah mengalami hal tersebut tapi ia mengerti bagaimana perasaan Aisyah.
"Mas Umar dan orangtua nya alhamdulillah bisa mengerti, tapi orangtua Mbak selalu aja nanyain cucu." Aisyah menarik tangannya untuk mengusap air mata nya yang mulai meleleh membasahi pipi.
"Nanti pasti ada saat nya Mbak dikasih kepercayaan sama Allah, dikasih keturunan."
Aisyah mengangkat kepalanya tersenyum tipis ke arah Ica. "Doain Mbak ya."
"Pasti Mbak." Ica mengangguk mantap.
"Siang!"
Aisyah dan Ica menoleh ke arah pintu saat terlihat Daniel masuk ke butik dengan senyum mengembang lebar. Aisyah mengusap sisa air mata nya dengan memasang senyum ceria agar Daniel tidak bisa melihat jejak air mata disana.
"Dek Ica." Sapa Daniel dengan senyum paling manis. "Kak." Daniel melihat kakak nya.
"Aku pulang dulu ya." Aisyah beranjak dari duduk nya, menarik tas selempang di atas kursi.
"Loh, kok aku dateng Kak Atalie pulang." Daniel melihat Aisyah yang berjalan melewatinya.
"Kakak tahu kamu kesini karena pengen ketemu sama pegawai Kakak yang cantik itu kan." Bisik Aisyah di telinga Daniel.
Daniel tersenyum manis sekali karena Kakak nya paling mengerti dirinya. "Aku kangen Kak Atalie." Daniel memeluk Aisyah dan mencium pipi nya.
"Udah ah." Aisyah melepas pelukan Daniel. "Saya pulang dulu ya." Seru Aisyah mengedarkan pandangan ke seluruh penjuru butik.
"Iya mbak." Jawab para pegawai butik termasuk Ica.
Ica tersenyum pada Daniel saat lelaki itu duduk di hadapannya. Melihat anak lelaki Jaya Alindra itu membuat Ica jadi ingat ucapan Deanna dua hari yang lalu. Jauhi Daniel, aku mohon. Hati Ica menjerit bahwa tidak ada alasan bagi nya untuk menjauhi Daniel.
"Kirain udah libur kerja." Daniel melihat Ica dengan senyum lebar memperlihatkan deretan gigi nya yang rapi.
"Besok." Jawab Ica tanpa melihat Daniel karena sibuk melayani pembeli yang hendak membayar belanjaannya.
"Oh." Senyum Daniel memudar, itu berarti Ica tidak akan bertemu dengannya dalam waktu yang lama. Hanya satu bulan. Daniel menenangkan dirinya sendiri. "Dek Ica." Panggil Daniel.
"Kenapa Kak?" Ica melihat sekilas ke arah Daniel, menyelesaikan urusan dengan pembeli.
Daniel menunggu hingga Ica selesai memasukkan sepotong gamis ke dalam plastik berwarna magenta itu untuk melanjutkan kalimatnya. Ica duduk di kursi nya dan melihat ke arah Daniel.
"Setelah ini bantu aku." Kata Daniel.
"Kok nggak sekarang aja?" Ica bingung. "Memang nya minta bantu apa?"
"Kamu harus janji setelah ini jangan pernah jauhin aku, sedikit pun nggak boleh." Daniel menatap Ica serius. Setelah ini Daniel akan sangat membutuhkan orang-orang seperti Ica untuk membimbing nya.
Ica terkejut, kenapa saat Deanna meminta nya untuk menjauhi Daniel justru lelaki itu mengatakan jangan pergi.
"Kak Daniel tahu sesuatu?" Ica melihat Daniel penuh selidik.
"Sesuatu apa?" Kini giliran Daniel yang kebingungan.
"Kak Daniel ada disana malam itu?"
Daniel mengerutkan kening tidak mengerti pada ucapan Ica.
Ica mengerjapkan mata setelah menyadari Daniel sama sekali tidak mengerti pada maksud pembicaraannya berarti malam itu hanya Deanna dan Ica yang tahu. Bahkan Ica tidak memberitahu Dianis walaupun mereka jarang sekali menyimpan rahasia satu sama lain tapi kali ini Ica bertekad untuk menyimpannya sendiri.
"Kak Daniel kenapa bohong soal Pak Jaya?" Ica berubah kesal, ia berdiri karena ada pembeli yang menghampiri kasir.
"Kamu udah tahu?" Daniel terkejut.
"Kenapa Kak Daniel bohongin aku?" Dada Ica panas mengingat betapa bodoh nya ia saat itu yang begitu mudah dibohongi Daniel.
"Maaf." Hanya itu yang bisa Daniel ucapkan. Kini Daniel menyesal karena telah membohongi Ica, lagi pula tidak ada alasan khusus di balik itu semua.
"Aku bodoh sekali ya karena gampang banget dibohongin, jangan-jangan selama ini banyak kebohongan lain yang aku belum tahu." Kini bukan hanya dada yang panas, mata nya ikut memanas kembali mengingat semua ucapan Deanna malam itu. Ica mengalihkan pandangan ke arah lain asal jangan melihat Daniel. Tidak ada lagi pembeli di dekat meja kasir, Ica sedikit mendongak agar tidak ada air yang lolos dari mata nya.
"Aku cuma nggak mau kamu jauhin aku." Daniel menggeleng kuat, hatinya sakit melihat Ica marah.
"Untuk apa aku jauhin Kak Daniel?" Ica memutar badan memunggungi Daniel sambil menghapus air matanya kasar, air mata nya mengalir tanpa izin.
"Maaf Dek Ica, aku menyesal." Mohon Daniel, ia tidak ingin Ica semakin marah.
"Aku maafin." Lirih Ica. Allah yang maha segalanya saja bisa memaafkan hamba-Nya apalagi Ica yang manusia biasa tempat nya dosa sudah sepatutnya memaafkan kesalahan manusia lain.
"Makasih Dek ica." Daniel memandang gadis di depannya. Ica menjawabnya dengan anggukan pelan sembari membasahi bibir bawah nya yang terasa begitu kering. "Besok aku anter ya." Tawar Daniel.
"Nggak usah." Ica mengibaskan tangannya. "Aku udah pesen tiket kereta."
"Ya udah kalau gitu aku anter ke stasiun."
"Aku udah terlalu banyak dibantu Kak Daniel, kali ini aku nggak mau nyusahin Kak Daniel lagi." Balas Ica tidak bermaksud menyinggung perasaan Daniel sama sekali.
"Nggak nyusahin, besok berangkat jam berapa?" Daniel bersikukuh ingin mengantar Ica, setidaknya ia bisa lebih lama melihat gadis cantik itu sebelum libur panjang.
"Beneran Kak Daniel, nggak usah, aku sama Dianis bisa naik angkot dari sini." Tolak Ica lagi.
"Udah pokoknya besok aku anterin, kalian pasti ikut kereta pagi kan, aku anter." Daniel tidak mau kalah.
Ica hendak membalas ucapan Daniel namun suara deringan ponsel dari saku jaket Daniel mengurungkan niatnya. Daniel merogoh saku jaket nya untuk menjawab telepon. Tertulis nama Dean di layar ponsel Daniel.
"Kenapa?" Daniel mengawali.
"Lagi dimana?" Suara Deanna terdengar serak di seberang sana, kesedihan masih menyelimuti keluarganya setelah kepergian Papa Deanna.
"Di butik Kak Atalie, ada apa?"
"Sama Ica?"
"Iya, aku kesini emang mau ketemu dia."
"Besok pagi jemput aku di rumah, Om Jaya bilang mau ketemu aku."
"Kan bisa berangkat sendiri, mobil kamu ada kan?"
"Ada, tapi Tante Renata bilang aku bisa minta dijemput kamu Niel."
"Nggak bisa, aku ada urusan."
"Urusan apa?"
"Dean, kamu nggak perlu tahu semua urusan aku." Daniel mengepalkan tangan karena kesal dengan Deanna yang sangat protektif tersebut padahal ia sudah menjelaskan hubungan antara mereka berdua.
"Daniel, kita udah kenal sejak kecil, kenapa aku nggak boleh tahu urusan kamu?"
"Aku mau anter Dek Ica ke stasiun, besok dia pulang ke rumah nya, tolong jangan ganggu aku, kamu bisa berangkat sendiri ke rumah." Daniel memutuskan sambungan sebelum Deanna membalas ucapannya.
"Kenapa Kak Daniel jahat sama Dean?" Ica melihat Daniel, dari tadi ia mendengar ucapan Daniel pada Deanna, walaupun tidak bisa mendengar kalimat Deanna di seberang sana tapi Ica mengerti suasana di antara Daniel dan Deanna.
"Kenapa Dek Ica bilang aku jahat?" Daniel memasukkan ponsel ke dalam saku jaketnya.
"Karena Kak Daniel nggak mau bantu Dean."
"Karena aku mau bantu kamu, aku nggak bisa bantu kalian berdua dalam waktu yang bersamaan lagi pula aku udah janji duluan buat nganterin kamu."
"Tapi kan Dean lebih butuh bantuan Kak Daniel."
"Dek Ica, aku mohon jangan tolak bantuan aku kali ini." Tegas Daniel. "Aku pulang, sampai besok." Daniel beranjak dari duduk nya dan keluar butik tanpa menunggu jawaban Ica. Daniel kesal karena Ica selalu memikirkan orang lain lebih dulu dari pada memikirkan dirinya sendiri. Daniel kesal karena Deanna selalu mencoba untuk menjauhkannya dari Ica.
"Mas Daniel marah Ca?" Lia menghampiri meja kasir membawa dua potong gamis milik costumer yang hendak dibayar.
"Nggak tahu mbak." Ica mengedikkan bahu nya.
"Kasihan lo, dia suka sama kamu Ca, jangan ditolak."
"Ah, mbak jangan sembarangan deh kalau ngomong." Ica melihat gamis tersebut untuk segera diproses membuat nota harga.
"Dibilangin nggak percaya." Ujar Lia sebelum meninggalkan meja kasir.
Ica berusaha untuk tidak memikirkan ucapan Lia ataupun ucapan Dianis yang mengatakan bahwa Daniel menyukainya. Ica bisa melihat dari sudut pandanganya sendiri bahwa perasaan Daniel memang tulus pada nya, tapi Ica tahu hubungan mereka tidak mungkin lebih dari seorang teman. Ica selalu mengingatkan dirinya sendiri agar tidak jatuh pada cinta yang salah.
Emang icha nya mau sama Babang 🤭🤭
iya tidak maniss karna manis nya udah di Icha nyaa 🤭🤭 jadi tak apa kue nya Hambar asal orang nga Manisss 🤭🤭
bilang aja mau mintak 😅😅🙈🙈