Jourrel Alvaro, pembunuh bayaran yang selalu melakukan pekerjaannya dengan sangat bersih tanpa kendala berarti. Banyak para pejabat atau pengusaha yang menyewanya untuk menghabisi musuh-musuh mereka.
Cheryl Anastasia, gadis 24 tahun yang berbakat menjadi seorang arsitek. Darah seni mengalir dari ibunya, sedang jiwa kepemimpinan merupakan turunan dari sang ayah.
Suatu hari, Jourrel dibayar untuk menghabisi nyawa Cheryl. Namun seolah memiliki nyawa seribu, gadis cantik itu selalu lolos dari kematian.
Hingga akhirnya, kekaguman Jourrel meluluhkan hatinya. Ia kalah dan justru jatuh cinta dengan Cheryl karena gadis itu ternyata bukan gadis lemah. Memiliki banyak talenta luar biasa.
Akankah Cheryl membalas cintanya? Lalu bagaimana jika ayah Cheryl yang seorang ketua mafia dapat mengendus pria bayaran itu mengincar putrinya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sensen_se., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 30 : PENGAKUAN
"Pa ... sudah belum?" Cheryl berucap lembut setelah tak mendengar amarah papanya yang meledak-ledak.
"Apanya yang sudah? Awas kalau berani mematikan telepon, papa langsung terbang ke Jakarta detik ini juga," tandas lelaki itu tak terbantahkan.
Cheryl mendelik, "Eng ... enggak, Pa. Ya ampun, negatif mulu ih pikirannya! Papaku yang ganteng tiada tara dan gagah perkasa kata mama, maafin Cheryl. Karena tadi sempet kehabisan baterai dan nggak liat sama sekali." Gadis itu menahan napas sembari merayu pria di seberang sana.
Hanya deru napas kasar yang terdengar. Cheryl meneguk ludahnya susah payah. Takut akan hal-hal tak terduga yang dilakukan oleh ayahnya. Dadanya berdegub tak beraturan.
"Pa," panggil Cheryl dengan nada manja. "Maafin Cheryl!" lanjutnya hampir menangis.
"Haaah! Papa khawatir sama kamu, Sayang." Tiger menghela napas panjang dan menurunkan nada bicaranya.
"I'm fine, Pa," sahut Cheryl meyakinkan. Walau dalam hati bergejolak hebat. Takut jika ayahnya mengetahui apa yang terjadi. Bisa dibumi hanguskan club-nya.
"Yaudah! Kalau ada apa-apa segera tekan alarm di HP kamu. Semua tim papa akan langsung datang!"
Meski sudah hampir seperempat abad, Tiger tetap memperlakukan putrinya seperti anak kecil. Selalu memantau setiap gerakan putrinya.
'Belum genap sehari udah seperti orang kesurupan. Siapa lagi kalau bukan papa,' gerutunya dalam hati.
"Siap, Papa!" serunya ceria langsung mematikan telepon. Senyum lebar kini terukir di bibir pucatnya. Namun sama sekali tak memudarkan kecantikannya.
Tanpa sadar, Jourrel juga ikut tersenyum. Sedari tadi ia bersandar pada tepian nakas. Kedua lengannya saling melilit di depan dada. Manik matanya tak lepas sedikitpun dari setiap ekspresi wajah Cheryl.
Ia mendongak ketika merasa diperhatikan. Seketika senyumnya memudar. "Ehm!" Cheryl berdehem dan mengalihkan pandangannya.
"Cher!"
"Jhon!"
Mereka saling memanggil dalam waktu yang bersamaan. Sontak keduanya saling menatap lalu tertawa. Jourrel menarik kursi di samping ranjang, kemudian mendudukinya.
Lelaki itu menghela napas panjang, "Ladies first," ujarnya mempersilahkan.
"Enggak, kamu duluan aja!" tolak Cheryl menggeleng.
"Aku ... aku ingin minta maaf! Karena terpaksa harus menghentikan paksa mobilmu. Dan sebenarnya bukan kesalahan Tristan, tapi karena aku ikut campur tanpa sepengetahuan nya, ternyata justru mencelakaimu," aku Jourrel terbata-bata. Ia harus memilih kalimat yang tepat.
"Sekali lagi, aku minta maaf, Cheryl." Jourrel menunduk, tidak berani memperlihatkan wajahnya.
Meski awalnya memang benar-benar berniat mencelakai gadis itu, akan tetapi kini semua berubah. Ditambah, banyak sekali yang menyayangi dan melindungi gadis itu. Ia sendiri menyadari pesona yang dipancarkan gadis tersebut.
"Tristan ke mana?" tanya Cheryl ketika tak melihat siapa pun selain mereka berdua.
"Dia tadi di sini, tapi balik lagi buat ngurus mobil kamu dan motor aku," sahut Jourrel lesu. Ia merasa, Cheryl marah padanya. Jelas berpikiran seperti itu, ini sungguh fatal.
Cheryl meraih ikat rambut yang ada di dekatnya. Kemudian mengikat rambut pirangnya yang panjang dan bergelombang. Ia menghela napas berat, menatap lelaki tampan itu dengan serius.
"Emang biasanya kamu selalu ikut ngebengkel?" tanya Cheryl memicingkan mata.
Jourrel tergagap, "I ... iya, begitulah," ungkapnya.
"Tapi, kalau tadi nggak kamu hentikan, mungkin aku udah mati! Kamu, Tristan, orang pertama dan kedua yang aku datangi!" ucapnya menatap penuh seringai.
Secara refleks, jari telunjuk Jourrel terangkat dan menempel di bibir Cheryl. Sentuhan lembut itu sontak membuat Cheryl terpaku. Netra indahnya mengerjap dengan lembut, manik matanya bergerak ke kiri dan kanan mengikuti gerakan mata Jourrel.
Bersambung~