NovelToon NovelToon
Istri Kedua

Istri Kedua

Status: tamat
Genre:Poligami / Konflik Rumah Tangga-Konflik Etika / Tamat
Popularitas:45.3k
Nilai: 5
Nama Author: Lusiana Anwar

Menjadi istri kedua tidak semudah mengucapkannya. Pada kenyataannya istri kedua harus punya kesabaran dan ketekunan lebih untuk menghadapi dunia.

Begitu pula dengan Winda, terlebih dengan status janda yang disandangnya tak luput dari sorot kebencian. Sebutan pelakor dan perusak rumah tangga orang seolah melekat pada dirinya, sejak ia memutuskan menikah dengan Detta, laki-laki yang telah beristri.

Namun Winda harus tetap bertahan demi anak yang didapat dari pernikahannya dengan Detta. Tetapi jika cacian dan cemoohan berpengaruh pada tubuh kembang anaknya, apa yang harus Winda lakukan? Haruskah ia bertahan? Ataukah ia justru menyerah dan mengakhiri semuanya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lusiana Anwar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 31. tak ada salahnya berbagi

Detta terdiam mematung menatap Winda dan Jena yang duduk membelakanginya. Wajahnya berubah keruh mendengar semua obrolan ke-dua wanita itu.

Sejurus kemudian bola matanya membulat seketika saat kalimat terakhir kedua wanita itu tertangkap oleh telinganya. Ia memejamkan mata sambil mengepalkan kedua tangan. Kemudian, berbalik dan langsung berlari ke dalam kamar inap Mesya.

Detta melangkah perlahan mendekat kearah Mesya yang masih belum sadar sejak dua jam lalu. Di tatapnya wajah pucat dan lemah yang berbaring tak berdaya dengan pias.

Perlahan namun pasti tangan Detta mengusap wajah Mesya kemudian mengecup kening Mesya lama.

"Maafkan aku, aku tidak tahu apapun tentang kamu." Detta berbisik, terselip rasa kecewa pada dirinya sendiri. Ia yang seharusnya, menjadi orang pertama yang mengetahui segalanya, justeru malah menjadi orang yang paling terakhir dan tidak mengetahui apapun.

"Sadarlah, demi aku dan anak-anak. Kami membutuhkanmu," suara Detta terbata karena menahan air mata dengan menelan ludah dalam.

Sementara itu, Winda yang sudah selesai berbincang dengan Jena langsung kembali ke ruangan Mesya. Wajahnya memerah dengan air mata yang sudah menggenang di pelupuk mata sebab melihat Detta memeluk Mesya.

Winda mengusap bahu Detta pelan, untuk memberi kekuatan pada Detta. Ia bisa merasakan betapa hancurnya Detta saat itu.

"Kamu, juga harus kuat. Mesya butuh kamu." ucapnya pelan.

Detta menoleh kearah Winda dengan tatapan mata kecewa. "Kenapa kamu sembunyikan ini dariku?"

Winda menghela napas panjang kemudian memejamkan mata sejenak. "Permintaan Mesya, dia nggak mau mendapatkan belas kasih dari orang lain."

"Tidak seharusnya kamu sembunyikan dariku. Aku berhak tahu keadaan Mesya." Detta masih menatap lekat wajah Mesya yang masih terpejam.

Beberapa saat kemudian, mata Mesya mengerjap pelan. Kemudian bergerak menatap sekeliling demi mengingat dimana kini ia berada.

Namun, Mesya justru langsung mendapati wajah paling menyedihkan Detta. Sedang menatapnya lekat, dengan tatapan pias.

Sejurus kemudian, Mesya melihat Winda, wanita yang paling tak ingin ia lihat berdiri tak jauh dari Detta.

"Kamu sudah sadar?" suara Detta pelan, hingga terdengar seperti gumaman.

Mesya mengangguk pelan kemudian kembali memejamkan mata sebab kepalanya terasa berputar.

"Minum?" Detta menawarkan.

Mesya langsung mengangguk.

Detta meraih bahu Mesya dan membandingkannya bangun untuk minum. Kemudian membaringkan lagi tubuh Mesya seperti semula.

"Ngapain, kamu di sini?" tanya Mesya setelah itu. Matanya tertuju pada Detta.

"Kamu pingsan, di kantor." Detta menjawab singkat sembari menggenggam sebelah tangan Mesya.

"Kenapa kamu tidak pernah bilang? Apa aku bukan orang pantas untuk mengetahui semuanya."

Mesya memejamkan mata sejenak. " Bukan hal yang penting," kemudian meluruskan pandangannya menatap langit-langit.

"Seperti ini kamu bilang bukan hal penting?" Detta melotot tak setuju. Dalam situasi seperti ini, Mesya masih meninggikan egonya.

"Sudahlah, kamu pergi saja." Mesya mengusir.

"Sudah, hentikan. Biarkan Mesya istirahat dulu. Dia masih lemah." Winda mengusap bahu Detta, memintanya mengalah.

***

Menjelang sore, Winda kembali datang ke rumah sakit untuk menjenguk Mesya. Kedatangannya langsung di sambut oleh sorot kemarahan.

Namun, Winda tetap tersenyum meski raut wajah Mesya sama sekali tak bersahabat. Ia berjalan mendekat kemudian meletakkan kotak makanan yang dibawa dari rumah.

"Kamu sudah makan?" Winda tersenyum menatap Mesya.

"Nggak usah sok baik! Apa kamu pikir dengan memberi tahu Detta, akan membuatku memaafkan permbuatanmu?" Mesya melirik tajam kearah Winda. Pandangannya berisyarat penuh kemarahan.

"Aku tidak pernah memberi tahu Detta. Kamu bisa pegang ucapanku."

"Sudahlah jangan bersandiwara! Aku sudah muak! pergi dari sini!" Mesya benar-benar marah. Menganggap semua yang dilakukan Winda sudah melampaui batas. Apalagi saat beberapa waktu lalu Winda, datang dengan membawa Zoya dan Zetra. Yang artinya Winda sudah mulai menguasai anak-anaknya. Ia tak akan terima begitu saja jika sampai itu terjadi.

Namun, penyakit sia lan yang di dideritanya, membuat ruang gerak menjadi terbatas. Bahkan ia tak bisa melakukan apapun dalam keadaan seperti ini.

Terkadang Mesya juga merasa lelah dan ingin berdamai. Namun semua itu sirna saat Winda datang dan memperlakukan dirinya seolah-olah ia pantas mendapat belas kasih darinya.

Sikap Detta yang semakin lembut justru membuatnya menjadi, semakin merasa tak memiliki kekuatan apapun untuk menghadapi Winda. Sementara ia sangat benci jika Winda bersama anak-anaknya.

"Aku ingin menjadi temanmu. Apa itu salah?" Winda menatap Mesya serius. Ada harapan besar dimatanya, berharap hati Mesya akan luluh dan bisa menerima kehadirannya.

"Jangan mimpi! Sampai kapanpun aku tidak pernah sudi menjadi temanmu." tak ada kalimat lembut setiap kali Mesya berbicara dengan Winda. Matanya selalu memancarkan sorot penuh kebencian.

"Kenapa? Apa aku tidak pantas menjadi temanmu? Aku akui, aku hadir di tempat yang salah dan aku bisa mengerti kalau kamu sangat marah. Jika aku berada di posisimu, mungkin aku juga akan melakukan hal yang sama."

"Bagus jika kamu sadar! Aku tidak perlu lagi mengajarkannya!" sahut Mesya dengan nada tinggi.

"Tapi aku selalu berusaha untuk menebus semua kesalahan dengan cara memperbaiki diri. Apa salahnya, berbagai cinta. Aku akan tetap berada dalam batasan ku. Aku akan menghormatimu sebagai pemilik terlama."

Namun Mesya justru tertawa sumbang dan mengucapkan sumpah serapah. Sampai matipun, tidak akan pernah menerima Winda sebagai apapun yang pernah dikatakan oleh Winda.

Tapi takdir berkata lain, kedua anak Mesya justru begitu bergantung pada Winda. Sementara Mesya tak bisa berbuat apa-apa selain berbaring di atas tempat tidur.

Hati Mesya mulai melunak, dan perlahan bisa menerima kehadiran Winda ditengah-tengah kehidupan rumah tangganya. Awalnya memang sulit, tetapi Mesya tidak bisa berbuat banyak. Saat sakit yang dirasakan semakin membuatnya putus asa.

"Maafkan aku, dengan sikapku selama ini. Aku mohon jangan jadikan anak-anak ku sebagai beban hidupmu."

"Kamu ini ngomong apa? Aku sudah menganggap mereka seperti anak-anakku sendiri. Kamu bisa percaya itu." Winda tersenyum sambil menggenggam tangan Mesya. Memberinya kekuatan untuk bertahan ditengah sakit yang semakin parah.

"Dengan begitu aku bisa tenang, anak-anak tidak akan pernah merasa kehilangan sosok ibu. Karena semua itu sudah ada apa dirimu."

"Jangan bicara yang macam-macam. Aku tidak suka mendengarnya."

"Titip anak-anak, katakan pada mereka aku menyayangi mereka."

"Kamu bisa mengatakan sendiri." kata Winda pelan sembari tersenyum. Hatinya begitu terenyuh mendengar semua kalimat Mesya. Membuatnya tak bisa menyembunyikan kesedihan lagi.

"Kenapa kamu menangis? Apa ada sesuatu yang pantas kamu tangisi?" Mesya menatap Winda, dengan dahi berkerut. Kemudian tertawa sumbang. "Untuk apa kamu menangis. Aku buka. seseorang yang pantas kamu tangisi."

Winda mengangguk kemudian tersenyum. "Aku menangis bahagia, akhirnya kamu bisa menerimaku sebagai bagian dari kalian ."

"Terimakasih Winda, maafkan apapun yang pernah aku lakukan padamu."

Winda mengangguk kemudian memeluk Mesya.

1
Dwi Kusmarini
bgs
Anonim
kenapa dinovel2 selalu pelakor yg menang..istri sah wajar jahat krn perbuatan suaminya..ah .sdhlahh
Pisces97
kasian nasip Mesya akhirnya dia kalah dengan istri kedua.
dimana² menang 😂
Ratna js
sekrang aku sdang di posisi mu Winda... kehamilan ku baru menginjak 2 bulan tapi rasa nya begitu sesak ketika harus banyak bersabar dan ikhlas dg segala ketidak adilan. dan mas deta persis suami ku dia selalu menjaga perasaan istri pertamanya tanpa memikirkan perasaanku. baca novel ini seperti baca kisah hidup ku
Anonim: Memang mbaknya ngerti perasaan istri pertama ketika suami menikah lagi?
total 2 replies
Mega
haiss sbnrnya aku males komen kl masalah pelakor,yg intinya tidak akan ada yg mau terima di madu,,, tp di sini munafix bgt msh mau menerima walau pun udh kesakitan dan mau meniggl,pdhl awal udh benci bgt,tp mkn karna halu jg shi jg bisa menerima,dlm dunia nyata hanya 1 banding 1000 yg mau menerima,,,
Erlinda
Winda juga egois sebagai seorang ibu. ga mengerti klo karena ulah nya yg terus bertahan demi detta anak nya di bully dan disiksa ..mulai malas aq membacanya
Erlinda
ternyata detta pengecut
Enis Sudrajat
Semangat Mak!❤️🙏
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!