NovelToon NovelToon
Love You, Encik Shin!!

Love You, Encik Shin!!

Status: tamat
Genre:Romantis / Pernikahan Kilat / Bepergian untuk menjadi kaya / Keluarga & Kasih Sayang / Cinta Seiring Waktu / Tamat
Popularitas:312.5k
Nilai: 4.9
Nama Author: kamiya san

Latar cerita: negara upin ipin dan susanti

Tak ingin bangkrut habis-habisan, Dhiarra, 24 tahun, rela datang dan tinggal di rumah Shin Adnan, adik angkat lelaki ayah tiri, bersama para saudara tirinya.

Dhiarra sedang jungkir balik akibat ulah ayah tiri yang terjerat kasus korupsi dana negara. Dan kini justru membawa lari sang ibu serta menguras keuangan Dhiarra.

Karena iba dan rasa bersalah, Shin menawari Dhiarra sebagai sekretaris pribadi sekaligus desainer perusahaannya. Dhiarra yang jelita itu menyanggupi sambil menunggu sang kekasih datang menyusul untuk menikahi.

Shin Adnan yang tampan ibarat bujang mapan dan matang yang sedang menjaga calon istri orang.
Dan masalah susah itu hadir saat hati Dhiarra dan juga Shin merasa tidak tenang jika saling berhadapan..

Plagiat minggir!! Tenggelam saja ke lautan!!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kamiya san, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

31. Sang Designer

Penampilan good lookingnya pagi ini jadi lebih tertutup. Namun tidak dengan kepalanya yang masih nampak dan terbuka. Rambut berkilau itu tergerai dan terlihat sangat manis. Tidak lagi digelung rapi seperti hari-hari biasanya.

Menarik nafas dalam-dalam sebelum membuka pintu kamar. Dan menghembuskan cepat saat sudah menggeser diri keluar dari kamar. Kejadian semalam, seperti mematikan gerakannya pagi ini. Merasa tak bermuka jika harus berjumpa mata dengan Shin.

Sepi.. Dhiarra cepat berjalan seperti seorang pelarian. Ingin segera sampai saja di setapak jalan halaman. Lalu menemui taksi gelap yang dipesan dan sudah menungguinya sedari tadi di gerbang.

"Dhiarra..!!" suara stereo memanggilnya.

Dhiarra langsung berhenti dan berdiri tegak di tempatnya. Berusaha tetap bernafas dengan lancar dan normal.

Pemilik suara gentle itu tidak di belakang. Tapi sudah berdiri menghadang Dhiarra di depan. Shin sedang jogging pagi mengitari halamannya yang luas. Dan berhenti saat merasa berpapasan dengan Dhiarra di halaman.

"Encik Shin...," rasanya seperti kaku saat melempar sapa balasan.

"Ke mana..?" Shin bertanya santai sambil terus menggerak-gerakkan dua kaki bergantian.

"Jumpa kawan.," sudah tak selera lagi mengganti alasan. Sangat mudah mengatakan jawaban favoritnya.

"Apa taksi sandar kat gerbang tadi itu menunggumu?" lelaki itu telah benar-benar berdiri dan diam.

Dhiarra agak berkerut dahi dan mengangguk.

"Sudah kuganti dan kusuruh pergi. Tunggulah di meja makan. Kau boleh menumpang keretaku..!" Shin berkata lalu berbalik dan melangkah.

Bibir Dhiarra merapat, tak sempat berkata apapun. Shin Adnan telah kembali berlari-lari kecil di teras menuju ke arah kamarnya.

Dhiarra berbalik sambil mengambil nafas kuat-kuat menyabarkan diri sendiri. Berjalan kembali ke arah teras untuk pergi ke dalam ruang makan. Taksi yang dipesan telah pergi sebab Shin Adnan mengganti ruginya. Gadis itu juga tak berselera mencoba mendial nomor taksi lain. Menumpang kembali di kereta Shin sajalah pilihan akhirnya.

🍒🍒

"Sudah menghubungi kawanmu..?" Shin telah duduk dan mengambil makanan. Lelaki itu telah datang ke meja makan dalam waktu yang cepat.

"Sudah..," sangat lirih jawaban Dhiarra.

"Kapan datang..?" sepertinya Shin tidak sabar. Tidak peduli pada sikap Dhiarra yang seperti enggan menatapnya.

"Hari ini..," Dhiarra tidak juga memandang pada Shin. Sangat sibuk dengan makanan di piring. Seperti sedang asal bicara saja.

"Pukul berapa..?" Shin terus mengejar jawaban gadis di depannya.

"Selepas dzuhur.," lancar sekali jawaban asal gadis itu. Masih juga dengan menunduk.

"Baiklah. Katakan pada kawanmu, aku ingin bertemu malam ini pukul delapan. Sangat penting." Shin berkata tegas. Bibirnya menyimpan senyum yang samar.

"Apa, encik Shin..? Malam ini juga..?!" gadis itu tak berminat menyembunyikan rasa kejutnya. Mendongak seketika. Menatap lebar-lebar wajah Shin. Pendaman rasa malunya semalam seperti menguap tiba-tiba.

"Kenapa..? Bukanlah tujuan kawanmu datang ke Negara ini hanyalah untuk menemuiku? Katamu, kawanmu itu sangat sibuk di pesantren..,jadi kubantu kawanmu itu mengejar waktu sempitnya..," Shin pura-pura nampak heran. Jika seksama, garis senyum itu nampak samar di wajah rupawannya.

"Baiklah, pukul delapan. Akan kubilang..," lirih Dhiarra menjawab tanpa daya.

Alis golok lelaki itu terangkat, mengamati gadis yang kembali menunduk di depannya. Sambil samar tersenyum, Shin kembali menyendok makanan di piring. Lelaki itu seperti tidak sabar menunggu malam pukul delapan. Sebab Shin penasaran, siapa yang akan dibawa ataupun dilakukan Dhiarra pada pukul delapan malam nanti...?

🍒🍒

Kereta yang membawa Dhiarra dan Shin telah berhenti di salah satu samping bangunan megah Sentral. Dhiarra melirik lelaki gagah di sebelah yang hari ini tidak mengenakan jas kerja. Tapi terlihat kian segak dengan kemeja panjang warna krem dan sangat press di bodynya.

"Terimakasih tumpangannya, encik Shin..," Dhiarra menggeser diri keluar melewati pintu yang telah dibukanya. Terlihat sangat gontai.

"Pukul delapan, bawa kawanmu, Dhiarra..!" pesan Shin ini seperti sebuah presure tinggi bagi Dhiarra.

Gadis itu tak menyahut, melirik sekilas sang paman dan menutup pintu mobil agak keras. Kereta hitam pekat telah melaju perlahan meninggalkan kawasan bangunan sentral menuju jalan ke arah Lorong, Hang Jebat, Melaka.

🍒🍒

Kedai obat Dhiarra tertutup rapat-rapat. Sebab Yuaneta tengah berlibur, ini hari minggu. Meski begitu, hilir mudik orang di Sentral justru kian menyemut. Mereka adalah pekerja yang tengah libur dan ingin mengadakan perjalanan serta kunjungan ke berbagai tujuan.

Dhiarra menyelinap ke dalam kedai obat tanpa menyalakan lampunya. Membiarkan keadaan remang sebab tak ingin menarik pengunjung.

Langsung masuk ke dalam ruang cipta baju dan menyalakan tiga lampu sangat terang. Mengambil tiga dari enam rancangan terbaik yang sengaja disimpan untuk pengajuan susulan kepada Shin Adnan. Dan menyimpan lagi tiga rancangan untuk sewaktu-waktu jika diperlukan dan Dhiarra tak lagi sempat membuat.

Tiga baju sampel serta gambar rancangnya telah Dhiarra kemas dan siapkan. Sekarang tengah sibuk dengan penyelesaian sebuah baju spesial yang juga rancangan terbarunya sendiri.

Dan desain bagus terbaru itu akan dipakai Dhiarra untuk menemui Shin Adnan jam delapan nanti malam.

Dhiarra telah berkeputusan untuk jujur dan mengakui segalanya pada Shin malam nanti. Mengatakan sebenarnya bahwa dirinyalah sang desainer pemilik enam baju rancang yang telah disetujui Shin waktu lalu. Dan juga sedang sangat ditunggu kedatangannya oleh Shin Adnan.

Dhiarra siap jika saja Shin akan marah sebab merasa ditipunya. Atau bahkan jika parah, akan membatalkan kerja sama launching baju rancangnya bersama Shin Adnan di Shin's Garment. Dhiarra pasrah..

Namun..Dhiarra juga telah menyiapkan suatu upaya agar Shin tergoda untuk mengurangi kemarahan padanya. Paling tidak masih minat meneruskan launching baju rancangan Dhiarra yang terlanjur disepakati bersama waktu itu.

🍒🍒

🍒🍒

Jumpa kawan...

Pergi ke rumah Yuaneta di Batu Berendam jugalah akhirnya. Mereka bertiga, Dhiarra, Yuaneta dan Denis Tan tengah duduk bersama di sofa. Berlomba menghabiskan setumpuk roti canai yang Dhiarra beli dari sebuah kedai makan India di Sentral.

Dhiarra dan Yuaneta tengah kepedasan dengan roti canai telur bersambal pedas pilihannya. Sedang Denis Tan memilih roti canai pisang manis yang tentu saja tanpa sambal. Denis memang paling ampun makan sambal. Sangat berlawanan dengan kesukaan sang istri yang sangat gila pada makanan serba pedas.

"Kalian, dua orang, haaa... Suka sangat makan pedas, kelak boleh cepat tua maaa....!" Denis Tan memperhatikan perempuan-perempuan cantik yang mendesah pedas di depannya.

"Enak lah dier, nggak bisa kenyang..," sahutan Yuaneta pada Denis Tan. Panggilan dier (dear) adalah sebutan kesayangan pada suami.

"Jagalah perutmu itu liing.. Malam-malam minta kawan ke toilet, tak nak aku liing..," Denis menyebut sang istri dengan ling (darling). Mereka memang baru menikah, sedang sangat romantis dan masih sayang-sayangnya.

"Ah, dier..,jangan ganggu aku dulu. Biarlah puas-puas kumakan. Roti canai ini dari Dhiarra buat bayar aku,,,," Yuaneta terus bicara sambil mengunyah roti canai lezatnya.

"Apa sebab, liing..,,?" tanya Denis sambil memotong roti canai pisangnya.

"Dhiarra ingin kurias cantik-cantik. Die akan dating(kencan) sama sephianya(selingkuhan).. Shin Adnan,," mata Yuaneta memgerling pada Denis Tan.

"Ngaco lagi, kau Nett.. Dia itu bossku, omku, dan pembeli bajuku. Ini bukan kencan,Nett..,!" Dhiarra yang sedari tadi menyimak percakapan pasutri itu menyahut sangat sebal.

"Kita taruhan yuk, Raaa... Kau bakal cintrong nggak sama Shin Adnan tuh..? Lihat yaaa akhir ceritanya.. Adrian lama-lama kausingkirkan..Ha..ha..ha..,," nafsu Yuaneta agar Dhiarra mengejar Shin saja tak pernah berubah.

"Tidak akan, aku setia pada mas Drian..,," Dhiarra tidak terima dengan ucapan Yuaneta.

"Tiap hariii...., bahkan dua puluh empat jam kau gesekan mata terus dengan Shin.., emang situ kuat, Raa..,,?" Yuaneta sambil tersenyum manis pada Denis, meminta dukungan. Denis mengedik bahu sambil berlalu ke kamarnya.

"Ah, sudahlah...Nett. Asal kau tahu, encik Shin sudah berkapel, cantik pulak..,!" Dhiarra ingat Velinda yang cantik.

"Kau pun jangan kalah. Akan kurias dirimu. Malam ini Shin pasti susah tidur sebab penampilan cantikmu..,," Yuaneta berkedip genit pada Dhiarra.

"Tujuanku bukan itu...Tapi hanya merayu agar dia tak marah padaku..," Dhiarra mengelap tangannya dengan tisu.

"Halaaah.., alibi sajalah itu.. Dahlah, mandilah..Habis ini kurias. Nanti kau lambat, encikmu marah pulak padamu..!" tangan Yuaneta masih sibuk dengan canai pedasnya.

"Yelah.., aku mandi dulu..!" sambil berlalu Dhiarra berseru.

Ya begitulah........ Tujuan Dhiarra datang ke rumah sang karib. Selain melepas lelah dan rindu, tapi juga ingin sedikit minta riasan wajah pada sang karib. Yuaneta paling jago soal dandan.

Dhiarra ingin mencuri perhatian Shin dengan penampilan baiknya malam ini. Berharap jadi penawar kemarahan Shin padanya. Shin tidak boleh membatalkan kerja sama yang telah dijanjikan. Dhiarra sangat memerlukan perusahaan Shin untuk terus menampung karyanya.

Dhiarra tak mengira jika Shin telah mengetahui segalanya..

1
My atee
Luar biasa
Ike Styaningsih
semangat terus karyanya 👍🏻👍🏻👍🏻
Annisa Sekar
luar biasa
Kamiya San: Love you, Kak
total 2 replies
Annisa Sekar
Kecewa
Debbie Teguh
duh iler cb ditampung ya, iiizz ambilkan ember buat ncik shin wkwkwk
rika atthoriq
luar biasa bagus
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘandini💘🦉☆⃝𝗧ꋬꋊ
luar biasa 👍👍👍
HeraAnalia M Nasir
ok
Ester Hadasa Ruru
cerita yg menarik
Kamiya San: jangan bintang 4 dong kak... bintang 5 yaaa
author nangis... rate bintangku biasanya 5.. dpt tambahan dr kakak 4 .. Ratenya turun jadi 4.9
tolong ditukar ya... Terimakasih...😭😭😭
total 1 replies
hania putri
nah loh, papa udah warning shin
hania putri
masih aja lu ogeb diara.. harus nya dr percakapan terakhir pun kamu udah harus ngertiiiii.
hiiiiih gemes deh gue
hania putri
mirip judul di sinetron ikan terbang 😂
hania putri
semua status ada papa, cucu, besan dan menantu. paket komplit pokok nya
hania putri
nah kan, ada apa dgn adrian?
hania putri
dayus itu artinya apa ya kk?
semacam pecundang kah?
hania putri
eh mulut nya ya, ga boleh itu teriak2 begitu 😂
hania putri
sedih banget deh
hania putri
kepala atas bawah nyut2an ya om 😂
hania putri
mulai jujur, bagus diara.
hania putri
diara mulai galon ni yee
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!