Kebahagian memang tidak pernah abadi.
Sekalipun kamu kaya, cantik ataupun cerdas, roda kehidupan akan selalu berputar selama kamu hidup.
Begitulah kira-kira pribahasa paling sesuai dengan nasib naas yang dialami oleh seorang wanita cantik bernama Lie.
Kebahagiaan yang selama ini ia miliki hilang begitu saja.
Di masukkan kedalam penjara, kedua orangtua nya dibunuh dan perusahaan keluarga diambil alih!
Haruskah aku menyebutmu iblis? Karna manusia bukanlah kata yang pantas untukmu!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon esterliia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ayahnya pun dulu sama seperti itu
'Ya seandainyaa....'
**
Setelah melakukan perjalanan panjang, mereka pun tiba di bandara Los Angeles Internasional Airport.
Baru turun, beberapa petugas membantu membawakan koper masing-masing dari mereka dan mengantarnya ke depan parkir VIP khusus penumpang first class.
Seorang wanita cantik datang menghampiri mereka dan petugas itu pun memasukkan barang-barang mereka ke mobil yang ada didepannya.
Namanya Kath. Dia adalah asisten Golden disini. Setelah berbicara singkat Kath berjalan lebih dulu dan mengisyaratkan supir yang sudah berdiri didepannya untuk membuka pintu bagi mereka.
Mobil Porsche Cayenne melaju cepat dijalan yang lancar ini. Perjalanan tidak terlalu jauh hanya sekitar 30 menit mereka akhirnya sampai di kawasan pemukiman elit Hollywood Hills.
Kawasan ini cukup tenang karna lokasinya yang berada di atas bukit dengan pemandangan indah dan hanya kendaraan pribadi lah yang dapat melintas disini.
Sepanjang jalan banyak rumah-rumah mewah berdiri kokoh disini. Dapat disimpulkan memang hanya orang-orang elit lah yang mampu memiliki nya.
Rumah Golden pun tidak kalah mewah dibanding rumah sekitarnya. Kira-kira 2.322 meter persegi luasnya. Hunian ini lebih menonjolkan desain unsur kayu dan batako dengan taman luas beserta gazebo yang mengarah langsung pada bukit luas.
Mereka pun masuk dengan disambut beberapa pelayan didepan rumah.
Jam menunjukkan pukul 2 siang dan Kath pun pamit pergi setelah mengantar mereka. Memutuskan untuk makan siang terlebih dahulu baru setelahnya masuk ke kamar masing-masing untuk beristirahat.
Setelah mandi, Callista tidak bisa tidur hingga ia memutuskan untuk berjalan-jalan sebentar menghirup udara segar.
Ia cukup kagum melihat rumah ini, terdapat lapangan tennis sendiri dan dua paviliun yang terpisah dengan rumah inti serta kebun anggur yang cukup luas.
'Berjalan mengitari rumah ini saja cukup melelahkan' batin Callista. Yang akhirnya membuat ia memutuskan untuk duduk di gazebo sambil memandang bukit-bukit didepannya.
Hari sudah mulai sore, sehingga udara cukup sejuk dan menenangkan. Dan ia terlelap.
Angin menyambar wajah nya yang putih mulus, wajah mungil yang sedang terlelap nyenyak membuat Golden tidak berhenti menatap wajahnya cukup lama.
Ia pun memutuskan untuk duduk disebelahnya setelah cukup lama berdiri, menyeka rambut yang menutupi wajah cantik wanita itu lalu tersenyum.
Pelayan pun datang membuat Golden sedikit terkejut, ia membawa teh panas untuk nya. Hendak mengatakan sesuatu namun diurungkannya karna Golden menyuruhnya untuk pergi.
Pelayan pun mengerti, ia sempat melihat gadis disebelahnya itu sedang tertidur pulas. Lalu tersenyum mengangguk dan pergi.
Saat Golden sedang meminum teh nya, Callista pun terbangun dan terkejut melihat Golden duduk disamping nya.
"Sudah berapa lama aku tertidur?" tanya nya serak.
"Tidak tahu." tanpa menengok lalu menyesap teh nya lagi.
"Kau sudah berapa lama disini?", "Belum lama, baru 15 menit.", "Mmmm", "Minumlah teh itu, disini cukup dingin. Itu akan menghangatkanmu."
Mengambilnya, menghirup lalu meminumnya.
Teh ini berwarna gelap dengan rasa unik namun cukup ringan. "Teh apa ini? Enak sekali."
"Ini teh Pu'erh. Teh fermentasi yang berasal dari China. Daunnya di oksidasi lalu didiamkan selama berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun. Semakin berumur tua, teh ini akan semakin mahal dan enak. Yang kau coba ini adalah salah satu teh yang sudah berumur 7 tahun." jelasnya tenang namun tetap elegan.
"Mmm aku mengerti, kau pencinta teh?", "Tidak juga, aku hanya menyukai minuman-minuman dengan kualitas terbaik saja."
Callista tertegun mendengarnya. Tentu. Orang berkualitas pasti akan memilih sesuatu yang berkualitas juga. Ayahnya pun dulu sama seperti itu.
Mereka pun menghabiskan waktu senja bersama sambil memandang matahari yang akan terbenam.