WARNING...!! SIAPKAN KOMENTAR TERPEDAS KALIAN YA😁
Novel ini di angkat dari kisah nyata mungkin pada awalnya si pihak perempuan bisa di bilang bodoh, kalau penasaran yuk lanjut baca kalau gak skip aja ya😁
"Tidak, bukan aku yang memulai. Kau yang lebih dulu mengkhianati ku. Lalu kenapa sekarang kau merasa paling tersakiti?" Winda menatap wajah suaminya dengan sesak di dadanya.
"Maafkan aku, aku khilaf. Tapi, kenapa kau malah berselingkuh dari ku?"
Lelaki yang tidak memiliki perasaan ini dengan entengnya melontarkan pertanyaan yang membuat Winda tertawa geli.
Bukan kesalahan Winda berselingkuh, sejak mereka menjalin hubungan di saat kuliah, Tama lah yang sudah mengkhianatinya terlebih dahulu.
Memaafkan berulang kali, begitu seterusnya hingga mereka menikah. Hati Winda benar-benar patah, wanita ini membalas pengkhianat suaminya. Mempertahankan rumah tangga demi nama baik masing-masing dari keluarga mereka. Linda dan Tama, hidup dalam kemunafikan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ni R, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 31
"Kenapa kau bersikap seperti ini Win? kau sudah sangat menyakiti aku," ujar Tama yang sudah tidak bisa lagi menahan tangisnya.
Winda sama sekali tidak merasa sedih atau pun menyesal.
"Apa hati mu bisa sakit?" tanya Winda seolah mencibir, "lalu bagaimana dengan aku dulu?"
"Aku tahu aku salah, tapi tidak dengan cara seperti ini juga kau membalasnya!"
"Lantas kau mau apa sekarang?" tanya Winda, "ingin menceraikan ku silahkan saja. Aku tidak takut hidup tanpa diri mu!"
Tama terdiam, sudah tidak tahu lagi ingin berkata apa. Winda semakin jauh berubah, bahkan ia sendiri kembali acuh pada kedua anaknya.
"Mau kemana lagi kau Win?" tanya Tama kembali menahan langkah istrinya.
"Aku bosan di rumah, aku mau pergi...!" ujar Winda lalu dengan kasar mendorong suaminya.
Winda berlalu begitu saja, Tama berusaha mengejar, menahan agar istrinya tidak pergi malam ini. Kedua anak mereka masih kecil, entah sampai kapan rumah tangga Winda dan Tama seperti ini yang sama sekali tidak pernah memberikan kebahagiaan untuk kedua anak mereka.
Tama tidak bisa menahan Winda, wanita itu pergi begitu saja.
"Haaaaah,.....!" geram Tama yang sudah tidak tahu lagi ingin melakukan apa. Pria ini masuk kedalam rumah, Tama hanya bisa menarik nafas panjang saat melihat kedua anaknya yang sudah tidur dengan sangat lelap.
Malam ini Winda tidak pulang lagi,membuat Tama semakin khawatir dan takut jika istrinya kembali tidur dengan laki-laki lain. Tama mencoba menghubungi Winda, mengirim pesan tapi Winda sama sekali tidak meresponnya.
Malam berganti pagi, Winda belum pulang juga. Tama tidak bisa menitipkan kedua anaknya pada bi Marni, lagi-lagi mertuanya lah yang menjadi tujuan utama untuk mengasuh kedua anaknya.
"Winda tidak pulang mah, aku tidak tahu dia di mana sekarang," adu Tama berharap jika mertuanya ini bisa bicara baik-baik pada Winda.
"Sekarang apa yang kau rasakan?" tanya Weni, "pasti sakit di perlakukan seperti ini ya kan?"
"Mah, setidaknya mamah bisa bicara dengan Winda. Kasihan Azam dan Asya, mereka tidak pernah di rawat oleh Winda."
"Aku sendiri masih bisa merawat kedua cucu ku. Biarkan Winda mencari kebahagiaannya sendiri. Ingat Tama, semua ini salah mu!"
Huft,....
Tama hanya bisa menghela nafas panjang, tidak ada harapan baginya sekarang. Pria ini memutuskan untuk pergi, Tama pulang ke rumah orang tuanya, ada sesuatu yang mengganjal di hati Tama yang harus di tanyakan pada papahnya.
Untung saja Diana tidak ada karena nenek lampir itu sedang pergi ke acara sekolah Cindy pagi ini.
"Tama mau tanya sama papah, apa benar papah memiliki hutang dengan om Anton?" tanya Tama penasaran.
"Dari mana kau tahu?" Herman bertanya balik.
"Berapa banyak pah?"
"Sekitar empat milyar,...!" jawab Herman dengan entengnya.
Tama terkejut, ia pikir hanya kisaran ratusan juta tapi nyatanya lebih dari itu.
"Pah, untuk apa uang sebanyak itu?" tanya Tama heran.
"Kau tahu sendiri beberapa waktu yang lalu usaha kita mengalami kemunduran. Hanya Anton yang mau meminjamkan uangnya tanpa embel-embel dan jaminan apa pun."
"Pah,....!"
"Masalah istri kamu yang dekat sama Anton, papah bisa merahasiakannya. Kamu tenang saja!" ucap Herman sungguh sangat mengejutkan untuk Tama.
Tama syok, tidak percaya jika sang papah tahu mengenai hubungan Winda dan Anton.
"Pah, sadar gak sih kalau Winda itu istri ku. Menantu papah sendiri."
"Papah tahu akan hal itu, biarkan saja selagi itu bisa menguntungkan untuk kita...!"
Tak habis pikir, hati Tama semakin sakit mendengarnya.
"Mamah kamu atau pun adik kamu tidak tahu mengenai hal ini. Tama, utang papah banyak dan belum tentu juga kita bisa melunasinya. Hanya dengan cara seperti ini kita bisa melunasi tanpa mengeluarkan uang atau pun tenaga!"
Ingin sekali Tama memukul wajah papahnya yang tega melakukan hal seperti ini pada dirinya.
"Ini adalah aib keluarga, jangan sekali-kali kau berani membuka suara," ucap Herman hanya bisa membuat Tama terdiam, "anggap saja ini karma untuk mu yang pernah melakukan hal sama seperti apa yang di lakukan Winda sekarang!"
Baru saja Tama ingin menyahut, Diana dan Cindy sudah masuk kedalam rumah. Obrolan mereka langsung terhenti, Tama juga langsung pamit pergi.
"Lihat Tama, sikapnya semakin aneh. Pasti Winda sudah menghasut anak ku!" tuduh Diana pada Winda.
"Kau ini berisik. Masuk kamar sana!" ujar Herman.
Tama kembali pulang ke rumah, berjalan beberapa menit menuju kantornya. Apa pun yang di kerjakan Tama hari ini berantakan, di tambah lagi Tama tiba-tiba mendapatkan kiriman video dari nomor yang tidak di kenal.
"Apa ini,....?"
Mata Tama melotot, syok dan darahnya kembali mendidih saat melihat video Winda yang kembali melakukan hubungan suami istri dengan pria lain. Bukan Anton, Tama tidak mengenal pria ini.
Prakk,.....
Tama yang emosi membanting ponselnya. Pria ini mengusap wajahnya kasar, jantungnya berdebar sangat kencang.
Dengan langkah gemetar Tama pulang ke rumah dan langsung pergi mandi untuk sekedar mendinginkan hati.
Saat Tama keluar dari kamar mandi, ternyata Winda sudah berada di kamar.
Plak,.....
Tiba-tiba saja Tama menampar wajah Winda. Matanya merah penuh emosi.
"Katakan pada ku, dengan pria mana lagi kau tidur hah?"
Winda hanya mengusap wajahnya sebentar, kemudian dengan beraninya mengangkat wajah menatap wajah marah suaminya.
"Jika kau tidak suka, silahkan ceraikan aku!" ucap Winda seolah menantang.
"Winda,.....!" sentak Tama dengan nyala api di matanya.
Tama langsung mendorong tubuh istrinya ke atas tempat tidur. Merobek semua pakaian sang istri, Winda yang sudah mati rasa berusaha berontak tapi tenaganya kalah kuat.
Siang itu Tama dengan memaksa Winda melakukan hubungan suami istri.
"Ini yang kau mau, apa tubuh ku kurang hingga kau bisa dengan bebas tidur dengan laki-laki lain?"
Winda tertawa renyah sambil membalutkan handuk ke tubuhnya.
"Seharusnya pertanyaan itu kau tanyakan pada dirimu sendiri...!" Winda membalik omongan suaminya.
"Winda, kau benar-benar....!"
"Ya, aku jalan!" ucap Winda, "bagaimana rasanya hemmm?"
Winda tidak butuh jawaban dari suaminya, wanita ini langsung masuk ke kamar mandi. Tama duduk lemas di tepi ranjang, ia sadar akan kesalahan di masa lalu tapi bukan karma seperti ini yang Tama mau.
Lucu, Tama tidak menginginkan karma buruk menimpa dirinya. Tama menangis, hanya bisa menangis saking lemahnya. Winda acuh, masa bodoh pada suaminya.
"Sudah ku bilang berapa kali, lebih baik kau menceraikan ku saja!" ucap Winda.
"Kau keterlaluan Win, kau sama sekali tidak memikirkan anak-anak kita."
"Jangan mengatasnamakan anak-anak dalam masalah ini. Kau yang memulai, bukan aku!" tegas Winda kembali mengingatkan.
hajar terus win 🤣🤣🤣
niat hati baca novel untuk melepas penat , eh yang ada malah bertambah bahkan max level lagi