Layani aku kapan pun di mana pun aku mau sebagai mana layak nya seorang istri yang baik sampai waktunya tiba aku akan menceraikan mu.
Arinda Maharani gadis 18 tahun, yang terpaksa menggantikan mempelai wanita untuk menikah dengan anak majikan ibu nya.
Bagas Airlangga Kusuma 30 tahun pria arogan ,keras kepala dan juga tempramen. Mau tidak mau ia harus menikah dengan anak dari pembantu karena di tinggal kan kekasih nya di saat pernikahan mereka kurang dua hari.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon vhauna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Banyuwangi
"Neng, maaf kan emak nya mas Risky , ya Neng." pinta Risky sepulang nya dari rumah nya.
"Aku gak papa ,kok mas. Wajar nama nya juga seorang ibu. Pasti mau yang terbaik buat anak nya." Sindy tersenyum menatap Risky yang nampak begitu khawatir kepada nya. "Ada benar nya yang ibu katakan ,kalau jadi istri harus bisa masak, biar gak boros." sambung nya.
"Tapi aku serius ,gak papa neng Sindy gak bisa masak, kita bisa beli. Gak bisa nyucu kita bisa antarin ke loundry. Gak bisa nyapu, nanti ada mas Risky yang nyapuin. Yang penting neng bahagia di dekte mas Risky."
"Cih, apaan sih mas. Tentu aku bisa semua nya kok."
"Kalau bisa semua nya , alhamdulilah neng. Itu bonus buat, mas. Neng udah nerima mas aja itu adalah anugerah terindah yang di berikan Tuhan neng."
"Mas bisa stop nggak?"
Entah lah Risky merasa begitu senang saat mendapati Sindy cemberut. Selain semakin cantik, gadis pujaan nya tersebut terlihat semakin menggemaskan. Ingin rasanya saat ini juga ia sah kan di mata agama dan negara.
"Iya ,neng. Ini stop ,kok. Lagian ini juga udah nyampe."
Tak terasa obrolan mereka harus terhenti saat mereka sudah sampai di area kost-kostan Sindy. Daerah yang cukup padat penduduk. Jika saja Ayah nya tidak mengalami sakit dan tidak menanggung biaya kuliah adik nya, bisa saja Sindy menyewa kontrakan yang lebih baik dari tempat ini. Karena gaji yang ia dapat bekerja sebagai sekertaris Bagas lumayan besar.
"Mas gak mampir dulu?"
"Gak ,neng. Salam aja buat ayah dari calon menantu nya. Mas harus buru-buru ke apartemen nya si bos. seperti ny penting banget."
"Oke deh mas, aku turun dulu ,ya."
"Eh ,neng , tunggu dulu. Kamu gak mau gitu simulasi suami istri?"
"Maksud mas?"
"Sebelum pergi cium punggung tangan mas Risky dulu."
"Astaga , mas. Udah lah aku mau turun dulu. Assalamualaikum."
"Waalaikum salam. Eh neng...?"
"Apa lagi mas?" kesal Sindy.
"I love you calon makmum."
Yang mana ucapan Risky mampu membuat wajah Sindy merona. Dan ia pun malu-malu saat ingin menjawab. "I love you to." dengan berbisik ,namun masih bisa di dengar oleh Risky.
"Yessss!"
🍂🍂🍂
"Ris, Lo ikut gue ke Banyuwangi. Masalah kantor ada bokap udah datang. Juga ada om Jhon yang bakal bantuin."
"Kapan lo mau nya berangkat?"
"Sekarang juga."
"Hah?"
Dasar bukan Bagas nama nya kalau gak seenak udel nya ,ngasih perintah yang juga tidak bisa di tolak.
"Mau berapa hari lo di sana?"
"Sampai Arin mau pulang sama gue."
"Lo yakin si anak kelinci masih mau sama lo?"
"Kok lo ngomong gitu?" Bagas menatap Risky tajam.
"gak papa sih. Semoga aja dia mau balik lagi sama lo."
Dan seketika wajah Bagas murung. Ia merasa kurang percaya diri bahwa Arin bakalan mau memaafkan nya. Jika di lihat-lihat memang banyak sekali perubahan pada diri Bagas saat ini. Wajah nya sering terlihat murung, kantung matanya terlihat jelas mirip seperti panda. Bahkan bulu-bulu halus di wajah nya sudah tumbuh dan tidak di cukur. Penampakan nya yang kacau seperti ini begitu jelas mencerminkan bagai mana kondisi hati nya saat ini.
"Apa gue udah sejahat itu, sampai dia bakalan nolak gue ,Ris?"
"Ya lo usaha dulu lah, kalau di tolak ya usaha lagi. Cuma yang harus lo pastiin atas dasar apa lo pengen banget dia balik sama lo. Sementara selama ini lo uda sia-sia in dia."
Bagas terdiam. Entah atas dasar apa ia ingin sekali membawa Arin kembali kepada nya , sementara selama ini ia begitu tidak perduli terhadap gadis tersebut. Namun tekad nya sudah bulat ia akan tetap berusaha membawa Arin kembali bersama nya.
Tak lama kemudian Bagas dan juga Risky bertolak menuju kota ujung timur pulau Jawa yakni Banyuwangi. Kota dan tempat kelahiran sang istri. Dengan menggunakan pesawat pribadi milik papa Danu. Butuh waktu sekitar dua setengah jam akhirnya pesawat tipe Gulfstream G550 tersebut mendarat mulus di bandara Blimbingsari Banyuwangi.
Kemudian mereka berlanjut menuju kampung halaman Arin yang jarak nya sekitar satu jam dari bandara. Melewati jalanan yang masih rusak dan juga persawahan akhirnya kini mereka sampai di rumah bik Marni. Rumah yang saat ini masih dalam proses pembangunan.
Bik marni merenovasi rumah nya menjadi dua lantai yang mana lantai satu akan di gunakan sebagai toko kelontong kemudian di lantai dua akan di gunakan sebagai tempat tinggal dengan berisikan empat kamar tidur. Proses pembangunan rumah tersebut tak lama lagi akan selesai. Tinggal proses pengecatan saja. Tentunya hal tersebut tak luput dari dukungan finansial dari orang tua Bagas sebagai ucapan terima kasih atas bantuan nya selama delapan tahun menjadi Art di rumah mereka.
Tak hanya bik Marni, keluarga Danu juga memberikan hal yang sama terhadap mantan asisten pribadi mereka yang sudah mengabdi lebih dari lima tahun dan ingin membuka usaha di kampung halaman nya.
"Assalamualaikum." seru Risky sembari menekan bel yang terdapat di luar rumah bik Marni.
Tak lama kemudian pintu harmonika berwarna putih tersebut terbuka.
"Waalaikum salam." sahut nya. "Loh den Bagas nak Risky toh. Arin nya mana?"
Deg---
Jantung Bagas berhenti sejenak sebelum akhirnya berdetak kembali. Ia terkejut mendengar pertanyaan mertua nya yang justru menanyakan keberadaan sang istri yang ia kira justru berada di sini.
"Ayo, masuk dulu yok. Hari sudah malam juga." tawar bik marni. "Maaf den , nak...tempat nya masih berantakan, belum selesai."
Kemudian marni mengajak mereka menuju lantai dua agar bisa lebih nyaman untuk mengobrol.
"Minum apa ,nak Risky dan den Bagas?"
"Air putih aja ,bik." sahut Risky yang dari tadi memang ia saja yang menjawab perkataan Bik Marni. Sementara Bagas hanya terdiam ,ia memikirkan kemana sebenar nya Arin pergi.
"Gas, lo ngomong dong sama mertua lo, kok malah diem bae." ucap Risky saat bik marni pergi mengambil kan air minum untuk Bagas dan Risky. Namun tak sedikit pun mendapat jawaban dari Bagas yang tengah melamun.
Tak lama kemudian bik Marni datang dengan membawakan dua gelas air minum.
"Buk, sebenarnya kedatangan saya ke sini mencari keberadaan Arin." ucap Bagas tanpa basa-basi lagi. Ia siap menanggung segala konsekwensi nya jika Marni akan marah kepada nya.
"Maksud Aden apa?"
Bagas menarik nafas nya dalam-dalam. Lalu ia hembuskan perlahan.
"Begini ,buk." Terasa sedikit kelu saat ia memamnggil bik Marni dengan sebutan Ibuk yang mana ia sudah terbiasa memanggil Marni dengan sebutan Bibik. "Sebelumnya saya minta maaf, saya tidak bisa menjadi suami yang baik untuk Arin. Kami mengalami kesalah pahaman dan membuat Arin harus pergi."
"Ya Allah gusti, kemana anak itu." tangis bik Marni pecah. Namun ia tidak menyalakan siapapun di sini mengingat mereka menikah atas perjodohan. Marni benar-benar tidak menyangka bahwa Arin sampai pergi meninggalkan Bagas.
"Pantas saja biasanya dia itu sering sekali nelpon ibuk. dan Sudah dua minggu lebih nomor nya justru tidak aktif lagi. Tapi ibuk gak kepikiran macam-macam. Ibuk minta maaf ya ,den. Atas sikap kekanakan anak ibuk."
"Enggak buk, yang salah di sini saya. Saya gagal menjadi suami yang baik." ucap Bagas tertunduk. hal yang tidak pernah Marni lihat selama delapan tahun menjadi ART keluarga nya. Terlihat Bagas begitu penuh penyesalan saat mengatakan hal tersebut.
"Ya sudah den, sudah malam silahkan istirahat dulu. Besok kita bicarakan lagi."
Kemudian Bagas tidur di kamar Arin sementara Risky tidur di kamar tamu.
Bagas melihat terdapat foto Arin berjejer rapi di dinding kamar tersebut, dan membuat Bagas semakin merindukan istri kecil nya yang pergi entah kemana.
"Kamu kemana sih , Rin. aku kira kamu pulang ke rumah mu. Nyatanya kamu menghilang tanpa jejak." Bagas bermonolog sembari mengusap poto Arin.
Sementara di kamar lain, bik Marni terus saja menangisi anak semata wayang nya. "Gusti, di mana pun anak hamba berada tolong lindungi dia."
......Guys tolong di komen dong hehehe. makasih ya. maaf aku sering typo karena nulis nya kejar-kejaran sama si bayik. biasanya aku revisi ulang nantinya .......