Nama gue Caca, seumur hidup gue gue gak pernah yang namanya pacaran. sekali pacaran, gue pacaran sama makhluk penghisap darah
Yap Vampire ?! awalnya gue gak percaya tapi seiring berjalannya waktu dan masuk dalam kehidupan nya gue jadi percaya kalau Vampire itu nyata
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chicy L, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bukan barang taruhan
Pagi hari nya sekolah Caca sudah rame banyak orang yang berlalu lalang apalagi pihak OSIS yang mempersiapkan acara untuk nanti
Ya mereka akan menyiapkan acara pertandingan basket untuk final nanti sekolah Caca SMA Pride melawan SMA Unity
Semua siswa berantusias menyambut pertandingan ini dari yang berantusias tak ada jam pelajaran, berantusias melihat wajah dari sekolah lain
Saat ini Caca dan teman-temannya sedang berada di kantin mereka sedang makan pagi sengaja tidak makan dari rumah karena mereka ingin makan bersama, sekalian nongkrong sebelum pertandingan basket di mulai
"Eh tau gak" ucap Vera
"Enggaj tau" ucap Feby dan Caca berbarengan
"Gue belum selesai ngomong ogeb" ucap Vera menatap mereka bergantian
"Oh belum ya kirain udah" ucap Caca terkekeh kecil
"Makanya kalau orang ngomong jangan di potong" ucap Vera
"Iya Bu lanjut" ucap Feby
"Cih" decih Vera melirik Feby dan Caca
"Jangan marah Bu entar gosip ilang" ucap Caca tersenyum
"Kok lu tau kalau gue mau ghibahin orang" ucap Vera menatap Caca tak percaya
"Tau lah, bau berita hangat mu kecium Sampai sini" ucap Caca mengendus-endus
"Udah kayak kucing aja lu" ucap Vera
Feby hanya terkekeh geli
"Jadi cerita gak" ucap Caca
"Jadi lah, masak gak jadi" ucap Vera semangat
"Ya udah buru apa gosip nya" ucap Feby
"Gue denger denger ni ya, katanya besok Agnes bakalan masuk sekolah" ucap Vera antusias
"Terus" ucap Caca dengan santai
"Kok terus sih, bukanya lu harus takut ya" ucap Vera mengerutkan keningnya
"Kenapa mesti takut" ucap Caca balik tanya
"Takut karena hidup tentram lu bakalan hancur" saut Feby
"Nah bener tu apa yang dia bilang" ucap Vera menunjuk Feby sambil mengangguk
"Kenapa mesti takut toh hidup gue di tangan Tuhan bukan di tangan Agnes" ujar Caca menyeruput minumannya
"Cih liat aja besok pasti lu besok bakal habis di tangan Agnes" saut meylin tiba-tiba
"Orang bego nyaut sendiri" ucap Feby melihat meylin dan Cherly yang sedang membeli makanan
"Biarin lah gue gak ngurus" ucap Caca ia berdiri dari duduk nya
"Mau kemana lu" tanya Vera mendongak keatas
"Mau ke lapangan basket cari bangku, entar kalau kelamaan gak bisa nonton, full" ucap Caca membawa piring bekas nya
"Gue ikut" ucap Vera dan Feby menyusul Caca
Lain halnya di tempat lain, di sini lah tempat ganti baju kelompok El berkumpul Menunggu waktu pertandingan
"Gue gak sabar, pengen liat muka Deon nangis-nangis" ucap Nathan terkekeh
"Entar lu yang nangis" ucap Rakha tersenyum mengejek
"Kenapa gue harus nangis, gue yakin sekolah kita pasti menang" ucap Nathan dengan bangga
"Ya terserah lu lah" ucap Rakha mengangguk saja
Ceklek
Pintu ruangan terbuka masuklah seorang guru olahraga
"Kalian siap-siap, sekolah lain sudah sampai kita sambut mereka di depan" ucap guru olahraga
"Baik pak" ucap mereka
Lalu merapikan pakaian nya menata rambut nya membenarkan sepatu atau hal lain
Setelah itu mereka keluar ruangan menunggu sekolah lawan, mereka menyambut nya di depan ruang ganti
Karena sekolah lawan menempati ruang ganti di sebelah ruang ganti yang kelompok El tempati
Tak lama sekolah Unity muncul di balik pintu
"Mereka datang" ucap Nathan menepuk pelan lengan Rakha, Rakha pun menoleh sedangkan El hanya melirik saja memasang wajah datar
"Selamat pagi pak" sapa guru Unity pada guru pride
"Selamat pagi pak, selamat datang di sekolah kita" imbuh nya dengan senyum ramah nya
"Terimakasih" ucap guru Unity mengangguk ia lalu menjabat tangan guru Pride anak-anak basket hingga habis lalu masuk ke dalam ruang ganti
Begitupun juga dengan anak-anak basket sekolah Unity mengikuti guru mereka
Hingga akhirnya giliran Deon ia tersenyum smirk melihat wajah El
Ia berdiri di hadapan El sambil tersenyum sinis, semua anak-anak basket sudah masuk ke dalam begitupun dengan guru mereka
Di luar hanya tinggal Deon dan El yang saling menatap tajam satu sama lain
"Kita ketemu lagi, gak sabar gue pengen ngalahin lu" ucap Deon
"Cih" El hanya berdecih saja
"Nanti kalau lu kalah jangan nangis" ucap Deon terkekeh
"Jangan mimpi" sinis El
"Gue gak mimpi, Selamat bertemu di lapangan" ucap Deon ia lalu berbalik badan hendak measuk ke dalam ruang ganti namun ia kembali berbalik badan menghadap El
"Oh iya, btw cewek yang kemarin cantik juga, bolehlah gue deketin dia" ucap Deon memanasi El
El mengepalkan tangannya berusaha meredam amarahnya
"Jangan pernah deketin cewek gue" ucap El penuh penekanan ia menatap Deon dengan api nyalang
"Oh cewek lu ya, itu malah lebih menantang, gue suka" kompor Deon tersenyum licik
"Awas kalau lu berani seinci pun menyentuh cewe gue bakal habis lu" tunjuk El dengan api kemarahan nya
"Gue takut" ejek Deon
Ia sok takut, ia maju satu langkah menatap El
"Bagaimana kalau kita buat taruhan" ucap Deon dengan Pelan namun El masih bisa mendengar nya
"Kalau gue menang cewek lu jadi pacar gue" ucap Deon tersenyum smirk
El mengepalkan tangannya dengan erat
"Kalau gue menang" ucap El menatap tajam Deon
"Kalau lu menang gue bakal kasih lu cewek gue" ucap Deon tersenyum
"Tenang cewek gue bisa muasin lu kok" imbuh nya
El terkekeh kecil, Deon yang melihat El mengerutkan keningnya
"Lu berani kasih berapa cewek ke gua" tantang El tersenyum tipis
"Ow, ternyata lu ga cukup satu cewek ya, oke gue kasih yang lu mau" ucap Deon tersenyum bangga
"Bagaimana deal, kalau gue menang cewek lu jadi cewek gue" ucap Deon tersenyum lebar sambil menyodorkan tangan nya
El menatap tangan Deon lalu ia tersenyum sinis
"Haha, ingat baik-baik gue gak Sudi Nerima taruhan lu apalagi cewek-cewek lu" ucap El menekankan semua perkataan nya tanpa membalas uluran tangan Deon ia berbalik hendak meninggalkan Deon namun ia urungkan kala Deon kembali bersuara
"Bilang aja lu takut kan" pancing Deon tersenyum sinis
El berbalik ia menatap Deon
"Gue takut" ucap El menunjuk dirinya
"Sorry, gue gak takut tapi gue gak mau, asal lu tau kalau cewek gue bukan barang taruhan" ucap El menekankan di akhir kalimat nya lalu berbalik masuk ke rumah ganti meninggalkan Deon
Deon menatap pintu yang baru El tutup dengan mata merah nya ia sungguh kesal
Niatnya ingin membuat El kesal malah ia yang kesal, sungguh membuat nya kehilangan mood saja
"Tunggu saja akan gue buat lu kehilangan dia" ucap Deon masih menatap pintu yang tertutup rapat
"Dan gue gak sabar lihat cewek lu berada di bawah gue" ucap Deon tersenyum mesum ia Lalu berbalik masuk ke ruangan nya bergabung dengan teman-teman nya
👍👍👍👍👍
up lg dng thir belum puas ni