Sebuah desa yang penduduknya paling sedikit, berpenghasilan rendah namun hampir semuanya memilki rumah yang bagus, hidup santai dan kehidupan sehari-hari pun terpenuhi.
Tetapi penduduk desa lain enggan tinggal di sana dan mereka mengaku jika memandangi desa itu awalnya tampak indah dan tenang namun semakin lama auranya semakin aneh seperti ditutupi oleh awan gelap.
Tina memilih ikut pindah bersama keluarganya untuk membuka lahan pertanian setelah menyelesaikan kuliahnya dari jurusan agribisnis. Desa itu adalah tempat neneknya dari ayahnya. Dia memliki seorang adik berumur sembilan tahun dan akan pindah sekolah di sana.
Sebagai pendatang Tina pergi ke berbagai tempat di desa itu hingga dia berhenti di sebuah gubuk yang penuh darah dan sesajen. Dengan perasaan tak tenang dia keluar dari sana namun diluar seorang pria dan wanita tua dan pendek menunggunya. Tubuh mereka yang pendek karena tulang punggung yang bungkuk hampir seratus delapan puluh derajat.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon risna 020, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Berakhir
*****
Seminggu kemudian...
Desa Sabo yang terkenal dengan desa yang sepi dan damai sekarang sudah rata dengan reruntuhan rumah dan bangunan.
Tak henti-hentinya suara ambulans lulu lantang menghampiri desa itu. Sanak saudara warga Sabo datang melihat keadaan mereka dan warga desa lain yang hanya sekedar penasaran.
"Apakah desa ini akan memulai kehidupan yang baru? Disini sangat banyak melakukan pesugihan" ucap seorang pengunjung bersama teman-temannya.
Warga yang tersisa tampak berbeda dengan yang sebelumnya. Terlihat jelas di raut wajahnya kesedihan dan merasa kehilangan tanpa banyak berbicara.
"Nak, kamu harus cepat pulih dan kita akan pindah dari sini" ucap Sani kepada Tina yang terbaring di rumah sakit.
Tubuhnya sangat drop, dan luka-luka memar di badannya dan belum sadar selama seminggu. Sedangkan Sani sudah kembali sehat seperti sebelumnya.
Lilis selingkuhan Dino ditemukan bunuh diri mengenaskan di rumah Dino dengan menyayat nadi tangannya dan memar hitam ditubuhnya seperti bekas pukulan tali.
Firman terduduk di sana sudah berjam-jam di makan pamannya dan istrinya yang bersebelahan dengan makam Ibunya.
Setiap malam hujan turun deras dan petir tak henti-hentinya mengeluarkan dentumannya seolah-olah memberi peringatan.
Pagi hari warga membantu aparat pemerintah membereskan puing-puing bekas runtuhan. Tak sedikit yang merasa trauma dan hanya berdiam diri dalam rumahnya.
Kejadian itu tersebar dengan cepat, baik di koran dan televisi. Namun wartawan masih enggan berlama-lama di sana untuk menanyakan lebih detail karena desas desus yang beredar banjir bandang di Desa Sabo adalah kutukan.
Hari demi hari perlahan mulai bersih dan rapi. Beberapa kembali beraktivitas, namun mereka masih banyak diam dan enggang merespon jika ada yang menanyakan kejadian itu dan berapa beratnya mereka menerima musibah besar itu.
Seperti memulai dari awal, sawah mereka mulai diperbaiki karena habis diterjang aliran sungai.
"Ibu pasti benci dengan Tina karena ayah" ucap Tina setelah sadar.
"Tidak. Tidak sama sekali. Justru kamu telah menyelamatkan Ibu dan adikmu dan menghancurkan perbuatan jahat merek."
"Tiga hari lagi kita akan kembali ke rumah kita di kota. Segala urusan ladang akan Ibu bicarakan dengan Om dan tante kamu" balasnya.
Tak ada yang menyadari jika Tina adalah orang yang telah menyelamatkan Desa Sabo namun justru sebaliknya menuduh dia adalah penyebab semua ini. Namun pemerintah setempat tidak meninjau sampai sejauh itu karena selain itu musibah karena alam penduduk desa itu terkenal sangat tertutup dan tidak ramah dengan orang lain.
"Jangan berkecil hati karena warga disini menurutmu tetapi suatu saat mereka akan sadar atas perbuatan besar yang sudah kamu lakukan" ucap kepala Desa ke Tina yang berada di kursi roda dan akan meninggalkan tempat itu.
Rumah mereka tak seorang berani masuk ke sana karena sangat terlihat seram dan sekali-kali terdengar suara tangisan di malam hari dan mereka meyakini itu adalah suara tangisan Lilis.
Kepala desa berjanji membuat patung kecil Tina setelah semua pembenahan telah selesai.
"Makasih banyak Mba dan cepat sembuh. Jika ada ada sesuatu hubungi saya" ucap Firman memberikan salam terakhir ke Tina.
Tina hanya tersenyum dan berbalik ke arah mobil tumpangan mereka. Tina melihat sejenak rumah itu dan tiba-tiba... seekor burung camar jatuh ke atap dan mati.
"Kamu tak akan keluar dari sini"
"Tidak.......!!!" teriak Tina.
"Ada apa nak?"
"Tina mendengar sesuatu yang aneh Bu."
"Disini tidak ada apa-apa. Mungkin karena telinga kamu sakit" balas Sani.
Telinga kiri Tina tidak bisa mendengar dan masih akan menjalani pemulihan mental ke psikologi dan perawatan telinganya.
"Enyalah..... " ucap dalam hati Tina.
T A M A T........
semangat kak..
jangan lupa mampir ya kak