Perselingkuhan di balas dengan selingkuh, hingga menghasilkan buah hati dalam hubungan terlarang!!!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NeyNaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pulang Kampung Bersama Kedua Anaknya
Pagi itu rumah Sulis terasa lebih sibuk dari biasanya. Dua koper kecil sudah tergeletak di ruang tamu bersama beberapa kantong berisi oleh-oleh untuk keluarga di kampung.
Rara sibuk memeluk boneka kelincinya sambil mondar-mandir kegirangan.
“Ma, nanti aku tidur sama Nenek ya?”
“Iya,” jawab Sulis sambil melipat pakaian terakhir ke dalam tas.
Dito yang duduk di lantai langsung menyahut,
“Aku mau main layangan sama anak-anak sana!”
Sulis tersenyum kecil melihat semangat kedua anaknya. Sudah hampir setahun mereka tidak pulang ke kampung halaman Sulis karena kesibukan Irwan dan sekolah anak-anak.
Padahal ibunya di kampung sudah berkali-kali meminta mereka datang.
“Aduh cucu-cucu Nenek kapan pulangnya...” begitu kata wanita tua itu setiap kali menelepon.
Irwan keluar dari kamar sambil membawa dompet dan kunci mobil.
“Udah siap semuanya?”
“Udah,” jawab Sulis.
Irwan mengangguk pelan lalu membantu mengangkat koper ke bagasi mobil. Wajah pria itu terlihat sedikit lelah karena semalam masih bekerja sampai larut.
“Mas nggak jadi ikut?” tanya Sulis sekali lagi.
Irwan menghela napas kecil.
“Maaf ya. Minggu ini lagi banyak pemasangan billboard.”
Sulis sebenarnya sedikit kecewa, tetapi ia mengerti kondisi pekerjaan suaminya yang memang sedang ramai.
“Nggak apa-apa. Aku sama anak-anak aja.”
Irwan mendekat lalu merapikan jilbab istrinya pelan.
“Nanti kalau sampai kabarin.”
“Iya.”
“Jangan lupa makan.”
Sulis tersenyum kecil mendengar itu. Bahkan hal sederhana seperti mengingatkannya makan selalu membuat hati Sulis hangat.
Dito tiba-tiba menarik tangan ayahnya.
“Papa nggak ikut beneran?”
Irwan jongkok lalu mengusap kepala putranya lembut.
“Papa kerja dulu. Nanti kalau udah selesai nyusul.”
“Janji?”
“Janji.”
Rara langsung ikut memeluk leher ayahnya manja.
“Papa jangan lama-lama ya.”
Irwan tertawa kecil sambil mencium pipi putrinya.
Mobil akhirnya melaju meninggalkan rumah mereka menjelang siang. Dari kaca depan, Sulis masih melihat Irwan berdiri di teras sambil melambaikan tangan.
Perjalanan menuju kampung memakan waktu hampir empat jam. Jalanan mulai berubah sempit dan dipenuhi sawah hijau yang membentang luas di kanan kiri.
Rara tertidur di pangkuan Sulis, sementara Dito sibuk melihat kambing dan kerbau di pinggir jalan.
“Ma, kampung Nenek masih sama ya,” celetuk Dito.
“Iya.”
Sulis memandang keluar jendela mobil dengan senyum tipis. Kampung kecil itu menyimpan banyak kenangan masa kecilnya. Tempat ia tumbuh sebelum akhirnya menikah dengan Irwan dan pindah ke kota.
Sesampainya di rumah sang ibu, seorang wanita tua berkerudung cokelat langsung keluar dengan wajah berbinar.
“Ya Allah, cucu-cucu Nenek datang!”
“Ibu...” panggil Sulis haru.
Ibunya langsung memeluk Sulis erat sebelum bergantian menciumi Dito dan Rara yang tertawa geli.
Rumah kayu sederhana itu mendadak ramai oleh suara anak-anak.
“Aduh Rara tambah cantik.”
“Dito udah gede banget sekarang.”
Sulis tersenyum melihat kebahagiaan di wajah ibunya. Meski hidup sederhana di kampung, wanita tua itu selalu terlihat bahagia setiap kali anak dan cucunya datang.
Malam harinya mereka makan bersama di ruang tengah dengan lauk ikan goreng, sambal terasi, dan sayur bening hasil kebun belakang rumah.
“Irwan nggak ikut?” tanya ibunya.
“Lagi sibuk kerja, Bu.”
Ibunya mengangguk pelan.
“Syukurlah kalau usahanya makin maju.”
Sulis tersenyum bangga saat mendengar itu.
“Iya, Bu. Sekarang pesanan Mas Irwan banyak banget.”
“Bagus kalau begitu. Kalian dulu susah sekali.”
Kalimat itu membuat Sulis terdiam sesaat.
Memang benar. Dulu mereka hidup pas-pasan. Namun sekarang keadaan mulai berubah. Sulis merasa semua perjuangan mereka akhirnya terbayar.
Setelah makan malam, Sulis duduk di teras rumah sambil menikmati udara desa yang dingin. Langit tampak penuh bintang, jauh berbeda dengan kota yang ramai dan sesak.
Ponselnya tiba-tiba bergetar.
Nama Irwan muncul di layar.
Senyum kecil langsung terbit di bibir Sulis.
“Udah sampai?” tanya suara Irwan dari seberang telepon.
“Udah dari tadi.”
“Anak-anak?”
“Lagi main sama Neneknya.”
Irwan terdengar tertawa kecil.
“Pasti seneng banget mereka.”
“Hm.”
Beberapa detik mereka sama-sama diam.
“Aku kangen,” ucap Irwan tiba-tiba.
Wajah Sulis langsung memerah tipis meski tak terlihat.
“Baru juga beberapa jam.”
“Ya tetep aja.”
Sulis tersenyum kecil sambil memandangi langit malam.
Angin malam desa berhembus pelan menerbangkan aroma sawah yang basah setelah hujan sore tadi. Sulis masih duduk di teras rumah ibunya sambil memegang ponsel di telinga.
“Aku serius kangen,” ulang Irwan dari seberang sana.
Sulis tersenyum kecil.
“Mas tuh ya...”
“Kenapa?”
“Kayak baru pacaran.”
Irwan tertawa pelan. Suaranya terdengar lelah, tetapi tetap hangat seperti biasa.
“Memangnya salah kalau suami kangen istrinya sendiri?”
“Nggak salah.”
“Nanti kalau kerjaan udah agak longgar aku nyusul ke sana.”
“Hati-hati di jalan kalau malam.”
“Iya, Bu.”
Percakapan sederhana itu membuat hati Sulis terasa tenang. Setelah beberapa menit mengobrol, sambungan telepon akhirnya ditutup karena Irwan harus kembali bekerja.
Sulis memandangi layar ponselnya sesaat sebelum menghela napas kecil.
Ia benar-benar bersyukur dipertemukan dengan pria seperti Irwan.
Meskipun hidup mereka pernah sulit, tidak sekali pun Sulis menyesal menikah dengannya.
“Masih pacaran aja kalian itu.”
Suara ibunya membuat Sulis menoleh sambil tersenyum malu.
Wanita tua itu berjalan pelan membawa dua gelas teh hangat lalu duduk di samping putrinya.
“Bapakmu dulu nggak pernah romantis,” celetuknya sambil terkekeh kecil.
Sulis tertawa pelan.
“Irwan memang suka gombal dari dulu.”
Ibunya memandang wajah Sulis beberapa detik sebelum tersenyum tipis.
“Ibu senang lihat kamu bahagia.”
Kalimat sederhana itu membuat dada Sulis terasa hangat.
Selama ini ibunya selalu khawatir karena Sulis menikah dengan laki-laki yang ekonominya pas-pasan. Namun sekarang keadaan mereka jauh lebih baik.
“Alhamdulillah sekarang usaha Mas Irwan maju,” ucap Sulis pelan.
“Iya. Tapi ingat, Lis...” ibunya menatap jauh ke halaman gelap depan rumah. “Kalau laki-laki mulai berhasil, biasanya godaannya juga makin banyak.”
Senyum di wajah Sulis sedikit memudar.
“Ah Ibu ngomong apa sih.”
“Ibu cuma ngingetin.”
Sulis terkekeh kecil lalu menyandarkan kepala di bahu ibunya.
“Irwan nggak begitu orangnya.”
Ibunya tidak menjawab lagi. Wanita tua itu hanya mengusap kepala Sulis pelan seperti saat ia masih kecil dulu.
Keesokan paginya suasana rumah langsung ramai oleh suara anak-anak.
Dito sudah berlari keluar sejak pagi untuk bermain layangan bersama anak-anak kampung, sementara Rara sibuk mengikuti neneknya ke dapur.
“Nenek bikin apa?”
“Pisang goreng.”
“Aku mau bantu!”
Sulis yang sedang menyapu halaman hanya bisa tertawa melihat putrinya sibuk sendiri membawa tepung ke mana-mana.
Udara desa terasa begitu menenangkan. Tidak ada suara kendaraan ramai, tidak ada bunyi mesin printer atau telepon klien seperti di kota.
Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Sulis merasa benar-benar rileks.
Beberapa tetangga mulai berdatangan menyapa.
“Eh Sulis pulang!”
“Kamu makin cantik sekarang.”
“Anakmu udah besar-besar ya.”
Sulis melayani obrolan mereka dengan ramah. Di kampung kecil itu, semua orang saling mengenal.
Menjelang siang, ponsel Sulis kembali berbunyi.
Nama Irwan muncul lagi.
“Kamu lagi apa?” tanya pria itu begitu telepon diangkat.
“Nyapu halaman.”
“Anak-anak?”
“Main.”
Suara bising kendaraan terdengar samar dari tempat Irwan berada.
“Kamu udah makan belum?”
“Belum. Ini baru mau masak sama Ibu.”
“Habis ini makan ya.”
Sulis tersenyum kecil. Bahkan dari jauh, Irwan masih cerewet soal hal-hal kecil seperti itu.
“Kamu sendiri?”
“Masih di luar. Mau ketemu klien.”
“Jangan lupa istirahat.”
“Iya.”
Sore harinya hujan turun deras mengguyur desa. Listrik sempat padam beberapa menit membuat Rara ketakutan.
“Mama... gelap.”
Sulis langsung memeluk putrinya sambil menenangkan.
“Nggak apa-apa sayang.”
Mereka akhirnya duduk bersama di ruang tengah ditemani lampu minyak kecil milik ibunya.
Dito mulai bercerita tentang layangan yang putus, sementara Rara tertidur di pangkuan neneknya.
Suasana sederhana itu membuat Sulis merasa damai.
Hingga tiba-tiba ponselnya berbunyi lagi.
Pesan dari Irwan.
Aku mungkin pulang malam. Ada meeting sama klien baru.
Sulis langsung membalas singkat.
Jangan lupa makan ya.
Tak lama kemudian balasan masuk.
Iya sayang...
Sulis tersenyum kecil melihat emoji hati yang disematkan di pesan itu.
Si sulis juga demen bgt masih betah am tu laki...
kalau kata aku sih biar saja mreka ,dan s istri minta talak 3 dan cari cuan sebanyak banyaknya tuk menyenangkan diri sendiri dan anak. Ngapain bertahan dg laki2 tdk setia. najis .