Kelvin, pria dingin dan pewaris perusahaan besar, terpaksa menikahi Denada atas permintaan sang nenek. Awalnya ia menolak karena masih mencintai wanita lain.
Namun setelah hidup bersama, Kelvin mulai tergoda oleh Nada istrinya yang cantik, jahil, dan selalu berhasil membuatnya kehilangan kendali, terutama saat Nada mulai berani menggoda dirinya.
Di tengah pernikahan tanpa cinta, Kelvin perlahan mulai bingung… siapa sebenarnya wanita yang benar-benar ia cintai.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mejiku, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
menerima lamaran
Matahari mulai tenggelam di ufuk barat, memancarkan semburat warna jingga yang hangat di atas langit Desa Sukamaju. Nada melangkah menyusuri jalan setapak menuju rumahnya dengan tas selempang yang mengayun santai di bahunya. Rumah itu sederhana, berdinding kayu jati yang kokoh dengan halaman luas yang dipenuhi tanaman herbal dan bunga-bunga potong. Sejak kecelakaan tragis yang merenggut nyawa kedua orang tuanya saat ia masih duduk di bangku SMA, rumah inilah tempat bernaungnya bersama Pakde dan Budhe yang telah merawatnya layaknya anak kandung sendiri.
"Assalamualaikum, Budhe, Pakde... Nada pulang," sapa Nada lembut sembari melepas sepatu flat yang dikenakannya di teras.
"Waalaikumussalam, Nduk. Sudah pulang? Sini langsung ke meja makan, Budhe sudah buatkan pisang goreng hangat," sahut Budhe Sumi dari arah dalam.
Nada tersenyum manis, rasa lelahnya setelah seharian mengobati warga seolah menguap begitu saja. Ia melangkah masuk dan mendapati Pakde Joko sedang duduk tenang di kursi kayu sembari membaca koran, sementara Budhe Sumi sibuk menata camilan. Namun, ada yang berbeda sore ini. Atmosfer di ruang tamu itu terasa sedikit lebih serius, dan sebuah amplop cokelat tebal tampak tergelatak di atas meja.
Budhe Sumi menatap Nada dengan pandangan yang sulit diartikan—campuran antara bimbang dan antusias. "Nada, sini duduk sebentar. Ada sesuatu yang ingin Budhe dan Pakde bicarakan."
Nada mengernyitkan alisnya kecil, namun tetap menurut. Ia duduk di antara kedua orang tua yang sangat dihormatinya itu. "Ada apa, Budhe? Kok wajahnya serius sekali?"
Budhe Sumi melirik suaminya sejenak sebelum akhirnya meraih amplop cokelat tersebut dan mengeluarkannya. Di dalamnya ada selembar foto dan beberapa berkas. Budhe menyodorkan foto itu ke hadapan Nada. "Nduk... tadi siang ada perwakilan keluarga besar dari kota yang datang ke rumah. Mereka datang untuk melamarmu. Ini foto pemuda itu."
Nada tertegun sejenak. Ia menerima foto tersebut. Di atas kertas foto premium itu, terpampang wajah seorang pria muda yang sangat tampan. Garis rahangnya tegas, tatapannya tajam menembus lensa kamera, dan auranya begitu dingin sekaligus berkuasa dalam balutan setelan jas hitam yang sangat mahal. Pria itu tampak sempurna, seperti seseorang yang berasal dari dunia yang berbeda jauh dengan dunianya.
"Dia... siapa, Budhe?" tanya Nada, matanya menatap foto Kelvin dengan pandangan yang sulit diartikan—ada rasa penasaran, namun juga ada tatapan misterius yang terpancar dari manik mata indahnya.
"Namanya Kelvin Alexander," jawab Budhe Sumi, suaranya agak merendah, seolah nama itu memiliki bobot yang berat. "Dia seorang CEO muda, penerus tunggal dari keluarga Alexander yang sangat terpandang di ibu kota. Ibu kandungnya sendiri yang meminta profilmu, Nduk. Katanya, mereka mencari wanita yang berhati tulus dan berpendidikan untuk mendampingi Kelvin."
Pakde Joko akhirnya melipat korannya dan menatap keponakan kesayangannya itu dengan tatapan teduh. "Pakde tahu, sejak kamu jadi dokter di sini, sudah tidak terhitung berapa banyak pemuda desa, guru, bahkan anak kepala daerah yang datang melamarmu dan semuanya kamu tolak halus. Jadi, untuk yang satu ini... semua keputusan ada di tanganmu, Nada. Pakde dan Budhe tidak akan memaksa. Kalau kamu merasa dunianya terlalu jauh dan ingin menolak, Pakde yang akan bicara baik-baik pada mereka."
Budhe Sumi menambahkan dengan nada khawatir, "Iya, Nduk. Budhe dengar keluarga Alexander itu konglomerat nomor satu. Budhe cuma takut kamu tidak terbiasa dengan kehidupan kota yang keras dan penuh aturan seperti itu. Tapi ibunya sangat berharap padamu."
Nada terdiam untuk beberapa saat. Jemarinya mengusap pinggiran foto Kelvin yang terasa kaku. Pria di dalam foto ini tampak memiliki segalanya, namun entah mengapa, di mata seorang dokter seperti Nada, ada kekosongan yang tersirat dari tatapan dingin Kelvin. Ada sebuah teka-teki yang seolah memanggilnya untuk dipecahkan. Nada tahu, kehidupan di kota besar bersama keluarga konglomerat akan sangat melelahkan, jauh dari kedamaian desa ini. Namun, di dalam hatinya, ada bisikan takdir yang kuat.
Setelah keheningan yang cukup panjang, Nada meletakkan foto itu kembali ke atas meja dengan gerakan yang sangat anggun. Ia menatap Pakde dan Budhenya secara bergantian dengan senyuman tenang, senyuman yang penuh dengan keyakinan baru.
"Pakde, Budhe... jika memang ini jalan yang dibukakan untuk Nada, dan jika mereka berniat baik..." Nada menjeda kalimatnya sejenak, membuat Budhe Sumi menahan napas penasaran. "...Nada menerima lamaran ini."
Pakde Joko dan Budhe Sumi terbelalak kaget, tidak menyangka bahwa gadis yang biasanya sangat selektif dan selalu menolak urusan pernikahan ini justru menerima pria kota yang sama sekali belum pernah ditemuinya.
"Kamu serius, Nduk? Kamu tidak takut?" tanya Budhe Sumi memastikan.
Nada menggeleng pelan, matanya kembali melirik foto Kelvin dengan kilatan misterius yang menawan. "Tidak, Budhe. Lagipula, mungkin sudah saatnya Nada melangkah keluar dari zona nyaman ini. Nada siap."
Malam kembali menyelimuti kediaman megah keluarga Alexander. Di ruang kerja pribadi Siska yang bernuansa klasik Eropa, Kelvin berdiri di dekat meja kaca dengan kedua tangan terbenam di saku celana bahan setelannya. Wajahnya mengeras, memancarkan ketidakpuasan yang nyata setelah sang ibu memanggilnya untuk sebuah pengumuman penting.
"Dia menerima lamarannya, Kelvin," ujar Siska dengan senyum kemenangan yang tak bisa disembunyikan dari wajahnya yang terawat. "Gadis desa itu, Dokter Denada, setuju untuk menikah denganmu. Eyangmu sudah mendengar kabarnya dan beliau sangat puas."
Kelvin mendengus sinis, tawa meremehkan lolos dari sela bibirnya yang terkatung rapat. Ia membuang muka ke arah jendela besar yang menampilkan gemerlap lampu taman. "Tentu saja dia menerima, Mama. Wanita mana yang akan menolak ketika disodori nama besar Alexander? Pada akhirnya, perempuan desa yang Mama puji-puji itu sama saja dengan yang lain. Dia hanya menginginkan harta dan status sosial kita. Dia memanfaatkan kesempatan ini untuk keluar dari kemiskinannya."
Siska menghela napas, melipat tangannya di dada sambil menatap putra tunggalnya dengan pandangan mencela. "Jaga bicaramu, Kelvin. Jangan menyamakan semua orang dengan model ambisiusmu itu. Denada itu seorang dokter. Di desanya, dia punya klinik sendiri, mengabdi, dan memiliki penghasilan yang lebih dari cukup untuk hidup mandiri. Dia bukan wanita pengemis harta yang seperti kamu bayangkan. Dia memiliki harga diri."
"Dokter desa tetaplah dokter desa, Mama. Di mataku, keputusannya menerima lamaran pria asing yang belum pernah ditemuinya hanya membuktikan bahwa dia wanita yang haus kekuasaan," desis Kelvin dingin, menolak untuk melunakkan sudut pandangnya. Tanpa pamit, sang CEO berbalik dan melangkah lebar meninggalkan ruangan ibunya, menyisakan hawa dingin yang menusuk.