NovelToon NovelToon
Mencintai Badai

Mencintai Badai

Status: sedang berlangsung
Genre:Bad Boy / Crazy Rich/Konglomerat / Balas Dendam
Popularitas:5.4k
Nilai: 5
Nama Author: Anissah

Menyandang status janda di usia muda, bukan hanya sekali, tapi tiga kali. Membuatku membangun benteng pertahanan yang angker.

Bagiku, laki-laki hanyalah makhluk lemah yang datang untuk memanfaatkan atau meninggalkanku. Keangkuhan itu menjadi perisai utamaku.

Sampai hari itu, ketika ego tinggiku berhadapan dengan mas Barraq, seorang pemuda keturunan berada yang dengan berani mengutarakan ketulusannya padaku.

Dengan lidahku yang tajam, kulontarkan kalimat-kalimat penuh racun yang meremukkan harga dirinya. Aku menghakiminya seolah dia tidak punya hak untuk mencintai wanita berpengalaman sepertiku.

Dadaku sesak oleh rasa bersalah yang teramat sangat. Di tangan pemuda yang dulu kuanggap remeh inilah, titik balik hidupku terpampang nyata.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anissah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Eps 4. Merasa terintimidasi

“Barraq mana, Dea?” tanya seseorang tiba-tiba, saat aku tengah membantu waiters mengantarkan pesanan.

Kedudukanku di sini, di atasnya manager. Mungkin disebut manager operasional ya? Aku mengawasi dan menerima laporan dari lima manager di lima cabang coffee shop yang ada di Jakarta saja.

Katanya sih ini bukan coffee shop miliknya sendiri, ini milik kakeknya dan ia meneruskannya. Semata-mata karena agar ia memiliki kesibukan, setahuku.

Aku menoleh, setelah mengantarkan pesanan ke pelanggan. Aku setiap hari tidak pernah memakai seragam, aku hanya mengenakan dress bodycon atau dress press body berlengan panjang dan bawahnya juga panjang. Ditambah dengan apron berwarna coklat dengan logo dan nama coffee shop ini di bagian dada.

Aku suka sekali dengan dress bodycon, aku suka warna gelap juga. Aku banyak sekali mengoleksi dress tersebut dari warna dan bahan yang berbeda. Aku pun suka sekali dengan high heels, aku tiap hari mengenakannya dan aku memiliki koleksi high heels yang cukup banyak juga.

Di kampung aku sudah terbiasa dengan style hijab. Hanya saja, di sini aku terjerumus pergaulan. Ditambah lagi, endorsanku tidak hanya pakaian untuk wanita berhijab. Tapi juga banyak pakaian yang terbuka, bahkan endorse daster pun kuambil. Jadi, sebenarnya hijabku masih lepas pasang.

Nah, ini yang mas Barraq maksud. Ini adalah ayah kandungnya, mas Nadim Zain Akbar. Nama keluarganya memiliki nama akhiran Akbar semua, selain dirinya. Bosku itu hanya diberi nama Dhatu Barraq, yang aku tidak mengerti artinya apa.

“Iya, Mas,” sahutku dengan melangkah ke arahnya.

Usianya seperti tidak terpaut jauh dengan mas Barraq, tapi sepertinya beliau masih di atasku cukup jauh. Tapi rupanya masih amat keren dan awet muda.

Setelah aku tahu ia ayah kandungnya mas Barraq, aku jadi canggung menyebutnya dengan sebutan ‘mas’. Karena dulunya sepahamku ia kakaknya, jadi wajar dipanggil mas juga.

“Barraq mana, Dea?” Ia mengulangi pertanyaan yang sama.

“Mas Barraq lagi ngecek coffee shop di Jawa Tengah, Mas. Apa dia susah dihubungi?” tanyaku dengan tetap menghadap padanya yang duduk menghadap meja.

“Tak sih, belum hubungi. Saya kira dia di sini, sekalian mampir soalnya dekat bandara.” Ia berdehem sesaat. “Tolong, bawakan makanan berat dan air putih. Apa aja, Saya lapar,” pintanya kemudian.

Sepertinya beliau habis bepergian dari luar kota, atau luar negeri. Karena biasanya seperti itu. Aku kurang tahu statusnya memiliki istri atau tidak, tapi dia punya novel sendiri. Tanyakan ke author saja, hehe.

“Mau diantar ke sini, atau ke ruangan mas Barraq, Mas?” Aku memeluk nampan bekas aku mengantarkan pesanan pelanggan tadi.

“Ke ruangan si Dhatu Barraq kampret aja. Kalau kau udah tak sibuk, datangi Saya. Ada yang mau Saya tanyakan ke kau,” ujarnya sambil mengetuk rokoknya di atas asbak.

“Baik, Mas,” jawabku dengan berlalu pergi.

Pria semenawan itu, memiliki anak sekampret mas Barraq. Aku tidak bercanda, mas Nadim seperti laki-laki ‘green flag’. Kalian pasti mengerti lah bagaimana gambaran laki-laki green flag.

Tubuhnya bersih tanpa tato dan tindik. Pakaiannya rapi terus berkemeja dan celana formal. Ia seperti om-om bisnisman yang sukses dan tenang.

Aku tidak menyangka jika masa lalunya sesuram itu.

Ada beberapa menu makanan berat di sini, tapi aku hapal apa yang diinginkan mas Nadim. Karena itu saja yang biasanya ia pesan. Setelah aku mendapatkan menu untuknya dari dapur, aku mengantarnya ke ruangan mas Barraq yang kebetulan juga itu adalah ruanganku.

Di sini banyak barang-barangku, ini seperti rumah kedua untukku. Karena di apartemen hanya untuk ruang penyimpanan, tidur dan mandi saja.

“Ini silahkan, Mas.” Aku menyajikan makanan dan minuman yang ia inginkan di atas meja lebar depan sofa itu.

“Duduklah kau sini,” pintanya lirih. Ia tengah fokus pada ponselnya.

Aku jadi deg-degan, aku takut ditanya-tanya hal yang sensitif.

“Gimana, Mas?” tanyaku menuruti perintahnya.

Beliau mengambil sendok dan mulai menyuapkan makanan ke mulutnya sendiri, beliau terlihat tengah lapar.

Ia menelan makanannya, kemudian bersiap-siap akan buka suara. “Sejauh ini, Barraq dekat cuma sama kau ya?” tanyanya membuatku sedikit tersentak kaget.

Aku mengatur napasku dan mencoba tenang menghadapi ayah kandungnya mas Barraq ini. Aku tidak boleh salah berucap, pasti nantinya rumit. Karena keluarganya tukang ngadu semua. Dari mulut satu, pasti ke mulut yang lebih berkuasa nantinya.

“Sepertinya, iya,” jawabku seperlunya.

“Kakeknya Barraq…” beliau tersedak, buru-buru membuka tutup botol air mineral dalam kemasan itu. Kemudian, segera meneguknya.

Keceplosan.

Sudahlah pak Nadim, aku sudah tahu cerita aslinya.

“Maksud Saya, ayahnya Barraq minta Saya untuk menegaskan hubungan Barraq dengan perempuannya. Karena kan ini kota besar, apalagi kalian dekat udah dua tahun kan? Kan jangan sampai punya anak dulu gitu maksudnya,” ungkapnya dengan memandangku sekilas, kemudian fokus pada makanannya kembali.

Ohh, pantesan mas Barraq meminta kejelasan hubungan padaku. Karena ia ditekan oleh keluarganya ternyata.

“Masa iya punya anak dulu? Nikah aja belum,” ucapku dengan terkekeh sumbang.

Ehh, mati aku mendapat lirikan tajam itu. Tawaku langsung sirna dan aku membekap mulutku sendiri.

“Saya sih terang aja, biar kekhawatiran Saya nggak terjadi. Biar kau punya gambaran dan bisa jaga diri. Di keluarga kami punya cerita tentang anak di luar pernikahan dan tanpa pernikahan,” ungkapnya amat serius dengan sorot mata tajam menikam.

Aku takut dengan ayahnya mas Barraq ini. Aku seperti terintimidasi.

“Jadi, keluarga kami nggak mau kejadian serupa terulang kembali. Cukup sampai di situ aja cerita suramnya. Apalagi Saya dengar, katanya kalian satu apartemen ya? Kalian tidur di satu ranjang ya?” tuduhnya membuatku menegang.

Aku terpojokan baru begini saja.

“Biar Saya jelasin dulu, Mas.” Aku tiba-tiba gugup.

“Jadi ceritanya begini…” Aku mencoba mengingat kejadian setahun silam.

“Awal pertama Saya bekerja di sini, Saya banyak diarahkan oleh mas Barraq. Kebetulan juga, kami tinggal di tempat kost yang sama, hanya berbeda pintu aja. Pas awal juga, Saya udah tau nih kalau mas Barraq itu pemakai. Jadi pekerjaannya banyak yang dilimpahkan ke Saya. Saya selalu jadi sopirnya kemanapun dia pergi, karena memang keadaannya tengah ‘ngefly’ itu.” Aku membuat tanda kutip dengan kedua tanganku sendiri.

Beliau mengangguk berulang, kemudian lanjut makan kembali.

“Saya nol banget, Mas. Pendidikan Saya yang cuma D1, nggak sanggup dengan pekerjaan yang begitu banyaknya. Intinya Saya kaget awalnya. Terus kejadian mas Barraq ketangkap, ya Mas tau sendiri, bahkan Saya pun dimintai keterangan dan di tes juga. Lepas dia menjalani masa tahanan, Saya kan banyak tuh bolak-balik nemuin dia perihal menanyakan urusan pekerjaan, karena Saya belum bisa dilepas sendiri tuh. Ekonomi Saya membaik setahun kerja dengan tugasnya yang Saya handle semua itu. Keuangan Saya cukup untuk ambil apartemen, terus mas Barraq juga minta untuk barang-barang miliknya di kos sebelumnya di bawa ke apartemen Saya. Kebetulan juga apartemen Saya punya dua kamar, jadi memang kami tinggal di satu apartemen yang sama, tapi kami tidak satu kamar. Masalah pembayaran sewa apartemen pun, Saya membayar setengahnya. Sejak awal memang udah ada kesepakatan, saat barang-barangnya dipindahkan itu,” jelasku bermaksud agar ayah kandungnya mas Barraq yang merangkap menjadi kakaknya juga ini tidak salah paham.

“Terus tiga bulan belakangan setelah dia bebas ini kalian living together ya?” tuduhnya dengan senyuman miring seperti iblis.

Tak kusangka laki-laki yang aku sebut green flag tadi, bisa semenyeramkan itu senyumannya.

“Memang mas Barraq nggak cerita kah, Mas?” tanyaku dengan memainkan jemariku sendiri, karena aku amat gelisah mendapat intimidasi ini.

Aku takut dituduh yang bukan-bukan.

“Cerita tentang kalian living together? Dia bisa bohongi Saya, tapi kebaca sama ayahnya.” Ia menaruh sendok makannya, kemudian meneguk air mineralnya kembali.

Kakeknya ya maksudnya? Pasti sepak terjang kakeknya lebih bahaya, sampai ia bisa membaca cucunya yang dibilang ayahnya sendiri kampret itu.

“Bukan, Mas. Cerita tentang dia tinggal di rumah ibu kandungnya,” ungkapku kemudian.

Kali ini, beliau yang kaget. Wajahnya berubah kemerahan, seperti ada emosi yang tertahan di sana.

“Maksudnya?” tanyanya terlihat panik.

Ada apa ya dengan keluarga ini?

1
Batriani
tak sanggup ku berkata kata ingin mencela takut kualat pula aku ... jaga diri aja kau ya de' . dr awal udah kata urus cerai kau..... ya sudah lah ikutin aja kisah kau ama siberraq itu......
Christine
hahahaha itu jagung Afika dea....
Christine
astaga....rasanya gmna itu goyang sambil tlpn ora konsen ak mas
Miss F
urs de ceraimu
barrack jgn blg kamu badboy,,kyk mantan pcrnya adiknya canda,,ceria skalane😠😠
Miss F
jgn SMP de kamu cm dicicipi barrack tok tp g dtanggung jwbi...
Batriani
pak suami mana pak suami.... permainan apa ini, geli2 basah.....🤭
Miss F
KLO BNR garis 2 nangis loe de dipojokan🤣🤣🤣
Christine: 🤭🤭🤭🤭👍👍👍
total 3 replies
Christine
aku kok ikut menegang de
Christine
jangan.....ihhh ak mlh berdoa jgn ada yg dtng takut ihh tetiba digrebek ...
Rini qi
🫣
Fitri Ristina
suami mana suami...
Miss F
abis baca sidea koq JD cenat cenut🤣🤣🤣
Christine: 🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣 kesetrum say
total 1 replies
Miss F
de,,kamu dminta baik2 dksh status gakk mau malah milih yg haram😞
Christine
hahahaha serang balik de dibilangin kelamaan klu nungguin dia
Miss F
yg minum mas barrack ehhh authornya yg kena pngaruh alkohol jg JD mabok🤣🤣
Miss F
tak ingat kau de pesan ayah wiya n ayah bara😞
Batriani
wah...😟. jebol pertahanan nya...
Christine
wahhh besar uhhh aku kok ikut nahan de..ya ampun de bagi2 atuh de
Christine
hahahahaha....
Christine
pasti berasa banget ya de uhhhh Lala...
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!