(Tokoh utama Pria+Wanita)
Raka Pradipta adalah seorang suami yang selama menikah hanya menjadi alat penghasil uang bagi keluarga istrinya, ia di paksa membiayai kehidupan seluruh keluarga istrinya. Tapi karena rasa cinta yang sangat besar Raka menjalani kehidupannya dengan sepenuh hati tanpa mengeluh sedikitpun. Namun, ketika sebuah kenyataan pahit menghantamnya, rasa sayang yang selama ini hanya ia simpan untuk istrinya lenyap seketika ketika istrinya lebih memilih berkhianat dengan seorang pria yang lebih segalanya darinya, Raka pun di paksa menceraikan sang istri lalu ia di usir tanpa hormat oleh keluarga istrinya itu.
Namun, tak ada yang menyangka jika Raka adalah seorang anak dari penguasa jaringan bisnis di negaranya, dan apakah identitas aslinya itu akan di ketahui keluarga mantan istrinya?
ayo simak cerita baru author yang satu ini, semoga para reader suka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mochamad Fachri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
4. Pulangnya Tuan Muda keluarga Pradipta
Jono beberapa kali melirik ke arah sahabatnya dengan perasaan campur aduk. Sampai sekarang, pikirannya masih belum mampu menerima semuanya sekaligus.
Raka yang selama ini hidup sederhana ternyata pewaris Pradipta Grup, lalu pengkhianatan Rasti yang begitu terang-terangan, dan kini keputusan Raka untuk meninggalkan rumah itu seolah tanpa keraguan sedikitpun.
“Ka...” panggil Jono pelan.
Raka menoleh perlahan. “Hm?”
“Kamu nggak apa-apa?”
Pertanyaan itu membuat Raka terdiam sesaat. Ia menatap keluar jendela sebelum akhirnya tersenyum tipis.
“Nggak,” jawabnya jujur. “Kayaknya aku cuma capek aja, Jo.”
Jawaban sederhana itu justru membuat dada Jono terasa sesak, selama mengenal Raka, pria itu hampir tidak pernah mengeluh. Bahkan ketika dihina, diperlakukan tidak adil, atau diperas tenaga dan uangnya, Raka selalu berusaha terlihat baik-baik saja.
“Kalau aku jadi kamu,” gumam Jono sambil menggeleng pelan, “mungkin dari tadi udah ngamuk.”
Raka terkekeh kecil, tetapi tawa itu terdengar hambar. “Percuma marah pun, Jo,” katanya pelan
Ucapan itu membuat suasana kembali hening, Jack yang duduk di depan hanya diam mendengarkan,m Namun dari kaca spion, ia dapat melihat dengan jelas bahwa ada sesuatu yang berbeda dari tuan mudanya malam ini.
Selama bertahun-tahun, Raka selalu menolak kembali pada kehidupan lamanya, menolak jabatan, fasilitas, dan pengaruh besar keluarganya demi wanita yang ia cintai. Tapi malam ini, untuk pertama kalinya, Jack melihat sorot mata yang sempat hilang itu kembali muncul, tatapan dingin sang pewaris.
Mobil akhirnya berhenti di depan sebuah rumah sederhana di pinggiran kota. “Rumahku di sini,” ucap Jono pelan.
Namun sebelum turun, pria itu menoleh ke arah Raka dengan ragu. “Ka... satu pertanyaan terakhir.”
Raka mengangguk kecil.
“Kamu beneran pewaris Pradipta Grup?”
Beberapa detik hening sebelum Raka mengangguk pelan. “Iya.”
Jono langsung mengusap wajahnya kasar sambil tertawa kecil tidak percaya. “Gila...” gumamnya. “Berarti selama ini gue ngajak anak konglomerat ngaduk semen?”
Raka tersenyum tipis. “Dan itu pekerjaan paling tenang yang pernah aku rasain, Jo,” jawabnya.
Kalimat itu membuat Jono ikut tertawa, meski matanya tampak berkaca-kaca. “Jangan berubah ya, Ka,” katanya lirih. “Buatku, kamu tetap Raka yang sama.”
Raka mengangguk kecil sebelum menepuk pundaknya. “Makasih, Jo. Kamu udah mau jadi sahabatku selama ini.”
Jono turun dari mobil, tetapi sebelum pintu tertutup, ia kembali menatap Raka serius. “Kalau suatu hari orang-orang itu menyesal kehilangan kamu...” katanya pelan, “aku harap mereka nggak gangguin kamu lagi.”
Raka tidak menjawab. Ia hanya tersenyum tipis sebelum pintu tertutup kembali.Mobil kembali melaju denga pelan.
Kini suasana terasa jauh lebih sunyi, Jack melirik ke arah kaca spion beberapa kali sebelum akhirnya membuka suara. “Tuan muda, Tuan Rendra sebenarnya sudah menunggu hari ini sangat lama sekali.”
Raka menyandarkan kepalanya ke kursi sambil memejamkan mata sejenak. “Aku tahu.”
“Beliau sangat marah,” lanjut Jack hati-hati. “Terutama setelah tahu bagaimana kehidupan Tuan selama ini.”
Raka membuka mata perlahan. “Papa masih sama seperti dulu?”
Jack tersenyum kecil. “Masih keras kepala. Tapi akhir-akhir ini lebih sering diam.”
“Dan Mama?”
Ekspresi Jack berubah sedikit serius. “Nyonya Shanum sering sakit-sakitan, beberapa kali beliau menolak makan dan terus meminta kabar Tuan muda.”
Raka terdiam dan pikirannya langsung tertuju ada sang Ibu.
Entah kenapa, kalimat itu terasa jauh lebih menyakitkan dibandingkan dengan penghinaan yang baru saja ia alami.
Mobil melaju memasuki kawasan pusat kota, gedung-gedung tinggi mulai mendominasi pemandangan. Jalanan berubah lebih lengang ketika kendaraan itu memasuki area elite yang dijaga begitu ketatnya.
Beberapa menit kemudian, mobil perlahan berhenti di depan gerbang besar berwarna hitam dengan lambang emas megah di bagian tengahnya.
Pintu gerbang otomatis terbuka perlahan, di baliknya berdiri sebuah mansion besar yang diterangi cahaya lampu hangat, megah, luas, dan terasa begitu asing sekaligus akrab bagi Raka.
Jack menarik napas pelan sebelum berkata, “Selamat datang kembali di rumah, Tuan muda.”
Namun tepat ketika Raka hendak membuka pintu mobil, sebuah mobil sport merah melaju cepat dari arah dalam mansion lalu berhenti mendadak di depan mereka.
Pintunya terbuka kasar, seorang wanita muda berpenampilan elegan turun dengan langkah cepat, wajahnya terlihat dingin dan penuh emosi.
Begitu melihat Raka, wanita itu langsung berjalan mendekat tanpa basa-basi. “Jadi akhirnya kamu pulang juga?” ucapnya tajam.
Raka mengernyit pelan, karena wanita itu adalah seseorang yang paling tidak ingin ia temui malam ini.
Raka menatap wanita itu beberapa saat tanpa banyak perubahan ekspresi. Wajah yang selama bertahun-tahun tidak ia lihat itu masih sama, tegas, anggun, dan selalu membawa aura dingin yang sulit didekati.
“Selina?” gumam Raka pelan.
Wanita itu berhenti tepat di depan mobil, kedua tangannya terlipat di dada. Tatapannya naik turun mengamati penampilan Raka yang sederhana, kaus biasa, celana lusuh, dan sandal yang bahkan terlihat mulai usang.
“Hebat,” ucapnya dingin. “Kamu benar-benar memilih menghilang bertahun-tahun hanya demi hidup bersama wanita jalang itu?”
Jack langsung menundukkan kepala kecil. Bahkan dirinya tahu hubungan keduanya tidak pernah benar-benar baik.
Selina Wijaya bukan orang biasa, ia putri tunggal keluarga Wijaya Group sekaligus wanita yang dulu sempat dijodohkan dengan Raka oleh kedua keluarga besar mereka. Namun pertunangan itu tidak pernah terjadi karena Raka memilih meninggalkan semuanya demi menikahi Rasti.
Raka membuka pintu mobil lalu turun perlahan. “Aku datang bukan untuk cari ribut,” katanya tenang.
Selina tertawa pendek tanpa humor. “Lucu,” balasnya cepat. “Setelah membuat Tante Shanum sakit sampai beberapa kali masuk rumah sakit, terus membuat Om Rendra hampir perang sama keluarga besar karena nolak penerus lain, kamu muncul tiba-tiba begitu saja?”
Tatapan Raka sedikit berubah ketika nama ibunya disebut. “Aku mau ketemu Mama dulu.”
“Tentu saja,” sahut Selina dingin. “Karena kondisinya semakin buruk sejak dua hari terakhir.”
Kalimat itu membuat langkah Raka terhenti. “Apa maksud mu?”
Untuk pertama kalinya, ekspresi Selina terlihat sedikit melunak. “Tante terus menunggu mu untuk pulang,” ucapnya pelan. “Dia bahkan masih membuat kamar mu seperti dulu. Setiap malam ia selalu bilang kalau anaknya pasti pulang.”
Dada Raka terasa sesak, rasa bersalah yang selama ini ia tekan mendadak menyeruak begitu saja. Jack akhirnya membuka pintu lebih lebar.
“Tuan muda, Tuan Rendra sedang di ruang kerja. Tapi Nyonya Shanum masih berada di kamar utama.”
Tanpa berkata apa-apa lagi, Raka langsung melangkah cepat masuk ke dalam mansion.
Lorong rumah besar itu terasa asing sekaligus familiar. Dinding marmer, lampu gantung besar, aroma khas kayu mahal, semuanya masih sama seperti bertahun-tahun yang lalu. Bahkan beberapa pelayan yang melihat kedatangannya tampak langsung menunduk dengan wajah terkejut.
“Tuan muda...”
“Selamat malam, Tuan muda.”
Namun Raka tidak berhenti, langkahnya semakin cepat menuju lantai dua. Di belakangnya, Selina berjalan sambil menghela napas panjang.
“Kamu tetap keras kepala,” gumamnya pelan.
Beberapa saat kemudian, Raka berhenti di depan sebuah pintu besar berwarna putih, tangannya menggantung di udara sesaat. Entah kenapa, untuk pertama kali setelah bertahun-tahun, ia merasa sangat gugup.
Perlahan, tangannya menyentuh gagang pintu.
Klik.
Pintu pun terbuka pelan, ruangan itu remang dengan lampu tidur menyala samar. Di atas ranjang besar, seorang wanita paruh baya terlihat tertidur dengan wajah pucat. Tubuhnya tampak jauh lebih kurus dibanding terakhir kali Raka mengingatnya.
Di samping ranjang, terdapat foto keluarga lama yang sudah sedikit berdebu.
hal itu membuat langkah Raka terasa berat.
“Mama...” panggilnya lirih.
Wanita itu perlahan membuka mata, tatapannya tampak kosong beberapa detik, sampai akhirnya berhenti pada sosok yang berdiri di dekat pintu.
Tubuhnya langsung membeku, bibirnya bergetar pelan.
“Ra... Raka?”
Suara itu begitu pelan, penuh ketidakpercayaan, detik berikutnya, air mata jatuh begitu saja dari sudut matanya.
kite cuhi2 waktu bace
masih sj menyalahkan raka
pdhal! sjk nikah raka jd sapi perah di kel rasti, tp msh tetep diam sj
Hati hati Doni mending ditabung saja, kalau perlu deposito kan.
hati 2 lo ilang, lagian raka bukannya kasih ATM sj lbh simpel ya, ni dion pergi2 bw uang banyak lo, takutnya di smbil. nenek. lampir
siap2 ya farhan km nanggung hutang jel rasti🤣🤣🤣puyeng puyeng deck km