Di tengah hutan terlarang yang selalu dijauhi manusia, seorang gadis yatim piatu bernama Evelyn Eirwen hidup sendirian dalam kesunyian. Hidupnya sederhana mencari tanaman obat, berburu, dan bertahan hidup di gubuk kecil peninggalan ibunya.
Hingga pada suatu malam badai, Evelyn menemukan seorang pria misterius bersimbah darah di tepi sungai. Pria itu pendiam, dingin, dan penuh luka aneh yang tidak pernah Evelyn lihat sebelumnya. Meski takut, Evelyn tetap merawatnya dengan tulus tanpa mengetahui siapa dirinya sebenarnya.
Namun Evelyn tidak sadar. Pria yang ia selamatkan adalah Evander Nocturne Raja Vampir berdarah murni yang ditakuti seluruh dunia malam.
Bagi Evander, manusia hanyalah makhluk lemah yang pantas dibenci. Tetapi kehangatan sederhana dari seorang gadis hutan perlahan menghancurkan dinding dingin yang telah ia bangun selama ratusan tahun.
Sampai suatu hari Evelyn menghilang. Dan malam itu, seluruh dunia akhirnya mengetahui satu hal mengerikan. Raja Vampir telah murka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NisfiDA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Aroma Asing Datang
“Kamu sudah datang?” tanya Evelyn dengan suara seraknya.
Gadis itu baru saja terbangun dari tidurnya.
Rambutnya terlihat sedikit berantakan, sementara matanya masih setengah terbuka karena mengantuk. Evander berdiri tidak jauh dari sana sambil menatap Evelyn dalam diam.
Namun belum sempat dia menjawab.
Tiba-tiba tatapan Evander berubah tajam. Hidungnya menangkap aroma asing.
Aroma vampir.
Dan jumlah mereka lebih dari satu.
Seketika mata merah gelap milik Evander menyala samar. Aura dingin yang sebelumnya tenang langsung berubah menyesakkan.
Tatapannya mengarah lurus ke luar gubuk.
“Ada apa?” tanya Evelyn bingung saat melihat perubahan ekspresi pria itu.
Namun Evander tidak langsung menjawab.
Dia terus memperhatikan arah luar dengan tatapan dingin dan penuh kewaspadaan.
Beberapa detik kemudian, Evander menoleh ke arah Evelyn.
Tatapannya kini berbeda. Lebih gelap. Lebih mengintimidasi.
“Diam di sini dan jangan keluar,” ucapnya rendah.
“Hah?”
Evelyn semakin bingung.
“Tapi—”
“Jangan keluar,” ulang Evander lebih tegas.
Untuk pertama kalinya sejak mereka bertemu, nada suara pria itu terdengar begitu dingin hingga membuat Evelyn terdiam.
Evander lalu berjalan menuju pintu gubuk.
Baru saja tangannya menyentuh gagang pintu—
Brak!
Pintu gubuk tiba-tiba terbuka dengan kasar dari luar. Angin dingin langsung masuk menerpa ruangan.
Evelyn refleks terkejut. Dan di depan gubuk itu. Berdiri tiga pria berpakaian hitam dengan mata merah menyala.
Tatapan mereka langsung tertuju pada Evander. Wajah ketiga pria itu tampak terkejut sekaligus tegang.
“Yang Mulia…” ucap salah satu dari mereka pelan sambil menundukkan kepala.
Sementara Evelyn membeku di tempat.
Yang Mulia…?
“Kembali ke kastel,” ucap Evander dingin.
Suasana di depan gubuk langsung terasa mencekam.
Ketiga pria berpakaian hitam itu tetap menundukkan kepala dalam diam. Bahkan tidak ada satu pun dari mereka yang berani menatap langsung ke arah Evander.
“M-maaf, Yang Mulia,” ucap salah satu pria dengan suara hati-hati. “Tapi kami sangat susah menemukan keberadaan Anda beberapa hari ini. Dan akhirnya kami menemukan Anda di sini.”
Tatapan Evander semakin dingin.
“Aku bilang kembali,” bentaknya tajam.
Aura mengerikan langsung memenuhi sekitar gubuk hingga angin di sekitar mereka bergerak kuat.
“Datang jika aku memanggil kalian.”
Ketiga pria itu langsung menegang.
“Baik, Yang Mulia.”
Walaupun terlihat enggan, mereka tetap tidak berani membantah perintah Evander.
Namun sebelum pergi, salah satu dari mereka sempat melirik ke arah dalam gubuk. Tatapannya berhenti pada Evelyn yang masih berdiri membeku di dekat perapian.
Mata pria itu sedikit membesar.
Manusia?
Dan lebih mengejutkannya lagi. Manusia itu masih hidup di dekat Raja Vampir mereka.
Padahal biasanya, siapa pun yang terlalu dekat dengan Evander Nocturne pasti sudah mati sejak lama.
Tatapan pria itu perlahan berubah penuh keterkejutan. Namun belum sempat dia mengatakan sesuatu.
“Pergi.”
Suara Evander terdengar sangat dingin.
Seketika ketiga vampir itu langsung menghilang dari tempat mereka berdiri.
Sunyi.
Hanya suara angin hutan yang tersisa.
Sementara di dalam gubuk, Evelyn masih mematung dengan wajah kebingungan. Tatapannya perlahan mengarah pada Evander.
“Yang Mulia…?” gumamnya pelan. “Mereka tadi memanggilmu Yang Mulia…”
Evander sedikit menoleh, tetapi tidak sepenuhnya menghadap Evelyn. Wajahnya kembali dingin dan sulit ditebak.
“S-sebenarnya, siapa kamu?” tanya Evelyn pelan.
Suasana di dalam gubuk mendadak terasa sunyi.
Evelyn masih teringat jelas bagaimana ketiga pria tadi menundukkan kepala kepada Evander dengan penuh ketakutan.
Mereka bahkan memanggilnya “Yang Mulia”.
Itu jelas bukan panggilan biasa.
Belum lagi.
Mata merah mereka.
Dan cara mereka menghilang begitu saja.
Evelyn perlahan menggenggam ujung bajunya sendiri. Entah kenapa, jantungnya mulai berdetak sedikit lebih cepat.
Sementara itu, Evander tetap berdiri membelakangi Evelyn. Beberapa detik berlalu sebelum akhirnya dia membuka suara.
“Bukan seseorang yang perlu kau ketahui.”
Jawaban itu membuat Evelyn sedikit terdiam.
“Tapi mereka mencarimu,” ucap Evelyn lirih. “Dan mereka terlihat takut padamu…”
Evander perlahan memejamkan matanya sesaat.
“Aku hanya seseorang dari dunia yang berbeda denganmu.”
Kalimat itu justru membuat Evelyn semakin bingung.
Dunia berbeda? Apa maksudnya?
Perlahan, Evander akhirnya menoleh menatap Evelyn. Mata merah gelap itu terlihat begitu tenang, tetapi juga terasa sangat jauh.
“Evelyn,” panggilnya rendah.
Gadis itu refleks menatap Evander.
“Jika kau tahu siapa aku sebenarnya…” ucap Evander pelan. “Mungkin kau tidak akan membiarkanku tinggal di sini lagi.”
Evelyn sedikit membeku mendengar ucapan itu.
Untuk pertama kalinya. Dia merasa ada sesuatu yang sangat besar sedang disembunyikan oleh pria bernama Evander Nocturne itu.
Masih tercium aroma asing. Namun kali ini aromanya sangat jauh. Evander berdiri diam sambil menatap ke arah pepohonan di luar gubuk.
Walaupun hari masih siang dan cahaya matahari memenuhi hutan, indra vampirnya tetap bisa merasakan keberadaan para makhluk malam yang berkeliaran di wilayah ini.
Tatapan mata merahnya perlahan berubah dingin. Hutan ini terlalu berbahaya bagi manusia biasa seperti Evelyn.
Selama ini, banyak klan vampir melewati wilayah hutan terlarang ini secara diam-diam. Beberapa dari mereka bahkan menjadikan tempat ini sebagai area berburu.
Dan anehnya, Evelyn masih hidup sendirian di sini sampai sekarang.
“Kau seharusnya tidak tinggal di hutan ini,” ucap Evander tiba-tiba.
Evelyn yang sedang merapikan buah-buahan di meja langsung menoleh bingung.
“A-apa maksudmu?”
Evander berjalan mendekati jendela kecil gubuk lalu menatap ke arah luar.
“Hutan ini tidak aman untuk manusia.”
Nada suaranya terdengar serius. Namun Evelyn justru terlihat heran.
“Aku sudah tinggal di sini sejak kecil,” jawabnya pelan. “Tidak pernah terjadi apa-apa.”
“Itu karena kau beruntung.”
Evelyn sedikit terdiam. Tatapan Evander perlahan kembali mengarah kepadanya.
“Ada banyak makhluk berbahaya di tempat ini,” lanjutnya pelan. “Dan mereka tidak akan ragu membunuh manusia.”
Jantung Evelyn sedikit berdegup aneh mendengar ucapan itu. Cara Evander berbicara terasa terlalu serius untuk dianggap bercanda.
“Tapi…” Evelyn menggenggam pelan ujung bajunya. “Aku tidak punya tempat lain untuk pergi.”
Kalimat itu membuat Evander terdiam.
Tatapannya perlahan menyapu seluruh isi gubuk kecil itu. Tempat sederhana ini. Adalah satu-satunya rumah yang dimiliki Evelyn.
Evander tiba-tiba menyadari sesuatu. Tatapan matanya perlahan terangkat ke arah cahaya langit di luar jendela.
Hari ini.
Bulan purnama akan muncul. Dan itu berarti banyak vampir akan keluar malam nanti.
Beberapa dari mereka bahkan kehilangan kendali saat malam bulan purnama tiba. Tatapan Evander langsung berubah lebih dingin.
“Malam ini, kau tidak usah keluar,” ucapnya tiba-tiba.
Evelyn yang sedang menyusun buah di meja langsung menoleh bingung.
“K-kenapa?”
Evander terdiam beberapa detik sebelum akhirnya menjawab rendah,
“Malam yang berbahaya bagi manusia.”
Evelyn sedikit mengernyit.
“Maksudmu hewan buas?”
“Lebih berbahaya dari itu.”
Jawaban singkat itu membuat suasana mendadak terasa aneh.
Evelyn tidak benar-benar mengerti apa yang dimaksud Evander. Namun cara pria itu berbicara membuatnya merasa serius.
“Aku memang biasanya tidak keluar malam terlalu jauh,” ucap Evelyn pelan. “Hutan akan sangat gelap saat bulan purnama.”
Evander menatapnya cukup lama.
Jika Evelyn mengetahui bahwa monster yang sebenarnya bukan berada di kegelapan hutan. Melainkan berkeliaran di antara bayangan malam.
“Malam ini kunci semua pintu dan jendela,” ucap Evander lagi. “Dan jangan membuka pintu untuk siapa pun.”
Evelyn mulai merasa sedikit gugup.
“Kamu membuatku takut…”
Untuk sesaat, Evander terdiam. Tatapan merah gelapnya perlahan melembut samar saat melihat wajah cemas Evelyn.
“Aku hanya tidak ingin kau terluka,” ucapnya pelan.