Semua berawal dari malam ia melarikan diri dari kejaran prajurit kerajaan. Dia dan ibunya berlari terpisah di tengah kekacauan kota. Karena terburu-buru, sang ibu tak menyadari bahwa ia tertinggal.
Keringat dingin membasahi punggungnya. Ia tersesat, berlari tanpa arah di lorong-lorong gelap yang asing. Dan sialnya, di setiap ujung jalan, bayang-bayang prajurit mulai mengepungnya.
Tepat sebelum tangan kasar seorang prajurit menyentuh kerah bajunya, tiba-tiba mereka berjatuhan. Satu per satu, tanpa suara. Sany berdiri di depannya, dengan ujung jari telunjuk masih teracung ke depan.
Setelah mengantarnya ke tempat yang aman, Sany memberinya beberapa emas dan pergi begitu saja. Tanpa nama. Tanpa alasan. Tanpa janji.
Tapi dia, tak akan pernah melupakan siapa yang menyelamatkannya malam itu.
Dan suatu saat nanti... ia yakin akan menemukan bertemu lagi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sizzz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Latihan
Kemudian, mereka senam.
Aisa berdiri di tanah lapang. Dedaunan kering berhamburan di sekelilingnya.
Ia mulai melakukan gerakan peregangan, menggerakkan leher, memutar bahu, meregangkan tangan ke langit, lalu membungkuk menyentuh tanah.
Mizuki mengikuti.
Tangan mungilnya susah payah mencapai tanah. Kakinya masih kaku. Aisa tidak mengomentari. Hanya terus bergerak, dan Mizuki mengikuti.
Perlahan, tubuh Mizuki mulai hangat. Otot-ototnya yang semalam dingin mulai merespon. Napasnya menjadi lebih teratur.
Selesai pemanasan, Aisa berjalan mendekat.
Dari saku belakangnya, ia mengeluarkan beberapa lembar kertas kecil. Tipis, berwarna putih dan ada tulisan aneh yang tidak dikenali Mizuki.
Satu per satu, Aisa menempelkan kertas itu di tubuh Mizuki.
Punggung. Paha. Lengan. Betis. Bahu.
Seketika.
"Apa ini?"
Mizuki tersentak. Kedua lututnya hampir menekuk. Dadanya terasa seperti ditimpa sesuatu yang tidak terlihat. Bahunya tertekan ke bawah. Napasnya jadi lebih berat.
"Kenapa tubuhku terasa berat?" tanya Mizuki keheranan.
Keningnya berkeringat padahal belum mulai apa-apa.
Aisa tidak menjawab.
Ia mundur tiga langkah. Matanya meneliti Mizuki dari ujung rambut hingga ujung kaki. Lalu ia tersenyum tipis, senyum yang tidak bisa ditebak apakah itu kedengkian atau kebanggaan.
"Kertas itu," Aisa menjelaskan dengan suara santai, "adalah beban yang harus kau bawa saat latihan,"
Mata Mizuki membulat. Mulutnya terbuka setengah, tapi kata-katanya seperti tersangkut di tenggorokan.
"Apa?! Aku latihan sambil membawa beban ini?"
Suaranya meninggi. Bukan protes. Lebih seperti tidak percaya. Rasanya sudah berat untuk sekedar berdiri, apalagi berlari, apalagi melewati rintangan.
"Iya. Sekarang mulai berlari di rintangan yang sudah kusiapkan,"
Aisa menunjuk ke depan.
Mizuki menelan ludah.
Ia menoleh ke arah jari Aisa. Dan perlahan, matanya menyusuri satu per satu pemandangan di hadapannya.
Pertama, ia harus lari melewati akar pohon yang naik ke atas dan ke bawah, seperti gelombang ombak yang membatu.
Ia harus melompati akar pohon itu agar tidak terjatuh. Sekali kakinya tersangkut, beban di tubuhnya akan membuat wajahnya membentur tanah.
Kedua, dahan-dahan pohon yang menghalangi jalan, rendah dan lebat. Mizuki harus merangkak. Perutnya bergesekan dengan tanah, dan dengan beban di tubuhnya, setiap sentimeter terasa seperti satu kilometer.
Ketiga, papan titian tinggi di atas parit kecil yang dilubangi air keruh. Satu langkah salah, dan kakinya akan terperosok ke dalam lumpur dingin.
Keempat, ia harus naik pohon. Bukan pohon biasa, pohon dengan sedikit dahan dan kulit yang licin terkena embun pagi. Di atasnya, sebuah bendera kecil berkibar.
Dan setelah itu...
Sebuah bukit.
Bukan bukit biasa. Tanahnya merah, kering, dan tampak longgar. Setiap langkah akan terasa seperti berjuang melawan tanah yang berusaha menelannya ke bawah. Satu gerakan ceroboh, dan ia akan tergelincir kembali ke titik awal.
Mizuki menelan ludah untuk kedua kalinya.
"Kak Aisa..." suaranya kecil. Hampir seperti bisikan.
"Ini... serius?"
Wajah Aisa tidak berubah. Tidak ada senyum. Tidak ada kerutan. Tidak ada isyarat bahwa ini hanya lelucon.
"Apa menurutmu, prajurit yang akan menangkapmu sedang bercanda?" balas Aisa pelan.
"Apa menurutmu pengadilan istana akan memberimu hukuman ringan?"
Mizuki tersentak.
Udara dingin pagi tiba-tiba terasa panas menusuk.
"Kalau kau tidak sanggup," Aisa menambahkan, suaranya semakin pelan namun semakin tajam.
"Kau bisa kembali ke kios itu. Menyerah. Menangis. Dan membiarkan semuanya berlalu begitu saja,"
Dia berbalik sedikit, setengah membelakangi Mizuki.
"Tapi ingat... ibumu tidak punya banyak waktu untuk menunggumu,"
Hening.
Hanya suara angin dan dedaunan yang bergesekan.
Mizuki menunduk. Melihat tangannya sendiri yang masih gemetar.
Lalu.
Ia menarik napas dalam.
Dalam sekali.
Ia mengangkat wajah.
Matanya tidak lagi basah. Tidak lagi ragu. Yang tersisa hanya bara kecil yang mulai menyala di dalam dadanya.
"Baik,"
Satu langkah.
Kaki kecil itu melompat ke akar pertama.
Mizuki mulai melakukan latihan.
Akan tetapi...
Hasilnya membuat Aisa terlihat tidak senang.
Bukan marah. Bukan kecewa.
Yang terlihat di wajah Aisa adalah sesuatu yang lebih dingin dari itu.
Keresahan.
Aisa tahu.
Tidak ada orang yang menjadi kuat secara instan. Akan tetapi...
Hari ini, untuk pertama kalinya, Aisa menilai seseorang dengan cara yang berbeda.
Ia menilai Mizuki.
Bukan sebagai murid.
Tapi sebagai calon pejuang.
Dan hasil penilaian itu membuat dadanya terasa sesak.
Mizuki bukan orang yang "mungkin" menjadi kuat.
Bukan karena malas. Bukan karena tidak mau berusaha.
Tapi karena...
Aisa menghela napas panjang.
Mizuki bukan keturunan dari orang berbakat.
Bukan juga orang yang terpilih.
Tidak ada darah pahlawan yang mengalir di tubuh mungil itu. Tidak ada "takdir besar" yang menunggunya di ujung jalan. Tidak ada kekuatan tersembunyi yang tiba-tiba bangkit saat tekanan datang.
Dia hanyalah seorang anak biasa.
Walaupun begitu, Aisa tidak akan menyerah. Dia yakin, anak biasa ini bisa menjadi kuat.
"Kak,"
Suara Mizuki memecah lamunan Aisa.
Gadis kecil itu telah sampai di kaki bukit merah. Tubuhnya basah oleh keringat dan lumpur. Rambutnya lepas dan kusut. Dadanya naik turun.
"Aku... sampai kak..." suaranya putus-putus.
Aisa menoleh ke sumber suara. Matanya menangkap sosok kecil yang berdiri gemetar di antara lumpur merah.
Dan dia menyadari.
Mizuki terlihat lelah.
Sangat lelah.
Mizuki mencoba tersenyum.
"Aku... berhasil..."
Lalu, Mizuki pingsan.
Beberapa jam kemudian...
Mizuki terbangun di sebuah kasur, tepat di depan TV.
Lampu ruangan redup. TV menyala pelan, acara yang sama seperti tadi malam, atau mungkin acara lain, Mizuki tidak begitu ingat.
Yang ia rasakan pertama kali bukanlah rasa sakit.
Tapi kehangatan.
Selimut menutupi tubuhnya hingga ke dagu. Di bawah kepalanya, bantal empuk yang tidak ia ingat ada sebelumnya.
Mizuki mengangkat tangan kirinya.
Siku yang tadi berdarah dan tidak kunjung sembuh... kini hanya meninggalkan bekas.
Seperti cerita yang sudah usai.
"Regenerasinya bekerja lagi," pikirnya.
Setelah istirahat... staminanya pulih kembali...
Ia mengingatnya sekarang.
Saat ia jatuh di akar pohon yang kedua kalinya, sebuah ranting tajam menggores lengannya.
Saat itu, ia hanya merasa perih. Tidak terlalu sakit. Karena ia pikir lukanya akan segera pulih.
Tapi tidak.
Luka itu tetap terbuka. Darah terus mengalir pelan.
Dan Mizuki baru menyadarinya...
Saat stamina hampir habis... luka tidak akan sembuh.
Ia menggigil pelan. Bukan karena dingin.
Tapi karena hari ini, ia berada di tepi sesuatu yang tidak ia mengerti sepenuhnya.
Tapi ia selamat.
Ia menoleh pelan.
Di kursi sebelah kasur, Aisa duduk menyilangkan kaki. Matanya terpejam, dadanya naik turun.
Di pangkuan Aisa, sebuah buku catatan kecil terbuka. Ada tulisan-tulisan yang tidak sempat selesai.
"Kau sudah bangun rupanya,"
Suara Aisa terdengar tiba-tiba, tapi tidak mengagetkan.
Terdengar lembut.
Seperti orang yang sudah lama terjaga dan hanya berpura-pura memejamkan mata.
Mizuki tersenyum kecil. "Kakak..."
Bersambung...