NovelToon NovelToon
Cinderella, Glass Slipper Syndicate

Cinderella, Glass Slipper Syndicate

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Romansa Fantasi / Mafia
Popularitas:487
Nilai: 5
Nama Author: Fitria Susanti Harahap

Setelah ayahnya hilang dalam kecelakaan mobil, Ella hidup dengan satu tujuan yaitu menemukan kebenaran tentang ayahnya.


Sementara Leo seorang jaksa muda hidup dengan satu prinsip yaitu menegakkan hukum tanpa pengecualian.


Ketika mereka bertemu di pesta dansa, keduanya tak sadar mereka berada di sisi yang berlawanan dari permainan yang sama.


Ketika perasaan mulai tumbuh, satu pertanyaan tak bisa dihindari, apa yang harus dimenangkan? Kebenaran atau cinta?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fitria Susanti Harahap, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

GSS

Perlahan, tanpa ia sadari, layar itu tidak lagi sekadar menyampaikan berita, ia sedang membentuk sesuatu. Opini. Persepsi. Sebuah gambaran tentang ayahnya yang asing, yang tidak pernah ia kenal.

Di bawahnya, teks berjalan menyebut tekanan politik yang mulai meningkat, desakan investigasi menyeluruh, hingga kemungkinan adanya pihak-pihak lain yang akan terseret.

Ella berdiri diam di depan televisi, jemarinya menggenggam remote semakin erat. Dadanya terasa sesak, bukan hanya karena semua ini datang terlalu cepat, tetapi karena ia tidak mengerti bagaimana semuanya bisa berubah dalam semalam.

Semalam, usai akad nikah, mereka kembali ke rumah berempat. Sebelum istirahat ke kamar, Ayahnya menghampiri, ayahnya masih seseorang yang ia kenal seumur hidupnya. Sekarang, di mata dunia, ia berubah menjadi sesuatu yang sama sekali berbeda. Dan Ella yang seharusnya paling mengenalnya justru berdiri di sini, tidak punya jawaban apa pun.

Ella masih belum benar-benar memahami apa yang sedang terjadi. Semuanya datang terlalu cepat, terlalu padat, seolah tidak memberinya ruang untuk sekadar berhenti dan berpikir.

Setelah televisi akhirnya ia matikan karena setiap saluran hanya mengulang tuduhan yang sama tentang korupsi ayahnya, ia berdiri beberapa saat dalam diam, sebelum akhirnya meraih ponselnya yang sejak pagi belum sempat ia sentuh. Bahkan saat pergi ke lokasi kecelakaan tadi, ia tidak membawanya. Bukan hanya karena terburu-buru dan tidak sempat mengambil, tapi juga karena pada saat itu, tidak ada hal lain di kepalanya selain satu keinginan yaitu melihat sendiri apa yang terjadi pada ayahnya.

Baru di lokasi itulah ia sempat terpikir soal ponsel, tentang bagaimana ia seharusnya mengambil foto, merekam sesuatu, menyimpan bukti. Penyesalan itu sempat muncul, tapi tenggelam lagi oleh kejutan yang lebih besar. Kini, saat layar ponselnya menyala di tangannya, semua yang sempat ia abaikan seolah datang sekaligus.

Puluhan panggilan tak terjawab. Ratusan pesan masuk. Nama-nama yang ia kenal, juga yang tidak. Teman, kerabat jauh, nomor asing, semuanya seakan menuntut jawaban darinya.

Namun mata Ella tidak berhenti lama di sana. Satu nama membuat napasnya tertahan. Ayah. Pesan itu ada di sana. Dikirim beberapa jam yang lalu. Jauh sebelum berita-berita itu muncul. Jauh sebelum semua orang mulai menuduh.

Jari Ella gemetar saat menyentuh layar. Untuk sesaat, ia ragu. Bukan karena takut melihat isinya tapi karena ia tahu, setelah ini, tidak akan ada lagi yang sama. Perlahan, ia membuka pesan itu. Dan dunia di sekitarnya seolah ikut menahan napas.

Layar itu terasa terlalu terang di matanya. Pesan itu singkat. Tidak seperti biasanya. Ayahnya bukan tipe orang yang menulis pesan pendek tanpa penjelasan. Bahkan untuk hal sepele, ia selalu memastikan tidak ada yang disalahartikan. Tapi kali ini hanya satu kalimat.

“Jangan percaya siapa pun di rumah. Temukan sepatu kacamu!"

Ella membeku. Jemarinya berhenti di atas layar, napasnya tertahan tanpa ia sadari. Di rumah. Bukan “orang lain”. Bukan “siapa pun”. Tapi di rumah.

Perlahan, pikirannya mulai mencoba mengejar makna di balik kalimat itu. Rumah ini. Tempat yang seharusnya paling aman. Tempat yang sejak kecil tidak pernah ia ragukan. Sekarang justru disebut sebagai sesuatu yang harus diwaspadai.

Deg.

Jantungnya berdetak lebih keras. Wajah-wajah yang tadi ia lihat di ruang makan muncul satu per satu di kepalanya. Bu Vero. Sesil. Pembantu. Semua orang yang sejak pagi berada di bawah atap yang sama dengannya.

Tidak ada yang terlihat aneh. Tidak ada yang menunjukkan sesuatu yang mencurigakan. Tapi pesan itu tidak mungkin dikirim tanpa alasan. Ella menelan ludah. Tangannya perlahan turun, tapi ponsel itu masih ia genggam erat.

Ia melihat waktu pengiriman. Beberapa menit sebelum kecelakaan. Artinya ayahnya tahu. Sesuatu akan terjadi. Atau setidaknya ia merasa terancam. Napas Ella mulai tidak teratur. Kalau ayahnya sempat mengirim pesan ini kenapa tidak menelepon? Kenapa tidak bilang lebih jelas? Atau apakah ia tidak punya waktu?

Pikiran itu membuat perut Ella terasa mual. Ia berdiri tiba-tiba, langkahnya mundur sedikit dari tempat semula, seolah jarak bisa memberinya ruang untuk berpikir. Matanya bergerak ke arah pintu kamar. Tertutup. Terkunci.

Tapi untuk pertama kalinya itu tidak membuatnya merasa aman. Sebaliknya ia merasa seperti berada di dalam sesuatu. Bukan tempat berlindung. Tapi tempat yang mungkin sudah lebih dulu disusupi.

Tapi Ella merasa tak punya waktu banyak. Ia juga harus menemukan sepatu kacanya. Tapi dimana? Sepatu kaca apa? Ella menuju lemari sepatunya, memperhatikan satu-persatu. Tetapi tidak ada sepatu kaca. Semua sepatu biasa yang ia gunakan ke sekolah atau hangout dengan teman-temannya.

Ella terus memaksakan dirinya untuk berpikir keras. "Sepatu kaca yang mana, Yah?" ia semakin frustasi. Bolak-balik, mondar-mandir di kamarnya.

Sekali lagi Ella memeriksa lemari sepatunya. Satu-persatu diamati seperti sedang mengabsen. Barusan sepatu kets, pantofel, wadges, heels, flatshoes, boots dan sandal main biasa.

"Tuh kan nggak ada sepatu kaca!" lagi-lagi Ella mengeluh. "Maksud ayah apa, sih? Memangnya aku Cinderella, makanya pakai sepatu kaca?" Ella menghempaskan tubuhnya kekasur. Ia memejamkan mata. Dalam hitungan detik, tiba-tiba ia menghambur. "Iya, aku Cinderella!" gadis itu kembali bersemangat.

Ella ingat, dahulu, sepeninggalan ibunya, ia yang sangat suka dengan kartun Cinderella diberikan sepasang sepatu kaca kecil sebagai pajangan. Ella benar-benar menyukai sepatu kacanya. Kata ayahnya, dengan demikian ia resmi menjadi Cinderella. Ella Cinderella!

"Aku harus menemukan sepatu kaca itu!" Ella buru-buru membuka sebuah lemari tua yang berada paling pojok ruangan, yang menempel di dinding kamar.

Begitu dibuka, lemari itu bukanlah lemari sungguhan, tetapi pintu ke kamar sebelah. Kamar kecil tempat Ella menyimpan barang-barang lamanya. Termasuk mainan saat ia masih kecil juga barang-barang peninggalan ibunya.

Sudah lama Ella tak masuk ke sini. Sejenak ia bernostalgia dengan ruangan ini, matanya menyapu seluruh benda-benda yang disimpan dalam kotak-kotak yang juga tersusun rapi.

Ella membuka satu kotak plastik yang terdekat dengannya. Berisi segala pernak-pernik rambut yang dibelikan ibunya. Dahulu, waktu ibu masih ada, rambut Ella yang panjang memang sering diikat dengan berbagai gaya. Lalu dijepit dengan aneka jenis jepit atau dihiasi bando. Ella tersenyum memegang sebuah bando tiara. Seolah melihat dirinya yang dahulu bersama ibu.

"Bu, Ella rindu." bisikmua, sembari memeluk Tiara itu.

Untungnya Ella cepat sadar tujuannya ke kamar ini. Ia langsung ke satu-satunya lemari yang ada di sini. Membuka lacinya dan menemukan kotak musik berwarna biru. Saat Ella buka, sudah tidak ada suaranya sebab baterainya sudah habis. Tapi Ella tetap tersenyum karena kini sepatu kacanya ada di tangan Ella.

1
Fitria
Jangan lupa tinggalkan Like dan komen. terimakasih.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!