Lin Chen, seorang pemuda modern, bertransmigrasi ke Benua Langit Bela Diri. Sialnya, ia terbangun di dalam tubuh Master Sekte "Puncak Awan" yang sedang sekarat. Sekte tersebut dulunya berjaya, namun kini hanya menyisakan gunung tandus, bangunan hancur, dan Lin Chen sebagai satu-satunya anggota yang tersisa. Saat sekte musuh datang untuk mengambil alih tanah tersebut, Lin Chen membangkitkan Sistem Pembangunan Sekte Terkuat. Mulai dari merekrut murid jenius yang dibuang, membangun fasilitas ajaib, hingga menaklukkan surga.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Syahriandi Purba, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24: Gerbang Pemecah Langit Turun
Hilangnya Kabut Kutukan Kaisar dalam satu tarikan napas membuat waktu seolah berhenti berdetak di Puncak Kaisar Jatuh.
Sinar matahari yang selama puluhan ribu tahun tak pernah menyentuh tanah tersebut, kini memantul indah di atas bebatuan giok putih yang membentuk punggung gunung. Qi spiritual purba yang terkurung sekian lama meledak keluar layaknya air bah, mengubah area tersebut menjadi Tanah Suci yang seratus kali lebih murni dari ibu kota kekaisaran mana pun di Benua Tengah.
Namun, tidak ada satu pun dari puluhan ribu jenius di bawah sana yang berani mengambil satu napas pun dari Qi murni itu. Jiwa mereka masih gemetar, ditekan oleh arogansi mutlak pria berjubah putih yang melayang di udara.
Jin Lie, sang jenius dari Klan Suci Gagak Emas, mundur dengan langkah gontai. Kakinya tersandung batu dan ia jatuh terduduk, mahkota emasnya miring tak keruan.
"M-Mustahil..." bibir Jin Lie bergetar, menatap Lin Chen seolah menatap hantu dari jurang neraka. "Kutukan Kaisar Abadi... dihapus hanya dengan satu kata? T-Tidak! Ini pasti tipuan! Dia pasti menggunakan semacam artefak kuno penangkal racun sekali pakai untuk menakuti kita!"
Mendengar teriakan putus asa Jin Lie, beberapa pelindung dari Tiga Tanah Suci mulai mendapatkan kembali keberanian semu mereka. Pikiran fana mereka menolak menerima bahwa ada pemuda seusia itu yang memiliki kekuatan melampaui Kaisar Kuno.
Tiba-tiba, ruang hampa di langit timur, barat, dan selatan terkoyak secara bersamaan!
Tiga tekanan spiritual yang luar biasa masif, membawa fluktuasi hukum alam yang matang, turun menindas bumi. Awan-awan tersapu bersih. Tiga sosok tua renta dengan jubah kebesaran sekte masing-masing melangkah keluar dari retakan ruang.
"Leluhur!" teriak para murid dari Tiga Tanah Suci, bersujud dengan tangis haru.
Tiga sosok itu adalah Leluhur Pelindung Dao (Dao Protectors) dari masing-masing faksi, eksistensi tua yang telah mencapai tahap Jiwa Baru Lahir Lapis Menengah (Mid Nascent Soul)! Mereka selama ini bersembunyi di dimensi bayangan untuk menjaga para jenius mereka.
Leluhur Gagak Emas, seorang kakek berjubah api, menatap tajam ke arah Lin Chen. Matanya memancarkan keserakahan yang tak berujung saat melihat Puncak Kaisar yang kini bersih dari kutukan.
"Bocah dari antah berantah!" bentak Leluhur Gagak Emas, suaranya mengguncang gendang telinga. "Tidak peduli artefak iblis apa yang kau gunakan untuk membersihkan miasma ini, Puncak Kaisar Jatuh adalah properti mutlak Tiga Tanah Suci! Serahkan artefak penangkal racun itu, tinggalkan kapal perang besimu sebagai kompensasi atas kelancanganmu, dan potong lengan muridmu yang melukai tetua kami. Jika kau patuh, Kursi Ini akan mengampuni nyawa anjingmu!"
Dua Leluhur lainnya mengangguk setuju, menyebarkan Niat Membunuh (Killing Intent) mereka untuk mengunci ruang di sekitar Lin Chen. Tiga ahli Jiwa Baru Lahir bersatu; di mata mereka, pemuda ini sudah menjadi mayat.
Di atas dek Kapal Perang Pembelah Bintang, Ye Fan, Su Yue, dan Lin Tian mencengkeram senjata mereka erat-erat. Menghadapi tiga ahli Nascent Soul, tubuh mereka secara naluriah menegang, namun tidak ada setitik pun ketakutan di mata mereka.
Lin Chen melayang di udara, memiringkan kepalanya dengan tatapan bosan.
"Berbagi properti?" Suara Lin Chen mengalun ringan, namun dipenuhi cemoohan yang sedingin es abadi. "Sejak kapan seekor naga sejati harus berbagi singgasananya dengan tiga ekor cacing tanah yang membusuk?"
"KAU MENCARI MATI!"
Ketiga Leluhur itu mengamuk secara bersamaan. Merasa dihina oleh seorang junior, mereka tidak lagi menahan diri.
Leluhur Gagak Emas memuntahkan pilar api suci pembakar jiwa. Leluhur Paviliun Pedang menebaskan pedang kayu yang berubah menjadi proyeksi naga perak sepanjang seribu tombak. Leluhur Teratai Hitam melemparkan ratusan teratai beracun pemusnah raga. Tiga serangan pamungkas Jiwa Baru Lahir menghancurkan ruang hampa, meluncur langsung untuk melenyapkan Lin Chen dan kapal perangnya menjadi ketiadaan!
Para kultivator di bawah menjerit dan menutup mata, tak sanggup melihat kehancuran yang akan terjadi.
Namun, Lin Chen bahkan tidak repot-repot mengangkat jarinya. Ia hanya memanggil antarmuka sistem di benaknya dengan santai.
"Sistem, letakkan Gerbang Pemecah Langit tepat di atas kepala ketiga anjing tua itu."
[Ding!]
[Menerima perintah. Menurunkan Bangunan Fasilitas Tingkat Surga: 'Gerbang Pemecah Langit'!]
GLLLDGGG... BOOOOOOOOOOOOOOOM!
Langit yang tadinya cerah mendadak terbelah menjadi dua! Bukan terbelah oleh teknik, melainkan terbelah secara fisik oleh sebuah objek raksasa yang turun dari luar atmosfer!
Sebuah gerbang kolosal setinggi sepuluh ribu kaki, terbuat dari Batu Hitam Kekacauan (Primal Chaos Stone) dan diukir dengan relief dewa-dewa kuno yang sedang bersujud, jatuh dari langit dengan kecepatan meteor. Gerbang itu memancarkan aura penindasan purba yang seratus ribu kali lipat lebih berat dari gabungan aura ketiga Leluhur tersebut.
"A-Apa i—?!"
Ketiga Leluhur Jiwa Baru Lahir itu mendongak. Mata mereka nyaris melompat keluar dari rongganya.
Serangan pamungkas mereka—api suci, naga pedang, dan teratai beracun—menghantam dasar gerbang raksasa itu. Alih-alih menghancurkannya, serangan mereka pecah menjadi percikan kembang api kecil yang bahkan tidak mampu menggores cat di permukaan gerbang!
"TIDAAAK! TUNGGU!" jerit Leluhur Gagak Emas, mencoba merobek ruang untuk melarikan diri.
Namun, hukum ruang di sekitar Gerbang Pemecah Langit telah membeku sepenuhnya.
BLLLAAAAAAR!
Gerbang hitam kolosal itu mendarat, menancap kokoh di mulut lembah Puncak Kaisar Jatuh. Bumi Benua Tengah berguncang hebat, menciptakan gempa berskala benua yang membuat gunung-gunung di sekitarnya runtuh.
Adapun ketiga Leluhur tahap Jiwa Baru Lahir yang arogan tadi?
Mereka telah tergencet rata menjadi debu darah di bawah fondasi gerbang tersebut. Tidak ada tulang, tidak ada daging, bahkan jiwa mereka pun hancur lebur tanpa sempat berteriak!
Tiga ahli puncak Benua Tengah, mati terinjak oleh pintu masuk sekte!
Di atas lengkungan gerbang raksasa itu, tiga karakter kaligrafi kuno yang memancarkan cahaya keemasan menyala terang, membutakan mata siapa pun yang berani menatapnya secara langsung: SEKTE PUNCAK AWAN.
Keheningan yang mencekam mencekik lembah itu. Udara terasa beku.
Puluhan ribu jenius elit, termasuk Jin Lie dan sang penyihir Teratai Hitam, mengompol di tempat. Kaki mereka lemas tak bertulang, jatuh bersujud ke tanah hingga dahi mereka berdarah. Tidak ada lagi Tanah Suci, tidak ada lagi arogansi. Di hadapan gerbang pembunuh dewa ini, mereka hanyalah semut yang mengemis nyawa.
Lin Chen perlahan melayang turun dan mendarat di atas anak tangga terbawah dari Gerbang Pemecah Langit. Ia menyapu pandangannya ke lautan manusia yang gemetar.
"Dengarkan baik-baik," suara Lin Chen tidak keras, namun menembus hingga ke kedalaman jiwa mereka. "Puncak ini sekarang adalah milik Sekte Puncak Awan. Kalian boleh kembali ke Tanah Suci kalian masing-masing..."
Mendengar mereka diizinkan pergi, para jenius itu menangis haru.
"...dan sampaikan pesan ini pada Master Sekte kalian," lanjut Lin Chen, senyum iblis terukir di wajahnya. "Dalam waktu tiga hari, setiap faksi dalam radius sepuluh ribu mil dari gunung ini harus datang bersujud dan menyerahkan tujuh puluh persen kekayaan sekte mereka sebagai upeti selamat datang. Yang menolak, akan bernasib sama dengan noda darah di bawah sepatuku ini."
"K-Kami mengerti! Kami akan menyampaikannya pada Tuan kami! Terima kasih atas kemurahan hati Yang Mulia!"
Para jenius itu merangkak mundur, lalu berlarian tunggang-langgang seperti anjing ketakutan, meninggalkan kereta perang mewah dan pusaka mereka di tanah karena takut membuat suara.
Setelah lautan manusia itu bersih, Lin Chen berbalik menatap ketiga muridnya yang kini telah melompat turun dari kapal dan berlutut di depannya dengan mata penuh pemujaan fanatik.
Di dalam benaknya, sistem kembali berbunyi.
[Ding! Misi Utama Ketiga Selesai!]
[Takhta Surga telah didirikan! Dominasi berhasil ditegakkan!]
[Mengeluarkan Hadiah: Evolusi Akar Roh Tiga Murid Inti!]
Lin Chen mengibaskan lengan jubahnya. Tiga pilar cahaya kosmik meledak dari telapak tangannya dan menyelimuti tubuh Ye Fan, Su Yue, dan Lin Tian.
Seketika, fenomena alam kembali meletus di atas Puncak Awan Pusat.
Di atas Ye Fan, ilusi Sepuluh Ribu Pedang Surgawi bersujud, menandakan Tulang Pedang Kuno-nya berevolusi menjadi Tulang Pedang Keabadian.
Di atas Su Yue, rasi bintang di siang bolong turun membentuk mahkota perak, memadatkan Mata Pedang Bintang Jatuh-nya menjadi Mata Dao Penguasa Bintang.
Sedangkan di atas Lin Tian, sebuah lubang hitam nyata bermanifestasi, menelan cahaya matahari di sekitarnya. Fisik Penelan Surga miliknya menerobos belenggu dunia menjadi Fisik Pemakan Dewa Primordial!
Ketiganya meraung serempak saat kultivasi mereka yang sebelumnya berada di Pembangunan Yayasan awal-menengah, meledak naik seperti roket yang kehabisan kendali, menembus dinding batas dan langsung mencapai Puncak Pembangunan Yayasan (Peak Foundation Establishment)!
Merasakan kekuatan baru yang meluap-luap di pembuluh darah mereka, ketiga murid jenius itu bersujud hingga dahi mereka menyentuh anak tangga giok.
"Kebaikan Guru sedalam lautan kosmik! Murid siap meratakan Tanah Suci mana pun yang berani membantah titah Guru!"
Lin Chen mengangguk puas, menguap malas sambil berbalik menatap jalan setapak giok putih yang mengarah ke puncak gunung—tempat makam sang Kaisar Kuno berada.
"Simpan niat membunuh kalian untuk penagihan utang tiga hari lagi. Sekarang, masuklah ke makam kaisar malang di atas sana. Ingat aturan sekte kita..."
"Kosongkan semuanya hingga ke debu terakhir, Guru!" sambung Lin Tian dengan seringai lebar yang mengerikan.
"Anak pintar. Pergilah memanen. Kursi Ini akan tidur siang."