NovelToon NovelToon
Apa Yang Salah

Apa Yang Salah

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Diam-Diam Cinta / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: Muhammad Robby Ido Wardanny

menceritakan dua orang mantan kekasih Shinta dan Andika. yang memutuskan untuk berpisah karena perbedaan pandangan tentang masa depan Shinta yang ingin hubungan yang serius ke pelaminan dan Andika yang ingin menata karir dan memastikan finansial mencukupi. namun keduanya tidak menemukan titik tengah dari masalah itu. setahun kemudian mereka di pertemukan di perusahaan sebagai karyawan devisi pemasaran. keduanya yang awalnya tidak ingin masa lalu terungkap dan saling menjauh malah tanpa sadar Melaku kebiasaan mereka saat pacaran. dari Andika yang memperlihatkan Shinta saat kesulitan dan Shinta yang memberikan tempat bersandar saat Andika kelelahan namun itu malah membuat mereka kesal dan membuat perjanjian siapa pun yang masih melakukan kebiasaan mereka saat pacaran di anggap orang yang ingin balikan. namun kenyataannya keduanya malah terus melanggar perjanjian mereka tanpa peduli apa yang salah dari kebiasaan lama mereka saat pacaran

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Muhammad Robby Ido Wardanny, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 16

Pagi itu suasana divisi marketing jauh lebih ramai dari biasanya. Sejak jam masuk kantor, beberapa pegawai sudah sibuk membicarakan laporan penjualan produk terbaru perusahaan mereka yang ternyata melebihi target. Bahkan bagian administrasi sampai kewalahan menerima data distribusi dari berbagai cabang. Sebuah pencapaian yang cukup besar setelah berminggu-minggu mereka bekerja lembur hampir setiap hari. Manusia memang aneh. Ketika masih dikejar target semua mengeluh ingin libur, tetapi begitu target tercapai malah mencari alasan untuk berkumpul lagi.

Di ruang kerja utama, Pak Radit berdiri di depan sambil membawa beberapa lembar laporan penjualan. Wajahnya terlihat puas. Senyum tipis yang jarang muncul akhirnya terlihat pagi itu.

“Baik, semuanya tolong perhatiannya sebentar,” ucap Pak Radit.

Percakapan di ruangan perlahan berhenti. Beberapa pegawai segera memutar kursi mereka menghadap sang manajer. Ada yang masih memegang kopi, ada juga yang tetap mengetik sambil pura-pura fokus mendengarkan.

Pak Radit mengangkat laporan di tangannya.

“Penjualan produk baru kita bulan ini melebihi target perusahaan. Bahkan angka distribusinya lebih tinggi dari perkiraan direksi.”

Beberapa pegawai langsung bertepuk tangan.

“Wah akhirnya bonus turun juga!” seru Deni dari belakang.

Sontak semua tertawa.

Pak Radit menggeleng pelan. “Belum tentu bonusnya besar. Jangan terlalu berharap seperti orang mau menang undian.”

“Tapi tetap ada kan, Pak?” tanya Rara cepat.

“Kalau tidak ada nanti saya yang demo,” sahut Deni lagi.

Ruangan kembali riuh oleh tawa.

Pak Radit ikut tersenyum sebelum melanjutkan bicara. “Karena hasil kerja kalian cukup memuaskan, saya memutuskan untuk mengadakan acara kecil di rumah saya akhir pekan ini.”

“Acara makan-makan, Pak?” tanya salah satu staf.

“Betul.”

“BBQ-an sekalian, Pak!” celetuk Deni penuh semangat.

Beberapa pegawai langsung mendukung ide itu.

“Setuju!”

“Asyik kalau BBQ!”

“Biar sekalian santai!”

Pak Radit menghela napas panjang seolah sudah pasrah menghadapi bawahannya yang lebih semangat soal makanan dibanding evaluasi kerja.

“Baiklah. Kita BBQ-an.”

Sorakan langsung memenuhi ruangan.

“Tapi,” lanjut Pak Radit sambil menunjuk semua pegawai satu per satu, “semuanya wajib hadir. Tidak ada alasan mendadak sakit, pergi kondangan, jaga kucing tetangga, atau alasan aneh lainnya.”

Beberapa orang tertawa kecil.

Di sudut ruangan, Shinta hanya memandang layar komputernya tanpa minat. Berbeda dengan teman-temannya yang terlihat antusias, dia justru merasa akhir pekan lebih cocok digunakan untuk tidur seharian di rumah. Setelah seminggu penuh menghadapi revisi laporan, presentasi, dan suara Deni yang tidak pernah bisa diam lebih dari tiga menit, ide berkumpul saat libur terasa melelahkan.

Rara mendekat ke mejanya.

“Kamu datang kan nanti?”

Shinta menggeleng pelan. “Sepertinya tidak.”

“Kenapa?”

“Ada urusan keluarga.”

Jawaban itu keluar begitu saja. Cepat dan singkat. Alasan paling aman yang selalu dipakai manusia untuk menghindari acara sosial. Karena kalau bilang malas, nanti dianggap tidak punya jiwa pertemanan.

Rara tampak kecewa. “Padahal pasti seru.”

“Kalian saja yang seru.”

Tak jauh dari sana, Andika yang sedang berdiri sambil membaca laporan sempat melirik ke arah Shinta. Namun pria itu tidak mengatakan apa pun.

Hari kerja berlalu cukup sibuk. Menjelang sore, para pegawai mulai bersiap pulang sambil masih membicarakan acara akhir pekan tersebut. Ada yang membahas menu BBQ, ada yang sibuk menentukan pakaian, bahkan Deni sudah merencanakan membawa speaker besar agar suasana lebih ramai.

Shinta hanya memasukkan barang-barangnya ke dalam tas tanpa ikut tertarik.

Saat dia keluar dari gedung kantor, Andika tiba-tiba menghampirinya.

“Mau langsung pulang?” tanya Andika.

“Iya.”

Andika mengangguk pelan sebelum berkata, “Untuk acara di rumah Pak Radit nanti, perlu dijemput?”

Shinta langsung menatapnya datar.

“Tidak perlu.”

“Yakin?”

“Aku ada acara keluarga.”

Andika memperhatikannya beberapa detik seolah mencoba memastikan apakah alasan itu sungguhan atau hanya alasan untuk menghindar.

Namun akhirnya dia tersenyum tipis.

“Kalau berubah pikiran, hubungi aku.”

Shinta segera menggeleng.

“Kalau aku berubah pikiran, aku datang sendiri.”

Setelah mengatakan itu, dia langsung berjalan pergi tanpa menunggu jawaban Andika lagi.

Andika tidak mengejarnya. Pria itu hanya memandang punggung Shinta yang semakin menjauh sebelum tersenyum kecil seolah sedang memikirkan sesuatu.

Sementara itu, Shinta pulang dengan perasaan lega karena berhasil menghindari acara kantor. Baginya akhir pekan adalah waktu paling berharga untuk beristirahat. Tidak ada suara printer, tidak ada revisi mendadak, dan tidak ada Andika yang suka tiba-tiba muncul mengganggu pikirannya.

Sesampainya di rumah, dia segera mandi lalu masuk ke kamar sambil membawa camilan dan minuman dingin. Setelah itu dia menyalakan laptop dan mulai menonton drama favoritnya.

Hari itu terasa sempurna.

Dia rebahan di atas kasur sambil menikmati cerita romantis yang penuh adegan manis dan dialog dramatis yang sebenarnya tidak masuk akal kalau dipikir serius. Manusia di drama selalu punya waktu menangis dengan pencahayaan bagus dan wajah tetap rapi. Dunia nyata lebih sering membuat orang menangis sambil belum mandi dan dikejar deadline.

Namun Shinta tetap menikmati semuanya.

Beberapa jam kemudian matanya mulai terasa berat. Film yang tadinya masih diputar perlahan menjadi suara samar di telinganya hingga akhirnya dia tertidur sambil memeluk bantal.

Keesokan paginya, suasana rumah masih tenang ketika suara motor terdengar berhenti di depan rumah mereka.

Ibunya Shinta yang sedang menyapu halaman segera melihat ke arah pagar.

Tak lama kemudian terdengar suara salam.

“Assalamualaikum.”

“Waalaikumsalam,” jawab ibu Shinta sambil membuka pagar.

Di depan rumah terlihat Andika berdiri dengan pakaian santai namun rapi.

“Andika?” ucap ibu Shinta sedikit terkejut.

Andika tersenyum sopan. “Pagi, Tante.”

“Ada perlu apa pagi-pagi begini?”

“Saya mau jemput Shinta, Tante. Hari ini ada acara kantor di rumah Pak Radit. Semua karyawan diminta hadir.”

“Oh begitu.”

Ibu Shinta langsung mempersilakan Andika masuk.

“Masuk dulu. Tante buatkan kopi.”

“Tidak usah repot, Tante.”

“Tidak apa-apa.”

Andika akhirnya masuk ke ruang tamu. Di sana sudah duduk ayah Shinta sambil membaca koran. Begitu melihat Andika datang, tatapan pria itu langsung berubah tajam.

Suasana mendadak terasa sedikit tegang.

Ayah Shinta jelas masih mengingat siapa Andika. Mantan kekasih putrinya yang dulu sempat membuat Shinta murung berhari-hari. Sebagai seorang ayah, tentu saja dia belum sepenuhnya lupa.

Andika tetap tersenyum sopan.

“Pagi, Om.”

Ayah Shinta hanya mengangguk pendek.

Sementara itu ibu Shinta datang membawa secangkir kopi dan beberapa camilan.

“Andika sekarang makin sibuk ya kerjaannya?”

“Lumayan, Tante.”

“Shinta juga sering lembur akhir-akhir ini.”

Andika tertawa kecil. “Iya, Tante. Divisi marketing memang sedang banyak proyek.”

Di lantai atas, Shinta yang baru selesai mencuci pakaian mendengar suara Andika dari ruang tamu.

Dia langsung mengernyit heran.

“Astaga… kenapa dia datang ke sini?”

Dengan langkah cepat dia turun dan benar saja, Andika sedang duduk santai sambil minum kopi bersama ibunya.

Shinta langsung menatap kesal.

“Kamu ngapain datang?”

Andika menoleh santai. “Jemput kamu.”

“Aku sudah bilang tidak datang.”

“Semuanya wajib hadir.”

“Aku capek.”

Ibu Shinta langsung ikut bicara, “Kalau acara kantor ya datang saja.”

Shinta menghela napas panjang. “Bu, aku mau istirahat di rumah.”

“Kerja terus juga tidak bagus. Sekali-sekali kumpul dengan teman kantor.”

Shinta menatap Andika curiga. Pria itu malah terlihat santai seolah sudah yakin dirinya akan menang.

“Aku benar-benar malas pergi,” gumam Shinta.

Andika kemudian berkata pelan, “Pak Radit sengaja buat acara supaya semua pegawai lebih akrab. Tidak enak kalau kamu tidak datang.”

“Aku bisa cari alasan.”

“Nanti Senin langsung dicari Pak Radit.”

Shinta terdiam.

Itu memang sangat mungkin terjadi.

Ibunya segera menepuk pelan bahu Shinta.

“Sudah sana siap-siap.”

“Tapi Bu…”

“Tidak ada tapi.”

Shinta memejamkan mata sejenak menahan kesal. Pada akhirnya dia menyerah lalu berjalan kembali ke kamar dengan langkah malas.

Andika yang melihat itu menahan senyum.

Ayah Shinta masih memandangnya dengan tatapan tidak suka.

“Kamu kelihatannya pintar cari cara,” ucap beliau dingin.

Andika tersenyum canggung. “Saya cuma menjalankan tugas menjemput rekan kerja, Om.”

“Hm.”

Jawaban singkat itu jelas belum menunjukkan persetujuan.

Beberapa menit kemudian Shinta turun dengan pakaian kasual sederhana. Rambutnya masih sedikit basah setelah mandi cepat.

“Ayo cepat,” katanya datar.

Ibunya langsung tersenyum puas.

“Nah begitu lebih bagus.”

Sebelum pergi, Andika berdiri dan berpamitan dengan sopan.

“Tante, Om, kami berangkat dulu.”

Ibunya Shinta mengangguk ramah.

“Hati-hati di jalan. Jangan pulang terlalu malam.”

“Iya, Tante. Setelah acara selesai saya langsung antar Shinta pulang.”

Namun ketika Andika menoleh pada ayah Shinta, suasana kembali berubah tegang.

Pria paruh baya itu menatapnya serius sebelum berkata pelan namun tegas.

“Kalau sampai kamu macam-macam lagi atau bikin putri saya sedih, saya tidak akan diam.”

Shinta langsung salah tingkah.

“Yah…”

Namun Andika justru tersenyum tenang.

“Saya mengerti, Om.”

Tatapan ayah Shinta masih tajam.

Andika lalu menambahkan dengan nada serius, “Saya janji akan menjaga Shinta.”

Meski begitu, wajah ayah Shinta masih tampak ragu. Seolah beliau belum yakin sepenuhnya pada ucapan Andika.

Shinta segera memotong suasana sebelum semakin canggung.

“Kami pergi dulu.”

Dia cepat-cepat keluar rumah lalu memakai helm. Andika menyusul di belakangnya sambil menahan senyum kecil.

Tak lama kemudian motor mereka melaju meninggalkan rumah.

Di sepanjang perjalanan, Shinta lebih banyak diam sambil memandang jalan di depan.

Sementara Andika tampak santai mengendarai motor.

“Masih marah?” tanya Andika akhirnya.

“Aku tertipu.”

“Kamu cuma dipaksa keluar rumah.”

“Aku sudah punya rencana istirahat.”

Andika tertawa kecil. “Tidur seharian bukan rencana.”

“Itu kegiatan yang menyenangkan.”

“Kalau begitu nanti setelah acara selesai kamu bisa lanjut tidur.”

Shinta mendengus pelan.

Meski kesal, entah kenapa dia tidak benar-benar ingin turun dari motor itu dan pulang.

Dan Andika sepertinya tahu hal tersebut sejak awal. Manusia memang kadang merepotkan. Bilang tidak mau, tetapi tetap ikut pergi. Hati dan mulut sering hidup di dunia berbeda.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!