NovelToon NovelToon
AEXDREAM HIGH SCHOOL

AEXDREAM HIGH SCHOOL

Status: tamat
Genre:Ketos / Bad Boy / Idola sekolah / Tamat
Popularitas:626
Nilai: 5
Nama Author: Viana18

SMA Aexdream adalah sekolah elit yang hanya diisi oleh murid-murid dari kalangan keluarga terpandang, jenius, dan berbakat di berbagai bidang. Di sini, aturan dan gengsi adalah segalanya, apalagi bagi para pengurus OSIS yang dianggap sebagai “raja dan ratu” di lingkungan sekolah. Di antara mereka, ada satu pasangan yang selalu jadi sorotan: Mark, Ketua OSIS yang dingin, perfeksionis, dan sering dibilang kayak “robot nggak punya hati”, serta Gisel, Wakil Ketua OSIS yang cerdas, tegas, tapi punya mulut tajam dan gampang kesal kalau lihat kelakuan Mark yang sok sempurna.

Sejak awal menjabat, Mark dan Gisel selalu bertentangan. Mulai dari rapat yang berakhir debat panas, proker yang nggak pernah satu pendapat, sampai hal sepele kayak pemilihan tema acara sekolah—semua jadi ajang adu argumen. Bagi Gisel, Mark itu cuma cowok sombong yang ngira dia paling benar, sedangkan bagi Mark, Gisel cewek yang terlalu keras kepala dan susah diatur. “Dasar bossy cat! Paling seneng deh bikin aku pusing!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Viana18, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 28

Hari-hari pasca masalah Sowon selesai, suasana di sekolah terasa makin tenang. Jeno dan Karina makin tak terpisahkan, ikatan mereka makin kuat setelah badai yang mereka lewati bareng. Tapi di tempat lain, di balik senyum ceria dan semangat memimpin ketua OSIS baru, tersembunyi rasa yang perlahan tumbuh, diam-diam, dan mulai menciptakan jarak. Sosok itu tak lain adalah Yeri, wakil ketua OSIS baru yang dulu dipilih langsung oleh Mark dan tim karena kecerdasan, keramahan, dan kemampuannya yang hebat.

Yeri sejak pertama kali diperkenalkan dan dibimbing oleh Mark, diam-diam mengagumi cowok itu lebih dari sekadar rasa hormat ke kakak kelas atau atasan. Baginya, Mark adalah sosok pemimpin yang sempurna: tegas, bijak, sabar, perhatian, dan selalu bisa diandalkan. Rasa kagum itu perlahan berubah jadi rasa suka yang dalam, rasa yang dia sembunyikan rapat-rapat, karena dia tau Mark sudah punya Gisel—pasangan yang dianggap paling serasi dan paling dikagumi seantero sekolah.

Namun, rasa itu makin besar makin sering mereka bertemu. Apalagi sekarang masa peralihan kepemimpinan belum sepenuhnya selesai, Mark masih sering datang ke ruang OSIS buat memantau, memberi arahan, dan membantu menyelesaikan hal-hal rumit. Di setiap pertemuan itu, Yeri selalu berusaha jadi sosok yang paling dekat, paling perhatian, dan selalu ada buat Mark—dengan cara yang halus, diam-diam, supaya nggak ketahuan siapa pun, termasuk Gisel.

Pagi itu, di ruang OSIS, Mark sedang duduk memeriksa laporan kegiatan yang baru saja disusun. Yeri masuk membawa dua cangkir kopi panas, lalu meletakkan satu tepat di samping tangan Mark dengan senyum manis dan lembut.

"Kak Mark... ini kopi buat Kakak. Tau banget Kakak pasti ngantuk habis pelajaran berat tadi. Ini kopi hitam tanpa gula, persis kayak yang Kakak suka," ucap Yeri pelan, suaranya terdengar sangat perhatian dan akrab.

Mark mendongak, tersenyum biasa dan ramah. "Wah makasih banyak ya, Yer. Rajin banget sih lo. Iya nih, emang agak pusing dikit sama materi tadi. Berkat lo nih, seger lagi deh gue."

Yeri tersenyum makin lebar, matanya menatap Mark lekat-lekat, ada kilatan bahagia yang sulit disembunyikan. Dia duduk di kursi di sebelah Mark, mendekat sedikit, lalu mulai ngomong dengan nada rendah dan akrab.

"Ah biasa aja Kak. Kan Kak Mark yang udah bimbing gue dari awal, udah percayain jabatan ini ke gue. Gue pengen bales kebaikan Kakak dikit aja. Lagian... seneng aja gue kalau bisa bantuin Kakak, bisa ngobrol sama Kakak. Rasanya tenang aja gitu kalau ada Kakak di sini."

Mark cuma mengangguk sambil menyeruput kopinya, mengira kata-kata itu cuma ungkapan rasa hormat dan terima kasih biasa. "Hahaha iya, makasih ya. Gue seneng kok bisa bantu. Lo sama Doyoung kerjanya bagus banget, gue sampe lega banget bisa nyerahin tugas ke kalian berdua."

Saat mereka sedang asyik ngobrol dan membahas jadwal acara selanjutnya, pintu ruang OSIS terbuka perlahan. Gisel berdiri di ambang pintu, tangan memegang dua kotak bekal makanan. Dia tersenyum di awal, tapi senyum itu perlahan memudar saat melihat posisi duduk mereka berdua: Yeri duduk sangat dekat, wajahnya bersinar cerah menatap Mark, dan Mark terlihat santai dan nyaman sekali ngobrol sama dia.

"Hai... lagi sibuk ya?" sapa Gisel pelan, masuk ke dalam dengan langkah agak ragu.

Mark langsung menoleh, wajahnya cerah pas liat Gisel. "Eh Sayang! Lo datang. Enggak kok, baru aja bahas dikit soal acara pensi nanti. Lo bawa apa nih?" Mark langsung bangkit berdiri, berjalan mendekati Gisel, mengambil alih bekal yang dibawa ceweknya itu, lalu mengecup keningnya sekilas seperti biasa.

Tapi di balik punggung Mark, Gisel sempat menangkap tatapan Yeri yang berubah seketika. Senyum manis itu hilang, diganti dengan tatapan dingin, tajam, dan sedikit penuh tantangan yang langsung disembunyikan lagi pas Mark berbalik badan. Gisel merasakan ada yang ganjal, ada sesuatu yang beda dari sikap Yeri belakangan ini.

"Hai Kak Gisel...," sapa Yeri kembali dengan nada ceria dan sopan, seolah tadi nggak ada apa-apa. "Kak Gisel cantik banget hari ini ya. Kakak emang paling pas banget sama Kak Mark, serasi banget deh." Kata-katanya manis, tapi ada nada sindiran halus yang membuat hati Gisel makin nggak nyaman.

Sejak hari itu, Gisel mulai sadar ada yang berubah. Yeri makin sering mendekati Mark, makin sering cari alasan buat ngobrol berdua, dan makin sering nunjukin perhatian yang berlebihan—selalu diam-diam, selalu saat Gisel nggak ada, atau dilakukan dengan sangat halus sampai Mark sama sekali nggak curiga.

Yeri selalu bertindak pintar. Dia nggak pernah berani terang-terangan, tapi dia selalu ada di saat Mark butuh bantuan, selalu ingat hal-hal kecil yang disukai Mark, selalu memuji Mark berlebihan di depan orang lain, dan perlahan berusaha jadi orang yang paling 'mengerti' Mark selain Gisel.

"Kak Mark emang hebat banget ya... nggak heran sih Kak Gisel beruntung banget bisa dapetin Kakak. Padahal banyak banget lho yang ngarepin posisi Kak Gisel sekarang," kata Yeri suatu kali saat mereka berdua lagi menyusun laporan, di saat Gisel sedang ada urusan lain. Dia mengucapkannya sambil tertawa kecil, seolah bercanda, tapi matanya menatap Mark dengan arti yang dalam.

Mark cuma garuk kepala bingung sambil ketawa. "Ah ada-ada aja lo, Yer. Gue ini biasa aja kok. Gue sama Gisel udah lama bareng, kita udah kayak gini dari dulu."

"Iya sih... tapi kan rasa itu bisa berubah ya Kak? Atau bisa tumbuh di mana aja... sama siapa aja," jawab Yeri pelan, cukup terdengar sendiri, lalu buru-buru pindah topik pembicaraan sebelum Mark sempat bertanya lebih lanjut.

Berita angin-angin mulai sampai ke telinga Gisel. Ada teman sekelas yang bilang sering liat Yeri dan Mark jalan berdua di koridor, sering liat mereka ketawa bareng, atau liat Yeri diam-diam menatap Mark dengan tatapan yang nggak wajar. Rasa cemas dan curiga mulai tumbuh di hati Gisel. Dia kenal Mark, dia percaya sama Mark, tapi dia juga tau betapa pintarnya Yeri bersikap, dan betapa gigihnya dia mengejar apa yang dia mau.

Suatu sore, saat jam istirahat panjang, Gisel masuk ke ruang OSIS buat ngajak Mark pulang bareng. Dia baru saja mau melangkah masuk, tapi berhenti mendadak di balik pintu yang tertutup sebagian. Di dalam, cuma ada Mark dan Yeri berdua.

"Kak Mark... sebentar lagi Kakak-kakak kelas 12 bakal sibuk banget sama persiapan ujian dan kuliah. Kita bakal jarang ketemu lagi ya nanti...," suara Yeri terdengar sedih dan lirih.

Mark terdengar menjawab santai. "Iya nih, maklum ya. Tapi kita bakal tetep sering komunikasi kok, kalau ada apa-apa kabarin aja. Anggap aja gue sama Doyoung itu kakak sendiri ya."

Terdengar suara langkah kaki mendekat, lalu suara Yeri makin pelan dan mendekat. "Kak Mark... bagi gue, Kakak bukan sekadar kakak tau. Kakak itu sosok yang paling gue kagumi, yang paling gue sayang... lebih dari sekadar rasa sayang ke kakak lho. Gue tau Kakak udah punya Kak Gisel, tapi gue cuma mau Kakak tau... kalau ada orang lain yang ngarepin perhatian Kakak, yang pengen jadi alasan bahagia Kakak, yang rela ngelakuin apa aja buat Kakak..."

Gisel menutup mulutnya erat-erat, menahan napas, hatinya berdebar kencang dan sakit sekali mendengar pengakuan itu. Dia menunggu jawaban Mark, menunggu penolakan tegas seperti yang dulu pernah dilakukan Jeno ke Sowon.

Tapi jawaban Mark terdengar ragu, terkejut, dan agak canggung. "Yer... gue nggak ngira lo ngerasa gitu. Gue... gue hargai perasaan lo, beneran. Tapi gue udah punya Gisel, gue sayang banget sama dia, dan gue nggak pernah nganggep lo lebih dari adik sendiri. Maafin gue ya kalau bikin lo salah paham."

"Gue nggak minta apa-apa Kak... gue cuma mau ngomong aja. Gue tau gue nggak bakal bisa gantiin posisi Kak Gisel. Tapi... apa salahnya gue berharap dikit? Apa salahnya gue tetep sayang sama Kakak dengan cara gue sendiri? Gue nggak bakal ganggu hubungan Kakak sama Kak Gisel... gue cuma mau ada di sini, di samping Kakak, jadi orang yang paling bisa diandelin selain dia," jawab Yeri dengan nada sedih tapi penuh tekad. "Dan siapa tau... nanti lama-lama Kakak sadar, kalau gue juga bisa ngasih kebahagiaan yang beda, yang mungkin Kakak butuhin tapi nggak dapet dari mana pun."

Gisel nggak sanggup denger lebih lama lagi. Dia mundur perlahan, lalu berjalan cepat menjauh dari sana, dadanya terasa sesak dan penuh keraguan. Dia percaya Mark, dia tau Mark sayang sama dia. Tapi kata-kata Yeri, keberanian Yeri, dan fakta bahwa Mark nggak langsung menolak habis-habisan, malah terdengar ragu dan kasihan... itu semua bikin rasa takut perlahan merayap masuk.

Apakah Mark mulai ragu? Apakah Mark mulai melihat Yeri? Apakah hubungan kami yang selama ini dianggap paling kuat, bakal goyah gara-gara rasa diam-diam ini?

Pertanyaan-pertanyaan itu terus berputar di kepala Gisel. Dia nggak mau menuduh, dia nggak mau bertengkar, tapi dia juga nggak mau diam aja liat orang lain pelan-pelan masuk dan merebut apa yang jadi miliknya. Konflik ini baru saja dimulai, dan dia tau, ini bakal jadi ujian terberat buat hubungan dia dan Mark, bahkan mungkin lebih berat dari apa pun yang pernah mereka alami sebelumnya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!