Clara Rubiana, 25 tahun, putri bungsu pemilik Darmawan Group, mulai bekerja di perusahaan ayahnya demi mencari pengalaman. Di sana, ia jatuh hati pada Tony Bagaskara, direktur operasional yang kharismatik dan selalu terlihat sempurna. Sebaliknya, Clara membenci Doni Permana, direktur pemasaran yang sering berselisih dengan Tony dan dianggap arogan. Namun seiring waktu, Clara mulai melihat sisi asli Tony yang manipulatif dan penuh ambisi gelap. Kekecewaan itu menghancurkan perasaannya. Di tengah keterpurukan, Doni justru hadir dengan ketulusan, keberanian, dan kepedulian yang tak pernah Clara sadari sebelumnya. Perlahan, kebencian berubah menjadi rasa nyaman, lalu tumbuh menjadi cinta yang tak terduga.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Muhammad Robby Ido Wardanny, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 17
Clara masih duduk lemas di kursi bangku toko. Wajahnya pucat, bibirnya kering, dan kepalanya terasa ringan seperti baru saja diputar-putar berjam-jam. Sejak siang dia belum makan apa pun selain beberapa teguk air yang tadi diberikan Desti. Perutnya terus berbunyi pelan, membuat Clara merasa malu sendiri. Selama hidupnya dia tidak pernah membayangkan akan berada di posisi seperti itu.
Beberapa hari lalu dia masih hidup nyaman di rumah besar milik ayahnya. Semua kebutuhan tersedia tanpa perlu dipikirkan. Mobil, kartu kredit, makanan mahal, pakaian bermerek, bahkan kopi favoritnya selalu ada. Sekarang dia duduk di pinggir jalan sambil menahan lapar. Hidup memang punya selera humor yang aneh. Biasanya humor itu datang khusus untuk menghancurkan harga diri manusia.
Bu Suci memperhatikan Clara dengan tatapan iba.
"Sudah agak baikan, nak?" tanyanya lembut.
Clara mengangguk pelan.
"Sudah, Bu. Terima kasih banyak. Kalau tadi tidak ada Ibu dan Desti mungkin saya sudah pingsan di jalan."
"Tadi kak Clara jalannya sudah seperti orang mau roboh. Saya sampai takut sendiri lihatnya."
Clara tersenyum malu.
"Saya memang belum makan dari tadi siang."
"Belum makan sama sekali?" Bu Suci tampak kaget.
Clara hanya mengangguk.
Dia tidak tahu harus menjelaskan apa. Tidak mungkin dia bilang kalau dirinya sedang mencoba hidup mandiri setelah diusir secara halus oleh ayahnya sendiri. Bahkan sampai sekarang Clara masih belum percaya hidupnya berubah secepat ini.
Bu Suci menghela napas pelan.
"Anak muda sekarang suka aneh-aneh. Badan dipaksa kuat padahal perut kosong."
Clara hanya tersenyum tipis. Kalimat itu terasa sederhana, tetapi entah kenapa membuat dadanya hangat.
Sudah lama tidak ada orang yang menegurnya dengan nada tulus seperti itu.
Bu Suci kemudian duduk di kursi sebelah Clara.
"Memangnya sekarang mau pergi ke mana, Nak? Hari sudah mulai gelap begini."
Clara langsung menjawab pelan.
"Saya mau pulang ke kontrakan, Bu."
"Kontrakan di mana?"
"Di Jalan Ahmad Yani Gang 3."
Bu Suci langsung menoleh cepat.
"Lho? Jalan kaki?"
Clara tampak bingung.
"Iya, Bu."
"Dari sini ke sana lumayan jauh. Hampir empat kilometer kalau jalan kaki."
Desti ikut mendekat.
"Apalagi sekarang sudah sore. Sebentar lagi gelap."
Clara menunduk pelan.
Dia tahu memang jauh. Namun uang yang tersisa benar-benar sedikit. Bahkan dia harus menghitung berkali-kali sebelum membeli air minum tadi.
"Tidak apa-apa, Bu. Saya pelan-pelan saja jalannya."
Bu Suci menggeleng cepat.
"Tidak bisa begitu. Kamu perempuan sendirian. Badan juga masih lemas."
"Saya tidak enak merepotkan Ibu."
"Merepotkan bagaimana? Kebetulan rumah kami juga arah sana."
Clara mengangkat wajahnya.
"Benarkah?"
Desti mengangguk.
"Rumah kami di Jalan Ahmad Yani Gang 5. Dekat sekali dengan tempat Kak Clara."
Mata Clara langsung berbinar.
"Serius?"
"Iya. Paling cuma beda sekitar satu kilometer."
Clara tidak bisa menyembunyikan rasa lega di wajahnya.
Entah kenapa sejak tadi dia merasa aman berada bersama ibu dan anak itu. Mungkin karena ketulusan mereka terlalu jelas untuk dipalsukan.
Bu Suci berdiri sambil merapikan kerudungnya.
"Sudah, nanti Ibu antar pulang. Tidak baik perempuan jalan sendirian malam-malam."
"Tapi, Bu..."
"Tidak usah sungkan. Desti, ambil mobil di seberang jalan sana."
"Baik, Bu."
Desti segera berlari kecil menyeberang jalan.
Clara tampak tidak enak hati.
"Saya benar-benar merepotkan Ibu."
"Kalau memang bisa bantu orang kenapa tidak? Lagipula kamu seusia anak saya. Masa saya biarkan jalan sendirian begitu saja?"
Perkataan itu membuat tenggorokan Clara terasa sesak.
Sejak meninggalkan rumah, sebagian besar orang memandangnya dengan dingin. Bahkan beberapa teman yang dulu selalu mengelilinginya mendadak sulit dihubungi saat dia membutuhkan bantuan.
Namun dua orang asing justru menolongnya tanpa banyak bertanya.
Kadang hidup memang aneh. Orang yang selama ini dipikir paling dekat justru menghilang saat dibutuhkan. Sementara orang asing malah memberi tempat untuk bernapas.
Tak lama kemudian sebuah mobil berhenti di depan warung.
Desti membuka jendela.
"Ayo, Bu."
Bu Suci menoleh pada Clara.
"Ayo masuk."
Clara mengangguk cepat.
"Terima kasih banyak, Bu."
Dia masuk ke kursi belakang dengan hati-hati.
Mobil mulai berjalan meninggalkan area pertokoan yang mulai ramai oleh lampu malam. Clara memandangi jalanan dari jendela sambil diam.
Di luar, kendaraan berlalu-lalang tanpa peduli pada hidup siapa yang sedang hancur hari itu. Kota selalu begitu. Semua orang sibuk bertahan dengan masalah masing-masing.
Bu Suci yang duduk di kursi depan kembali membuka percakapan.
"Memangnya kamu kerja di mana, Clara?"
Dia terdiam beberapa detik.
"Saya... belum bekerja, Bu."
Bu Suci menoleh sedikit.
"Baru lulus?"
"Tidak juga."
Clara menggigit bibirnya pelan.
"Saya sedang ada masalah pribadi."
Suasana mobil sempat hening.
Clara takut pertanyaan berikutnya akan semakin sulit.
Namun Bu Suci justru tersenyum tipis.
"Kalau belum mau cerita tidak apa-apa."
Clara langsung menatap punggung wanita itu.
Nada suaranya sama sekali tidak memaksa.
Tidak ada rasa ingin tahu berlebihan seperti orang-orang yang hanya mencari bahan gosip.
Desti ikut berbicara sambil fokus menyetir.
"Yang penting Kak Clara jangan menyerah dulu. Kadang hidup memang suka keterlaluan."
Clara tertawa kecil mendengar itu.
"Kamu ngomong seperti orang tua saja."
"Karena saya sering dimarahi ibu soal hidup. Jadi sedikit banyak terlatih mendengar ceramah."
"Desti," tegur Bu Suci.
"Saya jujur, Bu."
Mereka bertiga tertawa kecil.
Untuk pertama kalinya sejak beberapa hari terakhir Clara merasa sedikit tenang.
Desti kembali bicara.
"Kalau soal kerja mungkin kakak saya bisa bantu."
Clara langsung memperhatikan.
"Kakakmu?"
"Iya. Dia kerja di perusahaan besar. Jabatannya lumayan bagus."
Bu Suci menghela napas panjang.
"Mulutmu itu dijaga sedikit."
Desti malah tertawa.
"Memang benar, Bu."
Clara ikut tertawa pelan.
Sudah lama dia tidak tertawa senatural itu.
Namun setelah beberapa saat wajahnya kembali ragu.
"Tapi saya tidak punya pengalaman kerja."
"Tidak masalah," kata Desti cepat. "Yang penting mau belajar. Kakak saya lumayan baik kalau soal bantu orang."
Clara menatap keluar jendela lagi.
Dalam pikirannya muncul wajah ayahnya.
Kalau dia bekerja di perusahaan lain, berarti dia benar-benar meninggalkan zona nyaman yang selama ini selalu melindunginya.
Dulu Clara selalu berpikir dunia akan mudah selama dia punya nama besar ayahnya.
Sekarang dia mulai sadar dunia tidak peduli siapa dirinya.
Namun entah kenapa, untuk pertama kalinya Clara juga merasa sedikit bebas.
"Daripada kerja di perusahaan ayah saya... mungkin memang lebih baik cari pengalaman sendiri," ucap Clara pelan.
Bu Suci menangkap kalimat itu.
"Ayahmu punya perusahaan?"
Clara langsung sadar dirinya terlalu banyak bicara.
"Maksud saya... keluarga saya memang punya usaha."
Bu Suci mengangguk pelan tanpa bertanya lebih jauh.
"Kadang anak memang perlu belajar hidup sendiri. Tapi orang tua juga sering terlalu keras."
Clara terdiam.
Dia tidak tahu harus setuju atau tidak.
Di satu sisi dia masih marah pada ayahnya.
Namun di sisi lain Clara mulai sadar kalau selama ini dirinya memang terlalu bergantung.
Mobil terus melaju melewati deretan toko dan rumah-rumah sederhana.
Lampu jalan mulai menyala satu per satu.
Tak lama kemudian Desti memperlambat mobilnya.
"Gang 3 sebelah sini kan, Kak?"
Clara langsung mengangguk.
"Iya. Yang pagar hijau itu kontrakan saya."
Mobil berhenti tepat di depan kontrakan kecil yang Clara tempati.
Bangunan itu terlihat sederhana dengan cat dinding yang mulai memudar.
Tidak ada halaman luas.
Tidak ada satpam.
Tidak ada lampu taman mewah seperti di rumah ayahnya.
Namun anehnya Clara mulai terbiasa melihat tempat itu.
Dia membuka pintu mobil.
"Terima kasih banyak, Bu. Terima kasih juga, Desti."
Bu Suci ikut turun membawa kantong plastik kecil.
"Ini buat kamu."
Clara tampak bingung.
"Apa ini, Bu?"
"Makanan ringan. Buat nanti malam kalau lapar lagi."
Clara langsung panik.
"Tidak usah, Bu. Saya sudah merepotkan dari tadi."
"Sudah terima saja."
Nada Bu Suci lembut tetapi tegas.
Clara akhirnya menerima kantong itu dengan kedua tangan.
Dadanya kembali terasa hangat.
Desti tiba-tiba menepuk dahinya.
"Air minum belum ada."
Dia langsung menoleh pada ibunya.
"Bu, sebentar ya. Saya beli dulu di minimarket depan."
"Cepat sedikit."
"Iya."
Desti segera berjalan cepat menuju minimarket kecil di ujung jalan.
Clara berdiri kikuk di depan kontrakan.
"Saya benar-benar tidak tahu harus balas bagaimana."
Bu Suci tersenyum tipis.
"Tidak semua kebaikan harus dibalas cepat-cepat. Nanti kalau hidupmu sudah lebih baik, bantu orang lain saja."
Kalimat sederhana itu membuat mata Clara mulai memanas.
Sudah beberapa hari ini dia menahan semua emosinya sendiri.
Marah.
Takut.
Malu.
Bingung.
Dan sekarang, setelah menerima sedikit perhatian tulus, pertahanannya mulai runtuh.
Tak lama kemudian Desti kembali sambil membawa sebotol air mineral ukuran besar.
"Ini, Kak Clara. Simpan saja di kamar."
"Terima kasih."
Desti lalu mengeluarkan beberapa lembar uang dari sakunya.
Namun Bu Suci lebih dulu menyerahkan sejumlah uang pada Clara.
"Buat beli makan besok pagi."
Clara langsung menggeleng cepat.
"Jangan, Bu. Saya tidak enak."
"Sudah terima saja. Jangan keras kepala."
"Tapi saya..."
"Clara," potong Bu Suci pelan. "Kalau seseorang membantu dengan tulus, jangan membuat mereka merasa bantuannya ditolak."
Clara terdiam.
Tangannya perlahan menerima uang itu.
Dan saat itulah air matanya akhirnya jatuh.
Dia menunduk cepat sambil berusaha menghapus wajahnya.
Namun tangisnya sudah tidak bisa ditahan lagi.
Bu Suci tampak kaget.
"Lho, jangan menangis begitu."
Clara menggeleng sambil tersenyum kecil di tengah tangisnya.
"Saya cuma... sudah lama tidak diperlakukan sebaik ini oleh orang lain."
Desti langsung mendekat.
"Kak Clara pasti sedang banyak masalah ya?"
Clara tertawa kecil sambil mengusap air matanya.
"Sedikit."
Padahal kenyataannya hidupnya sedang berantakan total.
Tetapi Clara terlalu lelah untuk menjelaskan semuanya.
Bu Suci menepuk bahu Clara perlahan.
"Tidak apa-apa. Semua orang pasti pernah jatuh. Yang penting jangan berhenti berdiri lagi."
Clara mengangguk pelan.
Mungkin karena orang sederhana biasanya bicara dari pengalaman hidup, bukan dari slide presentasi penuh grafik dan tepuk tangan palsu.
Desti kemudian tersenyum lebar.
"Besok saya coba ajak kakak ke sini. Siapa tahu dia bisa bantu Kak Clara dapat pekerjaan."
Mata Clara langsung berbinar lagi.
"Benarkah?"
"Iya. Tapi jangan berharap langsung jadi direktur ya. Kakak saya bukan pemilik perusahaan."
Clara tertawa pelan.
"Saya juga tidak mau jadi direktur."
"Syukurlah. Kalau tidak nanti kakak saya pingsan."
Mereka kembali tertawa kecil.
Suasana hangat itu membuat Clara hampir lupa kalau dirinya sedang sendirian menghadapi hidup baru.
Untuk pertama kalinya sejak meninggalkan rumah, dia merasa mungkin semuanya tidak akan seburuk yang dia bayangkan.
Bu Suci kemudian melirik jam tangan.
"Sudah malam. Kami pulang dulu ya, Nak."
Clara langsung mengangguk.
"Hati-hati di jalan, Bu."
"Kamu juga istirahat yang cukup. Jangan tidur dengan perut kosong."
"Iya, Bu."
Desti melambaikan tangan.
"Besok saya kabari lagi."
"Terima kasih banyak, Desti."
"Santai saja."
Mereka kemudian masuk kembali ke mobil.
Clara berdiri di depan kontrakan sambil memeluk kantong makanan ringan dan botol air mineral.
Lampu mobil perlahan menjauh meninggalkan gang sempit itu.