NovelToon NovelToon
PARTNER SIALAN!

PARTNER SIALAN!

Status: sedang berlangsung
Genre:Anak Genius / CEO / Enemy to Lovers / Komedi
Popularitas:341
Nilai: 5
Nama Author: Dedik Januari Purnomo

"Dedikasi Aruna Pradipta adalah mahasiswa Teknik yang jago musik dengan otak serupa prosesor komputer. Baginya, cinta adalah variabel yang tidak logis. Namun, dunianya yang presisi hancur berantakan saat bertemu Reyna Salsabila, mahasiswa Akutansi yang kebanyakan tugasnya sebagai auditor keuangan bar-bar yang hobi makan seblak dan punya suara frekuensi tinggi.

Dari lab riset di Desa Pinus hingga drama sosialita di Singapura, mereka terjebak dalam audit perasaan yang penuh sabotase saus sambal dan teror terasi. Apakah logika Dedik sanggup menghitung besarnya cinta untuk partner sialannya? Atau justru Reyna yang akan meng-audit hati sang Robot Aquarius?"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dedik Januari Purnomo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 8: Aura Pengacara di Balik Aroma Minyak Kayu Putih

Gua nyaris loncat dari balai-balai bambu pas denger nama Arlan disebut. Hujan di luar masih deres banget, tapi berita dari Kak Tiara barusan bikin udara di gubuk ini mendadak makin dingin.

"Kecelakaan? Di mana?!" tanya Dedik lewat telepon. Mukanya tegang, alisnya nyatu. Dia dengerin penjelasan Kak Tiara sebentar, terus matanya ngelirik gua.

"Oke, Kak. Gua sama Reyna ke sana sekarang. Kirim lokasinya." Begitu telepon ditutup, Dedik langsung nyambar tas gitarnya.

"Ayo, Rey. Arlan jatuh di tanjakan deket pintu masuk desa. Katanya motor sport-nya selip gara-gara jalanan licin."

Gua buru-buru berdiri, masih pake jaket denim Dedik yang kegedean. Kita nerobos hujan balik ke parkiran motor bebek Dedik.

Sepanjang jalan pikiran gua kacau. Biar gimana pun, Arlan itu sepupu gua. Meskipun mulutnya minta ditabok, gua nggak mau dia kenapa-kenapa di tengah hutan begini.

"Naik, Rey! Pegangan!" teriak Dedik pas mesin motornya udah nyala.

Dedik bawa motornya lebih gila lagi dari tadi pagi. Bedanya, sekarang dia lebih waspada. Jalanan aspal pegunungan yang kena hujan itu licinnya kayak dikasih oli.

Kita nyampe di lokasi kejadian dalam sepuluh menit.

Di sana udah ada Kak Tiara sama beberapa warga desa. Motor sport merah Arlan yang harganya ratusan juta itu udah rebahan di parit, lampu depannya pecah.

Arlan sendiri duduk di pinggir jalan, megangin lengannya yang berdarah-darah. Mukanya pucet banget, nggak ada lagi sisa-sisa sombong yang tadi dia tunjukin di hutan bambu.

"Arlan!" gua lari nyamperin dia. "Lo nggak apa-apa?!"

"Aduh... Rey... sakit banget tangan gue," ringis Arlan. Dia nengok ke arah Dedik yang baru aja markirin motor. "Gara-gara lo nih, Ded! Gue jadi kepikiran omongan lo tadi sampai nggak fokus bawa motor!"

Dedik jalan mendekat, dia nggak langsung jawab. Dia malah jongkok di depan Arlan, terus merhatiin luka di lengannya.

"Logikanya, Lan... kalau lo fokus ke jalan, mau lo mikirin gua atau mikirin hutang pun, lo nggak bakal jatuh. Aspal di sini emang nggak cocok buat ban balap motor lo itu," kata Dedik tenang, terus dia buka tasnya buat ngambil botol air mineral. "Sini, bersihin dulu lukanya."

"DEDIK! Bisa nggak sih jangan bahas logika dulu?!" semprot gua kesel. "Dia lagi luka gini!"

Dedik diem. Dia nyiram luka Arlan pelan-pelan buat bersihin tanah yang nempel. Meskipun omongannya tajem, gerakan tangannya sebenernya telaten banget.

"Motor gua nggak bisa buat bonceng tiga," kata Dedik tiba-tiba sambil nengok ke Kak Tiara. "Kak, mobil operasional desa ada?"

"Lagi dipake bawa pupuk ke desa sebelah, Ded. Adanya motor warga," jawab Kak Tiara panik. "Tapi Arlan kayaknya shock banget, nggak bakal kuat dibonceng motor lagi."

"Ya udah, Reyna bareng Kak Tiara aja," putus Dedik. "Arlan bareng gua."

Gua melongo. "Hah? Emang motor bebek lo kuat nanjak bawa beban segede Arlan?"

"Kuat. Asal Arlan jangan banyak gaya," Dedik berdiri, terus bantu Arlan berdiri. "Ayo, Lan. Naik ke motor gua. Kita ke Puskesmas di bawah sekarang sebelum infeksi."

Adegan selanjutnya bener-bener kocak sekaligus mengharukan. Arlan yang tinggi besar itu terpaksa meluk pinggang Dedik erat-erat di atas motor bebek. Gua sama Kak Tiara ngikutin dari belakang pake motor warga.

Sepanjang jalan, gua denger Arlan ngerintih kesakitan, sementara Dedik cuma bilang, "Tahan, Lan. Jangan pingsan di punggung gua. Berat."

Nyampe di Puskesmas, Arlan langsung ditanganin perawat. Ternyata cuma luka lecet dalem sama dislokasi bahu dikit. Begitu Arlan udah agak tenang di kasur IGD, Kak Tiara keluar buat telepon orang kantor di Jakarta.

Gua berdiri di teras Puskesmas bareng Dedik. Hujan udah mulai reda, nyisain bau tanah yang sejuk.

"Ded..." panggil gua.

"Hm?" Dedik lagi sibuk ngelap air hujan di tas gitarnya pake kaos dalemnya (dia cuma pake kaos oblong sekarang karena jaketnya masih di gua).

"Makasih ya udah mau nolongin Arlan. Padahal tadi dia udah jahat banget sama lo." Dedik berhenti ngelap gitarnya. Dia natap ke arah jalanan yang berkabut.

"Gua nggak nolongin dia karena gua baik, Rey. Gua nolongin dia karena kalau dia mati di sini, sponsor proyek kita ilang. Dan lo pasti bakal nangis semaleman karena sepupu lo celaka. Itu nggak efisien buat jadwal riset kita."

Gua senyum tipis. Tipikal Dedik. Selalu punya alasan logis buat nutupin kebaikan hatinya.

"Tapi fotonya udah beneran kehapus kan?" tanya gua lagi.

"Udah. Dan lo nggak usah khawatir lagi soal itu," Dedik nengok ke gua. "Gua mau masuk ke dalem dulu, mau nanya ke Arlan soal data kontak asuransi motornya. Lo tunggu sini."

Pas Dedik masuk, gua ngerasa HP gua getar. Ada notifikasi dari grup keluarga lagi.

[Grup Keluarga Besar] 

Mama: "Rey, gimana Arlan? Udah ketemu? Dia bilang mau ngasih kejutan buat kamu." 

Gua baru mau ngetik balesan pas tiba-tiba seorang cowok berpakaian rapi, pake kacamata hitam, turun dari mobil hitam mewah yang baru aja parkir di depan Puskesmas. Dia nengok kanan-kiri, terus matanya berenti di gua.

"Permisi... Anda yang namanya Reyna?"

"Iya, saya sendiri. Siapa ya?"

Cowok itu buka kacamatanya. Mukanya kelihatan serius banget.

"Saya pengacara dari keluarga besar Arlan. Saya dapet laporan kalau kecelakaan ini terjadi karena adanya sabotase atau tekanan mental dari rekan kerja Reyna yang bernama... Dedik?"

Gua mematung. Waduh! Masalah apalagi ini?! Arlan bener-bener bawa drama level sinetron ke hidup gua!

***

Keluarga Arlan nggak terima dan malah bawa pengacara! Apakah Dedik bakal dituduh jadi penyebab kecelakaan Arlan gara-gara "gertak sambal" rekaman tadi? Gimana cara Dedik yang logis ngadepin tuduhan hukum yang nggak logis ini?

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!